
Tinju yang Anna layangkan ke tubuh pria berwajah pucat benar-benar sangat keras hingga ia terpental sampai menghancurkan dua lapis tembok kokoh dengan punggungnya.
Melihat kepala penjara yang jauh lebih kuat di bandingkan mereka terpental hanya dengan 1 pukulan, 4 pria berwajah angkuh lain yang sebelumnya juga ikut mengeroyok Anna tertegun.
Mereka menjadi khawatir apakah harus melanjutkan pengeroyokan atau melarikan diri. Karena itu mereka menjadi lengah dan Anna menggunakan kesempatan tersebut untuk langsung menyerang keempatnya.
“Haaatttt…!”
Bakkkk... Bukkk... Bakkk... Bukkk...!!!
Dengan sekali lompatan berputar, Anna berhasil menendang jatuh empat pria berwajah angkuh sekaligus, dengan sudah mengurangi banyak kekuatannya agar keempat pria tidak bernasib sama dengan kepala penjara.
Keempatnya terpental dan baru jatuh setelah mengantam tembok tanpa menghancurkannya. Namun demikian, keempat pria berwajah angkuh itu sudah tidak bisa berdiri kembali karena telah kehilangan kesadaran diri.
Anna menatap ke arah tembok yang jebol oleh pria berwajah pucat. Ia tidak menyangka sihir pertahanan makhluk itu tidak sekuat yang dikiranya.
"Padahal aku tidak ingin keributan ini sampai terdengar keluar," ucap Anna pelan, menyesali tindakannya.
Namun, penyesalan Anna sia-sia belaka karena tak lama kemudian ia mendengar suara keributan yang terjadi di depan pintu.
Beberapa detik setelahnya, hampir bersamaan dengan hancurnya pintu ruangan kepala penjara, dua hewan yang sebelumnya berada di dalam sangkar, masuk ke dalam dengan diikuti oleh puluhan prajurit bersenjata tombak dan pedang.
Salah satu hewan langsung melompat ke pundak Anna saat mereka sudah tiba di sana.
"Apa yang terjadi?" tanya Anna bingung.
"Mereka ingin membunuh kami, jadi kami lari." sahut dewa Ogun, yang tadi lompat ke pundak Anna dengan tubuh red panda nya.
"Apa?! Kenapa mereka harus membunuh hewan juga?"
"Mereka keji. Mereka tadi ingin merebus kami. Singkirkan mereka semua!" umpat dewa Ogun sembari menunjuk ke arah puluhan prajurit yang sedang kerepotan dengan serangan-serangan mematikan dari dewi Ezili dalam wujud otter.
Kalimat terakhir yang di ucapkan dewa Ogun membuat Anna sedikit bingung.
"Kenapa kau tidak melakukannya sendiri?"
"Tubuh hewan jenis ini terlalu malas untuk bergerak.” Ucap dewa Ogun kesal.
Berbeda dengan red panda, dewi Ezili yang berada dalam wujud otter berlompatan kesana kemari. Ia hinggap di leher-leher para tentara, menggigitnya lalu mencabut daging mereka hingga terlepas. Dia sangat lincah dan sadis.
Melihat betapa hebatnya dewi Ezili bertarung dalam wujud otter nya, Anna melirik pada dewa Ogun dan menyindirnya. “Kau tidak berguna.” Ucap Anna, yang kemudian menyerang balik tentara yang baru saja menebaskan pedang berkekuatan sihir padanya.
Buakkkk!!!
"Hei, jika aku dalam wujud elang..."
"Diamlah. Dari pada protes kenapa kau tidak langsung berubah jadi elang saja?"
"..." dewa Ogun terdiam. Dia mau merubah wujud, namun ia harus mengaktifkan energi Mana terlebih dahulu.
°°°
"Ciiittt... Ciittt... Cittt...!" teriak Anna pada dewi Ezili, yang berati 'kita pergi saja!'.
Mendengar apa yang Anna katakan, dengan satu lompatan jauh, dewi Ezili langsung melompat ke pundak gadis itu, sebelum ketiganya akhirnya kabur melalui lubang besar yang tadi di tinggalkan tubuh pria berwajah pucat.
•••
Walaupun harus sambil menggendong tubuh pria berwajah pucat yang pingsan dengan satu tangannya, Anna tetap bisa berlari dengan sangat cepat meninggalkan puluhan tentara yang mengejar mereka.
"Kenapa tidak kau tinggalkan saja dia?" tanya dewa Ogun yang bingung mengapa Anna harus membawa pria berwajah pucat bersama mereka.
"Dia sandera kita," sahut Anna.
"Sandera? Mereka justru akan terus mengejar kita karena kau membawanya," protes dewa Ogun.
"... Aku sudah terlanjur membawanya."
Dewa Ogun : "..."
“Apa kau memiliki sebuah tujuan?” giliran dewi Ezili bertanya.
“… Tidak juga.”
“Lalu, kenapa sejak tadi kau hanya berlari mengambil garis lurus menuju ke satu arah? Kau bahkan melompati sungai lebar yang menghalangi jalan kita walaupun sebenarnya kita bisa berbelok ke lereng bukit. Mereka pasti akan kehilangan jejak."
“Sebenarnya kita sedang menuju ke barat,” sahut Anna.
"Barat? Kau sebenarnya memiliki tujuan, kan? Apa kau sudah pernah ke planet ini?"
Anna melirik pada pria yang pingsan di dalam pelukan sisi kiri pinggangnya. “Dia mungkin akan suka jika tahu kalau kita membawanya ke wilayah barat.”
"Apa? Apakah dia meminta mu membawanya ke sana?"
