Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 29 - Keahlian Miyuki


Miyuki menunjukan kemajuan yang telah ia dapatkan selama mereka tidak bertemu. Proyek itu telah selesai 100% dan dia menunjukkan pada Anna prototype yang juga sudah berhasil 100%.


Proyek yang sedang mereka buat adalah proyek untuk menciptakan avatar sebagai pengganti manusia untuk melakukan tugas raid di dalam Dungeon.


Jadi, walaupun tidak memiliki kemampuan khusus, semua orang nantinya akan bisa pergi ke Dungeon dengan mengirimkan avatarnya yang telah terhubung dengan otak orang tersebut.


Otak pengguna dan avatarnya dihubungkan melalui kristal sihir yang ditanamkan pada mesin pilot dan manekin avatar.


Miyuki juga sudah merancang sebuah alat untuk menetralisir energi sihir agar pengguna tidak terkena dampak radiasi dari energi sihir saat sedang menjadi pilot di dalam mesin pengontrol.


Ide Miyuki diabaikan banyak orang saat ia melakukan presentasi di proposal yang disebarkannya di situs resmi Hunter maupun jejaring sosialnya. Dia hanya dianggap sebagai gadis remaja yang memiliki hayalan yang mungkin baru bisa diwujudkan dalam beberapa puluh bahkan ratusan tahun kedepan.


Apa yang para calon investor lihat dari idenya hanyalah ide dari seorang gadis 18 tahun yang bahkan hanya menyampaikan ide tanpa memberikan gambarannya.


'Jika Sato Corp saja belum bisa membuatnya, bagaimana bisa anak kecil sepertimu membuatnya.'


Ejek seorang investor di situs.


'Tunjukkan prototype mu jika kau ingin aku berinvestasi.'


Investor lain meninggalkan komentar.


Apa yang mereka katakan tentu benar. Mana ada investor yang ingin membeli kucing dalam karung?


Tentu saja, Miyuki tidak menunjukkan bagaimana cara membuat mesin itu secara detail karena dia hanya ingin mengerjakannya seorang diri, dia hanya membutuhkan investasi untuk membiayai proyek besarnya.


Miyuki berpikir, bisa saja orang hanya ingin melihat bagaimana cara mengerjakannya dan membuat peralatan itu sendiri tanpa berinvestasi padanya.


Hanya Anna, satu-satunya orang yang mempercayainya saat itu.


Saat melihat gambar avatar di monitor, Anna tiba-tiba teringat dengan mannequin yang memberinya kristal inti Mana.


Bagaimana pun, ide dan rencana kerja Miyuki masih berbentuk ujicoba. Tapi, Anna sudah pernah melihat mannequin yang mungkin adalah avatar seseorang yang dapat berbicara dan bergerak.


“Apakah dia dari masa depan?” Pikir Anna.


Anna akhirnya teringat juga pada Sistem Kecerdasan yang mengatakan bahwa teknologi mereka berasal dari masa depan. Itu adalah sistem yang ingin memberikannya kesempatan untuk menggunakan tekhnologinya sesaat setelah Anna terlempar dari lantai 6 restoran Asian Soul.


‘Apakah yang memberi ku inti Mana dan si pembuat System Kecerdasan itu adalah saingan bisnis dari masa depan?’


“Anna?” Miyuki memanggil Anna yang tampak tidak fokus dengan apa yang baru saja dia katakan.


“Ah… ya?”


“Kau sedang melamun?”


“Y-ya… sedikit.”


Miyuki menyipitkan kedua matanya, yang membuat kedua matanya yang sudah sipit itu terlihat hampir tertutup.


Dengan sedikit mendongkol, Miyuki akhirnya menjelaskan ulang apa yang baru saja dikatakannya.


•••


“Lalu bagaimana cara kita untuk mulai memperkenalkannya?” Tanya Anna, setelah Miyuki selesai menjabarkan semua yang perlu Anna ketahui.


“Yang pertama kita membutuhkan modal untuk mendapatkan Kristal Sihir sebagai tenaga utama mesin dan penggerak avatarnya. Yang kedua kita membutuhkan seseorang pembicara yang baik dan cukup memiliki nama di dunia Hunter untuk mempengaruhi orang-orang agar mau membeli produk yang kita jual. Kita akan menjadikannya CEO perusahaan. Jadi kita tidak akan membutuhkan banyak biaya untuk beriklan.”


