Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 224 - Planet Bangsa Titans


Anna mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan perasaan takjub.


Mulutnya bahkan sampai ternganga lebar, saat pria bertubuh kekar dengan pakaian perang itu menutup pintu jeruji besi di hadapannya.


"Aku..., dipenjara?"


"Kau tidak bisa menunjukkan plat identitas mu. Kau harus di tahan. Kau bisa menyebutkan nama keluarga mu. Petugas kami akan menghubungi keluarga mu untuk mengambil plat identitas milik mu barulah kami akan melepaskan mu." Ucap pria bertubuh kekar itu.


"..."


"Kau dari keluarga mana?"


"Lloyd."


"Aku akan mencatat dan menghubungi keluarga Lloyd nanti." Ucap pria itu, yang kemudian berbalik pergi.


'Kau tidak akan menemukannya. Mereka berada di Bumi.'


Setelah pria itu pergi, Anna langsung berbalik untuk menatap dua hewan kecil yang sedang bermain bergulingan di atas kasur jerami di dalam sel nya.


Ia malah lebih tercengang lagi saat melihat tingkah gembira dua hewan tersebut.


"Kenapa kalian terlihat sesenang itu?"


"Aku tidak tahu, tubuh hewan jenis ini sangat lincah dan selalu ingin bergerak," sahut hewan dengan bulu coklat tua yang sangat halus nan lembut.


Hewan itu memiliki wajah yang sangat imut, dengan kumis panjang di atas mulutnya.


Anna bertolak pinggang dengan satu tangannya sambil terus memerhatikan tingkah hewan yang sangat suka menggigit-gigit hewan kedua yang tampak kesal saat selalu di ajaknya berguling dan digigitinya.


"Sebenarnya, di mana kau melihat otter itu hingga kau kepikiran menyamar dengan wujud itu?" tanya Anna penasaran.


Dewi Ezili memilih wujud otter untuk wujud nyatanya saat mereka pergi melakukan penyamaran ke planet ini, planet bangsa Titans.


"Aku melihat gerombolan mereka sedang bermain-main di tepi sungai saat kami berkeliling Bumi bersama dewi Ann untuk mencari para malaikat tersesat itu."


Anna mendengus pelan.


Ia kemudian menatap hewan lain yang sedang berdiri sambil mengangkat kedua tangannya, berusaha menghindari gigitan dewi Ezili yang berwujud otter.


Hewan yang menjadi wujud dewa Ogun itu adalah red panda, yang tidak kalah imut dengan otter di hadapannya.


Sebenarnya wujud itu bukan dewa Ogun yang menginginkannya. Tadinya, ia ingin menyamar sebagai elang. Namun, dewi Ezili memaksanya untuk menjadi red panda.


Kedua dewa itu terpaksa harus melakukan penyamaran karena mereka harus masuk ke planet bangsa Titans dengan mengunci energi Mana.


Jika mereka berada di dalam tubuh Anna, mereka tidak bisa melakuannya. Karena untuk berada dalam wujud roh, mereka harus menggunakan sihir.


Mereka juga mengatakan pada Anna bahwa mereka tidak mungkin menggunakan wujud asli di planet bangsa Titans ini, karena wujud asli mereka sangat terkenal di tempat itu.


"Tapi, kenapa kalian tidak menggunakan wujud lain saja? Wujud manusia seperti ku atau wujud Elf, Orc atau lainnya. Aku juga melihat bangsa dari planet lain ada di sini."


"Aku hanya ingin menjadi otter sesekali. Mereka sangat imut," sahut dewi Ezili.


'Hanya karena mereka imut maka kau memilih menjadi hewan?'


"Tapi kenapa aku juga harus menjadi hewan yang kau suka?" tanya dewa Ogun, ingin memprotes.


"Red panda juga imut. Aku tadinya sampai bingung harus memilih yang mana," sahut dewi Ezili tanpa memikirkan perasaan dewa Ogun.


