Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 175 - Eiko Tanaka


Anna menangkap lengan ramping dari seorang wanita muda, yang baru saja menyerangnya secara tiba-tiba, dengan sangat mudah.


Sementara itu si penyerang, Eiko Tanaka, terkejut ketika melihat siapa orang yang baru saja diserangnya.


"A-anna-San?!" Eiko memekik, terkejut bercampur rasa bersalah.


Menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan, Eiko langsung melepaskan pisau kecil, yang selalu ia selipkan di balik kimono nya, tersebut sebagai tanda bahwa ia merasa bersalah dan tidak akan melakukan serangan lagi.


Zlebbb...


Pisau yang baru saja Eiko lepaskan, langsung menancap di tatami yang menjadi pijakan kaki mereka.


Anna tersenyum padanya, lalu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Eiko.


"Maaf mengagetkan Anda, nona Tanaka."


Anna juga memiliki sedikit rasa bersalah karena telah muncul di tempat itu secara tiba-tiba.


Anna kemudian menatap dua pria yang berada di dekat mereka lalu membungkukkan tubuhnya sebanyak 30° untuk menyapa ketiga orang itu, dalam budaya mereka.


"Saya Anna, dari Kota C. Senang bertemu Anda semua."


Eiko buru-buru membalas sapaan Anna seraya membungkukkan tubuhnya juga. Gerakkannya itu langsung diikuti juga oleh dua pria yang merupakan pengawal pribadinya, setelah mereka menyarungkan kembali katana mereka.


"Senang bertemu dengan Anda, Anna-San. Maaf atas ketidaksopanan saya." Ucap Eiko. Nada bicaranya lebih cepat dari cara ia berbicara biasanya, dengan terdengar sangat menyesal.


"Tidak apa-apa." Sahut Anna cepat. "Tapi, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"


Eiko langsung mengangkat kepalanya lagi setelah Anna bertanya. Ia kemudian menoleh pada dua pria yang merupakan pengawalnya itu, lalu kedua pria itu pergi meninggalkan mereka.


Namun, kedua pria itu akhirnya kembali lagi bersama seorang pria lain dan masing-masing dari mereka membawa kotatsu, zabuton dan perlengkapan minum teh.


Ketiga pria itu mengatur meja kecil, alas duduk dan perlengkapan minum teh tersebut dengan sangat rapi di tengah ruangan sebelum akhirnya pergi meninggalkan kedua wanita itu disana.


"Silahkan duduk, Anna-San." Ucap Eiko, mempersilahkan Anna duduk di salah satu bantalan duduk yang tersedia. "Maaf tidak bisa menyambut Anda dengan layak. Saya tidak menyangka Anda...," Eiko berhenti berbicara dan sadar bahwa Anna tadi bisa dengan tiba-tiba muncul di hadapannya setelah pengawalnya mengirimkan foto ruangan ini pada Gina Stewart.


Eiko akhirnya mengerti kenapa Gina meminta foto itu.


"A-apakah... Anda berteleportasi?" tanya Eiko dengan gugup.


Anna tersenyum canggung, lalu mengangguk pelan. "Ya," sahutnya kemudian.


"B-begitu..."


"Apa ada hal penting yang ingin Anda bicarakan, nona Tanaka?"


"Ah..., y-ya... Sebenarnya...," Eiko diam sejenak, mencoba menenangkan dirinya yang baru saja di buat takjub oleh kemampuan Anna. Dia kini merasa gugup saat sudah duduk berhadapan dengan gadis cantik itu.


"Saya tidak terburu-buru." Ucap Anna, melihat Eiko yang tampak linglung.


"Y-ya?"


"Anda bisa memikirkan dulu apa yang ingin Anda katakan. Maaf jika datang secara tiba-tiba dan membuat Anda terkejut."


