
Pada layar televisi, semua orang bisa melihat ada 4 Hunter dan 1 avatar hunter sedang berdiri sambil mengobrol setelah mereka berada di dalam Dungeon. Walaupun orang-orang di ruang perjamuan itu tidak bisa mendengar apa yang Hunter-hunter itu bicarakan, namun semua orang dapat menebak kebingungan yang terlihat jelas dari wajah Hunter-hunter tersebut.
Terutama pada wajah Gina Stewart dan Kevin Jung.
Berbeda dengan yang orang lain perhatikan, Kenichiro justru fokus menatap wajah seorang gadis, yang juga berada di Dungeon, yang tampak tenang di balik keanggunannya.
Gadis itu bahkan datang ke tempat pertempuran tanpa mengenakan armor atau perlengkapan Hunter apapun pada dirinya, termasuk juga senjata yang sama sekali tidak terlihat berada di tubuhnya.
Anna malah berpenampilan seperti seorang gadis remaja yang sedang ingin pergi jalan-jalan di sore hari, hanya dengan mengenakan hotpans jeans berwarna biru tua dan t-shirt putih ketat yang mengekspos tubuh indahnya.
Penampilan gadis itu sungguh kontras dengan 3 Hunter lainnya, yang walaupun tidak mengenakan helm pelingdung, namun mereka mengenakan armor lengkap dengan perlengkapan tempur di tas pinggang mereka.
Di antara mereka, penampilan avatar hunter adalah yang paling terlihat siap untuk bertempur. Avatar itu mengenakan armor, lengkap dengan helm tempurnya.
Penampilan avatar terlihat seperti sebuah robot perang dengan 3 senjata tergantung di pinggangnya. Namun demikian, warna kostum avatar yang serba pink itu, juga terkesan aneh. Dibandingkan ingin maju ke medan pertempuran, ia tampak lebih cocok berada di panggung cosplay.
Tapi, Kenichiro sama sekali tidak memerhatikan empat Hunter lain. Ia hanya fokus menatap pada Anna.
'Dia benar-benar orang yang sama. Walaupun dia mengganti warna rambut dan menggunakan lensa mata, aku tetap dapat mengenalinya.'
Terlalu lama fokus memerhatikan Anna, Kenichiro baru menyadari bahwa tim raid itu hanya terdiri dari 5 Hunter.
"Apa mereka hanya berlima?" tanya Kenichiro yang tidak membaca pengumuman lain yang sudah disebutkan oleh Asosiasi Dunia bahwa raid itu cuma dilakukan oleh 5 Hunter dan juga 2 Hunter peringkat S lain yang bertugas untuk mendokumentasikan raid tersebut.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kenichiro, saat semua orang melihat kapten tim berbalik ke arah juru kamera dan berteriak.
Walaupun mereka tidak bisa mendengar apa yang dikatakan kapten tim, namun mereka dapat menebak bahwa keadaan pasti sedang darurat. Hal itu di buktikan dengan tangkapan kamera yang tiba-tiba menjauhi kelima Hunter tersebut.
Seluruh penonton yang berada di dalam ruang perjamuan mendadak tegang. Terutama saat melihat ratusan monster yang tiba-tiba saja keluar dari balik air terjun.
Namun, orang yang paling terkejut saat sudah melihat jenis monster yang baru saja menampakkan wujudnya tersebut adalah Kenichiro.
Dengan suara bergetar ia menggumamkan kata-kata yang membuat semua orang, yang kebetulan memiliki pendengaran tajam, langsung menoleh padanya.
"I-itu... Monster yang sama seperti monster yang menyebabkan dungeon break sebelas tahun yang lalu..."
Orang-orang yang dapat mendengar gumaman Kenichiro menatapnya dengan bingung. Mereka tidak pernah mendapatkan informasi tentang hal itu, karena pada saat itu hanya 12 Hunter saja yang berhasil masuk mendekati area pusat gerbang dan melihat monster asli penghuni Dungeon.
12 Hunter itu merahasiakan apa yang terjadi di pusat dungeon break. Bahkan, ketua Asosiasi Dunia yang saat ini menjabat, tidak tahu apa yang terjadi di sana, 11 tahun yang silam.
"Itu Dungeon peringkat SS! Hubungi Fernando Cavalli sekarang!" Seru Kenichiro yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya sembari menunjuk ke arah televisi.
•••
Setelah Gus Stevin dan Davina yang ditugaskan sebagai juru kamera menjauh, Bimo Gandri melepaskan sihir pelindung yang langsung melindungi 3 Hunter yang kini sudah berdiri di belakangnya.
Ratusan monster bertanduk enam dan memiliki warna kulit merah muda itu terbang dengan sangat cepat menuju tim raid setelah sebelumnya meluncur terlebih dahulu sampai mendekati permukaan sungai.
Dengan masing-masing memegang tombak panjang bermata trisula di salah satu tangan mereka, monster-monster itu berteriak-teriak seolah sedang meningkatkan semangat tempur mereka, sembari terbang dengan saling beradu kecepatan menghampiri musuh.
Keempat Hunter itu tidak bergerak sama sekali dari posisi mereka semula. Mereka hanya menantikan monster-monster yang datang kian mendekat dengan berdiri tenang disana.
Tentu saja, mereka akan menjebak monster-monster tersebut saat waktunya tiba nanti.
Ketika jarak antara monster dan 4 Hunter sudah cukup dekat, Bimo menggunakan taunt skill, yang membuat pasukan monster tiba-tiba saling bertabrakan saat mereka semua tiba-tiba hanya berfokus pada salah satu lawannya saja, Bimo.
