
Ketiga makhluk yang berada di bawah telapak tangan berukuran raksasa hanya bisa menatap telapak tangan bercahaya keemasan tersebut dengan wajah ketakutan tanpa bisa menggerakkan tubuh mereka.
Ukuran telapak tangan transparan itu berkembang semakin besar di setiap detiknya.
Dua makhluk yang baru saja bergabung bersama Damballa, langsung mengerahkan seluruh energi Mana mereka untuk memperkuat pertahanan tubuh agar mereka tidak langsung mati saat telapak tangan itu menyerang mereka nanti.
Kekuatan sihir Ann Arnix yang sudah sangat terkenal di kalangan mereka, sudah makhluk-makhluk itu pelajari dan sudah mereka cari solusi untuk mengatasinya.
Sejauh yang mereka tahu, tidak ada cara lain untuk mengalahkan kekuatan sihirnya, seperti yang 13 rekan mereka alami saat tewas bersama dengan Ann Arnix dan adiknya, walaupun mereka sudah menyatukan kekuatan untuk beradu tenaga melawannya.
Cara terbaik yang bisa mereka lakukan sebenarnya hanya melarikan diri. Namun, karena mereka terlambat menyadari lawan menggunakan sihir mematikan itu, pilihan lain yang ada hanyalah menggunakan seluruh energi Mana yang mereka miliki, hanya untuk bertahan semaksimal mungkin alih-alih beradu tenaga dalam saling serang.
Karena pergerakan mereka sudah terkunci, ketiga makhluk itu akhirnya tidak bisa melarikan diri. Satu-satunya cara yang kini bisa mereka lakukan hanyalah bertahan sekuat tenaga untuk bisa tetap hidup.
°°°
"Conqueror of Darkness..., Punishing Hand!"
Saat sebuah suara nyaring berkumandang di seluruh Dungeon, telapak tangan transparan tersebut bergerak secara perlahan menuju ketiga makhluk di daratan.
Melihat datangnya serangan lawan yang datang secara perlahan, ketiganya hanya bisa menatap telapak tangan yang menyilaukan itu dengan tatapan frustasi. Bukan hanya karena sihir yang datang menghampiri secara perlahan dan menyeramkan, namun juga karena tekanan energi sihir yang terpancar darinya terasa sangat menyiksa seluruh tubuh mereka.
Semakin dekat sihir itu dengan tubuh mereka, ketiga makhluk itu semakin merasa tertekan hingga akhirnya berteriak nyaring akibat rasa ngeri yang mereka rasakan.
"Wuuaaaaaahhhhh!!!"
Kraaaakkk... Krraaakkkk... Krakkkk...!
Saat telapak tangan raksasa bersentuhan dengan tubuh 3 makhluk yang kini terhimpit di bawahnya, seluruh daratan bergetar hebat.
Bahkan, saat telapak tangan tersebut mendorong masuk dan mengandaskan tanah di bawahnya, gempa besar terjadi di seluruh dataran Dungeon.
Bukit-bukit batu besar maupun kecil, baik yang berada di dekat lokasi maupun yang jauh dari lokasi keberadaan telapak tangan raksasa, hancur terbelah.
Daratan mulai retak dan pada akhirnya pecah-pecah sampai puluhan kilometer jauhnya, bahkan sampai melewati dinding sihir pembatas zona perang.
Bukan hanya itu, retakan itu juga menjalar sampai ke dinding penghalang zona perang dan membuat energi sihir pembatas menjadi terganggu.
Dinding pembatas mengalami keretakan hingga abu yang berasal dari energi sihir penghalang Dungeon yang secara tidak langsung ikut di hancurkan oleh kekuatan sihir yang berasal dari telapak tangan berukuran raksasa tadi, berjatuhan dengan deras dari langit-langit Dungeon.
Bahkan, ratusan ular yang tidak terkena serangan langsung, juga menerima dampak dari kehancuran yang datang bersama sihir tersebut. Seluruh ular yang berada di dalam Dungeon meledak seketika aliran sihir melewati tubuh mereka.
Kembali ke pusat gempa yang berasal dari energi sihir...
Telapak tangan menekan dan menghimpit tubuh ketiga makhluk itu sampai mereka, bersama tanah yang mereka pijak, amblas ke dalam tanah dan terus menekan sampai kedalaman lebih dari 20 meter.
Saat sudah mencapai kedalaman 20 meter, energi sihir berbentuk telapak tangan berukuran raksasa tersebut meledak.
Ledakan itu mengakibatkan gempa dengan kekuatan berkali-kali lipat dari yang sebelumnya terjadi, hingga seluruh permukaan Dungeon bergetar hebat.
Tidak ada permukaan Dungeon yang tidak hancur setelah ledakan besar tersebut, hingga debu beterbangan menutupi seluruh area Dungeon.
Setelah debu menghilang, bentuk telapak tangan raksasa tercetak jelas di tanah, memperlihatkan Damballa yang meringkuk akibat terluka parah di dalamnya.
Damballa yang sudah menggunakan banyak energi Mana saat ia menyerang Anna dan menghindari kematian dari serangan avatar Miyuki, juga saat ia melakukan serangan setelah berubah wujud, tentu tidak memiliki energi Mana yang cukup untuk melindungi dirinya dari serangan barusan, seperti yang kedua rekannya lakukan.
Setelah menyingkirkan debu yang menutupi lokasi keberadaan lawannya, Anna turun ke dalam lubang besar itu, di dekat Damballa yang sudah sekarat.
Anna mengangkat tubuh Damballa dengan sihir telekinesisnya, lalu membawanya terbang keluar dari lubang besar.
