Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 42 - Kami Ingin Berkencan


“Kau mau pergi kemana?” Tanya pria itu sambil memegang pundak Ren.


Ren awalnya memang hendak berhenti. Namun saat melihat kenalannya itu menahan tubuhnya, terutama saat ia merasa ada 'sedikit paksaan' pada cengkraman tangan di pundaknya, Ren menoleh padanya dengan tatapan tidak senang.


“Aku hanya ingin mengantarkannya.” Sahut Ren sambil menatap tajam pria itu. Ia kemudian melirik pada Anna yang berdiri di sampingnya. "Kau pergilah dulu, aku akan menyusulmu." Pintanya pada Anna.


Tapi, Anna masih menggenggam pergelangan tangan Ren seakan tidak mendengar apa yang pria itu katakan.


Orang yang menghentikan mereka, menatap Anna dengan dahi berkerut. Penampilan Anna yang mengenakan topi dan masker itu sedikit mencurigakan untuknya. Terutama karena dia tahu gadis itu juga seorang Hunter, dari energi sihir yang ia rasakan padanya.


Tapi, matanya juga tidak bisa menghindari godaan dari tubuh seksi Anna.


"Bisa kau lepaskan aku?" Ucap Ren pada pria itu. Ren tahu arah tatapan matanya dan berusaha mengalihkan perhatian pria itu dari Anna.


"Ah... Ya, maaf..." Sahut pria itu yang kemudian melepaskan cengkramannya.


Ia kemudian berbicara lagi dengan setengah berbisik.


“Siapa dia?”


Saat Ren hendak menjawabnya, ada 8 orang lagi menghampiri mereka, jadi dia membatalkan niatnya dan menoleh pada orang-orang yang baru tiba di dekat mereka.


"Terlambat, aku tidak bisa membawanya pergi dengan mudah sekarang." Pikir Ren saat melihat kenalan-kenalannya itu sudah berada di sekitar mereka.


"Ada apa?" Tanya salah seorang yang baru tiba. Dia tampak memiliki usia yang lebih tua dibandingkan yang lainnya, juga seorang Hunter dengan energi Mana jauh lebih besar dibandingkan semua orang yang berada di situ. Tentu saja Anna adalah yang terkecuali.


Ren dan pria yang menghentikannya tadi tidak menjawab. Pria tadi kembali menatap Anna, sementara Ren menatapnya dengan tatapan tidak senang.


Anna menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia membuat orang-orang ini pingsan saja. Namun ia mengurungkan niatnya itu, khawatir karena mereka pasti akan menyusahkan Ren dan kakaknya dikemudian hari.


“Aku pacarnya, kami ingin berkencan tapi dia menghentikan kami.” Sahut Anna sambil menunjuk orang yang tadi menghentikan mereka.


Semua orang terdiam.


“Apa?!”


Sahut beberapa orang dengan terlambat saat sudah bisa mencerna apa yang Anna katakan barusan. Ren juga termasuk di dalamnya.


Mereka menatap Ren dalam diam. Sementara Ren, menatap Anna dan kenalan-kenalannya secara bergantian.


Mereka, awalnya ingin mencari tau siapa wanita yang tampak mencurigakan itu. Bahkan dengan secara paksa jika dibutuhkan. Namun, kini mereka berpikir bahwa tidak mungkin mereka melakukannya pada pacar kenalannya.


Akhirnya pria yang lebih tua kembali berbicara.


“Tapi kau sudah berjanji untuk ikut. Kita akan kekurangan orang jika kau tiba-tiba pergi.” Ucap pria itu pada Ren, menagih janji. Dia mengatakannya dengan nada yang tidak memaksa dan hanya bermaksud untuk bertanya.


“Dia tidak boleh pergi. Dia sudah berjanji pada ku lebih dulu untuk berkencan.” Sahut Anna, tampak tidak ingin mengalah.


Mendengar itu, beberapa dari mereka tertawa bersamaan. Selain pria pertama tadi, mereka semua tampak cukup ramah.


“Mengapa kau tidak ikut saja bersama kami?” Tanya salah satu dari mereka.


Anna menatap sekilas pada orang yang baru saja berbicara. Ia hanya mengabaikannya dan menatap pada Ren.


“Kau mau pergi dengan ku atau bersama mereka?” Tanya Anna.


Ren menatap Anna dengan wajah linglung. Dia masih tidak mengerti, apa maksud gadis itu yang seakan hendak menghalanginya. Bahkan dengan memberikan alasan konyol.


Ren tau bahwa apa yang dia dan kenalan-kenalannya akan lakukan adalah hal yang sangat berbahaya. Namun dia sangat membutuhkan uang untuk biaya tahunan bersekolah di Akademi Hunter mengingat dia telah lulus ujian hari ini.


Dia memiliki cita-cita yang sangat sederhana. Lulus dari Akademi, mendapatkan lisensi resmi dan terdaftar sebagai Hunter Asosiasi agar dia dapat bekerja di bawah naungan resmi Asosiasi sebagai tim penambang.


