
"Siapa di situ?" tanya Anna dengan suara pelan.
Ia bersikap sangat hati-hati dan berdiri dengan kewaspadaan penuh.
Begitu juga dengan dewa Ogun dan dewi Ezili yang langsung melompat mundur dan bersiap di sisi kiri dan kanan Anna.
"Maaf jika membuat mu terkejut. Tapi aku tidak berniat untuk bertarung atau apa pun itu," ucap makhluk itu sambil berjalan menghampiri Anna.
Baru setelah ia berada sekitar 2 meter di hadapan Anna, Anna akhirnya bisa melihat sedikit wajah makhluk yang mirip manusia itu.
Walaupun dari bagian dahi sampai ke rambutnya di tutupi tudung dari jubah panjangnya, namun Anna masih dapat melihat kecantikan dari wajah makhluk tersebut.
Tatapan matanya yang tenang dan dalam, entah kenapa membuat hati terasa tenang. Hampir seketika, Anna juga hampir kehilangan kewaspadaannya.
Berbeda dengan cara makhluk itu mengagetkannya tadi, Anna malah merasa sedikit tenang saat sudah bertatapan langsung dengannya.
"Senang bertemu dengan mu, makhluk Bumi duplikat dewi Ann...," sapa wanita bertudung itu.
"A-apa? Bagaimana kau tahu?!"
Anna memiliki ekspresi terkejut saat mendengar sapaan yang sangat tepat itu.
"Lorelei?!" seru dewi Ezili, saat ia sudah bisa melihat wajah wanita cantik yang baru saja diterpa cahaya remang obor dari luar jeruji kayu sel tahanan.
Wanita bertudung itu menatap otter yang berdiri di sisi kiri dekat kaki Anna.
"Saya dari tadi agak kaget saat mendengar suara Anda. Apakah Anda dewi Ezili?" tanya wanita itu seraya tersenyum hangat pada dewi Ezili.
"Kau... Bagaimana kau bisa berada di sini?" dewa Ogun tidak kalah kagetnya dengan dewi Ezili.
"Sepertinya saya tidak salah mengenali, kan? Anda berdua dalam penyamaran, dewa Ogun, dewi Ezili?"
"Ya. Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?" tanya dewa Ogun sekali lagi.
Lorelei mengalihkan pandangannya dan menatap lurus pada wajah kebingungan Anna. "Sama seperti Anda semua. Kalian sedang mencari dewi Lyn, kan?"
"Bagaimana kau tahu?" tanya dewi Ezili penasaran.
"Astareth dan Mammon membuat jejak yang membuat ku bisa menebak bahwa dewi Lyn sedang berada di sini."
"Kau bertemu mereka?" giliran dewa Ogun yang bertanya.
"Ya. Saya secara tidak sengaja bertemu dengan mereka."
"Tapi..., bukannya kau sedang dalam pertapaan panjang? Apa tidak masalah kau meninggalkan pertapaan mu?"
Lorelei tersenyum miris.
"Cucu ku membuat keonaran. Bagaimana bisa aku diam saja?"
"Maaf memotong," ucap Anna yang merasa diabaikan, "Tolong beritahu aku dulu. Siapa dia ini?" tanya Anna pada dewi Ezili. Hanya dia yang tidak tahu apa-apa disini.
Dewi Ezili melompat naik ke pundak kiri Anna. "Dia guru berpedang dewi Ann, malaikat Lorelei," sahut dewi Ezili. Suaranya terdengar riang.
"Apa?!"
Anna menoleh pada Lorelei lagi dan menatapnya dengan benar.
'Kalau dia gurunya guru ku, bukankah aku harus berlutut untuk memberinya hormat dan menyapanya?'
Mengikuti apa yang ia pikirkan, Anna akhirnya membungkuk dan belutut di hadapan Lorelei.
"Saya Anna. Murid tidak langsung dari dewi Ann. Senang bertemu dengan nenek guru!" ucap Anna dengan suara dan sikap yang sangat menghormati.
Sikap sopan Anna malah membuat Lorelei dan kedua hewan imut tertawa.
Dengan wajah bingung, Anna menatap ketiganya. "A-apa ada yang lucu?"
"Dari mana kau pelajari sikap ini?" tanya Lorelei di sela tawanya.
Anna mengingat film-film Tiongkok yang pernah ia tonton saat masih berada di bangku sekolah dulu.
"Apa biasanya tidak begini?" tanya Anna dengan wajah polos.
"Berdirilah," pinta Lorelei, sembari memegang kedua tangan Anna dan membantunya berdiri.
"Terima kasih...," ucap Anna dengan wajah tersipu. "Dia sangat ramah," pikir Anna, sembari mencuri pandang pada wajah malaikat cantik itu.
'Wajahnya mirip seorang aktris terkenal. Apa wajah aktris itu adalah tiruannya?'
