
Li Wen Xia membanting dan menghancurkan tablet di tangannya setelah melihat kegagalan yang di alami Fred Watson dan para anak buahnya.
Ia benar-benar geram dengan gadis remaja yang baru saja menghabisi semua orang suruhannya dan malah mengancam balik dirinya di hadapan publik.
“Dia pikir dirinya siapa?! Manusia berani mengancam ku?!” umpat Li Wen Xia.
“Tapi, siapa manusia itu sebenarnya? Apakah dia sebenarnya produk uji coba dari Satoshi Nakano?” ucap Asteroth, penasaran dengan kekuatan gadis remaja itu.
Li Wen Xia terdiam. Ia mengingat kembali teknik bertarung avatar Miyu yang pernah dilawannya beberapa bulan lalu.
“Sebentar... Ku pikir-pikir, kenapa teknik bertarungnya sangat mirip dengan Damballa?”
“Kau pikir begitu?”
“Ya. Aku pernah menghadapinya sekali. Dan lihat juga bagaimana kecepatannya itu. Aku bahkan hampir tidak bisa mengikuti gerakannya.”
Astaroth mengangguk-angguk kecil. Ia juga sebenarnya hanya bisa melihat sedikit bayangan ketika Miyuki bergerak.
Pada saat kedua malaikat tersesat itu sedang membicarakan Miyuki, telepon genggam di dalam laci meja Li Wen Xia berbunyi.
Kedua malaikat tersesat itu menoleh secara bersamaan ke arah meja, saat mendengar nada dering dari sebuah ponsel tua yang biasanya di gunakan para malaikat tersesat untuk menghubungi antara satu dan lainnya tiba-tiba berbunyi.
“Itu pasti Asmodeus,” ucap Astaroth pelan.
Li Wen Xia mendengus kesal, “Kenapa dia tidak menghubungi mu saja?”
Astaroth mengusap-usap janggut pendek di dagunya seraya berpikir. Ia kemudian mengatakan pendapatnya, “Jika dia menghubungi mu, dia mungkin memiliki sebuah penawaran.”
“Penawaran?”
“Dia berjanji akan mengambil tindakan jika apa yang kita lakukan kali ini gagal. Dia mungkin memiliki penawaran lain karena tahu bahwa kita pasti akan menyetujui tawarannya dibandingkan harus kehilangan apa yang sudah kita bangun selama ini.”
“Dia benar-benar iblis terkutuk!”
Astaroth : “…”
•••
Di sebuah lokasi rahasia.
Sosok lelaki yang selalu mengenakan topeng, mengawasi pria bertubuh tambun yang sedang menggunakan 10 jari gemuknya untuk mengetik kode-kode dengan sangat lincah di keyboard komputer.
Setelah tanpa terduga kehilangan dua Hunter yang selama ini berada di bawah pengaruh hipnotis Li Wen Xia, Kenichiro Tanaka dan Keisuke Sato, pria bertopeng yang sudah memiliki rencana B untuk memuluskan misi rahasia organisasinya, meminta Chris Meyers untuk menjalankan rencana yang sudah ia persiapkan.
“Saya sudah menyelesaikan semuanya, tuan.” Ucap Chris setelah ia menekan tombol enter pada keyboarnya.
“Sekarang pergi dan temuilah Wang Xu Chan. Katakan padanya untuk merilis berita itu besok dan lakukan konferensi pers setelahnya.” Ucap pria bertopeng yang kemudan pergi meninggalkan Chris tanpa menunggu jawaban dari pria bertubuh tambun itu.
Pria berropeng kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia yang selama ini hanya ia dan beberapa orang kepercayaannya saja yang diperbolehkan untuk berada di sana.
Bahkan, Chris yang sudah puluhan tahun mengikutinya pun belum pernah masuk ke dalam ruang rahasia tersebut.
°°°
Pria berropeng berjalan di antara tabung-tabung transparan besar yang berisi tubuh-tubuh manusia dan air di dalamnya. Mereka adalah objek percobaan dari apa yang telah ia teliti selama hampir 10 tahun belakangan.
Di ujung ruangan, pria bertopeng kembali masuk ke ruangan lain yang merupakan ruang rahasia pribadinya.
Di sana juga ada 3 buah tabung besar berukuran sama seperti yang berada di sepanjang jalan tadi.
Di dalam tabung tersebut masing-masing terisi oleh sosok makhluk berwujud menyerupai manusia yang menjadi bahan ujicoba terakhirnya. Ketiganya adalah hasil ujicoba paling sempurna yang pernah dihasilkannya.