Anna menatap Miyuki dengan tatapan kosong.


“Mengapa kau baru mengatakannya sekarang? Bukankah yang kedua adalah hal yang sulit?”


Miyuki tampak malu.


"Yah… dulu aku terlalu bersemangat untuk membicarakan teknisnya hingga baru memikirkan juga mengenai pemasarannya itu belakangan.” Jawab Miyuki dengan tersenyum canggung. “Tapi… Apakah kau akan memakai tabunganmu untuk membeli kristal-kristal sihir untuk membuat sampel produk kita? Uangmu lebih dari cukup untuk membuat sampel produk.”


Anna dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku akan mengembalikan uang itu pada kakek ku.” Sahut Anna.


Miyuki mengangkat kedua pundaknya. “Kalau begitu kita akan mencari investor baru untuk biaya pembuatan sampelnya. Kita butuh 10 kristal yang sudah diolah dan biaya untuk merakit mesinnya lagi, karena bahan-bahan dan alat yang sebelumnya kita pesan dengan kenalanku, sudah ku pakai untuk membuat mesin untuk menyelamatkan temanmu.”


Anna tidak langsung menanggapi apa yang baru saja Miyuki katakan. Ingin saja Anna mengatakan bahwa dia memiliki segunung Kristal Sihir dan langsung menunjukkannya pada Miyuki saat ini juga.


Namun, Anna masih tidak mau membuka gerbang ke dunia buatannya karena tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan yang akan merepotkannya lagi.


“Aku akan mendapatkannya. Kita tidak membutuhkan investor lainnya lagi. Aku yang akan menjadi investornya.” Ucap Anna dengan tatapan penuh keyakinan.


Miyuki berpikir.


‘Wajahnya mungkin sudah sembuh, tapi otaknya rupanya masih terganggu. Bagaimana cara dia mendapatkan kristal sihir tanpa membelinya atau melakukan raid?’


Dia menatap Anna dengan rasa prihatin.


“Apakah kau akan memakai uang tabunganmu dulu dan mengembalikannya nanti?”


“Tidak. Aku akan melakukan raid untuk mendapatkan Kristal Sihirnya.”


Kedua alis Miyuki terangkat dan hampir saja ia tertawa.


“Kau akan meminta bantuan pada keluargamu?”


“Aku tidak membutuhkan mereka, aku akan melakukannya sendiri.” Sahut Anna dengan masih menampakkan wajahnya yang penuh percaya diri dan keyakinan tinggi.


Miyuki mendesah. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya dan tubuhnya kemudian merosot beberapa inchi di atasnya. Harapan di hatinya seakan meluap dan pikirannya menjadi kosong seketika.


Anna bisa menangkap rasa tidak yakin dari bahasa tubuh yang Miyuki tunjukkan.


"Ada apa?"


“Kau Hunter peringkat F.”


Mendengar itu, Anna menyadari bahwa apa yang dia katakan mungkin akan dianggap angin lalu oleh Miyuki. Tapi dia tidak menyalahkan Miyuki, karena gadis itu tidak mengetahui apa yang bisa dia lakukan sekarang. Bahkan sudah dilakukannya.


“Dan lagi… Apakah kau memiliki lisensi sebagai seorang Hunter?”


Anna menggeleng.


Miyuki tertawa.


“Kau harus mengikuti pembelajaran dan pelatihan di Akademi terlebih dahulu untuk mendapatkannya.” Ucap Miyuki dengan malas sambil memejamkan kedua matanya. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa mengantuk.


Sementara itu, Anna yang tampak diabaikan, tertunduk. Dia setuju dengan apa yang Miyuki katakan. Mengingat berita yang dilihatnya di televisi, memang benar bahwa dia tidak akan bisa melakukan raid di sebuah Dungeon tanpa izin.


Selain itu, dia bahkan harus membeli hak raid Dungeon tersebut dan memiliki tim yang beranggotakan minimal 20 Hunter dari berbagai macam kelas agar raidnya di setujui.


“Gila. Ternyata benar-benar sangat merepotkan.” Pikir Anna yang kemudian mendesah kecewa memikirkan peraturan yang begitu berbelit walaupun sebenarnya dia mampu melakukannya seorang diri.


Miyuki menoleh pada Anna saat mendengar suara dengusan gadis itu.


