
“Aku dan Gus akan menjemput tim penambang, kau pergilah menyusul mereka ke gerbang.” Ucap Liu Gong pada kedua rekannya.
Keadaan tidak normal pada Dungeon ini, membuat ketiga Hunter itu harus membagi dua tim. Memang, masih ada 10 instruktur yang saat ini sedang bersama para siswa. Namun, hanya ada 2 Hunter berperingkat C disana dan sisanya hanyalah Hunter yang berperingkat D.
“Monster-monster sudah berada di dekat para siswa,” ucap Wang Liu Gong lagi, sambil menunjukkan alat pendeteksi pada Gina dan Gus Stevin.
Gina Stewart dan Gus Stevin menatap monitor pendeteksi di genggaman Wang Liu Gong.
Disana, mereka dapat melihat dua titik besar berwarna hijau dan merah. Hijau berarti para Hunter, dan merah adalah monster.
Setelah memastikan keberadaan monsternya, Gina langsung berlari ke arah kepulan asap hitam yang adalah tempat siswa-siswa Akademi berada.
“Kalau begitu, aku akan ke dekat gerbang. Kalian berdua, pergilah ke tempat tim penambang!” Seru Gina yang sudah mulai pergi dari tempat itu, tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua.
Dari apa yang alat pendeteksi itu baca, tempat munculnya monster-monster tersebut berada di dekat gerbang Dungeon.
Kepulan asap hitam itu dapat dipastikan adalah energi sihir dari banyaknya monster yang telah muncul disana.
Sementara itu, keadaan di tempat tim penambang tampak jauh lebih aman karena di sekitar tim itu belum nampak adanya energi sihir monster yang terdeteksi.
Sebagai Hunter profesional, ketiga Hunter itu tentu saja tahu bahwa Healer dan Tanker paling dibutuhkan jika keadaan kekuatan tim raid lebih lemah dibandingkan pasukan monster.
Karena itulah Gina dan Gus Stevin harus berpisah. Gina lebih memilih menuju tempat dimana monster sudah berada, karena dia pikir bahwa skill nya akan lebih berguna saat tiba disana dibandingkan Gus Stevin. Healer mungkin lebih diperlukan karena mungkin akan banyak yang terluka nantinya.
Ketiga Hunter itu akhirnya pergi ke arah yang berkebalikan. Gina menuju gerbang, sementara Liu Gong dan Gus Stevin pergi menuju tim penambang.
Mereka berlari secepat yang mereka bisa dengan dibantu oleh energi Mana yang mereka miliki.
Gina Stewart yang sebenarnya sudah memiliki kecepatan berlari yang cukup tinggi, menggunakan lebih banyak energi Mana nya untuk lebih memaksimalkan kecepatannya lagi.
•••
Sementara itu di dekat gerbang, Hunter-hunter sudah disibukkan oleh amukan monster-monster Golem yang ukurannya sedikit lebih besar daripada boss Dungeon sebelumnya.
Tanpa adanya persiapan, siswa-siswa Akademi itu bertempur secara kacau balau.
Instruktur-instruktur pengawas yang rata-rata berperingkat D, tampak sangat kewalahan untuk melindungi siswa-siswa Akademi tersebut. Apalagi, mereka hanya berjumlah 10 orang.
Untuk melindungi 17 Hunter pemula sambil melindungi diri mereka sendiri, adalah hal yang sangat sulit dilakukan dalam waktu bersamaan.
Apalagi Dungeon yang awalnya berperingkat E itu telah berubah menjadi peringkat C. Tentu saja, level monster penghuninya juga meningkat.
Rombongan yang terdiri dari Instruktur dan siswa Akademi itu pun akhirnya terdesak.
8 siswa Akademi yang terdiri dari Hunter dengan kelas Tanker dan Warrior berusaha mati-matian menangkis serangan-serangan satu Golem yang menyerang mereka dengan dua tangan besarnya yang terbuat dari batu-batu.
Sementara 5 instruktur yang juga bertarung bersama mereka, disibukkan dengan gangguan 2 Golem lain yang berada di sisi belakang.
Hanya mampu mengimbangi serangan monster itu selama beberapa menit, akhirnya 8 siswa tersebut mulai terdesak mundur dan mulai menghimpit instruktur-instruktur yang bertempur berpunggungan dengan mereka.
5 instruktur yang konsentrasinya terbagi, akhirnya mulai kewalahan untuk menangkis serangan-serangan 3 Golem, sekaligus juga harus melindungi siswa-siswa mereka.
°°°
Sementara itu di area lain yang berada tak jauh dari tempat tadi, 9 siswa Akademi bersama 5 instruktur juga mulai terdesak.
4 Golem yang mengepung mereka sambil melakukan serangan membabi buta, semakin mendesak mereka hingga mulai terpojok pada sebuah bukit batu yang berada di belakang mereka.
