
Bagian 2 : Team Mate
☆☆☆
Hari dimana rasa penasaran seluruh siswa kelas A terjawab, akhirnya tiba.
Siswa terbaik yang seharusnya menerima penghargaan saat acara pembukaan dan penyambutan siswa baru Akademi Hunter, akhirnya hadir bersama teman-teman kelasnya.
Di Kota C, selain berita dungeon break dan sosok berkostum beruang yang dinyatakan sebagai pahlawan penyelamat Kota C, berita mengenai seorang siswi yang telah memecahkan rekor sebagai siswa dengan hasil ujian penerimaan terbaik sepanjang masa sejak akademi Hunter berdiri, juga menjadi berita hangat.
Bahkan, bukan hanya di Kota C.
Siswi tersebut akhirnya menjadi sangat terkenal sampai ke seluruh Asia, setelah video ujiannya di unggah ke situs resmi Akademi.
Sayangnya, siswi itu tidak hadir dalam acara penyambutan siswa-siswi baru karena alasan yang tidak jelas.
Awak media yang datang berbondong-bondong ke Akademi saat itu, sangat kecewa karena pada akhirnya mereka gagal untuk dapat bertemu dan mewawancarainya.
Namun, setelah selama 10 hari tidak ada kabar beritanya sama sekali, siswi itu akhirnya hadir untuk pertama kalinya dan mengikuti kelas.
Teman-teman kelas yang antusias dengan kehadirannya, yang agak sedikit terlambat karena pelajaran sudah dimulai pada saat dia masuk kedalam ruangan, memberikan tepuk tangan meriah padanya.
Dengan agak malu-malu, Anna Lloyd berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya.
"Apa kau sudah sehat?" tanya Liu Gong setelah Anna selesai memperkenalkan dirinya.
Wang Liu Gong, selain sebagai Hunter Asosiasi, dia juga adalah instruktur di Akademi Hunter. Dia juga dipercaya sebagai wali kelas A, kelas tempat Anna berada.
'Jadi Gina meminta cuti sakit untuk ku?'
"Ya. Maaf karena melewatkan kelas selama sepuluh hari." ucap Anna dengan tersenyum canggung dari balik maskernya.
Liu Gong mendesah pelan.
"Jangan terlalu berlebihan dalam berlatih. Kau tidak boleh menggunakan energi Mana dengan berlebihan." Ucap Liu Gong, memberikan nasehat.
"Ah..., ya. Akan saya ingat, tuan Wang."
"Baiklah," Liu Gong kemudian menatap ke bagian belakang ruang kelas. “Silahkan duduk di tempat kosong itu."
Liu Gong menunjuk ke arah bangku kosong yang tersisa di pojok ruangan di bagian belakang ruang kelas, tepat di dekat jendela.
Wajah Liu Gong berseri saat dia berbicara.
Sebagai wali kelas di kelas A, dia agak khawatir ketika wali siswi itu mengatakan Anna sedang sakit karena terlalu banyak berlatih dan membutuhkan istirahat yang agak panjang sebelum bisa bergabung dengan kelas pendidikan Akademi.
Namun, saat melihat Anna akhirnya menghadiri kelas, dia lega.
Memiliki siswa berbakat seperti Anna, dan bisa membimbingnya untuk menjadi seorang Hunter terbaik, adalah impian semua instruktur.
Karena itulah Liu Gong khawatir jika bakat seperti Anna harus tertinggal pelajaran dasar dan pelatihan dasar.
°°°
Anna duduk di tempatnya dengan perasaan senang. Entah tempat itu disediakan khusus untuknya, atau memang karena itulah satu-satunya tempat duduk tersisa yang tidak diinginkan siswa lain, tapi dia sangat menyukai tempat duduknya tersebut.
Tempat duduk yang berada di barisan paling belakang itu sangat nyaman.
Berada di dekat jendela terbuka yang membawa angin alam yang sejuk di pagi hari, sangat menyegarkan untuk paru-parunya.
Walaupun Anna menggunakan masker, namun masker itu sama sekali tidak menjadi penghalangnya untuk dapat menghirup udara segar tersebut.
“Awalnya aku terkejut dan sedikit takjub saat melihat video ujian mu. Tapi ternyata kau langsung sakit karenanya ya? Kau berjuang terlalu keras.”
Ucap seorang siswi yang duduk di seberang bangku Anna, tepat di sampingnya.
Anna melirik padanya. Dia bisa melihat tatapan jijik di mata siswi itu dan senyum sinis di bibirnya.
‘Dia seorang arogan dan pembenci.’
Anna bisa melihat karekter sisiwi itu hanya dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya. Terutama, Anna sudah mengenali siswi itu sejak ia berjalan menuju bangkunya tadi. Jadi, Anna hanya mengabaikannya.