"Jangan khawatir, kau hanya tinggal mengikuti pelatihan di Akademi untuk mendapatkan lisensimu. Aku akan sabar menunggu mu.” Ucap Miyuki, lalu ia tersenyum.


“Lihat, Akademi Hunter Kota C sedang membuka pendaftaran untuk siswa baru. Masih ada waktu 3 hari lagi sebelum pendaftaran dan ujian penerimaannya di tutup.”


Anna melihat ke arah monitor dan membaca informasi itu.


“Mungkin kau hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk mendapatkan lisensi itu. Tunggulah saat temanmu itu telah sadar kembali dan pulih, dia juga belum punya lisensi kan? Kau akan melihat sebuah keajaiban.”


“Maksudmu?”


“Kau tunggu saja.”


Melihat wajah Miyuki yang kini tampak santai tidak seperti sebelumnya, Anna tidak ingin mengulangi pertanyaannya lagi.


“Kau sendiri, apakah kau memiliki lisensi?”


Miyuki menggelengkan kepalanya. “Aku tidak memilikinya.”


“Bagaimana kalau kita mendaftar bersama? Kita dapat melakukan raid bersama.” Ajak Anna.


Miyuki memaksakan senyumnya saat mendengar ajakan itu dengan masih menatap pada monitor komputer di hadapannya. “Aku tidak tertarik untuk melakukan raid. Maafkan aku.”


Anna sedikit terganggu dengan apa yang baru saja Miyuki katakan dan sambil mendesah pelan dia juga memaksakan sebuah senyuman.


“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang. Aku akan kembali dalam dua hari membawakan Kristal Sihir untukmu.” Ucap Anna.


Miyuki menoleh padanya dan menatapnya masih dengan ekspresi acuh tak acuh seperti dirinya yang biasanya. “Kau akan membelinya? Kau ingin aku mengirimkan uang ke rekeningmu? Itu uangmu.”


“Tidak perlu. Tunggu saja, ok…” Setelah mengucapkan kalimat itu, Anna mengeluarkan sebuah botol kecil dari kantongnya dan menyerahkannya pada Miyuki. “Apa kau bisa meneliti pil ini?”


Miyuki mengambil botol kecil itu dan melihat isinya.


“Ini mengandung energi sihir…” Miyuki mengerutkan keningnya. Dia dapat merasakan energi sihir yang sama dengan jenis yang terdapat di tubuh Bimo Gandri saat dia pertama kali menemukannya, dari dalam pil di botol tersebut.


“Dari mana kau mendapatkannya?”


“Dari kamar kakak tiri ku. Aku mengambilnya.”


“Jadi…”


“Ya. Gina, orang yang telah menyelamatkan ku, mengatakan kalau dia tidak bisa menggunakan skill penyembuhnya karena ada energi sihir aneh di tubuh ku. Kebetulan aku menemukan benda itu saat aku berkunjung sebentar.”


“Kau? Kau pergi kesana?”


Anna mengangguk sambil tertawa canggung.


"Kau gila?!"


Anna tertawa. Dia memang gila jika menyelinap seperti orang biasa. Tapi caranya menyelinap tidak biasa. Miyuki tentu tidak mengetahuinya.


“Baiklah, aku pergi sekarang. Sampai jumpa.”


Anna langsung berbalik pergi dan meninggalkan Miyuki yang tampak tidak senang karena Anna berani pergi ke tempat yang dianggapnya berbahaya itu. Berbeda dengan yang di pikirkan Miyuki, Anna berpikir bahwa dia tidak ingin menceritakan bagaimana caranya dia bisa mendapatkan benda itu.


Setelah mengambil smartphonenya yang tadi sedang diisi dayanya, Anna memeriksa keadaan Bimo Gandri selama beberapa menit, lalu dia pergi meninggalkan ruang bawah tanah tersebut.


•••


Anna mencari tempat sepi untuk membuka gerbang yang menghubungkannya dengan dunia ciptaannya lalu dia pun pergi kesana.


Begitu berada di dalam dunia buatannya, Anna langsung takjub dengan apa yang sedang ratusan Orc lakukan disana.


Orc-orc itu tampak sedang bernyanyi sambil mengelilingi api unggun.


“Mereka suka berpesta dan bernyanyi?” pikir Anna mengingat hal serupa yang juga dilihatnya saat pertama kali bertemu dengan monster-monster itu.