Ren tidak menginginkan hal-hal berlebih, dia hanya ingin memiliki gaji yang cukup tanpa mempertaruhkan nyawa dan memiliki penghasilan layak untuk memenuhi biaya kehidupannya beserta kakaknya.


Jika dia bisa bekerja sebagai tim penambang resmi dari Asosiasi, maka dia akan mencapai impiannya tersebut. Hanya itu.


Namun untuk itu, dia harus lulus dari Akademi terlebih dahulu.


Satu-satunya jalan untuk mendapatkan biaya sekolahnya, adalah dengan melakukan pekerjaan ilegal bersama kenalan-kenalannya itu hari ini.


“Maaf, tapi aku harus pergi bersama mereka sekarang.” Ucap Ren tanpa berani menatap langsung ke kedua mata Anna. Dia merasa tidak nyaman karena akan mengabaikan orang yang telah membantu Rin, kakaknya.


Mendengar itu, kenalan-kenalannya hanya diam. Dari yang mereka tahu, hubungan antar pasangan remaja cukup sederhana. Mereka dapat menebak, bahwa pasangan itu akan bertengkar tak lama lagi.


"Gadis ini pasti akan marah dan merajuk."


Pria yang lebih tua, menatap Anna dan menunggu reaksinya.


Tapi apa yang Anna ucapkan kemudian, mengejutkannya.


“Baiklah. Aku yang akan ikut dengan mu.” Ucap Anna.


“A-apa...? Tapi kami...," bukan Ren, tapi pria itu yang menyahut. Dia diam sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya, sementara semua orang menatap padanya.


“Apa kau tau kemana kami akan pergi?” Lanjutnya kemudian.


“Aku tidak tau. Untuk itulah aku akan mencari tau kemana pacar ku pergi.” Sahut Anna dengan acuh tak acuh.


Pria itu menoleh pada Ren. Dia sebenarnya tidak mempermasalahkan gadis itu ikut. Semuanya tergantung Ren.


“Apakah tidak masalah?” Tanya pria itu pada Ren.


Ren tidak menggubrisnya. Dia menatap Anna dengan mulut yang terbuka lebar.


Anna memutar matanya saat melihat ekspresi Ren. "Bodoh. Aku tidak ingin kau pergi dengan mereka. Pikirkan kakak mu!" Umpat Anna dalam hatinya.


"Tidak apa-apa. Aku bisa melindungi diri ku sendiri." Ucap Anna kemudian.


Tidak ada cara lain, Anna berpikir bahwa dia harus ikut jika Ren tidak ingin tinggal bersamanya.


Walaupun Anna menjamin dirinya sendiri, tapi Ren tidak begitu saja menyetujuinya.


"Kami akan pergi ke..."


Anna memotong kalimat Ren saat gadis itu mengejutkannya saat mendekatkan wajahnya ke telinga Ren sambil berjinjit.


"Aku akan menghubungi Rin kalau kau meninggalkan ku disini." Bisiknya.


“B-baiklah...” Sahut Ren dengan nada ragu.


Jawaban Ren disambut suara tawa semua rekannya.


“Kalau begitu ayo kita pergi sekarang.” Ajak pria yang lebih tua, ia kemudian berjalan lebih dulu dan kemudian disusul teman-temannya beserta Ren dan Anna yang berjalan di paling belakang kelompok.


“Ada apa?” Tanya Anna.


“Tidak apa-apa...” Sahut Ren. Dia sebenarnya agak gugup saat ini. Ia masih mengingat apa yang gadis itu ucapkan tadi.


Sekilas, Ren menangkap sikap aneh Anna yang tampak sangat cuek dan seakan tidak memiliki beban apapun dalam pikirannya.


“Apakah semua anak orang kaya memang sesantai ini?”


“Aku tau kau anak orang kaya. Tapi apa kau tau, kau akan terlibat dalam masalah besar.” Ucap Ren dengan suara setengah berbisik. “Dan kenapa kau sepertinya hendak menahan ku untuk pergi bersama mereka? Apa kau tau kemana tujuan kami? Dan bukannya kau tadi sedang mencari teman mu?”


Anna menoleh padanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya karena pria itu memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya. Anna menebak-nebak pria itu mungkin memiliki tinggi badan sekitar 180 centimeter.


“Tentu. Bukankah kita akan berkencan?” Sahut Anna. “Seseorang yang pergi berkencan biasanya juga melupakan temannya.” Tambahnya.


Jawaban itu menjawab semua pertanyaan Ren, walaupun sangat menyimpang.


“A-apa? K-kau terlalu santai bercan-“


“Oh... kemarikan tangan mu," Anna tiba-tiba menyambar dan memegang tangan Ren dan menautkan jemari mereka. “Mereka sering menoleh ke arah kita, kita harus terlihat seperti berpacaran.”


“Kau gila..."


"Oh ayolah, kapan lagi seorang wanita akan bergandengan tangan dengan mu seperti ini?"


"..."