Pria bertopeng menatap ketiga makhluk yang sedang tertidur itu sembari tersenyum, puas dengan kemajuan yang ia dapatkan.
Saat pria bertopeng sedang mengagumi hasil temuannya itu, sosok berjubah hitam tiba-tiba muncul di sampingnya.
Menyadari kehadiran sosok itu, pria bertopeng buru-buru menekukkan kedua lututnya dan berlutut di hadapan sosok misterius itu.
“Raja ku, terimalah hormat hamba.”
Sosok berjubah hitam yang tidak memiliki wajah itu mengabaikan sapaan pria bertopeng. Ia menatap 3 tubuh yang berada di dalam tabung dengan sangat serius.
“Kapan mereka akan siap?” Tanya pria berjubah hitam.
“Mereka akan siap dalam tiga bulan lagi, raja.”
Pria berjubah hitam mengangguk pelan.
“Panggil aku jika mereka sudah bangun nanti.” Perintahnya.
“Akan hamba lakukan, raja ku.”
•••
Chris Meyers akhirnya pergi menemui Wang Xu Chan di kediaman pribadinya setelah rekannya itu tidak bisa ditemuinya di kantor Asosiasi.
Xu Chan memutuskan semua hubungannya dari dunia luar setelah ia merasa terpukul atas kematian kedua putranya.
Apa yang Xu Chan alami dan rasakan adalah hal yang sebenarnya dan ia memang benar-benar berduka atas kehilangan tersebut.
Namun, pria bertopeng ingin memanfaatkan keadaan itu untuk memuluskan rencana mereka.
°°°
Setelah menunggu hampir 1 jam lamanya, Chris Meyers yang hampir meledak karena marah, akhirnya diizinkan untuk menemui Xu Chan di sebuah ruangan khusus, tempat dimana Xu Chan biasanya menerima tamu pribadinya.
Setelah mereka saling bertatap muka, Chris Meyers menatap pria kurus yang semakin kurus itu dengan sedikit perasaan iba.
Xu Chan tampak sangat berantakan. Ia bahkan tidak pernah mencukur kumis dan janggutnya lagi, yang bukanlah kebiasaannya, hingga wajah pria paruh baya itu benar-benar terlihat sangat menyedihkan jika di tambah lagi dengan tatapan matanya yang seperti tanpa semangat hidup.
“Xu Chan. Tuan meminta kita untuk melakukan rencana B yang pernah dia sampaikan pada kita beberapa waktu lalu.” Ucap Chris pelan.
Walaupun keadaan Wang Xu Chan tampak seperti tidak bisa di ajak berbicara serius, namun Chris tetap harus menyampaikan hal itu padanya.
Xu Chan bisa mendengar apa yang Chris ucapkan, namun kata-kata itu sama sekali tidak masuk ke pikirannya hingga ia menoleh pada Chris dengan tatapan kosong dan mulut yang sedikit terbuka.
Melihat kondisi rekannya yang sangat memprihatinkan itu, Chris tidak yakin bahwa ia bisa melakukan pekerjaan yang harus mereka lakukan. Jadi dia berinisiatif untuk mengerjakannya sendiri dan meminta Wang Xu Chan hanya sebagai pendukungnya saja.
“Aku tahu kau sangat berduka atas kehilangan kedua putramu. Tapi, rencana yang sudah kita miliki tidak akan berjalan mulus jika tidak melakukan langkah-langkah yang sudah tuan kita rencanakan,” ucap Chris sambil memerhatikan reaksi Xu Chan.
Saat reaksi pria paruh baya itu hampir sama seperti sebelumnya, Chris hanya bisa menghela nafas panjang, dengan sedikit rasa kasihan.
“Kalau begitu, biar aku yang melakukannya," ucap Chris lagi. "Kau hanya perlu duduk saja di sebelah ku sebagai pendukung," tambahnya.
Namun, Chris sedikit kaget saat melihat Xu Chan tiba-tiba mengangguk pelan.
"Apa kau mengerti apa yang barusan ku katakan?" tanya Chris ingin memastikan.
"Aku mengerti," sahut Xu Chan pelan. Suaranya bahkan hampir tak terdengar.
Chris menganggukan kepalanya beberapa kali sebelum merespon kesediaan rekannya itu.
“Bagus. Mari kita lakukan dengan benar.”
•••••••