Mendengar itu, Eiko langsung mengangkat kedua tangan ke depan dadanya dan menggerak-gerakkan kedua tangannya seraya berkata, "T-tidak apa-apa..., saya hanya agak terkejut." Ucap Eiko, yang kemudian terkesima dengan senyum lembut Anna yang tampak begitu manis dan menyejukkan hati.


Senyuman itu malah membuatnya tambah terpana dan menatap wajah Anna cukup lama dalam diam.


Melihat lawan bicaranya menatapnya dengan wajah linglung, Anna hanya bisa bersabar seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan pelan.


'Oh, ayolah... Sampai kapan kau menatap ku seperti itu?'


Keadaan itu berlangsung selama 2 menit, sampai Eiko akhirnya sadar bahwa ia telah menatap tamu nya terlalu lama dengan tidak sopan.


Eiko kemudian menundukkan kepalanya lagi dan masih diam selama 1 menit setelahnya, sampai ia benar-benar bisa menenangkan dirinya dan kembali berbicara.


"Senang bisa bertemu Anda, Anna-San."


"Saya juga," sahut Anna cepat, merasa bosan dengan kalimat yang telah Eiko ulangi dua kali hanya dalam 10 menit sejak mereka bertemu.


"Maaf sebelumnya, apakah Anda tadi menyaksikan siaran langsung dari situs resmi Asosiasi Dunia?"


"Saya menyaksikannya."


"B-begitu...," Eiko menundukkan kepalanya, merasa malu atas apa yang telah ayahnya katakan dalam wawancara tersebut. "Sebenarnya, saya tidak yakin ayah saya mengatakan bahwa Anda adalah iblis yang mereka maksud."


"Tapi tuan Tanaka mengatakannya dengan sangat lantang." Sahut Anna.


Eiko terkejut mendapat respon cepat dari Anna. Ia menatap Anna sebentar, lalu membungkukkan tubuhnya seraya meminta maaf.


"Maafkan kami, Anna-San. Tapi saya yakin kalau itu mungkin bukan ayah saya."


"Itu ayah Anda."


"Ap..."


Kedua tangan Eiko yang berada di atas pahanya gemetar saat mendengar apa yang baru Anna katakan. Bukan karena ia terkejut, namun karena ia yakin bahwa ayahnya tidak mungkin mengatakan hal buruk seperti itu pada penyelamat hidupnya.


"I-itu tidak mungkin..."


"Apa yang membuat Anda yakin bahwa itu tidak mungkin?"


"A-ayah saya... Sangat menghormati Anda, Anna-San."


"Hah?"


"..."


"Ayah Anda menghormati saya?"


"Y-ya... Anda dulu pernah menyelamatkan hidup ayah saya. Jadi, ayah tidak mungkin mengatakan hal buruk apa pun tentang Anda."


"Apa? Tapi, bukankah tuan Tanaka mengatakan bahwa saya adalah iblis yang bertarung dengannya sebelas tahun yang lalu?"


Anna menegakkan tubuhnya. Dia memang merasa curiga ada suatu hal yang akan diketahuinya saat ia bertemu dengan putri dari Kenichiro Tanaka ini, karena itulah Anna langsung pergi menemuinya saat tahu Eiko ingin bertemu dengannya.


Eiko terdiam. Ia merasa sedikit heran saat Anna menanyakan hal yang harusnya sudah Anna ketahui, jika ia benar-benar penyelamat ayahnya 11 tahun yang lalu. Namun, gadis remaja di hadapannya sepertinya tidak mengetahui hal itu sama sekali.


"Anna-San, apakah Anda pernah mengalami hilang ingatan?" tanya Eiko dengan suara lembut. Ia berusaha mengucapkan pertanyaannya dengan nada sesopan mungkin.


Anna terdiam. Ia tahu, Eiko mungkin mencurigainya atas reaksi yang diberikannya secara spontan tadi.


Namun, pada titik ini, ia yakin bahwa Kenichiro Tanaka pernah bertemu Ann Arnix. Karena itulah Eiko bertanya demikian padanya.


