
“Tzullu, kenapa kau berlutut di hadapan pemburu itu?!” seru pemimpin Orc yang bertubuh kekar. “Dimana pasukanmu?” tambahnya saat dia menyadari tidak tampak olehnya pasukan Orc yang dia kenal itu.
Tzullu, Orc yang masih berlutut di hadapan Anna, diam dan tampak tidak ingin menjawab pertanyaan dari sesama panglima Orc itu.
Adalah suatu hal yang sangat menyakitkan jika dia harus mengingat bahwa pasukannya telah musnah. Orc itu pasti akan mengatakan bahwa makhluk yang berada di hadapannya saat ini adalah Dewi Agung, jika saja Anna tadi tidak menanyakan sebuah pertanyaan aneh padanya.
“Tapi setidaknya aku harus memberikan peringatan pada mereka?” pikir Tzullu.
Tapi Tzullu terlambat untuk memberikan peringatannya pada mereka. Panglima Orc bertubuh kekar itu sudah berlari dengan cepat dengan pedang di tangannya dengan bermaksud untuk menyerang Anna.
Melihat Orc itu semakin dekat padanya, Anna mengangkat satu tangannya dan mengarahkannya pada Orc tersebut.
Saat telapak tangan Anna terbuka dan menghadap ke tubuh penyerangnya, lari Orc seketika terhenti.
Tubuh besarnya kemudian melayang dan terangkat ke udara mengikuti gerakan tangan Anna yang juga sedang bergerak ke atas.
“Apa yang terjadi?!” umpat Orc yang tiba-tiba terbang tanpa dia ketahui penyebabnya.
Orc itu mengayuhkan kedua kakinya berusaha untuk melepaskan diri dari kekuatan yang seakan mempermainkannya tersebut.
Melihat pemimpin mereka yang sepertinya sedang dikontrol oleh kekuatan lain, pasukan Orc dengan berteriak ganas ikut menyerbu ke arah Anna.
Sebagian pasukan yang memiliki busur di tangan mereka, mulai menarik busurnya dan menembakkan anak panah mereka pada Anna. Sementara Orc yang bersenjatakan pedang dan pentung berlarian untuk menyerang dari jarak dekat.
Anna mengangkat tangannya yang lain dan dengan cara yang sama, dia mengarahkan telapak tangannya pada pasukan yang berlarian ke arahnya. Sama seperti yang terjadi pada pemimpin mereka, puluhan Orc yang sebelumnya berdatangan ke arahnya dengan semangat itu kini melayang-layang di udara, demikian juga puluhan anak panah yang berterbangan kearahnya. Puluhan anak panah tersebut tiba-tiba berhenti dan melayang-layang di udara seperti sehelai bulu yang terombang -ambing oleh angin.
“Harusnya aku tadi juga melakukan hal ini pada pasukannya.” Pikir Anna sambil melirik pada Orc yang masih bersimpuh di hadapannya yang kini sedang menyaksikan apa yang gadis itu lakukan. “Ah…, maafkan aku…” Gumam Anna saat melihat wajah Orc yang sepertinya berpikiran sama dengannya.
Pada saat itu, gulungan asap hitam datang dari arah belakang Anna. Asap hitam yang semakin lama semakin tebal, membungkus seluruh tubuhnya.
Selain itu, Anna juga merasakan seperti ada sesuatu yang berusaha masuk ke dalam pikirannya. Gadis itu menoleh ke belakangnya dan dari balik asap tebal yang menyelimutinya, dia dapat melihat pasukan Orc dibelakangnya tampak sedang merapalkan mantra-mantra sihir dan mengarahkan telapak tangan mereka pada dirinya.
Anna terkekeh saat melihat usaha yang dilakukan pasukan Orc penyihir tersebut. “Sial…, bukankah kakek pernah bercerita padaku kalau hal yang seperti ini sangat berbahaya?” Anna tiba-tiba teringat pada cerita kakeknya yang pernah hampir mati saat terkena mantra dari Orc penyihir.
Pada saat itu, Morgan Lloyd dan tim raidnya saling menyerang satu sama lain akibat terkena sihir Orc yang berhasil menghipnotis mereka.
“Tidak ku sangka hari ini aku akan berterimakasih pada patung sialan yang sudah mengurung ku di tempat sialan itu selama ribuan tahun.” Gumam Anna.
Tidak seperti cerita kakeknya, sihir Orc yang membuat kabut beracun dan sihir pengendali pikiran itu bahkan tidak berpengaruh apapun pada dirinya. Energi Mana di dalam tubuhnya secara naluriah dapat menahan semua pengaruh dari serangan Orc Penyihir dengan sangat mudah.
Anna mengebaskan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu tubuh ratusan Orc yang melayang-layang di udara tadi, terpental kembali ke tempat mereka semula berada saat sebelum menyerangnya tadi.