Anna menoleh lagi padanya. Ren dapat menebak bahwa gadis itu pasti sedang tersenyum di balik maskernya.


“Kau tadi pasti takut kalau teman-teman mu akan menyakiti ku karena aku dari daerah pusat kota kan."


Ren tidak terkejut dengan ucapan Anna, karena itu adalah rahasia umum. Apa yang Anna katakan sepenuhnya benar.


Hunter-hunter yang terdaftar di Asosiasi yang biasanya tinggal di pusat kota dan yang tidak terdaftar di Asosiasi yang biasanya tinggal di daerah pinggiran, memiliki sikap saling bermusuhan.


"Harusnya kau pergi kalau sudah tau itu." Ucap Ren tanpa menoleh pada Anna.


Ren berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Anna namun dia tidak bisa melepaskannya.


“Gila, dia sangat kuat!”


Sementara itu, pria-pria yang berjalan di depan cekikikan saat melihat mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


"Masa muda memang indah. Aku benar-benar iri." Ucap pria yang paling tua. Suaranya nyaring hingga Ren bisa mendengarnya.


•••


Mereka berhenti saat tiba di tepi sungai. Suasana di tempat itu benar-benar sangat sunyi. Hanya ada semak-semak tanpa ada bangunan apapun di sekitar mereka.


Mereka asik mengobrol sambil merokok dengan santai seakan sedang menunggu sesuatu.


Mereka tampak mengerti dengan pasangan kekasih yang mereka biarkan berdiri berduaan agak jauh dari tempat mereka berada.


Sebenarnya, banyak kalimat kekesalan yang ingin Ren umpatkan dari mulutnya pada Anna, yang sejak tadi berdiri disebelahnya dan terlihat tidak ingin melepaskan genggaman mereka.


Namun saat Ren ingin mengucapkan kata-katanya, dia selalu menelannya kembali saat bertemu pandang dengan gadis itu.


Kedua bola mata kebiruannya yang sangat indah, dihiasi dengan bulu mata yang lentik itu tampak sangat menyejukkan hatinya.


"Ada apa dengan pikiran ku?"


“Kau tidak perlu terlalu mengagumi keindahan mata ku.” Ucap Anna seakan dapat membaca pikiran Ren.


“A-apa...? K-kau terlalu percaya diri.” Sahut Ren. Ia hampir tertawa mendengar ucapan gadis itu.


“Kau mengatakannya dengan jelas dari tatapan matamu."


“Aku tidak mengagumi mu.”


Anna mengangguk.


“Ya, siapa tau wajah ku tidak seperti yang kau bayangkan, kan? Bisa saja lubang hidung ku ada tiga dan gigi ku ompong.” Ucap Anna.


Mendengar itu Ren dengan perasaan kesal menarik tangannya namun genggaman gadis itu benar-benar sangat kuat.


“Oh..., kau takut?”


“S-siapa...? Kau ini sebenarnya apa yang ada di pikiran mu?!”


“Tidak ada. Aku terkadang lelah saat sedang berpikir.”


Ren kini benar-benar kesal dan menatap tajam gadis itu.


Melihat tatapan Ren yang seolah-olah ingin menelannya, Anna mendongak dan menatapnya balik. Dia menyipitkan matanya, menatap wajah Ren yang tertimpa cahaya rembulan.


“Kau tampan, rahang mu tampak tegas dan bola mata mu hitam mengkilap. Dilengkapi rambut hitam tebal yang panjangnya sebahu ini, kau tampak seperti pria yang akan di gilai para gadis.” Ucap Anna dengan nada suara seperti sedang membaca sebuah puisi. “Sayang wajah mu agak berjerawat. Kau harus sering-sering mencuci wajah mu dengan benar.”


"..."


"Aku serius."


“Ini wajah ku, apa urusan mu dengan wajah orang lain?!” sahut Ren kesal, namun wajahnya sedikit merona saat dia mengira Anna tadi benar-benar sedang menggodanya di kalimat awal.


“Tidak ada," Anna menggeleng. "Hanya saja, mata ku tersakiti saat melihat wajah mu.”


Ren diam dan tidak menanggapi lagi apa yang baru saja Anna katakan.


"Apa dia agak gila? Bagaimana Rin bisa berteman dan selalu memuji wanita gila ini?"


Anna kemudian berbalik dan menunjuk ke sebuah arah dengan tangannya yang bebas.


“Oh… lihat, ada kapal... Apakah kita sedang menunggu kapal itu?”


Sebuah kapal berukuran agak besar berlayar menghampiri mereka. Rombongan itu memang sedang menunggu kapal tersebut sejak tadi.


Saat kapal sudah mendekat ke tepi sungai, mereka semua langsung melompat ke atas kapal tanpa menunggu kapal itu berhenti.


Anna dan Ren yang masih bergandengan tangan, melompat bersamaan ke atas kapal.


Kapal yang memang datang untuk menjemput mereka itu, kembali berlayar saat mereka semua sudah berada di atas kapal.


•••••••