
"Kenapa kalian melamun? Ayo ikut aku." Pinta Anna sekali lagi saat melihat mereka tidak bereaksi pada ajakan pertamanya.
"Ini... Kau yang membuatnya?" tanya Miyuki penasaran. Dia akhirnya ingat gerbang itu muncul setelah Anna menggambar sebuah lingkaran.
"Ya. Ayo kita masuk." Sahut Anna. Dia akhirnya masuk terlebih dahulu kedalam gerbang.
Walaupun dengan perasaan ragu, Miyuki, Bimo dan Yola akhirnya menuruti Anna dan masuk ke dalam gerbang.
°°°
Ketiga Hunter itu lebih terkejut lagi sesaat setelah mereka masuk ke dalam gerbang.
Mereka melihat ada ratusan Orc berada disana dengan energi sihir yang sangat mengerikan.
Orc-orc itu tampak sedang bernyanyi dan menari sambil mengelilingi sebuah api unggun, di tepi pantai.
Dari antara gerombolan Orc, tampak 3 Orc keluar dari kawanan itu dan berlari pergi menghampiri mereka.
Saat melihat 3 Orc tiba-tiba berlari ke arah mereka, Bimo yang merasa memiliki energi sihir paling kuat di antara 3 rekannya, langsung maju untuk melindungi rekan-rekannya. Ia mengira Orc-orc itu akan menyerang mereka.
Namun, saat Bimo merasakan energi sihir dari masing-masing Orc yang sedang menghampiri mereka, lututnya gemetar.
'Gila, mereka sangat kuat. Bahkan jauh lebih kuat dari ku.'
Belum lagi, Bimo akhirnya memerhatikan ada 2 High Orc yang berlari di belakang 3 Orc tersebut.
Sementara Bimo masih terpana dengan monster-monster yang mendekat, dia merasakan aura mengerikan lain yang berasal dari dalam hutan agak jauh, yang juga sedang mendekati mereka.
Karena rasa khawatirnya, Bimo akhirnya menoleh pada Anna.
"Nona Anna, ayo cepat kita tinggalkan tempat ini. Mereka sangat berbahaya." Pinta Bimo. Suaranya sedikit bergetar. Tahu bahwa dirinya lebih kuat dibandingkan yang lain, Bimo mencoba untuk memberikan saran.
"Tidak apa-apa." Sahut Anna dengan santai.
Setelah mengatakan itu, Anna berjalan perlahan hingga melewati Bimo dan berdiri sedikit di depannya.
Anna agak terkejut saat melihat Miyuki tiba-tiba berada di sebelahnya dan langsung menggenggam pergelangan tangannya.
"Anna, ini berbahaya. Ayo lari." Pinta Miyuki.
Namun, Miyuki terkejut saat dia sama sekali tak bisa menyeret Anna untuk pergi dari sana. Dia menatap tangan ramping di genggamannya lalu menoleh pada Anna.
'Dia menahan ku? Dia kuat sekali!'
Melihat Anna tampak tak ingin pergi dari sana, Bimo memberikan kode pada Yola untuk mendekat padanya. Namun, Yola yang baru pertama kalinya melihat monster nyata di hadapannya, langsung jatuh terduduk. Tubuhnya bergetar hebat saking takutnya.
Belum habis rasa terkejut mereka, sesosok makhluk bertubuh gelap tiba-tiba muncul di hadapan Anna.
"Hamba menghadap, Dewi Agung." ucap Nobara sambil berlutut di hadapan Anna.
Miyuki menatap Dark Elf yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan kedua matanya yang melebar.
Dia bahkan tak pernah tahu ada monster yang memiliki kekuatan sebesar itu sebelumnya.
'Tidak! Dia sangat kuat. Tapi...'
Miyuki menyadari sepertinya monster itu sedang berlutut pada Anna, jadi dia menoleh kembali pada Anna dan menatapnya dengan bingung.
"Anna, apa dia sedang berlutut pada mu?" tanya Miyuki penasaran.
Anna hanya mengangguk. Pada saat itu, 3 Orc lainnya akhirnya tiba di hadapan mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang Nobara lakukan.
"Kami menghadap, Dewi Agung."
Ucap ketiganya secara bersamaan, yang kemudian diikuti juga oleh dua High Orc yang tiba setelahnya.
Kejutan tidak sampai disitu.
Setelah mereka, ada 5 Elf lain yang tiba dan juga langsung berlutut di hadapan Anna.
Sadar bahwa monster-monster itu sepertinya tidak akan menyerang mereka, Miyuki akhirnya bisa merasa sedikit lega.
"Miyu, menurut mu apa peringkat mereka jika dibandingkan dengan Hunter-hunter di Bumi?" tanya Anna.
