
Aku sangat cemas, aku duduk menunggu siapa pun keluar dari ruangan itu memberitahu keadaan Nandini. Tangan ku yang gemetaran berusaha ku tekan-tekan dengan jariku. Aku hanya melihat orang lalu lalang didepan ku.
Sudah 30 menit dan akhirnya dokter keluar. “Dok, gimana keadaan Nandini? Dia baik-baik saja kan dok? “ Tanya ku.
“Tenang nak, pasien sekarang masih baik-baik saja. Namun kami mengambil darahnya untuk sample. Kami usahakan besok hasilnya sudah keluar. Anda sudah bisa melihatnya didalam” Jawab dokter.
Dengan cepat aku masuk dan mendapati Nandini terbaring. Selang infus sudah terpasang dan dia sedang tidak sadarkan diri. Aku meraih tangannya dan memegangnya erat. Aku mengelus rambutnya dengan manja, namun betapa terkejutnya aku melihat segenggam rambut Nandini rontok.
“Astaga ada apa ini” Gumam ku dalam hati, aku mulai panik dan jantung ku berdegup kencang. Tangan ku yang gemetaran memeluk badan Nandini.
Terasa badan Nandini begitu panas. Tanpa sadar air mata ku jatuh. eNtah kenapa aku menangis sejadi-jadinya dalam ruangan itu.
Sudah sore dan orang tua Nandini sudah datang.
***
Nandini juga sudah sadar beberapa jam sebelumnya. Namun walaupun sudah sadar kami memilih untuk tidak banyak bicara. Aku sudah sedikit tenang.
“Makasih nak David sudah mengantarkan Nandini k sini” Tangan ibu Nandini menggenggam tanganku.
“Ini sudah kewajiban ku tante, aku tidak mau Nandini kenapa-kenapa. Sekarang aku sudah tenang tante dan om sudah ada disini. Aku harus pulang karna takut nenek khawatir” Suara ku sedikit gemetaran.
“Pulanglah nak, Hati-hati di jalan. Salam buat nenek” Jawab tante.
Aku meraih tangan Nandini “nan.. Aku pulang dulu, kalo butuh apa-apa telfon aku”, hanya senyuman yang aku dapat dari perkataan itu.
***
Aku merebahkan badan ku diatas sofa, Tiba-tiba suara langkah sepatu nenek terdengar
"hari ini kamu bolos ngampus. Kemana kamu? “ Tanya nenek.
“maaf nek, pagi tadi aku dapat kabar kalo Nandini tidak masuk karna kurang sehat. Jadi aku kerumahnya melihatnya” Suara ku lemas.
“Lalu bagaimana keadaannya?” Tanya nenek kembali.
“Dia sedang dirawat dirumah sakit nek”jawab ku.
“Nenek tau kamu sangat mencintainya, kenapa kamu tidak mengajak jadian? “ Lagi-lagi nenek bertanya.
Aku mulai menangis. Kenapa aku menangis, aku juga tidak tahu.
“Apa pernah kamu mengutarakannya? Kamu harus tahu nak wanita itu butuh pengutaraan. Jika kamu belom mengutarakan maka dia juga tidak akan membuka hatinya. Kadang kala wanita akan mencoba membuka hatinya saat ada pria yang ingin serius” Perkataan nenek ini menghentikan tangis ku.
“Nenek sudah menyiapkan makanan mu dimeja. Makanlah setelah itu istirahat”.
Nenek begitu memahami perasaanku, hanya dia tempat ku untuk mengadu. Mengadu hati yang dilanda asmara. Perasaan yang tersembunyi untuk sekian tahun. Hanya nenek yang tau betapa sabarnya aku menghadapi wanita pujaan hatiku.
Aku tidak selera makan, aku langsung kekamar, setelah mandi aku rebahan sambil menggenggam handphone. Sebenarnya aku tidak bisa memahami wanita yang sudah merebut hatiku. Dia begitu ramah kepada orang lain, bahkan meladeni pria yang menyukainya. Tetapi kenapa dia tidak memiliki cinta untuk siapa pun? Walaupun dia sangat cantik, dia adalah salah satu mahasiswi yang tidak pintar sampai-sampai dia melewati waktunya di kampus sudah semester 9. Memikirkan hal itu membuat ku tersenyum sendiri. Dalam hati ku berkata bahwa dia bukan tipeku.
Aku mencari nomor Nandini dan menelponnya. HP ny tidak aktif dan aku mulai khawatir. Sudah 2 jam Aku berusaha memejamkan mata namun tidak juga tidur. Rindu dan khwatir campur aduk. Tanpa pikir panjang aku pergi menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan fikiran ku hanya tertuju padanya. Dan tiba-tiba “brukkk” astaga aku menabrak sepeda motor dan didepan ku. Ternyata aku sudah melewati rumah sakit dan sudah sampai di sebuah persimpangan rambu lalu lintas. Harusnya aku berhenti karena sedang lampu merah. Tapi karena mobil yang ku bawa terus melaju sampai akhirnya aku menabrak sepeda motor didepan ku.
Aku langsung keluar dari mobil memastikan keadaan yang aku tabrak.
“Ya ampun, maaf pak. Maafin saya pak. Saya tidak sengaja “ pinta ku sambil menunduk.
“tidak apa-apa nak, saya tidak apa-apa. Hanya saja lampu bagian motor ku peyok. “kata bapak itu tersenyum.
Aku mengeluarkan dompet dari saku celana ku dan mengambil sejumlah uang. “ ini pak untuk memperbaiki motor bapak. Sekali lagi maaf ya pak” sambil menyerahkan uang tersebut.
“tidak apa-apa nak, tidak usah bayar. Mobil mu juga tergores. Pasti mahal biaya memperbaikinya “ kata bapak itu
“tidak apa-apa pak, saya yang salah. Jangan fikirkan mobil saya. Saya akan memperbaikinya.“ sambil tersenyum.
“kamu anak yang baik nak, tapi uang yang kamu berikan ini terlalu banyak “ sahut bapak itu.
“tidak pak, bapak harus kerumah sakit. Nanti kalo uangnya kurang bapak bisa hubungi saya” sambil memberikan kartu nama ku.
“ahhhh tidak nak, saya tidak apa-apa. Saya juga tidak jatuh. Tapi terimakasih banyak untuk uangnya”jawab bapak itu.
Aku hanya tersenyum sembari meninggalkan tempat tersebut. Aku memutar balik mobilku menuju rumah sakit.
“Ada apa dengan ku. Kenapa fikiran ku setiap hari hanya dipenuhi Nandini”gumamku dalam hati.
***