Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 240 - Gina Stewart


Miyuki melangkahkan kedua kakinya perlahan, keluar dari kolam lava yang sudah mulai surut.


Ia kemudian berjalan menghampiri Astareth yang perlahan kehilangan senyumnya setelah melihat senyuman tipis di bibir Miyuki.


Sratt... Sratt...!


"Aaaahhhh...!"


Dengan dua tebasan wakizashi, Miyuki memotong kedua sayap Astareth di pangkalnya dengan sangat rapi.


"Kau...! Bagaimana kau bisa lepas dari sihir ku?!" ucap Astareth sembari melangkah mundur, menjauhi Miyuki yang terus berjalan dengan perlahan menghampirinya.


Kedua matanya melotot dan bergetar, tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya. Sebelumnya, tidak ada yang bisa berhasil melepaskan diri dari sihir hipnotisnya.


"Lepas? Aku tidak akan pernah terkena sihir rendahan semacam itu. Kau pikir aku sama dengan Anna? Orang yang belum banyak memiliki pengalaman bertarung?" sahut Miyuki sembari tertawa mengejek.


Miyuki kemudian mengarahkan telapak tangannya pada Astareth. Pada saat itu juga, tubuh Astareth melayang menghampirinya.


Tap...


Miyuki menangkap leher Astareth lalu mencekiknya dengan sangat kuat hingga Astareth merasa lehernya hendak meledak.


Namun, saat Miyuki hendak menusuk wakizashi ke jantung makhluk itu, suara teriakan seseorang menghentikannya.


"Miyu! Tunggu dulu!"


Spontan saja Miyuki menoleh ke arah datangnya suara.


Dari kejauhan, seorang wanita cantik berambut pirang berjalan dengan langkah lebar menghampiri.



Di tangannya, ia membawa kotak kayu panjang yang kemudian dibukanya saat ia sudah berada di dekat Miyuki.


"Kenapa kau ada disini? Bukannya ada yang harus kalian lakukan Kota C?"


Gina tidak menjawab pertanyaan Miyuki. Ia terus menyatukan 3 batang kayu bulat hingga akhirnya membentuk sebuah tombak panjang.


"Bisa kau serahkan dia untuk ku?" tanya Gina, sembari menatap Astareth dengan tatapan dingin.


"Y-ya... Boleh saja." Sahut Miyuki, merasa asing dengan ekspresi wajah Gina yang dingin. Ekspresi seperti itu sama sekali tidak pernah ia lihat dari seorang Gina.


Biasanya, yang memiliki ekspresi seperti itu adalah dirinya sendiri.


"Tapi..., apa kau ingin aku memotong tangan dan kakinya dulu?"


"Tidak. Aku ingin menyiksanya sendiri."


"Huh?"


"..."


"A-apa kau Gina?" Miyuki kemudian menoleh dan menatap Astareth yang berwajah ketakutan dalam cekikannya. "Apa aku terpengaruh hipnotis?" pikir Miyuki.


Miyuki akhirnya melemparkan Astareth ke hadapan Gina, lalu berbalik dan pergi menghampiri Mammon yang kembali gemetaran setelah Miyuki kembali mendatanginya.


•••


"Kau penyebab kematian ayah ku, dan orang-orang dekat ku. Aku ingin membunuhmu sendiri dengan kedua tangan ku." Ucap Gina, setelah Astareth berdiri di hadapannya.


Astareth awalnya bingung karena Miyuki tidak langsung membunuhnya. Namun, ia kemudian tertawa terbahak-bahak setelahnya.


Ia menatap wanita berambut pirang yang kini sudah berdiri dengan kuda-kuda siap menyerang di hadapannya.


"Setidaknya, sebelum aku mati, aku akan melampiaskan kemarahanku pada seorang manusia," ucap Astareth dengan nyaring. Ia menatap Gina dengan memandang remeh, lalu berbicara padanya, "Kau pikir bisa mengalahkanku? Dua teman mu itu memang sangat kuat. Mereka memiliki kekuatan dari dewa dan malaikat tertinggi. Tapi kau? Kau hanya mengambil kekuatan dari makhluk-makhluk asing yang kami hadiahkan pada manu..."


Crakkkk...!


Mata tombak yang runcing itu menancap di perut Astareth yang terlalu banyak bicara.


Srattt...


"Kalau kau tidak mengeluarkan kemampuan terbaikmu, aku mungkin akan menyesal karena sudah datang jauh-jauh kesini." Ucap Gina.


Astareth yang pemarah tentu saja langsung meledak saat manusia tanpa kekuatan dewa dan malaikat itu terdengar seperti sedang meremehkannya.


