
Benar saja, begitu tim raid mulai bergerak, beberapa anak panah langsung terlontar dari busur beberapa monster yang berada di atas bukit.
Cara monster pemanah itu menyerang tidak serampangan seperti yang monster peringkat rendah lakukan. Mereka tidak membuat hujan panah. Mereka membidikan anak panah menuju Hunter terlemah di dalam tim.
Beruntung tim raid memiliki Gina di dalamnya. Dengan sihir pelindungnya yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dari pada gabungan sihir barrier milik tiga Tanker dalam tim, anak panah langsung pecah saat mengenai asap hitam pelindung yang menutup seluruh area keberadaan tim raid.
Namun, menggunakan energi sihir sebesar itu untuk melindung 17 Hunter, tentu sangat menguras energi Mana Gina.
Tiap anak panah berbenturan dengan sihirnya, Gina dapat merasakan energi Mana di tubuhnya menurun dengan drastis.
°°°
Sementara itu, pasukan monster yang bersenjatakan tombak bermata trisula mulai berjalan menuruni bukit dengan tidak terburu-buru.
Melihat cara lawan menghampiri mereka, kengerian yang tim raid rasakan menjadi berkali-kali lipat.
Cara monster-monster itu menghampiri seakan ingin mengatakan bahwa mereka sedang menikmati momen menakutkan yang bisa mereka lihat dari wajah Hunter-hunter.
“Terus berlari dengan kecepatan seperti ini," Gina mengingatkan, saat ia melihat ketegangan di wajah semua orang semakin menjadi-jadi.
Namun, peringatan itu tidak serta-merta dituruti oleh semua Hunter.
Pada akhirnya, ada 5 Hunter yang memutuskan untuk berlari lebih cepat agar bisa segera keluar dari Dungeon, setelah mereka semakin takut saat melihat monster-monster sudah mulai menuruni bukit.
“M-maafkan aku...," ucap salah satu dari mereka, yang kemudian berlari menuju gerbang, lalu di susul oleh empat Hunter lain.
Gina menatap kelima Hunter itu dengan wajah tertegun, tidak memercayai keputusan bodoh mereka.
“Maaf, aku juga harus pergi.” ucap Hunter lain yang akhirnya pergi berlari menyusul 5 rekannya.
Walaupun Gina dapat mengerti ketakutan yang dirasakan enam rekannya itu, namun ia sangat menyesali tindakan bodoh mereka.
Baru saja 6 Hunter berlari dengan jarak kurang lebih 10 meter di luar jangkauan sihir pelindung Gina, keenam Hunter itu akhirnya mendapatkan serangan jarak jauh yang berasal dari atas bukit.
Enam panah dengan kecepatan tinggi meluncur dan menghancurkan kepala keenam Hunter tanpa mereka sadari kapan datangannya.
Sebenarnya, mereka hanya harus sedikit lebih bersabar. Buktinya, sebelas Hunter yang tetap mengikuti arahan kapten tim, kini sudah berlari melewati mayat-mayat keenam Hunter yang baru saja membangkang.
“Yah, nasib orang tidak ada yang tahu.” Ucap Gus Stevin berusaha menghibur Gina yang terlihat sangat sedih saat melewati mayat rekan-rekannya.
Bagaimana pun, peluang untuk bertahan hidup sangatlah kecil jika Gina sampai kehabisan energi Mana.
Mereka sebenarnya tidak tahu jarak antara tim dan gerbang akan tersisa seberapa jauh sebelum panah-panah monster menembus pelindung atau sebelum monster bertombak tiba di tempat mereka, saat Gina nanti kehabisan energi Mana. Jadi, keenam Hunter tadi hanya mencoba peruntungan mereka.
Saat jarak sudah tersisa kurang dari 100 meter, tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring dari langit.
Semua Hunter yang dalam keadaan tegang tersentak dan menoleh ke atas hanya untuk melihat puluhan monster terbang di atas mereka, menuju gerbang.
"Koaaaaakkkkk... Koaaaaaaakkkkk..."
