
Melihat kemarahan Li Wen Xia tampaknya beralih pada orang lain, Fred buru-buru mengatakan informasi yang ia miliki, "Tim kami menemukan jejak mereka masih berada di Kota C. Dan yang terpenting," Fred sedikit mengangkat wajahnya, untuk melihat ekspresi Li Wen Xia sebelum mengatakan informasi yang pasti sudah Li Wen Xia tunggu, "Kami juga sudah menemukan siapa orang yang menciptakan avatar hunter itu."
Li Wen Xia yang tadinya tidak terlalu menyukai kedatangan tamunya itu, tiba-tiba menegakkan posisi duduknya. Ekspresi wajahnya pun terlihat sedikit cerah saat mendengar informasi itu.
"Apa kau yakin?"
"Kami sangat yakin, nyonya Li." Sahut Fred dengan senyum tipis di wajahnya.
"Siapa dia?"
Fred menoleh pada Jordan. Pria kedua langsung menyerahkan tablet di tangannya pada Fred yang kemudian menyerahkannya lagi pada Li Wen Xia.
"Apa Anda ingat rekan peneliti Takayoshi Sato dulu? Satoshi Nakano? Dia memiliki seorang putri yang berhasil meloloskan diri dari pembantaian yang Anda dan tuan Brosman lakukan di laboratorium rahasia mereka."
Li Wen Xia menatap foto pada layar tablet. "Apa ini putrinya?"
"Ya. Dia adalah orang yang berhasil meneruskan penelitian ayahnya yang dulu Anda dan tuan Brosman cari."
"Apa?!" Li Wen Xia tersentak, "Jadi dia berhasil?"
Li Wen Xia menatap wajah Miyuki sekali lagi dengan lebih cermat. Ia mengira, pencipta avatar hunter itu tidak ada hubungannya dengan Satoshi, yang telah tewas dalam insiden yang ia dan Albert Brosman buat.
"Ternyata dia memiliki seorang putri?"
Li Wen Xia akhirnya ingat, anak buahnya pernah memberitahukan bahwa ada seorang ilmuwan muda yang pernah menawarkan proyek pada banyak investor untuk membuat sebuah produk Hunter. Namun, ia mengabaikan hal itu.
Saat itu dia berpikir, penemuan bagus biasanya tidak akan di tawarkan secara sembrono di dunia maya. Apalagi saat itu anak buahnya mengatakan bahwa ilmuwan itu menolak untuk memberikan garis besar dari hasil temuannya. Jadi, Li Wen Xia menganggap ilmuwan muda itu sebagai pembual.
Li Wen Xia kembali menatap Fred dan bertanya, "Jadi, di mana dia sekarang?"
"Dia berada di Kota C. Tapi, kami masih tidak bisa menemukan lokasi tepat keberadaannya."
"Kalian bilang sudah menemukannya! Apa kalian ini anak kecil? Mana yang benar?!" Umpat Li Wen Xia, seraya melemparkan tablet di tangannya ke wajah Fred. "Cari dia walaupun kalian harus mengobrak-abrik Kota itu!"
Walaupun tablet itu mengenai tepat di hidung Fred dan menyebabkan hidungnya patah, hal itu sama sekali tidak membuatnya mengeluh. Ia takut Li Wen Xia akan semakin marah jika ia mengeluarkan suara hanya untuk meringis.
Sambil menunduk, Fred akhirnya menjelaskan maksud kedatangan dirinya bersama para tim pencari jejak ke Asia Tenggara. "Sebenarnya ada cara untuk kami, agar bisa menemukan lokasinya dengan mudah, nyonya Li."
Li Wen Xia mengerutkan keningnya, menatap Fred dengan tajam.
"Tidak usah berbelit-belit! Langsung katakan saja!"
"T-tapi..., kami membutuhkan bantuan Anda."
"Katakan."
"Peneliti itu adalah pilot dari avatar nomor satu. Kami tidak sengaja menemukan sinyal keberadaannya baru-baru ini saat mereka menangani Dungeon peringkat S di Afrika yang Anda buat."