Anna mulai berpikir dengan cepat. Ia mulai bermain tebak-tebakkan di dalam pikirannya, untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi 11 tahun yang lalu dan bagaimana ia harus memberikan respon pada pertanyaan wanita di hadapannya.


Anna menghela nafas panjang, membuat raut wajah yang tampak sedikit sedih, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Eiko, "Ya. Saya sebenarnya kehilangan ingatan saya setelah kejadian itu." Sahut Anna.


Eiko menganggukkan kepalanya pelan, "Saya sudah menduganya. Saya sangat menyesal." Eiko kemudian membungkukkan tubuhnya lagi, seraya berkata, "Maaf karena membuat Anda harus mengalami kerugian karena telah menyelamatkan ayah saya dan Hunter-hunter lainnya."


Melihat sikap Eiko, Anna malah merasa sungkan karena telah membohonginya. Ia pun buru-buru meminta Eiko untuk kembali menegakkan tubuhnya.


'Astaga. Aku seperti sedang berbicara dengan Rin saja.'


"Saya curiga orang itu bukanlah ayah saya karena ayah tidak pernah mengatakan bahwa Anda masih seorang gadis kecil berusia tujuh tahun." Eiko melanjutkan.


Anna mengangguk pelan. Ia semakin yakin bahwa yang ditemui Kenichiro sudah pasti Ann Arnix.


"Jadi, apa yang ayah Anda ceritakan tentang saya?"


"Ayah tidak mengingatnya dengan terlalu jelas. Saat itu, ayah dan Sato-San sudah terluka sangat parah saat di hajar habis-habisan oleh monster penyebab dungeon break. Yang ayah ingat hanyalah saat Anda dan teman Anda tiba-tiba datang menyelamatkan mereka, lalu melindungi mereka."


"Teman?"


Eiko menatap Anna dengan heran saat mendengar pertanyaan itu. Tapi, ia ingat kembali bahwa Anna telah kehilangan ingatannya, ia akhirnya mengangguk.


"Ya, Anna-San. Apa Anda tidak mengingatnya?"


Anna menggelengkan kepalanya. "Saya benar-benar tidak mengingatnya."


"B-begitu..., saya sangat menyesal." Ucap Eiko dengan wajah bersimpati.


Anna mendesah pelan, melihat raut wajah penuh simpati Eiko.


'Ayolah, bisakah kau bersikap biasa saja?'


"Tidak apa-apa. Tapi, apakah tuan Tanaka mengatakan ada berapa orang teman ku itu?"


"Satu orang. Anda dan teman Anda akhirnya bertarung melawan tiga belas monster mengerikan itu."


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"


Eiko menggelengkan kepalanya, "Ayah saya tidak mengingat lagi kejadian setelahnya, karena ayah dan Sato-San pingsan akibat energi sihir yang terlalu kuat. Setelah mereka tersadar kembali, pertarungan itu sudah selesai. Mereka tidak bisa menemukan Anda, teman Anda, dan monster-monster itu lagi."


"Begitu...," Anna tertunduk lesu, merasa sedikit menyayangkan karena ia tidak bisa mendapatkan lebih banyak informasi lagi.


"Jadi, saya yakin orang itu bukan ayah saya, Anna-San."


Anna mengangkat wajahnya lagi dan tersenyum getir.


"Sayang sekali. Tapi, orang itu benar-benar tuan Tanaka." Sahut Anna.


Eiko mengernyitkan kedua alisnya, merasa tidak yakin dengan apa yang Anna katakan. "Tapi ayah saya tidak mungkin..."


"Baik itu tuan Tanaka, tuan Cavalli dan putra sulung dari tuan Sato, mereka sedang dalam pengaruh sihir, sejenis hipnotis." Ucap Anna, memotong kalimat Eiko.


"Apa?!"


•••