
❤️ Happy Reading ❤️
Malam ini Erik benar-benar akan meninggalkan negara tercintanya.
Erik ke bandara di antar oleh kedua orangtua serta kakak dan kakak iparnya.
Mereka dari rumah berangkat terpisah dan koper Erik memang sejak awal sudah di masukkan ke dalam mobil secara diam-diam agar tak ketahuan oleh Siska.
''Ma..pa...Erik pamit.''ucapnya di bandara saat panggilan penumpang sudah terdengar.
''Hati-hati di sana ya nak...sering-sering kabari mama.''pesan mama Iren.
''Jaga diri baik-baik.''nasehat papa.
''Erik berangkat ya kak...titip mama papa.''kata Erik.
''Kamu tenang saja...dan kamu juga harus jaga kesehatan di sana.''nasehat sang kakak.
Setelah berpamitan Erik langsung melenggang pergi karena pesawat yang akan di naikinya sebentar lagi sudah waktunya tinggal landas.
Sedangkan Siska sama sekali tak menyadari bahwa Erik telah pergi dari rumah itu karena dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri bahkan sampai beberapa hari pun dia sama sekali belum menyadarinya.
*****
Satu bulan telah berlalu hinga tiba waktunya Siska untuk melakukan kembali pemeriksaan untuk kandungannya.
''Ma...Erik kemana?''tanya Siska namun hanya di abaikan oleh mama mertuanya.
''Aku itu tanya lo sama mama.''bentaknya namun mamanya Erik masih tak bergeming...terlalu malas untuknya menanggapi menantu lacnutnya itu.
''Siska turunkan nada suara kamu.''kata kakak ipar Erik.''Sopanlah sedikit dengan orang yang lebih tua.''nasehatnya.
''Aku dari tadi sudah nanya baik-baik di mana Erik namun mama gak mau jawab.''ketus Siska.''Aku butuh Erik untuk menemaniku cek up kandungan.''lanjutnya.
''Bukannya kamu itu istrinya...''tanya sang kakak ipar dengan sedikit mengejek.
Dia pergi entah kemana dan pulang ke rumah orangtuanya untuk malam ini.
*****
Kehidupan rumah tangga Siska sangat berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangga Sifa yang sangat harmonis dan di liputi dengan kebahagiaan.
Dua bulan sudah usia kandungan Sifa saat ini dan itu Kevin serta anggota keluarga yang lain masih selalu memperlakukannya seperti saat dia ketahuan mengandung...semua perhatian padanya.
''Mommy...ini kapan dedek bayinya keluar dan bisa main sama aku.''tanya Kendra dengan tangan kanan yang mengelus perut mommynya karena saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam.
Pertanyaan serta perilaku Kendra membuat mereka tersenyum mendengar dan melihatnya.
Mama Iren,Kania,Sifa serta Kendra sedang duduk di lantai menggunakan karpet buku yang tebal sarangkan papa Adi dan Kevin duduk di sofa.
''Aduh Kendra sudah gak sabar ya mau punya temen main di rumah.''sahut Kania.
''Sabar ya sayang masih tujuh bulan lagi.''kata Sifa dengan lembut.
''Kok lama banget sih mommy?''tanyanya lagi.
''Dedek bayi perlu berkembang di dalam sini sayang...''kata Sifa sambil mengelus perutnya sendiri.''Kakak Kendra sabar ya...''ucap Sifa.
''He'em.''jawab Kendra dengan menganggukkan kepalanya.
Selama dua bulan kehamilannya ini Sifa sama sekali belum mengalami yang namanya ngidam...hanya morning sickness saja walaupun gak sampai parah...gak sampai membuat tubuhnya lemas.
''Mom...apa kamu gak mau ngidam apa gitu?pengen apaan gitu...''tanya Kevin karena jujur dia ingin mengalami hal itu seperti para suami yang lain...seperti Kemal yang harus pontang panting meskipun tengah malam hanya untuk memenuhi ngidamnya Putri waktu hamil Boby ataupun Bila.
''Gak ada dad...aku lagi gak pengen apa-apa.''jawab Sifa.
''Tapi kalau kamu ingin apa-apa kamu harus segera bilang ke Kevin atau ke kita semua jangan di pendem.''kata mama Iren.
''Iya ma.''jawab Sifa.