
"Dimusnahkan?" Anna membelalakkan kedua matanya. Kata dimusnahkan itu begitu ngeri untuk didengar.
"Ya. Dewan pengawas para dewa akan memusnahkan keluarga dewa yang tidak bisa mempertanggungjawabkan tugas yang mereka emban dari Absolut." Dewi Ezili mulai menjelaskan.
"Jika keluarga Arnix dimusnahkan, seluruh pusaran putih juga akan turut dimusnahkan. Pelanggaran karena lepas dari tanggung jawab adalah yang paling berat. Hukumannya lebih berat daripada mencampuri urusan para makhluk ciptaan seperti yang dewa Igigi lakukan," tambah dewa Ogun.
Anna menatap kedua dewa yang dalam rupa hewan imut itu dalam diam.
"Dewi Ann tidak mungkin membiarkan keluarganya dimusnahkan. Dia pasti akan menantang dewan pengawas untuk bertarung. Jika hal itu sampai terjadi, alam para dewa akan kacau balau." Ucap dewi Ezili lagi. "Jika alam para dewa kacau balau, seluruh dewa akan di panggil untuk membantu dewan pengawas para dewa memusnahkan keluarga Arnix. Dan jika itu terjadi, seluruh galaksi juga akan ikut kacau balau. Para iblis dari dimensi lain yang tidak di awasi, pasti akan menjajah dua dimensi para dewa."
Mengetahui hal yang sangat rumit itu, Anna benar-benar kehabisan kata-kata.
"Semuanya tergantung pada kita. Bagaimanapun caranya, kita harus menemukan keberadaan dewi Lyn." Ucap dewa Ogun, sembari menjilati salah satu tangannya yang berkuku panjang.
"Tapi, bagaimana mungkin tidak ada yang mengetahui dewi Lyn telah menghilang?" tanya Anna, merasa bingung dengan hal itu.
"Sebenarnya Absolut pasti sudah tahu. Tidak ada yang bisa disembunyikan darinya." Sahut dewi Ezili.
"A-apa? Apa itu tidak akan jadi masalah?"
"Absolut sangat menyayangi dewi Ann."
"Apa?! Apakah itu sejenis pilih kasih?" Anna benar-benar tercengang.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Baik dewa Ogun, dewi Ezili dan Lorelei hanya saling melirik dalam diam.
Anna akhirnya bertanya kembali, "Lalu, sebagai dewan pengawas, bagaimana mereka tidak tahu bahwa dewi Lyn telah hilang?" Apa yang Anna pikirkan itu memang sangat masuk akal. Siapapun yang menjadi dirinya, pasti akan menanyakan hal yang sama.
"Tentu saja dewan pengawas tahu." sahut dewa Ogun.
"Jadi, kenapa mereka tidak menghukum keluarga Arnix?" Anna semakin penasaran.
"Kau ingat dewan pengawas yang pernah bertemu dengan mu kan? Dia adalah dewan pengawas dari dimensi mu. Dia tahu, tapi menutupinya. Dia tidak ingin kekacauan terjadi di alam para dewa."
"Apa hal seperti itu bisa ditutupi?"
"Tentu saja. Tapi tidak selamanya. Saat jadwal pertemuan para dewa terjadi dan para dewa hadir disana, mereka pasti akan mengetahui bahwa dewi Lyn telah hilang. Saat mereka mengetahuinya, mereka pasti akan menuntut keluarga Arnix yang selama ini berada di kasta tertinggi, untuk di musnahkan." Dewi Ezili menjelaskan.
Glup...
Anna merasa ngeri dengan apa yang baru saja diketahuinya ini, terutama dengan kata 'dimusnahkan' itu.
"Karena itu, semuanya bergantung pada kita," dewa Ogun menimpali.
"Tapi, jika kita nanti bertemu dewi Lyn, bagaimana jika dewa penanggung jawab planet ini mengetahuinya? Bukankah untuk membuka portal untuk pergi ke Bumi memerlukan sihir?"
"Karena itulah dewi Ann meminta mu membuat kekacauan saat kita sudah menemukan dewi Lyn. Kau akan tahu nanti saat hal itu sudah terjadi."
"Karena itu juga, kami membiarkan mu menghabisi prajurit-prajurit dari kerajaan Eclovar itu."
"Apa?!"
