Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 250 - Herakles Yang Ditakuti


Kepulan dubu yang sangat tebal menutupi seluruh area pertarungan dua demigod yang baru saja mengeluarkan sihir terbaik mereka.


Debu-debu yang berasal dari naiknya pasir dan tanah akibat ledakan besar itu bahkan mulai menutupi seluruh wilayah kerajaan yang berada di dalam tembok besar.


Puluhan juta pasukan perang yang masih berada jauh dari tembok kerajaan hanya bisa melihat debu tebal tanpa tahu apa yang terjadi di dalam ledakan itu.


Mereka sejak tadi hanya bersiaga disana dan tidak jadi ikut bergabung dalam medan pertempuran karena mereka tahu Herakles sang pelindung berada di sana untuk bertarung dan mereka yakin bahwa kerajaan tidak akan membutuhkan bantuan mereka lagi. Jadi, mereka hanya bersiga sambil menonton jalannya pertarungan sengit itu.


"Apa yang harus kita lakukan, jendral?" tanya salah satu ajudan jendral perang yang berada di sisinya.


"Tidak ada yang harus kita lakukan," sahut sang jendral. Ia kemudian tersenyum sebelum berbicara kembali, "Sepertinya kita hanya harus bersiap untuk membantu rakyat di dalam tembok kerajaan. Sihir kuat dari tuan Herakles pasti membuat bangunan-bangunan di dalam sana hancur."


Jika ingin dibandingkan, jendral itu memiliki kekuatan yang sama kuat dengan Nobara. Jadi, walaupun dia tidak bisa merasakan kekuatan energi Mana para dewa, dia masih tahu seberapa kuat energi sihir yang baru saja Herakles lepaskan.


Ia menebak, energi sihir itu mungkin akan bisa memusnahkan setengah dari total keseluruhan pasukan kerajaannya.


Tapi, dia tidak tahu bahwa energi sihir yang menghasilkan ledakan besar itu bukan hanya milik Herakles saja.


"Jangan pernah bergerak sebelum tuan Herakles meminta kita untuk membantu mengevakuasi warga kerajaan ataupun membersihkan bekas pertarungan," ucap jendral perang itu, mengingatkan ajudannya.


"Ya, jendral!"


•••


Sementara itu di dekat tempat terjadinya ledakan, Nordic dan Lorelei yang tadinya sedang duduk di atas kuda mereka, kini sudah berdiri di hadapan 460.000 prajurit berkuda yang berjanji setia untuk mengikuti Anna.


Saat mereka tahu seberapa kuat dua energi sihir yang akan beradu, mereka langsung pergi ke tempat itu untuk melindungi para prajurit dari dampak ledakan yang terjadi.


Berbeda dengan para prajurit tadi, Nordic yang tahu bahwa ada dua energi sihir yang sedang saling beradu, malah kebingungan.


Ia tahu, salah satu sihir adalah milik dewi Ann. Dia malah mengira dewi Ann tiba-tiba datang untuk menolong Anna. Karena itu, ia sedikit khawatir karena harusnya dewi Ann tidak boleh mencampuri urusan para makhluk ciptaan, apalagi sampai datang ke planet lain.


"A-apa dewi Ann benar-benar datang?" tanya Nordic pada Lorelei. "Sihir itu milik dewi Ann, kan?"


"Tidak. Itu bukan dewi Ann. Anna barusan membuka energi Mana nya dan menggunakan sihir itu," sahut Lorelei.


"A-apa?! D-dia juga bisa menggunakan sihir dewi Ann?" tanya Nordic pada Lorelei dengan tatapan tidak percaya.


Nordic akhirnya menatap kembali ke dalam kepulan debu yang beterbangan. Ia serasa tidak memercayai apa yang baru didengarnya. Setahunya, sihir terkuat itu harusnya tidak mungkin diwariskan dewi Ann pada siapa pun, termasuk dewa Erv dan dewi Lyn.


'Memberikan sebagian inti Mana saja sudah sangat luar biasa. Dewi Ann juga mewariskan sihir dari kitab dewa Arnix miliknya?!'


Lorelei tidak menanggapi pertanyaan Nordic. Ia kini merasa sangat cemas karena Anna akhirnya membuka energi Mana nya. Ia tahu, bahwa mereka kini hanya menunggu waktu sampai dewa penguasa planet Titans hadir di tempat itu untuk menghakimi mereka.


Jika sampai itu terjadi, dewa Zeus memang akan terjebak karena bukan dewi Ann yang berada di sana. Tapi, mereka masih terlalu cepat untuk memasang perangkap itu karena mereka belum menemukan dewi Lyn.


Jika dewa Zeus sampai datang, dewan pengawas juga pasti akan datang lalu memanggil dewi Ann untuk memusnahkan planet bangsa Titans padahal dewi Lyn belum ditemukan. Hal itulah yang Lorelei khawatirkan.


Untungnya dua dewa perang dari planet Titans sedang tertawan. Jika tidak, kedua dewa perang itu pasti akan langsung datang saat merasakan energi Mana dari dewa lain berada di wilayah kekuasaan mereka. Itu akan semakin memperumit masalah.


•••


Sekitar satu menit setelah ledakan besar itu, debu-debu yang beterbangan menghalangi pandangan semua orang yang berada di sana tiba-tiba lenyap terbawa angin.