Miyuki menatap Anna dengan bingung. "Di Bumi?"
"Ya."
Miyuki mengernyitkan alisnya sambil menatap Anna sebentar, sebelum menatap sekeliling.
"Ini bukan Dungeon di Bumi seperti yang lainnya?" Miyuki balik bertanya.
Anna menggelengkan kepalanya. "Bukan." Sahut Anna singkat.
Anna ingin mengatakan bahwa Dungeon yang berada di Bumi sebenarnya juga terhubung dengan planet lain, namun dia masih belum mau membahasnya karena ada hal penting yang harus didahulukannya.
Miyuki mengangguk pelan, lalu menatap pada semua monster satu per satu sebelum kembali menoleh pada Anna.
"Tapi, kenapa kau tanyakan itu pada ku?"
Anna mendesah pelan. "Kau..., bukankah kau seorang peneliti? Aku yakin kau bisa memperkirakan."
Miyuki mendengus.
Miyuki kemudian menunjuk pada 3 Elf yang memiliki wajah rupawan. Mereka adalah Eleanor, Glynka dan Cirdan.
"Mereka berperingkat S." ucap Miyuki. "Tapi, mereka hampir mendekati peringkat SS. Mereka lebih kuat dibandingkan produk ku."
Anna mengangguk pelan, dia tahu kalau Elf yang baru saja Miyuki tunjuk memang memiliki energi Mana jauh lebih besar dibandingkan Bimo.
Miyuki kemudian menunjuk pada dua High Orc.
"Mereka berdua berperingkat S. Juga lebih kuat dibandingkan produk ku, tapi masih lebih lemah jika dibandingkan dengan tiga Elf itu."
"Ya." sahut Anna, seraya mengangguk. Anna tahu itu. Dia sebenarnya lebih ingin tahu tentang yang lain yang dia rasa jauh lebih kuat di bandingkan Wang Zhu Ming sekalipun.
"Menurut data rahasia yang pernah ku lihat, mereka berlima berada di peringkat yang sama dengan Hunter berperingkat SS." Ucap Miyuki seraya menunjuk pada Tzullu, Tzaca, Drucalla, Fael dan Nyrna.
Anna akhirnya mengangguk dengan penuh semangat. Memang kelima makhluk itu yang sebenarnya ingin diketahuinya karena mereka memiliki energi Mana yang jauh lebih besar dibandingkan Wang Zhu Ming.
Anna kemudian menatap pada Miyuki, lalu melirik pada Nobara.
"Kalau dia?"
Miyuki menggelangkan kepalanya.
"Yah, itu cocok untuknya. Dia memang sangat kuat." Ucap Anna, sambil menatap Nobara dengan bangga.
Namun, karena bukan hal itu yang ingin Miyuki ketahui, Miyuki menatap Anna dengan wajah bingung kemudian bertanya.
"Lalu, siapa mereka ini?" tanya Miyuki akhirnya.
"Mereka pengikut ku." Sahut Anna dengan santai.
"Apa?! Tapi...," Miyuki menatap Anna sebentar, lalu menoleh pada Yola yang sedang berada dalam pelukan Bimo. "Kau bahkan lebih lemah dari Yola. Bagaimana mereka bisa mengikuti mu? Apa karena kau cantik?"
Anna tertawa mendengar 'pelecehan' tak langsung itu.
"Kenapa membandingkan ku dengannya? Kenapa tidak kau bandingkan saja dengan diri mu?"
Yang Anna maksud adalah kekuatannya, bukan wajahnya.
Miyuki mendengus. "Aku peringkat F yang lebih kuat dibandingkan kalian berdua. Bahkan jika kekuatan energi Mana kalian telah disatukan." Protes Miyuki.
Anna tertawa lagi lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksud ku." Ucap Anna.
Setelah mengatakan kalimat itu, Anna akhirnya menatap pada Orc dan Elf di hadapan mereka.
"Dimana semua batu sihirnya?" Tanya Anna pada Tzullu.
Tzullu menundukkan kepalanya lebih dalam sebelum menjawab pertanyaan Anna.
"Karena Dewi Agung tidak kembali dalam waktu sangat lama, maka kami menyimpannya di tempat yang aman."
Anna mengangguk pelan. Dia senang karena mereka sangat taat padanya.
"Terima kasih sudah menyimpannya. Sekarang, tolong bawa semuanya ke depan gerbang." Pinta Anna.
"Ya, Dewi Agung."
Setelah menerima perintah, 5 Orc pergi dari hadapan Anna untuk mengangkut kristal-kristal sihir yang dimaksud.
