
Aku pergi kemakam ayah, aku menatap papan salibnya dan memperhatikan tanggal lahir ayah. Ternyata bulan depan ayah akan ulang tahun. Ayah adalah sosok ayah yang lembut dan tegas sebagai pemimpin. Ayah sukses memperbesar bisnisnya.
Dulu ayah adalah seorang guru dijakarta. Namun kerena bujukan ibu untuk membuka usaha membuat ayah melepaskan pekerjaannya. Ayah dan ibu sudah merasakan jatuh bangun dalam mengelola bisnis, dulu ayah hanya membuka usaha jus minuman. namun setelah berhasil mengolah buah menjadi jus buah. Akhirnya ayah berhasil membuka perusahaan bisnis minuman di Amerika.
Makam ayah dan ibu Bersampingan. Sekarang ayah dan ibu sudah tenang, mereka pasti sangat bahagia disana. Aku membersihkan makam ibu, makam ibu tidak terlalu berantakan. Ibu sudah meninggalkan aku diwaktu masa SMA ku. Satu hal yang sangat aku sesalkan kenapa ayah dan ibuku meninggalkan aku sebelum aku sukses.
“nak David... “ sapa seseorang dari belakangku.
Ahhh ternyata itu adalah tukang bersih-bersih di pemakaman ini, sudah lama aku tidak kesini dan sudah lama pula tak bertemu dengannya. Dulu aku sering kesini membawa makanan banyak. Kami sering makan bersama di sebuah pondok tempat kakek itu istirahat setiap harinya.
“Apakabar pak? “ sahut ku.
“Masih seperti dulu, saya sangat sehat dan masih kuat “ jawabnya.
“aku sudah lama tidak kemari dan semua sudah tampak beberapa” sahut ku.
Sebenarnya bapak ini sudah tua, dia begitu setia bekerja di pemakaman ini, entah sudah berapa puluh tahun dia bekerja disini. Dia adalah orang Indonesia dari kalimantan, dia jauh-jauh kesini untuk membiayai keluarganya di Indonesia.
“sudah waktunya anda istirahat dan pulang keindonesia pak! “ sahut ku.
“bagaimana bisa aku berhenti bekerja nak, anakku masih kuliah. Dari mana biaya kuliahnya kalau tidak bekerja” jawabnya sedih.
“ahhh maaf nak, ini untuk apa? Kenapa kamu memeberikannya kepada saya? “ sedikit kebingungan.
“saya sudah lama tidak kesini dan makam ibu sangat terlihat bersih. Terimakasih banyak untuk itu? “ jawab ku.
“Ahhh itu sudah tugas saya nak, saya tidak bisa menerima uang ini” sahut bapak tersebut.
“dulu saya sering kesini dan membawa makanan untuk bapak. Saya sengaja membawa makanan banyak dulu supaya bisa makan bareng bapak. Sekarang saya tidak bisa seperti dulu lagi karna harus menyelesaikan studi saya diindonesia. Jadi bapak bisa membeli makanan dari uang itu” jawabku.
kakek itu hanya tersenyum terharu mendengar ucapanku, sebenarnya di usianya sekarang seharusnya dia istirahat dirumah. Namun mengingat keluarga diindonesia terlebih anaknya yang masih kuliah memaksanya untuk tetap bekerja.
“Saya sangat berterimakasih kepada Anda telah menjaga makam ibu selama ini dan sekarang saya memohon untuk menjaga makam ayah saya juga” kataku memecahkan keheningan.
“saya turut berdukacita ayah kepergian ayah mu nak, kamu harus tegar. Ayahmu sudah bertemu ibumu. Jadi sekarang kamu jangan sedih “ kakek tersebut mencoba menghiburku.
“Terimakasih banyak pak, sekarang saya harus pergi” sahut ku.
Aku melangkahkan kaki meninggalkan makam ayah dan ibu. Aku berjalan melewati kuburan. Dalam hatiku terbesit “apakah mereka yang sudah meninggal bahagia? “ gumamku
Dalam hati. Supirku masih setia menungguku diluar mobil, disana dia menatap ku seakan menghitung langkah kakiku hingga sampai dihadapannya. Dia dengan sigap membuka pintu mobil untukku dan segera mungkin ikut masuk dan menyalakan mobil. Perlahan kami meninggalkan makam tersebut. Ku pandangi kakek itu sedang membersihkan bagian samping makam ayah.