Orc Penyihir yang pertama kali melihat kehadiran Anna, langsung berlari dan berlutut pada gadis itu.


Anna buru-buru menghentikan gerakan Orc lain yang juga hendak melakukan hal serupa seperti yang Orc penyihir lakukan padanya.


“Jangan khawatir, lanjutkan saja apa yang sedang kalian lakukan.” Ucap Anna dengan volume suara yang agak keras agar semua Orc dapat mendengar perkataannya.


Pasukan Orc mengelu-elukan nama ‘Dewi Agung’ beberapa kali, lalu mereka kembali pada kegiatan pesta mereka.


Namun, ketiga Orc berpangkat Panglima dengan sopan menghampiri Anna.


Mereka bertiga kini berlutut di hadapan Anna, yang sudah mereka anggap sebagai tuan dan Dewa mereka.


“Dewi Agung. Sudah lama. Selamat datang kembali.”


“Selamat datang kembali, Dewi Agung.”


Ketiga Orc itu menyambut Anna dengan bersujud sampai dahi mereka menyentuh pasir pantai.


Anna sudah terbiasa melihat sikap mereka dan dia hanya mendengus sebelum akhirnya meminta mereka untuk berdiri kembali.


Tapi ketiga Orc hanya duduk dan menegakkan tubuh mereka. Karena jika mereka berdiri, tinggi badan mereka akan membuat Anna yang mereka anggap sebagai Dewa, akan berbicara pada mereka sambil mendongakkan kepalanya. Mereka merasa itu tidak pantas.


Anna kemudian mengalihkan pandangannya lagi pada pasukan Orc yang sedang bernyanyi dan menari di sekitar api unggun. Dia melihat puluhan ikan yang di panggang di atas 6 tumpuk api unggun. Anna agak sedikit heran dengan bagaimana Orc-orc itu bisa mendapatkan ikan-ikan tersebut.


“Dari mana kalian mendapatkan ikan-ikan itu?”


Ketiga Orc saling bertukar pandang. Mereka hendak menjawab pertanyaan itu, namun mereka rasa agak tidak sopan.


‘Tentu saja ikan-ikan itu berasal dari laut. Apakah semak-semak disana bisa mengeluarkan ikan?’


Itulah kira-kira jawaban yang ingin Orc berikan namun mereka masih saling bertatapan seakan saling mendorong rekannya untuk berbicara.


Anna mendecak saat melihat sikap ketiga Orc dan mengerti apa yang sedang mereka pikirkan.


“Apakah di laut itu ada ikannya?”


Ketiga Orc kembali bertatapan satu dengan lainnya. Mereka tidak mengerti apa itu ‘ikan’ namun ketika melihat arah tatapan ‘Dewi Agung’ mereka, mereka menyimpulkan bahwa makanan yang telah dibakar itulah yang Anna maksudkan.


“Ya, Dewi Agung.” Orc yang pertama kali takluk pada Anna, yang bernama Tzullu akhirnya menjawabnya.


“Mengapa di tempat ku terdampar dulu tidak ada ikannya? Apakah mereka sengaja membuang ku ke tempat yang tidak ada ikannya?” Pikir Anna. Dia mengingat kembali patung hidup itu dan kembali merasa kesal padanya.


Tatapan Anna kemudian beralih memandang ke rumah-rumah yang sepertinya telah Orc bangun di sekitar semak-semak. Ada puluhan rumah disana dan mereka membangunnya dengan kayu-kayu besar yang terdapat di bagian dalam pulau.


Walaupun itu juga pulau tunggal, namun Anna telah menciptakan pulau itu jauh lebih besar dan lebih bagus dibandingkan yang pernah ditinggalinya dulu. Disana bahkan ada air terjun dan sungai yang memiliki air yang sangat jernih.


“Daya imajinasi ku jauh lebih baik dari patung itu.” Anna berbangga diri.


Setelah puas memperhatikan kehidupan Orc di pulau tersebut, Anna akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya.


“Kumpulkan semua kristal… Maksud ku, batu sihir. Kumpulkan semuanya besok di pantai ini. Aku akan kembali dan mengambilnya.” Perintah Anna yang kemudian kembali ke gerbang dan menutupnya saat ketiga Orc itu sudah memberikan jawaban.


•••••••