Iblis betina itu akhirnya mengambil dua trisula dari belakang pinggangnya dan menyerang Gina dengan seluruh kekuatan sihirnya.


Namun, tanpa diduganya, ia sama sekali tidak bisa mendekati Gina.


Gina bisa menjaga jarak dengan sangat baik. Ia mengontrol jalannya pertarungan dengan baik menggunakan tombak panjangnya.


Gina memang tidak memiliki kekuatan dewa dan malaikat tertinggi seperti Anna dan Miyuki. Namun, dia menguasai teknik bertarung menggunakan tombak dewi Ann yang telah Anna ajarkan padanya dengan sangat baik.


Dengan bantuan Fael, Tzullu dan Drucalla yang secara bergantian menjadi lawannya berlatih, kemampuan bertarung Gina kini sangat baik.


Semua orang hanya tahu dia sebagai seorang Healer. Tapi, saat guild Nine Bears mendapatkan pemblokiran dari Asosiasi Dunia, tidak ada yang tahu bagaimana Gina bertarung di dalam Dungeon karena mereka tidak pernah merekam raid lagi seperti sebelumnya.


Crakk... Crakk... Crakkk...!!!


Mata tombak Gina sudah berkali-kali melukai tubuh Astareth yang bertarung dengan tidak fokus akibat emosinya yang sangat tidak stabil. Ia bertarung sambil memiliki kebencian dan kemarahan akibat merasa sangat direndahkan oleh manusia yang memiliki derajat lebih rendah darinya.


Sampai akhirnya, Astareth menggunakan sihir jarak jauhnya. Ia menggunakan cambuknya juga, untuk menyerang Gina dari arah belakang.


Tapi, semua serangannya tidak membuahkan hasil. Bukannya terpojok, Gina malah menyerangnya semakin sadis.


Astarerh yang baru menyadari bahwa lawannya memiliki sihir untuk meningkatkan kekuatan serang dan bertahan sampai beberapa kali lipat akhirnya menyadari bahwa ia tidak akan bisa menang melawan manusia itu.


Sampai akhirnya, dengan putus asa, Astareth merapalkan mantra sihir penghipnotis di tengah-tengah pertarungan, berharap Gina akan terpengaruh olehnya.


Tapi, Gina langsung melindungi tubuhnya denan sihir pelindung. Pelindung yang Gina miliki menangkal semua sihir jahat yang berusaha masuk kedalam area tempatnya berdiri.


Bukan hanya itu saja. Saat Astareth akhirnya berhasil memutuskan salah satu tangan Gina yang tersambar cambuknya, tangan itu langsung teregenerasi.


Astareth kini merasa bahwa lawannya seperti bukan manusia. Dia seperti sedang bertarung melawan bangsanya sendiri.


•••


Sementara itu di kejauhan, Hunter-hunter dan para jurnalis yang tadinya melarikan diri kini telah kembali. Mereka menyaksikan pertarungan seru antara Gina dan Astareth dengan terpukau.


Mereka tidak tahu bahwa seorang Healer bisa bertarung sebaik Gina, bahkan menurut mereka, Gina jauh lebih cocok sebagai seorang Warrior.


"Apa dia benar-benar Healer?"


"Dia Healer! Lihat tangannya yang terputus langsung teregenerasi! Dia bahkan memiliki skill seperti itu?"


"Dia juga sangat cepat. Iblis itu bahkan sudah mulai tersudut olehnya."


•••


"Hiyyyaaaahhh..."


Crakkk... Crakkk... Crakkk...!!!


Astareth yang sudah sangat terpojok akhirnya terkena 3 tikaman fatal pada perut, dada dan terakhir, tenggorokkannya.


Tubuhnya masih tergantung di sana, di ujung tombak Gina yang akhirnya berhasil mencabut nyawanya.


Melihat Astareth sudah tewas, Miyuki berjalan menghampiri Gina, dengan membawa kepala Mammon di tangannya.


Setelah Miyuki melemparkan kepala Mammon ke bawah kaki Astareth yang masih tergantung di ujung tombak Gina, ia menatap Gina dan tersenyum padanya.


"Kau benar-benar mendesaknya dengan sangat mengerikan. Kau benar-benar hebat." Puji Miyuki dengan tatapan berbinar.


Walaupun Gina takjub dengan ekspresi bahagia Miyuki yang baru pertama kali dilihatnya, tetap saja dia tidak bisa mengatakan apa-apa.


'Siapa yang mengerikan disini? Aku bahkan tidak tahu kapan kau memenggal kepala iblis itu.'


•••••••