
❤️ Happy Reading ❤️
''Kurang aj*r.''geram Siska.
''Heh apa maksud kamu ngomong kayak gitu sama putri saya.''hardik mamanya Siska.
''Gak ada maksud apa-apa kok bude.''jawab Nia santai.''Cuma mengatakan fakta yang ada saja.''katanya lagi.
''Sudah-sudah kalian ini.''kata bude Sri menginterupsi agar Nia serta Siska dan mamanya berhenti bersaut kata.
''Maafkan Nia ya bude.''kata Nia meminta maaf pada bude Sri.
''Iya sudah ayo pada duduk kita mulai saja acaranya.''kata bude Sri lagi.
Semua anggota keluarga sudah duduk di sana dan semua anggota baru seperti Sifa juga sudah di tulis.
Setelah selesai mereka semua mulai menyantap hidangan yang tersedia disana yaitu jamuan dari yang punya rumah.
Sepanjang acara di sana Kevin dan Sifa tak henti-hentinya mengumbar kemesraan mereka serta keharmonisan keluarga mereka.
Begitu telaten Kevin mengambilkan makanan untuk Sifa dan Kendra juga memberikan perhatian lebih pada keduanya.
Segala tindakan yang Kevin lakukan benar-benar membuat mereka iri dengan posisi Kevin saat ini tapi mereka juga bahagia dan mengucapkan syukur karena saudara mereka mendapatkan suami seperti Kevin.
Kendra sang putra sambung pun terlihat begitu menyayangi sang mommy begitu pula sebaliknya.
Hanya dua orang yang tak menyukai mereka...siapa lagi kalau bukan Siska dan mamanya.
*****
''Sabar nak...kamu itu sedang hamil gak bagus kalau marah-marah kayak gitu.''kata sang mama yang berusaha menenangkan.
''Ini semua gara-gara Sifa dan keluarganya ma...aku jadi malu disana.''katanya sambil memukul bantal sofa untuk melampiaskan kekesalannya.
''Kenapa kamu terus saja menyalahkan Sifa?''kata sang papa.''Kamu itu terus saja mempermalukan mereka...menyalahkan mereka.''sambungnya.
''Maksud papa apa?''tanya Siska.
''Siska...Siska...harusnya Sifa yang marah dan dendam sama kamu bukan kamu.''kata sang papa.''Kamu yang sudah berkali-kali menyakitinya...kamu yang sudah menghianatinya...kamu juga yang selalu bikin masalah dengannya...harusnya kamu sadar itu.''kata sang papa lagi.
''Kok papa jadi nyalah-nyalahin Siska dan belain Sifa?''tanya mama Siska.
''Anak papa itu aku bukan Sifa.''sahut Siska.
''Papa tau kamu putri papa tapi ingat Sifa juga keponakan papa...sepupu kamu.''jawab papa Siska.''Ingatlah nak bahwa kebencian yang kamu tanamkan dalam diri kamu itu suatu saat bisa menjadi bumerang yang berbahaya untukmu nak.''nasehat papa.''Papa menasehatimu karena papa sangat sayang dan peduli padamu nak.''sambungnya.
''Papa!"bentak mama Siska.
''Maaf ma pa sudah cukup diam selama ini melihat perilaku kalian tapi semakin kesini kalian semakin keterlaluan dan papa sudah tidak bisa diam lagi melihat semua ini.''ujar papa Siska.''Papa diam selama ini bukan karna papa takut tapi karna papa cuma gak ingin ada keributan di keluarga kita saja tapi ternyata papa salah...diamnya papa malah membuat kalian berdua semakin menjadi.''lanjutnya lagi.
''Tap...''kata Siska.
''Sekarang lebih baik kamu pergi ke kamarmu untuk istirahat kalau memang kamu mau menginap di sini.''tegas papa Siska.Dan kamu ma...kamu juga sana masuk kamar.''katanya lagi.
Mama Siska tidak berani membantah lagi ucapan suaminya karena ini pertama kali suaminya itu buka bicara dan kelihatan marah sekali dari sejak pertama kali mereka menikah sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.