Seorang siswi lain, yang duduk tepat di depan Anna, menoleh. Dia menatap siswi yang berbicara dengan ketus tadi dengan tatapan tidak senang. Ia kemudian menatap pada Anna.
“Selamat bergabung. Semoga kita bisa bekerja sama selama menjalani pendidikan,” ucapnya, sambil menyodorkan tangannya dan tersenyum lembut.
Anna tentu saja menyambut uluran tangannya dengan ramah pula dan mereka berjabat tangan.
“Aku Yola Silvia, senang berkenalan dengan mu."
“Senang berkenalan dengan mu, Yola. Aku Anna.”
“Tsk… satu pecundang dan satu penyakitan akhirnya membentuk sebuah koalisi. Menarik…,” gumam siswi di sebelah Anna. Dia adalah orang yang sama yang langsung menunjukkan rasa tidak sukanya, saat Anna baru saja duduk.
Anna mendengar gumaman siswi itu. Ia kemudian mengangkat tangannya.
Liu Gong yang hendak melanjutkan materi mengajarnya, melihat itu.
“Ya, siswi Anna?”
Saat Liu Gong meresponnya, Anna langsung berdiri dan menoleh pada siswi di sebelahnya, Milena Williams.
Sambil menunjuk siswi itu, Anna berbicara, “Dia berusaha memprovokasi saya dengan kata-kata kebencian. Saya sangat terganggu dengan itu,” Anna kemudian berpaling dan menunjuk siswi yang duduk di depannya. “Yola Silvia juga mendengarnya.”
Bukan hanya Liu Gong dan dua siswi yang tiba-tiba di libatkan oleh Anna dalam pembicaraan itu. Bahkan, satu kelas kini menatapnya dalam diam.
“Oh…, kau…” Milena hampir tak bisa berkata-kata. Dia menatap Anna dengan takjub dan tertawa canggung saat teman-teman kelas menatapnya.
Namun, hanya sebagian kecil siswa atau siswi yang berani menatapnya lama. Siswa yang tahu siapa orang yang Anna tunjuk, langsung memalingkan wajah mereka kembali ke depan ruangan.
Mereka tidak mau berurusan dengan siswi berbahaya itu. Keluarga Williams adalah keluarga terpandang dari guild Black Diamond.
Liu Gong berjalan menghampiri mereka. Saat sudah tiba di tempat kedua siswi itu, dia menatap pada Milena.
“Benar yang dia katakan?”
Milena tidak berani menatap Liu Gong. Dia menundukkan kepalanya dan sesekali melirik pada Anna dengan wajahnya yang merah padam.
“Tunggu, Anda tidak memercayai saya, tuan Wang?” Anna menatap Liu Gong dengan kedua alisnya yang berkerut, lalu menoleh pada Milena, “Lihat saja wajahnya. Dia tampak marah. Orang yang tidak bersalah, tidak perlu marah.”
Liu Gong terdiam. Dia menatap Anna dengan rasa tidak percaya.
Selama dia menjadi instruktur di Akademi, baru kali ini dia menemukan seorang siswa yang berbicara dengan berterus terang tanpa takut atau merasa sungkan.
“Walaupun keterusterangannya mirip Gina, tapi cara menyampaikannya benar-benar seperti orang yang ingin mengajak perang,” pikir Wang Liu Gong, takjub.
Tatapan Liu Gong akhirnya beralih pada Yola, yang masih menatap Anna dengan mulut ternganga.
Setelah mengenal Milena selama 10 hari, Yola tahu dia adalah orang yang angkuh dan pemilih dalam berteman, jadi dia tidak menyukai Milena. Namun, dia tidak menyangka akan dilibatkan dalam masalah ini.
Liu Gong sebenarnya ingin bertanya pada Yola mengenai kebenarannya. Sebagai seorang penengah, dia harus mendapatkan bukti, walaupun dia cendreung percaya pada Anna.
Namun, sebelum Liu Gong sempat berbicara untuk bertanya, Milena berdiri dari tempat duduknya dan bermaksud untuk pergi dari ruangan kelas.
Tapi, dia hampir terjatuh saat pergelangannya di tangkap seseorang.
“Mau kemana?”
Milena menatap pergelangannya yang telah di genggam erat oleh sebuah tangan ramping yang berkulit putih bersih dan tampak berkilau.
Jari-jarinya yang panjang dan ramping itu tampak begitu lemah, namun Milena sama sekali tak bisa melepaskan genggaman itu dari pergelangan tangannya, walaupun dia sudah berusaha.
“Aku tanya, kau mau kemana?” tanya Anna lagi saat pertanyaan sebelumnya tidak di gubris.
“Siswi Anna, tenang dulu. Lepaskan tangannya.” Pinta Liu Gong dengan tenang.
Anna menoleh pada Liu Gong.
