
Anna tidak menggubris kebingungan di wajah dewa Zeus. Saat dewa Zeus berseru padanya tadi, ia langsung menyerangnya lagi.
Tapi, karena lawannya kali ini benar-benar sangat kuat dan sudah membuka energi Mana nya, tombak yang Anna arahkan ke tubuhnya tidak pernah berhasil menyentuh dewa itu sekalipun.
"Kau tidak akan bisa menang melawanku jika tidak bertarung dengan menggunakan energi Mana!"
"Jika kau yakin bisa mengalahkanku, kenapa kau selalu menghindar? Kau tidak berani menangkis?"
Dewa Zeus sedikit mendongkol mendengar ejekan itu.
Ia tahu lawan hanya menyerang dengan kekuatan fisik. Namun, dari suara angin tombak hitam yang meraung-raung itu saja, dewa Zeus tahu jika kedua tangannya sampai bersentuhan dengan tombak tersebut, energi sihir pelindungnya mungkin akan hancur.
'Julukannya sebagai dewa perang terkuat memang bukan omong kosong. Untung dia tidak bisa menggunakan energi Mana di tempat ku.'
°°°
Anna terus mendesak dewa Zeus dengan serangan-serangannya dan dewa Zeus yang sedang menikmati serangan yang sangat sadis itu, berusaha untuk terus menghindari tombak yang meliuk-liuk menyerangnya tanpa ampun.
Sampai ia akhirnya sudah terdesak, dewa Zeus pun memanggil senjata andalannya.
Pada saat itu, gemuruh menggelegar di langit senja. Petir menyambar-nyambar dan beterbangan menyerang Anna.
Zlaaarrr... Zlarrrr... Zlarrr...!!!
Mendapat serangan petir yang menyambar-nyambar dari langit cerah tanpa awan itu, Anna terpaksa harus menghentikan serangannya untuk berlompatan kesana kemari menghindari sambaran petir yang sangat deras mengikuti kemanapun ia pergi.
Saat Anna masih berkonsentrasi pada serangan petir-petirnya, dewa Zeus melesat maju. Ia kemudian menangkap salah satu petir yang langsung berubah wujud menjadi sebuah tongkat tak beraturan yang berkilau, lalu menyerang Anna dengan senjata itu.
Crankkk... Crankkk.. Crankkk...!!!
Walaupun bertarung tanpa menggunakan energi Mana, Anna dengan berani menangkis serangan-serangan tongkat petir dewa Zeus yang mengandung energi sihir, dengan tombaknya secara langsung.
Tapi, tiap kali ia menangkis tongkat berbentuk retakan petir itu, Anna dapat merasakan energi sihir yang menyambar-nyambar di kedua telapak tangannya.
Saat manusia setengah dewa dan dewa itu sedang bertarung dengan sangat sengit, langit tiba-tiba terbelah dan dari sana, tampaklah 3 sosok dewa lain.
Salah satu dari mereka membawa tombak panjang sementara dua lainnya memegang busur panah di masing-masing tangan mereka.
Dewa laki-laki yang membawa tombak panjang di tangannya langsung turun dan membantu dewa Zeus menyerang Anna.
Tidak tanggung-tanggung, dewa itu langsung menyerang Anna dengan menggunakan kekuatan penuhnya.
"Apa dia ini dewi Ann, ayah?" tanya dewa Ares di sela-sela pertarungan.
"Ya. Hati-hati. Dia sangat berbahaya," sahut dewa Zeus yang langsung pergi menjauh, membiarkan dewa Ares menghadapi Anna.
Namun, begitu dewa Zeus pergi, dewa Ares langsung mulai terdesak dan hampir saja tenggorokannya tertembus tombak Anna jika anak panah dewa Apollo dan dewi Artemis tidak menepis tombak Igigi yang mengancamnya.
Crang... Crang...!!!
Saat ia dikeroyok kembali, Anna lebih memilih untuk bertahan.
Ia sangat kerepotan dengan puluhan anak panah yang dikendalikan dengan energi sihir yang terus menyerang dari arah punggungnya sementara dewa Ares menyibukkannya dari depan.
Setelah ia mulai terdesak, Anna akhirnya memanggil dewa Ogun dan dewi Ezili yang langsung berubah ke wujud pedang dan terbang lalu hinggap di kedua genggaman Anna, menggantikan tombak Igigi.