Setelah jarak pasukan monster lebih dekat lagi, Bimo menggunakan skill lain yang membuat monster-monster itu terbang terputar-putar dengan berpusat pada keempat Hunter tersebut tanpa mereka kehendaki.
Bimo baru saja membuat tembok pelindung yang berbentuk seperti pusaran angin tornado, dengan keempat Hunter berada di pusatnya.
Pusaran angin tersebut, bukan hanya berfungsi untuk melindungi mereka, namun juga dapat menghancurkan makhluk apapun yang menyentuhnya.
Tubuh pasukan monster saling bertabrakan antara satu dan lainnya. Semakin cepat tubuh mereka berputar mengikuti arah gerak pusaran angin yang Bimo buat, mereka dapat merasakan tubuhnya tertarik kesana kemari hingga akhirnya tubuh monster-monster itu terputus-putus menjadi beberapa bagian dan akhirnya hancur menjadi abu.
Monster-monster lain yang datang terlambat juga bernasib serupa, saat sudah berada di dalam pusaran badai pelindung yang Bimo buat. Mereka berputar-putar mengelilingi keempat Hunter sebelum akhirnya pecah menjadi abu.
Walaupun mereka tidak berhasil tersedot kedalam pusaran benteng yang menyerupai angin tornado itu, namun mereka tetap terjerat di sekitaran pusaran tanpa bisa berbalik pergi untuk menjauhi bahaya di depan mata.
Namun, berhasil mencegah tubuh terhisap ke dalam pusaran, bukan berarti para monster itu selamat.
Melihat ratusan monster itu akhirnya bisa mencegah diri mereka terjerat taunt skill Bimo hingga akhirnya tersedot ke pusaran angin, Kevin Jung langsung melancarkan serangannya.
Kobaran api yang tiba-tiba muncul dari dalam pusaran benteng tornado, menyambar dan membakar semua monster yang berada di barisan depan.
Kobaran api menyala semakin besar saat monster-monster terus berdatangan mendekat dan membakar habis semua makhluk itu menjadi abu.
Kobaran api milik Kevin yang diperkuat pusaran angin milik Bimo, membuat api menyala semakin besar dan membakar seluruh monster yang berada dalam jarak 20 meter dari sekitar pusaran badai api tornado, di mana keempat Hunter berdiri di tengah-tengah sebagai pusatnya.
"Rombongan kedua sudah muncul," Gina memberitahu.
Saat rekan-rekannya sibuk mengurus lawan, Gina bertugas untuk memerhatikan semua keadaan. Baik itu keadaan area pertempuran maupun keadaan vitalitas rekan-rekannya.
Rombongan monster kedua yang baru saja terbang keluar dari goa di balik air terjun, memiliki senjata berbeda dengan rombongan pertama. Mereka membawa busur dan anak panah di pinggang mereka sebagai senjata.
Monster-monster tersebut hendak mendarat di lokasi yang agak tinggi untuk bisa membidik lawan dengan mudah. Namun, saat mereka baru saja mencabut anak panah dari selongsongnya, kebingungan tampak di wajah mereka.
Pada saat itu, Bimo memperkuat aggro skill, hingga membuat semua monster berpanah tertarik untuk maju menyerang keempat Hunter, yang sebelumnya akan menjadi target serangan jarak jauh mereka.
Saat semua monster pemanah menghampiri, dari dalam pusaran api yang masih membakar tubuh monster-monster gelombang pertama, muncul puluhan bola api yang datang silih berganti dan membakar monster-monster pemanah.
Bang... Bang... Bang...
Bola api tersebut bukan hanya membakar mereka saja. Bola api yang berukuran lebih besar dari puluhan bola api lainnya, bahkan langsung meledak begitu tiba di sekitar monster-monster tersebut.
Sementara itu, 50 meter di belakang lokasi pertempuran.
"Aku sudah sering melihat skill mereka. Tapi setiap melihatnya lagi, selalu berhasil membuat ku takjub." Puji Gus Stevin, melihat ratusan monster itu tewas tanpa sempat melakukan perlawanan.
"Padahal mereka semua monster dengan level S, kan?" Sahut Davina.
"Ya. Mereka semua setara dengan Hunter peringkat S." Sahut Gus Stevin.
"Apakah peringkat Legendary dan Mhytic sekuat itu? Walaupun lawannya peringkat S, tapi, tetap saja mereka ada ratusan."
Gus Stevin tidak menanggapinya. Membicarakan soal kekuatan, ia langsung teringat pada seseorang. Gus kemudian menoleh pada Anna, yang sejak awal kemunculan monster, telah berteleportasi ke tempat mereka berada.
Melihat Gus menatapnya, Anna memberikan senyuman pada pria bertubuh gempal tersebut.
'Kau salah Davina. Gadis dengan wajah tak berdosa ini bahkan jauh lebih sadis dari mereka.'
"Ada apa?" tanya Anna dengan tatapan tak berdosa.
"T-tidak ada." Sahut Gus dengan cepat seraya menggelangkan kepalanya.
Melihat itu, Davina juga menatap Anna dengan csngiran canggung terbentuk di bibirnya.
'Aku hampir lupa kalau ada dia. Aku jadi ingat saat pertarungan mingguan di Akademi dulu hampir menyerangnya. Benar-benar keputusan bodoh.'
"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Anna dengan tatapan lugu.
"Tidak ada."
Sahut Gus dan Davina bersamaan.
Mengalihkan tatapannya dari kedua Hunter itu, Anna menatap jauh pada air terjun.
"Nah, lihat. Monster dengan level SS sudah keluar." Ucap Anna sambil menunjuk ke arah air terjun.
•••