Monster-monster itu adalah rombongan Pterodacyl yang akan pergi keluar dari Dungeon.
Di sisi lain, rombongan Raptor mulai terlihat berlari lurus menuju gerbang tanpa memerdulikan tim raid.
“Mereka tidak memerdulikan kita? Tahu begitu harusnya aku tadi langsung membawa kita pergi tanpa bersembunyi dulu.” Ucap Gus Stevin menyesali idenya tadi.
“Kau tidak salah. Kita semua mungkin akan mati kalau kita tadi langsung berlari menuju gerbang. Monster dari atas bukit pasti akan langsung memanah kita.” Sahut Gina, bukan ingin menghibur Gus, namun memang itulah kenyataannya.
°°°
Dari atas bukit, salah satu makhluk bertubuh merah yang menunggangi Ty-Rex mengangkat satu tangannya dan berteriak seperti memberikan perintah pada pasukannya.
Saat itu juga, pasukan yang berkulit merah muda yang sebelumnya berjalan perlahan menuruni bukit tiba-tiba berlari menyerbu tim raid dengan kecepatan lari yang mengerikan.
Di saat yang sama, dua Ty-Rex yang tadi pergi telah kembali. Mereka juga mulai mengejar tim raid dari arah belakang.
Melihat pasukan lawan mulai bergerak dengan sangat cepat, tim raid bertambah panik.
Beberapa Hunter akhirnya berlari menuju gerbang tanpa bisa menyamakan kecepatan mereka lagi.
Monster bertombak yang sudah semakin dekat, juga kejaran Ty-Rex yang semakin mendekati tim raid akhirnya membuat Hunter-hunter lari kocar-kacir.
Karena rekan-rekannya berada di luar kangkauan sihirnya, Gina akhirnya menggunakan skill lain untuk dapat melindungi semua Hunter satu per satu agar tidak tertembus anak panah yang mulai di tembakkan monster dari atas bukit.
Gus Stevin mengambil posisi terdepan untuk menghadang monster-monster berkulit merah muda yang ternyata memiliki kecepatan lari mengerikan hingga mereka tiba terlebih dulu dibandingkan Ty-Rex yang sebenarnya berjarak lebih dekat dari tim raid.
Gus menggunakan banyak energi Mana untuk menciptakan barrier besar demi melindungi Warrior yang kini sudah bertempur melawan para monster.
Baaaangg... Baaaaang... Baaang...!!!
Suara senjata pasukan monster yang beradu dengan barrier yang diciptakan Gus Stevin bergema di sekitar mereka.
Sementara di belakang Gus, Hunter tipe Mage berusaha mencegah Ty-Rex dan monster lainnya yang masih dalam perjalanan agar tidak mendekati tim, dengan serangan-serangan jarak jauh.
Namun, Bola-bola api dan es yang terlontar dari tangan Mage ditepis monster-monster itu semudah menepis bola tenis yang dilemparkan oleh anak kecil.
Melihat pemandangan itu, Hunter-hunter tipe Mage akhirnya menggunakan serangan terkuat yang mereka miliki dan menyerang monster-monster itu sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama.
“Hemat saja energi Mana kalian. Ayo terus berlari menuju gerbang dan tetap berada dekat dengan ku,” ucap Gina, saat ia melihat serangan rekan-rekannya tidak berbuah hasil apa pun.
Sementara itu, di belakang mereka, dua Ty-Rex yang tidak terpengaruh oleh serangan para Mage, sudah semakin dekat.
Walaupun sebenarnya jarak gerbang hanya tersisa 50 meter, namun jarak itu terasa sangat jauh saat seluruh anggota tim berada di bawah tekanan monster yang rata-rata memiliki kekuatan setara Hunter peringkat SS.
Monster bertubuh merah muda yang memiliki kecepatan lari berkali lipat dibandingkan Ty-Rex, sudah tiba seluruhnya di sekitar tim raid dan langsung menyerang Hunter-hunter yang berada di sekitar Gina. Mereka adalah Hunter-hunter terlemah yang memilih untuk berlindung di dekat Gina.