Dengan mengepal-ngepalkan salah satu tangannya, Anna mengirimkan energi sihir yang lebih besar pada tubuh Damballa untuk meledakkannya.
Namun, ular-ular hitam yang tiba-tiba bermunculan lagi, menyerang Anna kembali dengan racun-racun yang mereka ludahkan dari mulut.
Tidak ingin terjebak lagi di dalam racun-racun ular, kali ini Anna terbang menjauh untuk menghindari serangan tersebut.
Anna kemudian menatap pada awan hitam yang kembali mengeluarkan asap hitam yang mengalir deras ke dalam Dungeon, yang kemudian berubah wujud menjadi ular hitam.
Tidak ingin mengambil resiko dan membuat dirinya terdesak lagi, Anna memutuskan untuk mengakhiri pertarungan itu dengan segera, sekaligus menghancurkan lubang hitam yang berada di tengah awan.
Anna menatap Damballa yang sudah sekarat, lalu ia merentangkan kedua tangannya dan mengkonsentrasikan kekuatannya yang ia pusatkan pada kepala Damballa.
"Conqueror of Darkness..., Light in the Darkness!"
Setelah Anna mengucapkan mantra, tampak kedipan kilat cahaya keemasan yang sangat terang memenuhi seluruh Dungeon.
Kedipan cahaya itu menyerupai cahaya kilat yang hanya berlangsung selama 1 detik.
Saat kilatan cahaya keemasan tersebut menghilang, suasana Dungeon mendadak hening seketika.
Daun-daun, rerumputan dan semak belukar yang sebelumnya melambai-lambai tertiup angin, tiba-tiba berhenti bergerak.
Ular-ular, awan hitam, asap hitam yang keluar dari lubang hitam juga mendadak berhenti bergerak.
Bahkan angin yang berhembus di dalam Dungeon tiba-tiba berhenti mengalir, seakan waktu telah terhenti.
Keadaan tersebut berlangsung selama beberapa detik sampai akhirnya terdengar suara siulan angin yang terdengar sangat jelas akibat suasana hening tersebut.
Setelah suara siulan menghilang, ledakan besar yang berpusat pada tubuh Damballa, terjadi.
Ziiiiiiiinnnnngggg...!
Booooooooommmm!!!
Kedipan cahaya terang benderang itu hanya berlangsung selama sekian detik. Namun, efek yang di hasilkan setelahnya, sangat mengerikan.
Di langit, energi sihir yang membentengi zona perang mulai retak. Kepingan-kepingan abu yang sebelumnya menghujani seluruh Dungeon, turun semakin deras saat sihir penghalang kini benar-benar hancur oleh skill kedua yang baru saja Anna gunakan.
Anna melihat hasil yang diakibatkan oleh mantra sihirnya itu dengan takjub.
Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan sihir dari Kitab Penakluk Kegelapan yang sudah ia pelajari selama 15.000 tahun yang terekam jelas dalam visi di benaknya.
Seluruh tanah yang berada di lokasi itu rata. Bahkan bukit batu, pepohonan dan apapun yang sebelumnya berada di sana kini musnah seluruhnya.
Semua ular yang berada di sana telah musnah. Awan hitam beserta lubang hitam yang tadinya berada di atas gerbang Dungeon juga lenyap entah kemana, termasuk juga, gerbang Dungeon yang menghubungkan tempat ini dan Bumi.
"Aku tidak akan menggunakan kemampuan ini saat bertarung di Bumi." Pikir Anna, setelah melihat dampak yang sihirnya hasilkan pada planet itu.
Sejak gerbang yang menghubungkan Dungeon dan Bumi menghilang, terutama saat sihir pembatas zona perang juga hancur, secara otomatis Dungeon telah kembali tergabung ke planet asalnya.
Karena hal itu, Anna kini dapat melihat daratan di sekelilingnya telah rata seluruhnya dengan sangat rapi, serapi kain yang baru saja disetrika.
"Semoga penghuni planet ini tidak menaruh dendam pada ku." Gumam Anna, merasa bersalah.
Anna menunduk dan melihat pada dua lubang kecil di dalam lubang raksasa yang terbentuk akibat kekuatan skill pertama yang tadi ia gunakan.
Melihat jejak tersebut, Anna bisa menduga bahwa dua makhluk lain telah melarikan diri melalui lubang yang mereka gali itu, saat debu masih berhamburan di udara setelah ia menggunakan skill pertama.
"Tsk... Mereka sudah seperti tikus tanah saja."
Anna mendaratkan kakinya di dekat dua lubang lalu menatap jauh ke dalamnya.
"Sepertinya mereka sudah mengenal sihir yang ku miliki, sampai-sampai mereka tahu satu-satunya cara untuk melarikan diri hanyalah dengan masuk ke kedalaman planet."
Anna masih duduk di dekat lubang sampai beberapa saat kemudian.
Ia mempertimbangkan apakah harus mengejar mereka atau tidak.
Setelah penyakit seperti yang selalu ia rasakan tiba-tiba muncul lagi di dirinya, Anna akhirnya memutuskan untuk membuka gerbang ke dunia buatannya, sebelum akhirnya membuka gerbang lagi dan kembali ke Bumi.
Anna selalu merasakan sakit di kepalanya setelah lingkungan Dungeon telah menyatu kembali dengan planet aslinya. Hal itu sebenarnya membuat Anna penasaran, namun karena ia masih tidak bisa menemukan jawabannya, pada akhirnya Anna hanya membiarkannya saja.
•••••••