“Semua Mage naik ke atas bukit itu, lakukan serangan jarak jauh!” Perintah Davina, salah satu instruktur.
Davina yang merupakan satu-satunya Hunter kelas Assassin di tim raid, sedang bertarung melawan salah satu Golem yang mulai kewalahan menghadapinya.
Dia adalah Hunter berperingkat C yang level experience point nya berada di atas Hunter berperingkat C kebanyakan. Hanya membutuhkan sedikitnya 5 kali penaklukan Dungeon lagi, maka ia sudah dapat naik menjadi peringkat B.
Akan tetapi, tanpa mereka ketahui sebelumnya, bukit batu yang baru saja mulai dipanjat Hunter-hunter itu ternyata adalah Golem yang memiliki tubuh lebih besar dari pada Golem lain. Itu adalah Golem yang sedang berkamuflase.
Golem raksasa yang mereka sangka bukit batu itu, langsung menangkap Hunter-hunter yang sedang memanjat di tubuhnya.
6 Hunter pemula yang tidak sempat melarikan diri dari sergapan tangan Golem raksasa berteriak-teriak panik, di dalam genggaman monster itu.
Krak… krak…!
Suara retakan yang berasal dari armor tipis yang melindungi tubuh-tubuh Hunter Mage, membuat 6 Hunter yang berada di genggaman Golem raksasa semakin panik.
Cassey Lloyd yang masih memiliki sisa energi Mana lebih banyak, karena telah mengkonsumsi pil 'ajaib' pemberian ibunya, berusaha membakar genggaman tangan monster yang membuat dia dan kelima Hunter pemula lainnya mulai mengalami sesak nafas.
“H-hei, apa yang kau lakukan?! Kita juga akan ikut terbakar!” teriak salah satu Hunter.
“T-tidak, apa yang kau lakukan?! Armor ku sudah hancur, aku tidak bisa menahan sihir api mu!” teriak yang lain.
“Aku ingin membuat lengannya terbakar!” seru Cassey yang tampak kesal dengan teman-temannya yang tidak langsung mengerti apa tujuannya.
“Itu tidak akan berpengaruh padanya!”
Davina yang melihat 6 siswanya dalam bahaya besar, segera meninggalkan pertarungannya dan molompat ke atas lengan Golem raksasa.
Dia mulai berusaha untuk memutuskan tangan Golem yang menggenggam 6 siswanya.
Sementara itu, 4 instruktur dan 3 siswa yang tadi bersama mereka, sudah disibukkan oleh kepungan Golem lain yang baru saja tiba.
Crank…crank…crank…!
Davina terus menyerang di titik yang sama dengan harapan dapat memutuskan lengan Golem raksasa itu, sambil terkadang berlompatan untuk menghindari salah satu tangan Golem raksasa yang berusaha menangkapnya.
Dengan tubuhnya yang sangat besar, yang besarnya dua kali lipat dari Golem lainnya, gerakan Golem raksasa agak sedikit lamban.
Setelah usaha-usahanya untuk memutuskan lengan Golem raksasa masih belum membuahkan hasil, Davina terpaksa menggunakan special skill nya untuk mencoba memotong lengan Golem dan menyelamatkan siswa-siswanya.
Stab... stab... stab...!
Percikan bunga api tersebar tiap kali Davina menebaskan kedua belatinya pada lengan Golem raksasa.
Namun, serangannya hanya berhasil meninggalkan goresan yang tidak terlalu dalam di lengan monster itu.
Davina langsung melompat kembali setelah melihat serangan pamungkasnya tadi tidak berhasil, untuk menghindari serangan Golem raksasa yang marah setelah merasakan terganggu oleh serangan tersebut.
Namun, saat Davina baru saja mendaratkan kedua kakinya di tanah, Golem lain yang sebelumnya bertarung dengan wanita itu berhasil mendaratkan pukulannya pada tubuh Davina.
Bammmm!
“Ugh...!”
Davina terpental cukup jauh dan jatuh bergulingan sampai beberapa meter.
°°°
Sementara itu, keenam siswa yang berada di genggaman Golem raksasa sudah mulai kehilangan kesadaran.
Wajah mereka sedikit membiru akibat tekanan yang berasal dari cengraman Golem raksasa dan juga diperparah dengan tubuh mereka yang sedikit terbakar, oleh serangan sia-sia dari Cassey Lloyd yang tadinya bermaksud ingin membuat lengan Golem terbakar, atau setidaknya ingin membuat monster itu merasakan panas di telapak tangannya dan melepaskan mereka.
Pada saat yang benar-benar genting itu, asap hitam tebal yang merupakan energi Mana pelindung, tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuh keenam siswa yang mulai sekarat itu.
Asap hitam itu juga menyembuhkan luka-luka bakar yang mereka alami. Semua luka di tubuh mereka berangsur-angsur pulih.
“Bertahanlah!” seru Gina Stewart yang baru saja mengirimkan healing skill nya pada mereka.