“Saya sangat tenang. Dia yang tidak tenang. Lihatlah, dia ingin kabur begitu saja.”
Kedua mata Liu Gong melebar. Entah kenapa saat ini dia ingin tertawa. Selama hidupnya, baru kali ini dia melihat orang yang begitu berterus terang dan gigih dalam membela dirinya.
“Lepaskan!”
Milena yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi, membentak Anna sambil berusaha menarik tangannya.
Namun, usahanya sia-sia. Jemari ramping itu seakan di lem di pergelangan tangannya dengan erat.
“Siswi Anna, tolong kau lepaskan dulu.” Pinta Liu Gong seraya menepuk pelan pundak Anna.
Anna langsung melepaskan genggamannya dari pergelangan Milena.
Saat itu juga, Milena langsung pergi meninggalkan kelas.
“Haaahhh…” Liu Gong hanya bisa mendesah sambil menatap punggung Milena yang beranjak pergi. “Keluarga Williams pasti akan menghubungi kepala Akademi.” Pikir Liu Gong, ia dapat menebak apa yang akan terjadi.
Liu Gong kemudian menoleh pada Anna, “Duduk dulu.”
“Tentu.”
Sambil berjalan kembali ke depan ruangan, Liu Gong berbicara, “Yang punya kontak Milena, tolong hubungi dia. Minta dia menghadap ke ruangan ku saat jam istirahat.”
Saat sudah tiba di depan kelas, Liu Gong menatap Anna yang juga sedang menatapnya, “Kau juga. Temui aku saat jam istirahat.”
•••
Selesai jam pelajaran pertama, Anna pergi ke ruang instruktur.
Walaupun dia pergi kesana untuk menerima 'kuliah', namun saat tiba di ruangan instruktur yang merupakan sebuah ruangan luas dengan banyak meja kerja instruktur di dalamnya, Anna mendapatkan sambutan hangat dari para instruktur.
Setelah video ujian penerimaannya di unggah ke situs resmi Akademi, video itu mendapatkan banyak komentar baik dan banyak dukungan diberikan padanya.
Jadi, banyak instruktur yang menyukainya.
°°°
Liu Gong meminta Anna untuk duduk di seberangnya.
"Kau ingin minum?" Tanya Liu Gong.
Saat ini adalah jam istirahat. Karena dia sudah memakai waktu istirahat siswanya jadi dia tidak nyaman jika siswanya itu kehausan.
"Tidak. Terima kasih."
Sementara menunggu Milena Williams, Liu Gong memakai waktunya untuk menyeduh kopi untuk dirinya sendiri.
"Kau seharusnya bisa lebih menahan diri." Ucap Liu Gong setelah dia kembali dan duduk di seberang Anna, di belakang mejanya.
"Maafkan saya, tuan Wang." Sahut Anna.
Liu Gong mendesah pelan, lalu tersenyum. Sebenarnya, tidak banyak yang ingin dibicarakannya lagi. Dia hanya ingin mempertemukan kedua siswinya itu untuk meluruskan masalah remaja itu dan mendamaikan mereka.
Namun, setelah 20 menit berlalu, Milena tak kunjung datang.
"Sepertinya dia tidak akan datang," keluh Liu Gong setelah melihat jam di komputernya. Dia kemudian menatap Anna yang sedang sibuk dengan smartphonenya. "Kau bisa pergi. Aku akan bicara pada Milena saat jam terakhir nanti."
Anna menganggkat wajahnya dan menatap Liu Gong. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, "Kalau begitu, saya permisi."
"Ya. Tolong tahan diri mu lain kali. Walaupun kau benar, usahakan jangan membuat permusuhan dengan teman satu kelas mu. Mereka semua akan menjadi rekan satu tim mu sampai kau lulus dari Akademi."
"Akan saya usahakan," sahut Anna. "Apakah ada yang ingin Anda sampaikan lagi, tuan Wang?"
"Tidak ada. Kau bisa pergi sekarang."
"Kalau begitu, saya permisi sekarang."
Liu Gong menatap punggung Anna sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
"Sepertinya dia agak keras kepala." Pikir Liu Gong.
•••
Setelah keluar dari ruangan instruktur, Anna langsung pergi menuju kantin.
Disana dia agak sedikit kebingungan untuk mencari tempat duduk karena suasana kantin yang sangat ramai oleh para siswa.
Anna akhirnya pergi menuju kafe yang agak sepi, bermaksud untuk menikmati segelas coklat hangat sambil menunggu jam pelajaran kedua dimulai.
Namun, saat baru berbelok ke arah kafe, Anna melihat orang yang dikenalnya. Dia pun tersenyum licik.
"Ah... Itu dia. Kebetulan sekali."
Anna akhirnya membatalkan niatnya dan pergi menuju seorang siswa yang dikenalnya.
•••••••