Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 282 - Makan Malam Bersama


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Anna, melihat kesibukan Miyuki di meja kerjanya.


Mereka sudah kembali ke ruang bawah tanah dan Miyuki tampak sangat serius didepan komputernya.


Miyuki menghela nafas panjang, sebelum akhirnya melepaskan keyboard sambil merubah posisi duduknya untuk menghadap Anna yang berdiri disampingnya.


Miyuki kemudian menatap Anna dengan serius dan bertanya, "Apa kau pernah menghafal kata sandi satelit kita?"


Anna tertawa.


"Untuk apa aku menghafal kata sandi sebanyak itu?"


Miyuki diam. Menatapnya penuh selidik, lalu bertanya lagi, "Tahu darimana kalau kata sandinya banyak? Jangan-jangan... Kau hafal, kan?"


Anna memalingkan wajah sambil tersenyum canggung.


"Yah... Aku kebetulan melihatnya."


"Kau mengerikan."


"H-hei... Siapa yang mengerikan? Kau menyadap ponselku dan membaca semua pesanku."


Miyuki tiba-tiba berbalik lagi menghadap monitor lalu memainkan jemarinya lagi di keyboard.


"Tapi kau tidak pernah menggunakan sandi itu kan?" tanya Miyuki lagi, tanpa memerdulikan ucapan Anna.


"Untuk apa aku menggunakannya?"


"Berarti benar-benar ada yang menggunakan satelit kita."


"Hah? Siapa yang bisa menghafalkan kata sandi sebanyak itu selain kita?"


Miyuki menghentikan gerakan jarinya, lalu menoleh ke belakang.


Anna menoleh pada Lorelei, Nordic, juga pada red panda dan otter yang sedang bermain-main dengan Gina dan Rin.


"Yah..., kalau mereka sih bisa. Tapi mereka tidak mungkin menggunakan komputer."


Miyuki langsung mengangguk setuju.


"Aneh..., siapa yang bisa meretas sandi ku? Aku juga sudah membuat 30 konfirmasi. Tidak mungkin ada yang bisa menembusnya kecuali kau dan mereka. Itupun jika mereka melihat caranya."


"Yah..., mungkin ada orang yang lebih ahli darimu, kan?"


"Tidak ada."


"..."


"Aku yakin."


"Lalu, bagaimana mungkin ada yang meretasnya?"


"Aku belum tahu."


"Mungkinkah kau tidur sambil meretasnya sendiri?"


Miyuki langsung mendongak dan menatap Anna dengan tatapan malas.


°°°


"Kau tidak mendatangi mereka?" tanya Lorelei pada Anna, sambil berjalan menghampiri Anna dan Miyuki.


"Saya akan melakukannya setelah makan malam, nenek guru."


"Y-ya?"


"Saya sudah lama tidak makan," sahut Anna, sambil tersenyum canggung.


"Bukankah kau tidak bisa merasakan lapar dan haus lagi?"


Mendengar itu, Gina, Miyuki dan Rin yang berada disitu menoleh pada Anna dan menatapnya dengan tak percaya.


'Apa dia masih manusia?'


"Yah..., saya sebenarnya cuma ingin merasakan makanan buatan Gina. Jika Anda mencobanya, Anda mungkin akan ketagihan."


Lorelei menoleh pada Gina, "Benarkah?"


Gina yang gantian ditatap oleh semua orang, termasuk red panda dan otter, tiba-tiba tersipu.


Gina kemudian menoleh pada Rin, "B-bisakah kau menemaniku ke supermarket?"


Rin mengangguk, "Tentu saja."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau memanggil nona Lo nenek guru?" tanya Miyuki pada Anna.


"Nona Lo?" Anna mengernyitkan alis.


Miyuki melirik pada Lorelei sebagai jawabannya.


"Bukan itu maksudku," ucap Anna. Ia tahu yang Miyuki maksud pasti Lorelei. "Asal kau tahu, nenek guru sudah berusia puluhan miliar tahun."


"Huh?!"


Anna mengangguk.


Miyuki menatap Lorelei dengan benar dan melihatnya sepertinya hanya seumuran Gina.


Anna kemudian menunduk dan berbicara pelan didekat telinga Miyuki.


"Dia ini salah satu Serafim. Malaikat tertinggi."


Glup...


Miyuki menatap Lorelei lagi dengan mata melebar.


"Y-ya..."


Anna akhirnya menagakkan tubuhnya lagi dan tersenyum pada Miyuki.


"Lalu, ada ditingkatan mana para malaikat tersesat itu?" tanya Miyuki penasaran.


"Mereka tingkat paling bawah, tingkat sembilan. Kecuali Lucifer dan Asmodeus. Mereka ada di tingkat dua, Kerubim," sahut Lorelei.