Saat Anna baru saja memegang kedua pedang itu, cuaca tiba-tiba berubah. Keempat dewa bangsa Titans bisa merasakan hawa dingin dan panas yang mengerikan secara bersamaan.
"Jangan gunakan energi Mana kalian," pinta Anna pada pedang kembarnya.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa melindungi orang-orang kita tanpa energi Mana. Prajurit-prajurit berkuda itu bisa mati jika kalian menggunakan energi Mana."
"Ayo kita coba," sahut Anna, yang kemudian menyerang dewa Ares lagi.
•••
Setelah Anna bertarung menggunakan pedang kembar, dewa Ares benar-benar bukan lawan yang sepadan baginya.
Dewa Ares yang sebelumnya banyak melakukan serangan, kini justru terdesak mundur dengan sangat tertekan oleh liukan-liukan lincah kedua pedang di tangan Anna.
Anna bahkan bisa membagi konsentrasinya dengan sangat baik. Ia bisa menyerang dewa Ares sambil terkadang menahan serangan puluhan anak panah dari arah belakangnya.
Tidak hanya itu, dengan memanipulasi udara, Anna juga mengontrol tombak Igigi untuk menyerang dewa Ares dari arah belakangnya, hingga akhirnya dewa Zeus mau tak mau harus ikut bergabung kembali dalam pertarungan saat ia melihat dewa Ares berkali-kali hampir mati jika dewa Apollo dan dewi Artemis tidak melindunginya dari jauh dengan panah mereka.
"Kau benar-benar sangat tangguh seperti kabar yang tersiar, dewi Ann," puji dewa Zeus di sela-sela pertarungan.
"Terima kasih. Tapi kau salah orang!" Sahut Anna sambil mendengus kesal.
°°°
"Kenapa dewa-dewa dan para malaikat tersesat selalu salah mengenaliku?" tanya Anna pada pedang kembar.
"Karena wujudmu adalah duplikat dewi Ann. Kalian bukan hanya mirip. Kalian sama persis kecuali di bagian dada dan bokong," sahut dewa Ogun.
"... Tapi rambut ku berwarna hitam, kan?"
"Kami sebenarnya tidak membaca penyamaran dari bentuk fisik secara menyeluruh. Kami melihat dari mimik wajah, cara berbicara dan terutama dari tatapan mata. Apalagi, kau sekarang memiliki warna manik mata yang sama dengan dewi Ann," sahut dewi Ezili.
"Karena itu, satu-satunya cara terbaik untuk menyamar di hadapan para dewa adalah dengan berubah wujud menjadi binatang," tambah dewa Ogun.
"Tapi dia tadi langsung mengenali kalian."
"Tsk..., kami tadi sempat bertatapan mata dengannya. Kami lupa."
"..."
°°°
"Menyingkir Ares!" Seru dewa Zeus saat ia melihat Anna lengah karena sedang berbicara dengan pedang kembarnya.
Dewa Ares ingin mundur menjauh setelah mendengar peringatan dari dewa Zeus. Namun ia tidak bisa melakukannya karena tombak Igigi menyerangnya secara terus-menerus dari arah belakang.
Melihat dewa Ares kesulitan untuk pergi menjauh, dewa Zeus akhirnya menendangnya hingga dewa Ares terpental jauh ke arah samping.
Setelah dewa Ares menjauh, dewa Zeus langsung membaca mantra sihirnya dan dari langit muncullah lidah petir besar yang langsung menyambar menuju Anna.
Zlaaaaarrrrr!!!
Sambaran petir itu meledakkan daratan.
Debu-debu beterbangan menutupi area ledakan.
Karena tidak bisa melihat lawannya lagi, dewa Apollo dan dewi Artemis akhirnya menarik puluhan anak panah mereka dari area pertarungan, sembari menunggu pandangan mereka bisa jelas kembali.
"Apa dia sudah mati?" tanya dewa Ares seraya melayang mendekati dewa Zeus.
Dewa Zeus kemudian menoleh, melihat tombak Igigi yang kini berada di tanah.
Walaupun ia memiliki kerugian karena lawan mengunci energi Mana hingga tidak bisa merasakan keberadaannya di dalam kabut debu tebal itu, namun dengan tergeletaknya senjatanya saja ia bisa menebak bahwa lawan telah tewas meledak.
"Ya. Dia sudah mati." Sahut dewa Zeus dengan percaya diri.
•••••••