Pada saat debu tebal itu tiba-tiba lenyap, semua orang bisa melihat hanya ada sosok pria bertubuh kekar yang masih berdiri dengan sempoyongan.


Darah segar mengalir keluar dari hidung dan mulutnya.


Herakles sebenarnya hendak menghempaskan tubuhnya untuk berbaring di tanah saja jika tidak ada jutaan prajurit dari kerajaannya yang masih memerhatikannya dari kejauhan. Ia merasa malu jika mereka sampai melihatnya kewalahan hanya karena menghadapi seorang wanita tanpa memiliki energi Mana.


Herakles kemudian menatap ke arah Lorelei dan Nordic yang berdiri tegak di depan ratusan ribu prajurit berkuda. Ia mengira merekalah yang baru saja melenyapkan debu-debu yang beterbangan menghalangi pandangan mata.


Setelah menatap dua lawan yang ia anggap berbahaya itu, Herakles akhirnya menatap ke belakangnya, dimana kolam darah dari meledaknya seluruh prajurit kerajaannya berada.


"Sihir milik siapa yang beradu dengan sihir ku tadi?" pikir Herakles yang tidak menyadari bahwa sihir itu milik Anna.


Herakles menoleh kesana-sini untuk memeriksa jika ada musuh lain yang mungkin baru datang dan hendak membokonginya. Namun, ia tidak menemukan siapapun lagi yang berada disana selain dua makhluk berbahaya yang sedang berdiri di hadapan ratusan ribu prajurit berkuda.


Tahu jika lawan berbahaya yang akan dihadapinya hanya tersisa kedua makhluk itu saja, Herakles akhirnya berjalan dengan langkah terseret menghampiri mereka.


Ia tadi sempat merasakan ada dua energi Mana asing saat ledakan terjadi. Dan sekarang semua energi Mana itu telah hilang. Jadi ia yakin wanita cantik yang berdiri di sebelah pria berjubah merah itu pasti sedang mengunci energi Mana nya kembali.


Pada saat itulah Herakles akhirnya menyadari sesuatu.


"Jadi wanita kurus itu..., apakah dia sebenarnya sedang mengunci energi Mana nya?"


"Kau benar."


Sahut seorang wanita yang tiba-tiba sudah berada di samping Herakles.


Saking terkejutnya dengan kemunculan wanita itu, Herakles sampai termundur dan akhirnya terjatuh ke tanah dengan bokong terhempas.


Saat ia melihat kondisi wanita ramping itu, kedua matanya melebar.


Dia tadi telah menggunakan sihir terkuatnya dan mengira wanita ramping itu pasti sudah mati meledak karena ia telah lenyap dari tempat pertarungan.


Namun, Herakles kini benar-benar tidak memercayai apa yang ia lihat.


Wanita ramping itu tampak baik-baik saja. Herakles bahkan tidak melihat adanya kerusakan pada pakaian ketat yang wanita itu kenakan.


"K-kau... Siapa kau sebenarnya?"


"Kau tidak memiliki hak untuk bertanya karena akulah yang memenangkan pertarungan," sahut Anna.


Setelah mengatakan itu, Anna membungkuk dan mendekatkan tangan kanannya ke dahi Herakles. Kemudian, dengan memberikan sedikit tenaga, ia menjentikkan jari telunjuknya di dahi pria itu.


Tuk...! Baaammm...!


Walaupun sentuhan yang Anna lakukan tidak terlalu keras, namun itu sudah cukup membuat Herakles yang sudah kehabisan energi Mana dan terluka parah itu jatuh pingsan.


•••


Ratusan ribu prajurit berkuda yang sebelumnya mengira pemimpin mereka telah mati, kini tercengang saat melihat pemimpin mereka berhasil mengalahkan lawan yang menurut mereka sangat mustahil untuk dikalahkan.


Sebagai makhluk dari planet Titans, mereka tentu tahu siapa Herakles dan sejarah menterengnya yang telah menumpas banyak makhluk kuat dan monster-monster mengerikan.


Mereka juga tahu bahwa Herakles yang hanyalah makhluk setengah dewa itu bahkan sudah pernah mengalahkan dewa asli dalam pertarungannya.


Dan tidak ada di antara mereka yang tidak tahu bahwa Herakles adalah putra campuran dari dewa Zeus.


Jadi, saat mereka tahu bahwa lawan pemimpin mereka adalah Herakles, mereka tidak pernah berharap bahwa pemimpin mereka akan bisa memenangkan pertarungan itu, terutama karena mereka tahu bahwa pemimpin mereka tidak memiliki energi Mana sama sekali.


Setahu mereka, Anna hanya sangat kuat dan mengerikan dalam bertarung dengan kekuatan fisiknya, tapi tidak seberbahaya Herakles.


Tapi, setelah mereka melihat Anna bisa mengalahkan Herakles, bahkan sampai membuat demigod itu terkapar entah mati atau tak sadarkan diri, ratusan ribu prajurit berkuda itu akhirnya saling menatap diantara mereka dengan saling bertanya-tanya.


"Pemimpin mengalahkan demigod itu?"


"Apa itu masuk akal? Apa pemimpin kita memang sekuat itu?"


"Siapa sebenarnya pemimpin kita ini?"


•••