“Tidak. Dia tadi langsung ingin membunuhku saat aku mengatakan berasal dari wilayah hutan di barat.”
“Apa kau seorang pendendam?” tanya dewa Ogun yang juga menyimak pembicaraan dua wanita itu.
“Aku? Tidak. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang ku rasakan saat mereka menyidang ku tadi.”
“Bukankah itu sama saja?”
“… Benarkah?”
“…”
•••
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lamanya, Anna dan rombongan, yang sudah berhasil meninggalkan para tentara itu jauh di belakang mereka, akhirnya tiba di pinggiran hutan belantara.
Saat mereka tiba di tempat tersebut, Anna sudah langsung bisa merasakan ada aura energi Mana samar terasa dari pohon tinggi yang berada di sepanjang bagian terluar hutan.
Ia bisa menebak, bahwa mereka pasti para penjaga yang ditugaskan untuk memantau keadaan luar perbatasan dari serangan atau mata-mata musuh. Dari pengalamannya selama ini, peradaban kuno memang selalu bertindak seperti itu.
'Sayang sekali, padahal dengan mengembangkan budaya modern, mereka hanya memerlukan satelit untuk memantau keadaan seperti ini.'
°°°
Sementara itu di atas pohon, 8 makhluk berwujud setengah monyet setengah manusia yang sedang memerhatikan kedatangan Anna terkejut saat Anna menatap langsung ke arah mereka seakan tahu bahwa mereka sedang bersembunyi di sana untuk memantaunya.
“Turunlah… Lihat, siapa yang telah ku bawa untuk kalian.” Ucap Anna dengan setengah berteriak.
"Anna, aku agak tidak menyetujui ini. Kenapa kau ingin menyerahkan dia pada mereka?” tanya dewa Ogun.
“Karena aku memiliki sebuah ide.”
"Ide?"
"Ya. Ayo kita buat para suku di hutan ini dan para bangsa yang berada di dalam tembok tadi berperang. Jadi, kita akan bebas berkeliaran mencari dewi Lyn di sekitar wilayah mereka ini."
“Tsk…, apa kau yakin ide mu tidak berbahaya? Ku rasa itu pilihan yang salah."
“Pilihan? Apa aku memiliki pilihan? Lihatlah, aku ada di planet antah berantah karena aku tidak memiliki pilihan.”
“…”
“Maksudnya, kita bisa meninggalkannya di jalanan dan kita bisa pergi mencari dewi Lyn tanpa sebuah keributan. Jika kita membuat mereka berperang, penjagaan di dua wilayah akan semakin ketat. Itu akan membuat kita sulit untuk masuk atau meninggalkan wilayah dua perbatasan." Ucap dewi Ezili, dengan bahasa Bumi.
Anna terdiam sejenak.
"Aku tadi tidak memikirkannya," ucap Anna, menyesali ide nya. "Apa kita lari saja?" tanya Anna, saat melihat puluhan Werewolf yang baru saja keluar dari hutan saat mendapatkan tanda dari para penjaga perbatasan mereka yang masih berada di atas pohon, sudah berada di hadapan mereka.
"Sudahlah, kita sudah terlanjur di sini. Tidak apa-apa, ayo kita coba masuk ke wilayah mereka dulu dengan menyerahkan pria ini sebagai tiket masuk kita. Kita coba cari dewi Lyn dulu di wilayah para Werewolf ini." Dewa Ogun menyarankan.
•••
15 menit kemudian…
Anna mengerjapkan kedua matanya sembari menatap pintu yang baru saja di tutup dengan wajah linglung.
Ia menatap punggung Werewolf yang baru saja meninggalkan mereka semua di dalam kurungan, di sebuah goa bawah tanah, sebelum mengalihkan tatapannya pada dewa Ogun.
"Maaf," ucap dewa Ogun sambil menjilati telapak tangan kecilnya.
"Kita tadi memiliki kesempatan untuk lari. Lihat, ini adalah kedua kalinya kita di tangkap karena aku mengikuti ide mu untuk masuk ke wilayah makhluk lain dengan mengikuti mereka!" Umpat Anna dengan wajah kesal.
"Hei, bukankah kau yang membawa kita ke hutan ini?" sahut dewa Ogun, tidak terima dengan tuduhan Anna padanya.
"Aku tadi sudah menyesalinya dan ingin lari!"
Anna kemudian berjalan menghampiri pintu kayu sel tahanan mereka, lalu mengintip ke luar pintu.
Keadaan di dalam goa sangat gelap. Hanya ada 1 obor sebagai penerangan yang teletak di dinding goa, agak jauh dari depan pintu sel tahanan.
Namun demikian, Anna dapat merasakan energi Mana para Warewolf sudah pergi menjauh.
"Kau ingin kabur?" tanya dewi Ezili saat melihat Anna sudah menggenggam erat gembok pintu.
"Ya. Ayo kita lari selagi sepi. Akan repot jika mereka membawa kita ke kepala suku dan menyidang ku seperti sebelumnya."
"Sebaiknya tunggu di sini selama satu atau dua hari lagi," ucap seseorang dari bagian sel yang agak dalam.
"Kenapa harus menung...," Anna, dewi Ezili dan dewa Ogun tersentak saat menyadari ada makhluk lain di dalam sel gelap itu.
Ketiganya menatap ke arah datangnya suara dengan sikap waspada.
Walaupun mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan energi Mana dengan baik karena mereka sedang mengunci energi Mana sendiri, namun ketiganya harusnya masih bisa merasakan energi Mana makhluk lain setidaknya dalam radius 500 meter.
Mereka menyadari, jika ada makhluk yang bisa membuat mereka tidak menyadari keberadaannya, berarti makhluk itu benar-benar kuat dan berbahaya.