Pasukan Hunter dan monster akhirnya bertarung sengit.
Sebenarnya, bukan sebuah pertarungan yang sedang terjadi. Pemandangan yang terlihat hanyalah monster yang menyerang membabi-buta dengan tombak bermata trisula, sedangkan Hunter-hunter berusaha menghindar sebisa mungkin.
Serangan brutal monster-monster itu membuat sebagian besar Hunter sibuk hingga tidak bisa melihat lagi dimana arah gerbang berada.
Untungnya, monster di atas bukit menghentikan serangan.
"Mereka benar-benar ingin mempermainkan kami." Gumam Gina, ketika melihat semua monster bertombak tidak langsung menghabisi rekan-rekannya, padahal mereka dapat dengan mudah melakukannya. Pemikiran itu ditambah lagi dengan monster di atas bukit yang tidak lagi menyerang.
Saat 11 Hunter sibuk menghindari amukan lawan mereka, area pertempuran tiba-tiba menggelap.
Di langit, awan hitam yang entah dari mana datangnya, terbang melintasi 11 Hunter dengan cepat sampai akhirnya tiba dan berhenti tepat di atas gerbang Dungeon.
Dari dalam awan tersebut, terdengar suara petir bersahut-sahutan dan juga terlihat kilat kemerahan yang menyambar-nyambar dan menyilaukan mata.
Bukan hanya itu. Tak lama kemudian, ratusan Raptor dan Pterodactyl bermunculan dan turun dari lubang hitam yang berada di tengah-tengah awan dan langsung keluar dari Dungeon melalui gerbang.
Melihat hal itu, beberapa Hunter yang sedang berlari menuju gerbang segera menghentikan lari mereka, terutama saat melihat puluhan Raptor yang baru tiba di daratan, langsung menatap ke arah mereka.
Merasa putus asa, Hunter-hunter itu kehilangan kekuatan pada kaki mereka dan hanya bisa pasrah saat Raptor-raptor berlarian menyerbu.
“Sial... mereka diluar kemampuan kita...”
Hanya dalam sekejap mata, tentu saja 3 Hunter yang berada paling dekat dengan Raptor sudah menjadi mangsa Raptor yang dengan ganas mencabik-cabik dan mengunyah potongan tubuh mereka.
°°°
Di sisi lain, Davina dan Philip berusaha melindungi Zhen Ki. Dia adalah Hunter termuda dalam tim raid, yang mereka tahu sedang berjuang untuk membiayai hidup adik-adiknya, karena hanya dialah tulang punggung keluarga.
Dengan susah payah, Davina dan Philip mencoba menerobos kepungan monster untuk membawa Zhen Ki kembali pada Gina yang terpisah dari mereka agar ia bisa terlindungi oleh sihir Gina dan dapat bertahan dibawah serangan monster.
Namun, monster-monster dengan tombak mulai fokus untuk menyerang ketiga Hunter tersebut.
Philip dan Davina melakukan pengeroyokan pada monster bertombak yang tampak bertarung sambil menyeringai hingga kedua Hunter itu dapat melihat gigi-gigi tajamnya yang mengerikan.
Bisa menghindari satu atau dua serangan yang dilesakkan monster itu, merupakan sebuah prestasi yang sangat baik. Namun, tidak dengan serangan ketiga.
Buakkkk!
Sebuah hantaman keras yang lolos dari perhatian Philip, mengenai bagian samping tubuhnya dan membuatnya terpental jauh sebelum jatuh dan bergulingan di tanah yang berbatu.
Armor nya pecah dan mulutnya mengeluarkan banyak darah. Untung saja ia sudah dilindungi sihir Gina. Hal itulah yang mencegahnya langsung tewas, seketika terkena serangan.
Seekor Pterodactyl meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Zhen Ki. Pterodactyl itu seperti mengetahui yang mana mangsa termudah di antara Hunter-hunter yang tersisa.
Zhen Ki yang tidak menyadari adanya bahaya mengancam, berhasil di sambar Pterodactyl di bahunya dan ia pun akhirnya dibawa makhluk purba itu terbang menjauh.