Setelah memberikan buff pelindung dan pemulihan pada mereka, Gina langsung beralih mengirimkan buff defence area dan healing skill ke Hunter-hunter yang berada di area pertempuran lain yang sudah sangat terdesak dan juga terluka parah.
Dia kemudian menghampiri Davina dan juga memulihkan wanita itu.
“Tolong ambilkan aku senjata salah satu rekan kita,” pinta Gina Stewart pada Davina, setelah ia memulihkannya.
“Kau akan ikut bertarung?”
Gina mengangguk, “Tidak ada pilihan lain.”
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mempertimbangkan permintaan Gina, Davina langsung bergerak cepat ke arah Golem-golem yang sedang mengepung 11 Hunter yang berada agak jauh dari tempat dia dan Gina berada.
Davina menyerang monster-monster Golem satu per satu dari arah punggung monster-monster itu, untuk mengurangi jumlah mereka.
Kali ini, Davina menyerang dengan kekuatan penuhnya agar bisa memberikan dampak yang signifikan pada lawan.
Ia juga berusaha untuk terus menyusup agar dapat dengan cepat sampai ke area tengah kepungan monster-monster, dimana rekan-rekannya berada.
Golem yang terkejut dengan serangan dadakan itu, membalikan tubuh mereka. Namun, dengan lincah Davina menghindari monster-monster itu dan akhirnya berhasil tiba di dekat Hunter-hunter yang terkepung.
“Pinjamkan pedang mu...,” pinta Davina pada seorang Tanker.
Tanpa bertanya ataupun merasa keberatan, Tanker itu langsung menyerahkan pedangnya pada Davina. Lagian, senjata yang saat ini lebih sering dipakainya adalah perisai besarnya dibandingkan pedang yang sejak tadi sudah ia sarungkan di pinggangnya. Fokusnya adalah untuk melindungi siswa-siswa yang sudah jatuh terduduk di antara mereka.
Setelah menerima pedang itu, Davina langsung pergi meninggalkan mereka, sambil sesekali menyerang monster yang menghalangi jalannya.
Sama lincahnya seperti sebelumnya, tubuh Davina meliuk-liuk diantara Golem yang berusaha menangkap dan memukulnya, sembari melayangkan belatinya jika melihat sebuah peluang untuk menyerang.
Setelah berhasil keluar dari kepungan monster-monster Golem, Davina berlari dengan cepat untuk kembali pada Gina.
Setelah berada di dekat Gina, ia melemparkan pedang itu padanya, lalu pergi pada 4 rekannya yang lain, yang mulai kerepotan menghadapi pengepungan Golem sambil melindungi 3 siswa mereka.
°°°
Gina Stewart menangkap pedang yang baru saja dilemparkan Davina, lalu berbalik ke arah lain untuk menyelamatkan 6 Hunter yang masih berada di genggaman Golem.
Namun, dia tidak langsung bisa mencapai Golem raksasa itu, karena Golem lain mencegat dan menyerangnya.
Tang... tang...!
Gina berhasil menangkis serangan Golem dengan pedang di tangannya, lalu dengan gerakan berguling ke depan dia menebas ke arah kaki Golem.
Crang... crang!
Butuh dua serangan untuk memutuskan salah satu kaki Golem, yang akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Walaupun Gina adalah seorang Healer, jika dia menggunakan kekuatan sihirnya untuk bertarung, kekuatannya akan sama seperti Hunter berperingkat C atau bahkan B pemula.
Setelah menjatuhkan Golem itu, Gina bergulingan beberapa kali untuk menghindari serangan Golem yang baru saja terjatuh itu, yang tampaknya tidak ingin menyerah untuk mencegat gadis itu.
Tidak ingin membuang waktu untuk menghadapi Golem tersebut, Gina hanya mengabaikannya dan pergi menuju Golem raksasa.
Ia melompat dan menerjang Golem yang menahan 6 siswanya itu tanpa ampun.
Dengan latihan bela diri yang dilakukannya bersama Gus Stevin sejak ia masih remaja di bawah arahan langsung ayahnya yang adalah Hunter kelas Warrior berperingkat S, Gina merupakan satu-satunya Healer yang memiliki skill bertarung yang tak kalah hebatnya dari seorang Warrior kelas atas di Kota C.
Gina fokus untuk menyerang kepala dan mata Golem raksasa, juga sambil berusaha menghindari tangan Golem raksasa yang berusaha menangkapnya.
Jika itu adalah Golem biasa, mungkin Gina sudah dapat menumbangkannya sejak tadi.
Setelah beberapa menit mengulangi hal yang sama, Golem raksasa yang sangat terganggu dengan serangan-serangan gadis itu, akhirnya melepaskan 6 Hunter yang berada di tangan kanannya dan mencoba menangkap Gina yang berlompatan di pundak dan kepalanya sambil terus berusaha membidik mata Golem raksasa.