Anna agak bingung melihat tingkah laku kedua dewa itu.


'Apa dewa memang sekonyol ini?'


Namun, beberapa jam kemudian, dewi Ezili akhirnya menyesali keputusannya memilih otter, karena otter adalah jenis hewan semi-akuatik yang membutuhkan air di sekitar tempat hidupnya, atau mereka akan terkena dehidrasi.


Berbeda dengan red panda, yang akan tidur dengan nyaman tanpa memerlukan air di sekitarnya.


Tapi, karena red panda terbiasa tidur di pohon, Anna akhirnya menjadi korban karena red panda itu tidur dengan bergelantungan di lengannya.


•••


"Tapi, kenapa kita harus menyamar dan membaur bersama penduduk di planet ini?" tanya Anna lagi.


Anna agak kesal saat mengingat ide yang di berikan dewa Ogun itu. Gara-gara hal itu, mereka langsung tertangkap hanya beberapa menit setelah mereka keluar dari gerbang.


Sepasukan tentara dari sebuah dinasti yang kebetulan lewat langsung memeriksa Anna dan membawanya ke penjara setelah mengetahui Anna tidak memiliki plat identitas diri.


"Banyak penduduk asli planet ini yang memiliki energi Mana dewa karena mereka adalah makhluk setengah dewa. Jadi, kita harus berhati-hati. Jangan sesekali kau membuka energi Mana mu saat tidak dalam keadaan terdesak. Mereka bisa mendeteksi energi Mana mu," tambah dewi Ezili.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan pergi mencari dewa Lyn saat malam hari dengan pergi terbang mengelilingi planet ini?" tanya Anna. Ia masih bisa terbang tanpa menggunakan energi Mana dengan cara memanipulasi energi alam.


"Dewi Lyn."


"Ya."


Anna terdiam. Ia sedang mencerna kalimat dari dewi Ezili saat merasa ada sesuatu yang mengganggu.


"A-apa? Dia wanita?"


"Ya."


"Hah?"


"Kita tidak bisa pergi berkeliaran seperti yang kau katakan." Ucap dewa Ogun, mengabaikan keterkejutan Anna. "Planet ini sangat ketat. Sihir para dewa dapat memantau segala macam kegiatan mencurigakan yang terjadi disini."


"Jadi, bagaimana cara kita bergerak?"


"Kita akan mencari dewi Lyn perlahan dengan mencari informasi kesana-sini."


"Apa?! Bagaimana kita bisa mencarinya dengan cara seperti itu di planet yang besar ini?"


Anna jelas-jelas tidak menyukai ide tersebut. Mencari keberadaan seseorang di sebuah planet yang sebesar Bumi saja, akan membutuhkan waktu yang sangat lama dengan tanpa adanya petunjuk. Apalagi jika harus mencari seseorang di planet yang memiliki ukuran 2 kali lipat lebih besar dibandingkan planet Jupiter ini.


"Itu sama susahnya seperti mencari jarum di lautan yang luas. Aku tidak menyetujuinya." Sahut Anna. "Bumi bahkan mungkin sudah tidak ada sebelum kita menemukannya. Bukankah sebaiknya aku balik saja dan mencari para malaikat tersesat itu di celah dimensi? Itu mungkin akan seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami di bandingkan aku harus mencari jarum di lautan luas. Lagian, kita tidak memiliki informasi apa pun tentang tempat keberadaan dewi Lyn."


Red panda, sang dewa Ogun, menggelengkan kepalanya.


"Jangan khawatir tentang perbedaan waktu. Planet ini memiliki perbandingan waktu satu banding satu dengan Bumi. Dan lagi, perumpamaan mu salah. Mencari mereka di celah dimensi sama seperti kau mencari sebutir debu di alam semesta. Apa kau pikir dewi Ann tidak akan menemukan mereka jika tidak sesukar itu?"


Anna masih tidak menerima ide itu dan mencoba mendebat mereka, "Kalau begitu aku tinggal pulang saja dan mengobrak-abrik semua isi Dungeon untuk mencari mereka."