"Tapi, bukankah Damballa itu cucu Anda, nenek guru? Kenapa dia ada di tingkat sembilan?"


"Tingkatan bukan karena keturunan, tapi karena kekuatan."


"Begitu..."


"Tapi... Kenapa kau memanggil nona Lo nenek guru? Apakah gurumu adalah muridnya?" tanya Miyuki lagi, yang semakin penasaran.


Lorelei tertawa.


"Waktu dewi Ann masih kecil, dia adalah murid ku," ucap Lorelei.


"Dewi Ann? Siapa lagi itu?"


"Hmmm... Bagaimana jika aku sedikit bercerita saat makan malam?" ucap Anna.


Miyuki mengangguk cepat. Hal itu membuat Anna sedikit terkejut, karena Miyuki biasanya tidak terlalu berminat pada sejarah.


"Kau tertarik?"


"Jika tentang orang kuat, aku sangat tertarik. Sama seperti saat aku penasaran dengan kekuatanmu."


"B-begitu..."


•••


Malam harinya, semua orang berkumpul di bekas toko bunga Rin.


Setelah Rin pergi, pegawainya mengubah tempat itu menjadi sebuah restoran dan mereka berganti profesi sebagai pelayan restoran.


Nyonya Stewart, ibu Gina, adalah kepala koki di restoran kecil itu.


Setelah kediaman Stewart sepi sejak tidak adanya Ronald, Gina dan Luke, nyonya Stewart yang sangat kesepian itu akhirnya diajak Gina untuk mengelola restoran yang dijadikan tempat bersantai para Hunter Asosiasi tiap jam makan siang dan mereka sering menghabiskan waktu di restoran itu saat malam hari.


Gina juga terkadang membantu ibunya jika ia sedang tidak sibuk. Ia juga terkadang menjadi koki untuk teman-teman dekatnya seperti Gus Stevin, Davina, Kevin Jung, Bimo Gandri, Lucy Logan, Yola Silvia, pria brewok dan bria bertubuh besar.


Dan khusus malam hari ini, Gina juga menjadi koki bagi mereka.


Restoran itu juga ditutup dari kunjungan orang luar, karena Anna ingin menceritakan hal yang sebenarnya sangat rahasia.


•••


"Bagaimana, nenek guru?" tanya Anna dengan penuh semangat setelah mereka selesai menyantap makan malam.


"Ini benar-benar luar biasa. Bahkan koki di dunia para dewa tidak ada yang bisa memasak seenak ini!" puji Lorelei dengan bersemangat.


Apa yang Lorelei katakan juga disetujui oleh Nordic, dewa Ogun dan dewi Ezili.


Tapi, sebenarnya cuma Anna, kedua dewa, dan kedua malaikat serafim itu saja yang makan dengan sangat lahap. Tidak dengan teman-temannya.


Mereka kehilangan nyali untuk makan bersama saat melihat bagaimana anggunnya cara Lorelei dan dewi Ezili makan. Mereka juga sungkan saat melihat bagaimana gaya makan bermartabat Nordic dan dewa Ogun.


Tapi, yang membuat mereka sebenarnya kehilangan minat adalah karena mereka terlalu mengagumi ketampanan dewa Ogun dan kecantikan dewi Ezili dalam wujud manusianya.


Anna juga sangat mengakui itu. Selama pengetahuannya, mungkin hanya dewa Eru saja yang lebih tampan dari dewa Ogun dan dewi Yolin saja yang lebih cantik dibandingkan dewi Ezili.


"Yah, namanya juga dewa dan dewi. Mereka tentu tampan dan cantik," pikir Anna, sambil mengambil daging panggang dari piring Kevin.


"H-hei... Kenapa kau mengambil bagianku?"


"Mengalahlah pada anak kecil."


"... Kau ini selalu..."


"Kau ingin aku bercerita atau tidak?"


"..."


"Ya... Bagaimana ceritanya?" tanya Gina dengan penuh semangat.


Bukannya bercerita sendiri, Anna malah menoleh pada dewa Ogun.


Dewa Ogun yang mengerti arti tatapan itu, langsung menaruh garpu dan sendok dengan agak kasar.


"Jadi, kau menyogokku dengan makanan?"


Anna mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Kau lancang! Kau tahu kan kalau aku ini..."


Wushhhhhh...


Mata tombak Igigi tiba-tiba berada di depan hidungnya.


"A-aku akan bercerita..."


"Harusnya kau langsung melakukannya."


"..."


Melihat bagaimana Anna memperlakukan sosok yang sudah mereka kenal sebagai dewa, semua orang terdiam.


Kecuali dewi Ezili, Lorelei dan Nordic yang sudah terbiasa dengan pemandangan itu saja yang langsung tertawa melihatnya. Mereka sudah tahu, Anna memang selalu bertengkar dengan dewa Ogun.


•••••••