Sementara itu, Miyuki, Bimo dan Yola, menatap Anna dengan mulut menganga. Mereka tahu, Anna sedang berbicara dalam bahasa Orc.
Mengabaikan tatapan takjub teman-temannya, Anna kembali berbicara. Kali ini pada keenam Elf, "Apakah kalian suka tinggal di sana?"
"Ya, Dewi Agung." Sahut Nobara.
Ia tentu lebih menyukai ketenangan yang berada di dunia ini. Nobara juga tidak perlu mengkhawatirkan lagi serangan suku Elf lain yang akan datang secara tiba-tiba. Ia juga tidak mengkhawatirkan bangsa Orc, yang sudah bergaul baik dengan mereka.
Bahkan, bangsa Orc itu sudah membantu bangsa Elf untuk meningkatkan energi Mana mereka, setelah mengekstrak energi Mana dari High Orc yang mereka bawa terakhir kali.
Namun, tidak dengan 5 Elf lain.
Berbeda dengan Nobara dan suku nya yang berada lengkap di tempat ini, mereka berada jauh dari suku masing-masing.
Walaupun kelima Elf itu senang dengan dunia buatan Anna, namun mereka juga merindukan keluarga dan juga anggota suku mereka sendiri.
Anna dapat menangkap hal itu dari raut wajah kelimanya.
"Jangan khawatir. Aku akan mengajak kalian berpetualang nanti, agar kalian tidak bosan." Ucap Anna pada mereka.
Walaupun mereka tidak mengerti arti dari perkataan Anna, namun mereka tetap menyahut.
"Ya. Dewi Agung."
"Aku akan kembali lagi nanti. Saat aku kembali, kita akan jalan-jalan sebentar untuk berpetualang." Ucap Anna pada keenam Elf.
°°°
Sementara itu di belakang Anna, Yola sedang berbicara pada Bimo dengan berbisik-bisik.
"Apa dia berbicara dalam bahasa Orc dan Elf?" tanya Yola pada kakaknya.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi sepertinya memang begitu." Sahut Bimo.
Beberapa menit kemudian, tampak ratusan Orc dan ratusan Dark Elf datang dengan masing-masing membawa dua karung kristal sihir di tangan mereka.
Karung-karung itu telah mereka buat dari kulit monster yang pernah mereka angkut juga setelah Anna berkeliling ke belasan Dungeon dulu.
Bimo Gandri bergidik saat merasakan energi sihir dari masing-masing monster yang setidaknya berada di peringkat A, jika harus di bandingkan dengan Hunter di Bumi.
Dia merasa bahwa masing-masing monster bahkan lebih kuat dibandingkan Brandon Lloyd yang merupakan seorang Hunter kelas atas, pemilik guild nomor satu di Kota C.
'Kalau mereka semua menyerang ke luar gerbang, apa mungkin dungeon break mengerikan seperti sebelas tahun lalu akan terjadi lagi?'
°°°
Berbeda dengan Bimo, Miyuki lebih memerhatikan karung-karung yang baru saja diletakkan Orc dan Dark Elf di depan gerbang.
Tumpukan karung itu sangat tinggi dan lebih lebar dari pada sebuah rumah tunggal. Miyuki bahkan menatap tumpukan itu dalam diam dengan kedua mata dan mulutnya yang menganga.
"Nah, ku rasa kita bisa memulai bisnis kita dengan ini. Apakah kau bisa mengolah semuanya? Kita akan menjual setengahnya untuk membeli hak raid Dungeon." Ucap Anna seraya menatap tumpukan kristal sihir dengan rasa bangga.
Miyuki tidak menanggapi perkataan Anna.
Dia berjalan perlahan menuju tumpukan karung yang lebih rendah dari tumpukan di sebelahnya.
Miyuki kemudian melepaskan ikatan karung dan memeriksa kristal sihir di dalamnya yang berbentuk seperti cetakan emas batangan.
Dia tadi merasa energi sihir di tumpukan itu lebih murni dibandingkan tumpukan yang tinggi.
"Ini...," Miyuki menatap logo pada kristal di genggamannya, lalu menoleh pada Ana. "Ini milik guild Black Diamond?"
Anna tersenyum canggung seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Yah..., mereka kehilangan kristal itu dan aku kebetulan menemukannya." Sahut Anna dengan malu-malu.
Miyuki masih menatapnya dengan curiga. Saat dia akhirnya menyadari sesuatu, Miyuki bahkan menanyakannya dengan suara setengah berteriak.
"Jangan-jangan... Kau orang di balik kostum beruang?!"
Anna tertawa canggung. Dia hanya mengangguk sekali sebagai jawabannya.
"Kau ini... Siapa kau sebenarnya?!"
•••