"Mereka tidak akan bersembunyi di dalam Dungeon." Dewa Ogun terus menyahutinya, sementara dewi Ezili berkeliaran ke sekeliling sel dengan tubuh otter nya.


"Tapi aku sudah bertemu mereka tiga kali di dalam Dungeon."


"Itu karena mereka masih ragu dengan kekuatan mu. Jika kau datang dengan aura energi Mana mu setelah kau mendapatkan tambahan kekuatan dari bab lima kitab dewa Arnix seperti yang kau miliki sekarang, mereka tidak akan membuka gerbang ke celah dimensi secara sembarangan."


"Ya. Mereka nantinya juga akan memilih untuk bertarung melawan mu di dunia manusia jika mereka terdesak," dewi Ezili akhirnya berbicara, setelah ia selesai mengendus sekeliling sel.


"Kenapa?"


"Karena kekuatan yang kau miliki itu terlalu besar. Kau bisa meratakan seluruh daratan di Bumi jika kau menggunakan kekuatan mu untuk bertarung di Bumi. Karena itu juga dewa Erv sampai saat ini masih bersemedi untuk memulihkan luka dalamnya yang sangat parah."


"Dewa Erv? Siapa lagi itu?"


"Dia adik dewi Ann, kakak dewi Lyn."


"... Baiklah... Tapi, apa hubungannya dia yang terluka parah dengan ku?"


"Dewa Erv terluka parah karena melindungi Bumi saat dewi Ann menggunakan kekuatannya untuk memusnahkan 13 malaikat tersesat sekaligus. Kau mungkin ingat kejadian yang terjadi di Bumi beberapa tahun lalu? Saat itu sebuah daratan luas telah di invasi makhluk dari planet lain. Kebetulan, kami saat itu sedang berada di Bumi untuk mencari keberadaan para malaikat tersesat dan sangat kebetulan juga kami bertemu dengan mereka,"


"Waktu itu mereka hendak langsung melarikan diri. Untung saja saat itu ada dewa Erv bersama kami. Jadi dewi Ann bisa membinasakan mereka semua sebelum sempat melarikan diri."


"Jadi, yang menghentikan dungeon break saat itu benar-benar mereka?" pikir Anna, yang tiba-tiba ingat cerita yang pernah Eiko Tanaka sampaikan padanya.


Anna kemudian bertanya. "Saat itu, apa yang terjadi?"


"Dewi Ann hampir meledakkan Bumi hanya untuk membunuh tiga belas malaikat tersesat itu. Tapi Bumi beruntung karena saat itu ada dewa Erv yang memiliki kekuatan pelindung terkuat di alam semesta kalian,"


"Saat dewi Ann menggunkan sihirnya, dewa Erv mengurangi daya penghancur dewi Ann sampai hanya tersisa sepuluh persen saja saat dewi Ann meledakkan mereka. Tapi dewi Ann memang terlalu kuat. Dewa Erv langsung sekarat setelah meminimalisir ledakan dari kekuatannya itu. Kau tahu juga kan, karena pelindung yang dewa Erv buat, hanya ada sebagian kecil daratan saja yang hancur."


"Sedikit? Ada banyak negara yang rata dengan tanah pada saat itu," sahut Anna dengan tatapan malas.


Anna kemudian ingat bagaimana dewi Ann melenyapkan planet bangsa Anunnaki hanya dengan sihir dari bab pertama kitab dewa Arnix.


Dia berpikir bahwa manusia harus berterima kasih pada dewa Erv. Jika tidak, Bumi mungkin sudah tidak ada lagi.


"Tapi, ngomong-ngomong, kenapa dewi Ann memilih ku untuk memiliki kekuatannya itu? Bukankah masih banyak orang lain yang memiliki kualifikasi yang jauh lebih baik dibandingkan diriku?"


"Itu karena hanya kau yang bisa menerima kekuatannya?"


"Hanya aku?"