"Aku akan menerima sapaan penghormatan mu nanti saat semua barang yang di butuhkan sudah tersedia." Ucap Lorelei sembari tersenyum hangat pada Anna. Ia sangat menghargai sikap sopan cucu murid nya itu.
"Ya?"
"Kau harus meminyaki kaki guru mu dan membersihkannya dengan kain putih bersih. Itulah cara menyapa yang benar pada sosok guru, terlebih pada kakek atau nenek guru." Dewi Ezili menjelaskan.
Anna terdiam.
'Ternyata budaya mereka sangat merepotkan.'
•••
Anna dan Lorelei akhirnya duduk dengan beralaskan lantai dingin goa, sementara dewi Ezili dan dewa Ogun memilih untuk bertengger di pundak Anna.
"Jadi, bagaimana cerita mu hingga bisa sampai di sini?" tanya dewi Ezili.
Lorelei akhirnya mulai bercerita.
"Saya mendengar kabar bahwa cucu saya terlibat dalam komplotan malaikat tersesat. Awalnya, saya ingin menemui dewi Lyn dan dewi Ann untuk meminta izin agar dapat menghukum cucu saya sendiri. Tapi maha dewa Arnix mengatakan bahwa mereka sudah pergi ke pusaran untuk menyelesaikan masalahnya,"
"Saat saya menyusul ke sana, saya melihat planet manusia sedang dalam kekacauan. Saya langsung curiga ada sesuatu yang terjadi pada dewi Lyn, karena gerbang sihir yang seharusnya sudah tidak berada di Bumi malah masih berada di sana. Kecurigaan itu bertambah karena saya juga tidak bisa merasakan energi Mana dewi Lyn sama sekali di sana."
"Lalu, bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanya dewi Ezili sekali lagi, penasaran tentang hal itu.
"Saat itu saya secara tidak sengaja bertemu dengan Astareth dan Mammon saat mereka sedang membakar habis sebuah goa persembunyian seorang manusia."
"Sebenarnya saya ingin mengejar mereka. Tapi saat itu saya harus menyelamatkan seorang anak yang terluka parah dalam kebakaran besar yang mereka buat, jadi saya kehilangan jejak kedua malaikat tersesat itu,"
"Tapi, saat itu saya akhirnya tahu bahwa Lucifer telah membelokkan portal yang dilalui dewi Lyn, dari jejak-jejak sihir yang Astareth dan Mammon pernah buat. Karena itulah saya akhirnya menyusul ke tempat ini karena saya tahu dewi Ann dan dewa Erv tidak diizinkan pergi ke wilayah kekuasaan dewa lain. Saya ingin membantu agar dewi Lyn bisa kembali dan menunjukkan jalan pada dewi Ann untuk memburu para pengkhianat itu."
Lorelei kemudian menoleh pada Anna yang duduk tepat di sebelahnya, "Ternyata dewi Ann juga mengirimkan muridnya untuk mencari dewi Lyn. Saya sangat senang bisa bertemu dengan mu, manusia."
Melihat senyuman hangat sang malaikat, Anna tiba-tiba tersipu.
"Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda, nenek guru," ucap Anna sopan, sembari melirik pada wajah cantik sang nenek.
Lorelei merasakan bahwa ada yang aneh dari tatapan Anna, jadi dia bertanya, "Kenapa kau menatap ku seperti itu?"
Anna tersenyum canggung. Lalu, dengan sedikit malu ia bertanya, "Apakah para dewa dan malaikat tidak menua?"
"Hm?"
"Wajah Anda dan dewi Ann juga tampak seperti wajah seorang gadis usia dua puluhan," Anna melanjutkan.
Lorelei tertawa.
"Kalau ada kesempatan, bersemedilah. Perdalam pelajaran dari kitab dewa Arnix bab lima maka kau akan tahu banyak rahasia tersembunyi dari alam semesta. Termasuk kondisi fisik mu yang berhenti menua sejak kau berusia 20 tahun," ucap dewa Ogun, menggantikan Lorelei untuk menjelaskan.
"Hah? Berhenti menua?!" Anna terkejut.
"Ya."
"Kau serius?!" tanya Anna tak percaya.
Di samping Anna, Lorelei yang juga mendapat informasi barusan dari dewa Ogun, langsung menghentikan tawanya. Kedua matanya melebar sembari menatap Anna dengan tertegun, sebelum ia menoleh pada dewa Ogun dan bertanya.
"Dia sudah menguasai kitab dewa Arnix dan sudah sampai bab lima?" tanya Lorelei pada dewa Ogun dengan tatapan tidak percaya.
Lorelei bisa menebak bahwa Anna sedang mengunci energi Mana, karena itulah dia tidak bisa merasakan adanya energi Mana dari tubuh gadis itu. Tapi, dia tidak menyangka dewi Ann akan mengajarinya isi kitab dewa Arnix yang sangat luar biasa hebat itu.
•••