"Kau tidak mungkin tiba-tiba saja membuat kekacauan yang bisa membuat dewa perang datang untuk melawan mu, kan?" ucap dewa Ogun. "Kau harus menjajah planet ini. Biarkan dewa perang planet ini mengawasimu. Saat kita menemukan dewi Lyn, saat itulah kau buka energi Mana. Mereka akan mengira kau adalah dewi Ann yang sedang menjajah planet ini dan pasti akan datang untuk mencoba menghentikan mu."
Anna memelototi dewa Ogun. Ia akhirnya menyadari sesuatu.
"Kau... Jadi selama ini kau mempermainkan ku? Kau sengaja membuat kita tertangkap agar aku membuat masalah, kan?!" tanya Anna pada dewa Ogun dengan setengah mengumpat dan menatapnya marah.
Dewa Ogun berdehem dengan suara red panda yang lucu.
Anna tiba-tiba berdiri.
Saking marahnya, Anna akhirnya pergi meninggalkan mereka.
•••
Anna dan rekan-rekannya mulai berbaur dengan suku Trovan dan manusia monyet dalam 3 hari kemudian, semenjak Anna kembali dari menguburkan para korban yang ia bantai.
Karena apa yang Anna lakukan, semua warga hutan sangat takut padanya. Kemanapun ia pergi, mereka selalu menyapanya sembari menundukkan kepala karena takut beradu pandang dengannya.
Selama 3 hari itu juga, Anna dan 3 rekannya menyebar ke seluruh wilayah hutan, mencari jejak dewi Lyn di sana. Namun, mereka tidak menemukan jejak apa pun.
Di hari ke 4, suku manusia monyet yang selalu bertugas sebagai pengintai, datang membawa kabar yang membuat warga hutan sangat ketakutan ketika mendengarnya.
Kerajaan Eclovar telah datang dan mengepung wilayah mereka dengan membawa 500.000 prajurit.
Tidak tanggung-tanggung, empat jendral besar mereka bahkan ikut hadir di antara para pasukan tersebut. Mereka juga membawa semua panglima perang yang mereka miliki.
•••
"Mereka akhirnya datang." ucap dewa Ogun pada Anna.
Mereka berempat kini sedang memantau ratusan ribu tentara itu dari atas sebuah pohon, di tepi hutan suku Trovan.
Sebenarnya, Anna dan rekan-rekannya telah menunggu kedatangan pasukan itu juga sembari mencari jejak dewi Lyn. Karena itulah, mereka masih tetap berada di wilayah suku Trovan dan suku manusia monyet, alih-alih pergi ke kota atau wilayah lain untuk mencari dewi Lyn.
"Tidak usah terlalu merasa tidak nyaman. Kali ini kami bertiga akan membantumu," ucap dewa Ogun lagi, saat melihat raut wajah muram Anna.
Anna mengabaikannya. Ia mengambil metal kecil dari balik lengan bajunya dan mengembangkan metal itu menjadi sebuah tombak.
Anna menatap tombak berwarna hitam mengkilap itu dan menoleh pada dewi Ezili yang sedang bertengger di pundak kirinya.
"Bukankah tombak ini memancarkan energi Mana Igigi? Kenapa dewa perang tidak datang memeriksa?"
"Dewa Igigi, dewa Anu dan dewi Ki telah di coret dari daftar dewa setelah kematian mereka. Jadi, energi Mana nya sudah tidak tercatat dalam daftar para dewa. Energi Mana ini hanya dideteksi sebagai energi Mana biasa saja, walaupun aura nya sangat mengerikan."
"Jadi begitu...," Anna mengangguk pelan. Ia kemudian bertanya lagi. "Bagaimana dengan kalian? Apakah jika kalian membuka energi Mana maka dewa perang planet ini akan datang?"
"Ya. Karena kami belum mati dan planet kami masih ada."
"Apa?!" Anna terkejut. "Jadi, kalian meninggalkan planet demi mengikuti dewi Ann?"
"Ya."
"Apa itu tidak masalah?"
Dewi Ezili terdiam.
'Itu masalah, kan?'
"Mereka sudah mulai bergerak. Ayo kita turun dan hadapi mereka semua," ucap dewa Ogun, memotong pembicaraan Anna dan dewi Ezili.
"Mereka membagi pasukan menjadi empat, sesuai dengan empat jendral besar yang memimpin. Ayo kita hadapi mereka per pasukan." dewi Ezili memberikan instruksi.
Anna menghela nafas panjang. Per pasukan yang di maksud dewi Ezili berarti ia harus membunuh 125.000 makhluk yang mirip manusia itu.
'Mungkinkah aku bisa terbiasa dengan semua ini?'
•••••••