Setelah melakukan hal itu, Anna berbalik dan mengebaskan salah satu tangannya di depan wajahnya. Bersamaan dengan itu, seluruh asap hitam yang menyelimuti tubuhnya menghilang seakan asap itu tak pernah berada disana.
Anna menatap panglima Orc Penyihir dengan tatapan mengancam, sementara Orc Penyihir yang baru saja menyaksikan sihirnya yang tidak mempan, bahkan dilenyapkan dengan satu kebasan tangan, membuka kedua mata dan mulutnya dengan lebar karena tidak mempercayai apa yang baru dilihatnya.
Belum habis rasa terkejutnya itu, dia kembali dikejutkan saat tubuh 'makhluk' yang sejak tadi berdiri di singgasana itu tiba-tiba lenyap.
Panglima Orc penyihir menoleh ke kanan kirinya untuk mencari keberadaan lawan. Dan dia melompat terkejut saat melihat Anna tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
“Karena kau melakukan hal licik, aku sebenarnya ingin membunuhmu. Tapi aku sedikit tertarik padamu.” Ucap Anna.
Mendengar apa yang baru saja musuhnya katakan, Panglima Orc Penyihir semakin terkejut lagi. Sebenarnya bukan pada apa yang dikatakan, namun karena makhluk di hadapannya itu, yang tampak bukan berasal dari bangsa mereka, dapat berbicara menggunakan bahasa mereka.
“Sebagai hukuman karena menyerang ku dengan cara licik, aku akan memusnahkan pasukanmu.” Ucap Anna kemudian.
Setelah selesai mengatakan kalimat itu, energi Mana berkumpul di tangannya. Energi Mana itu membengkak hanya dalam hitungan milidetik lau melesat dengan cepat pergi menuju pasukan Orc Penyihir.
‘BOOOOOOOOOOMMMMMMM!!!’
Bersamaan dengan suara ledakan yang menggelegar di area itu, tubuh seluruh pasukan Orc Penyihir meledak, hanya menyisakan serpihan daging, tulang, dan darah yang mengembun di udara.
Dengan wajah dinginnya, Anna berjalan menghampiri Panglima Orc Penyihir yang kini gemetaran dan langsung bersujud di hadapannya.
Anna tadinya ingin menggertak Orc Penyihir itu, namun saat melihat tindakannya yang tiba-tiba itu, dia menghentikan niatnya dan menatap makhluk itu dengan canggung.
Dia tidak terbiasa melihat seseorang, tepatnya Orc yang selama ini diceritakan keluarganya sebagai salah satu monster berbahaya di Dungeon, tiba-tiba berlutut dan menyembah dengan wajah ketakutan padanya.
•••
Panglima Orc, yang paling pertama menyatakan takluk pada Anna, bersujud dengan dahinya menyentuh tanah di hadapan Anna yang kini telah kembali duduk di atas singgasana miliknya. Hal serupa juga di lakukan dua panglima Orc lain.
“Dewi Agung, mohon ampuni hamba dan pasukan hamba. Hamba bersedia melakukan apapun yang Dewi Agung perintahkan.” Ucap Orc bertubuh kekar yang tadi melayang-layang di udara.
“Melakukan apapun yang aku minta?”
“Y-ya… Dewi Agung!”
“Aku tidak tau apa yang bisa kau berikan pada ku.”
Sahut Anna yang benar-benar tidak menginginkan apapun selain pengetahuan tentang latar belakang makhluk itu dan juga ingin segera keluar dari Dungeon tersebut, karena dia merasa sudah terlalu lama berada disana.
“Jika Dewi Agung berkenan, hamba akan menyerahkan batu-batu sihir berharga dari wilayah kekuasaan hamba, Dewi Agung.” ucap Orc bertubuh kekar dengan terburu-buru. Dia tidak mau ‘Dewi Agung’ itu menganggap dirinya tidak berharga dan akan memusnahkannya beserta seluruh pasukannya.
“Hamba juga akan menyerahkan batu-batu sihir berharga dari wilayah kekuasaan hamba. Mohon ampuni hamba yang tidak mengenali Dewi Agung.” Orc Penyihir juga memberikan penawaran yang sama sebagai pengganti nyawanya.
“Batu-batu sihir?” Anna memiringkan kepalanya seakan sedang berpikir. “Apakah maksud kalian kristal sihir yang sering di ambil para pemburu itu?”
Mendengar pertanyaan itu, dua Orc tadi saling melirik. Cahaya harapan hidup terpancar dari mata mereka.
“Ya, Dewi Agung!” sahut mereka bersamaan.
Mendengar apa yang baru saja kedua Orc itu ucapkan, kedua mata Anna berbinar. Dia teringat pada Miyuki yang sangat membutuhkan kristal-kristal sihir tersebut.
“Kalau ini Dungeon dengan peringkat B, harusnya kristal-kristal sihirnya bernilai tinggi bukan?” pikir Anna dengan senyum licik di bibirnya.
•••