"Lalu?"
"Saat itu, sepertinya avatar yang dia gunakan telah menggunakan banyak energi Mana untuk melawan monster-monster di Dungeon itu. Saat itulah kami menemukan sinyal keberadaannya. Tapi, kami segera kehilangan sinyalnya beberapa saat kemudian. Dia sepertinya tahu jika orang lain mungkin bisa mencari lokasinya, jadi dia tidak menggunakan energi Mana dengan jumlah besar dalam waktu lama."
Li Wen Xia yang sebelumnya marah, tiba-tiba tersenyum. Jika ada orang yang melihat wajahnya saat itu, mereka pasti akan kebingungan dengan emosi aneh wanita tersebut.
"Maksud mu, kau meminta ku untuk membuat Dungeon peringkat S lagi?"
"Ya. Nyonya Li."
"Aku akan membuatnya. Kebetulan ada seorang pelanggan yang ingin menunjukkan kekuatan barunya sebagai Hunter peringkat SS. Nanti berikan dia juga sedikit kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya di depan warga Kota C." sahut Li Wen Xia, yang sudah bersiap menghubungi Morgan Lloyd untuk menyuruhnya agar segera kembali ke Kota C.
"Nyonya Li...," Fred buru-buru mencegah Li Wen Xia yang sudah menyambungkan teleponnya pada Morgan Lloyd.
"Ada apa lagi?"
"Maksud saya..., Dungeon nya. Apakah Anda bisa membuatnya di Afrika saja?"
"Apa?!"
"Saya takut teman-temannya akan menghalangi kami untuk mencarinya jika mereka juga kembali ke Kota C karena ada Dungeon peringkat S itu di sana."
Li Wen Xia memutuskan sambungan telepon, lalu mendengus kesal.
"Kalian takut pada mereka?"
Fred terdiam. Tentu saja ia tidak bisa memandang remeh 3 Hunter yang berada dalam tim itu. Belum lagi avatar Miyu yang sangat lihai. Akan lebih baik jika benda itu di jauhkan dari pilotnya.
Mereka mungkin akan kesulitan menangkap sang pilot saat avatar nya berada di Kota C juga.
Li Wen Xia akhirnya mengingat bagaimana 4 Hunter, termasuk avatar, juga pernah bertarung melawannya dan mereka berhasil membuatnya sedikit kerepotan. Dia juga sadar, jika avatar itu berada di Kota C, mungkin Fred dan Jordan akan terbunuh.
Saat itu, dia juga sangat terkagum-kagum dengan kekuatan avatar dan kelincahan pilot yang mengendalikannya.
Juga, seandainya bukan karena adanya avatar itu, sihir hipnotis pengikut Li Wen Xia pada Anna juga mungkin tidak akan mudah dipatahkan.
'Dia bahkan bisa bertarung dengan baik saat melawan manusia berwujud Ann Arnix itu.'
"Baiklah. Tapi jika kalian gagal untuk menemukannya, aku akan mengambil kepala kalian. Mengerti?!"
Fred menunduk diam.
"Kenapa kalian tidak menjawab ku?!"
"B-begini, nyonya Li. Hanya untuk berjaga-jaga. Kami tidak tahu jika dia mungkin memiliki avatar lain di tempat persembunyiannya. Apakah Anda bisa membantu kami meminjamkan kekuatan dua Hunter Asia Timur itu?" ucap Fred dengan suara bergetar, takut jika Li Wen Xia marah karena ia terkesan lemah.
Namun, tanpa di duganya. Li Wen Xia langsung menyetujuinya.
"Aku akan mengirimkan mereka bersama mu. Kebetulan, mereka masih berada di Kota C." Sahut Li Wen Xia.
•••
Satu minggu kemudian, di benua Afrika.
Tim raid dari guild Nine Bears baru saja mendapatkan permintaan bantuan dari negara kecil lain yang telah mendeteksi adanya Dungeon peringkat S yang baru saja muncul.
Untungnya saat itu Gina sudah bangkit dari keterpurukannya. Ia pun langsung meminta seluruh anggotanya untuk bersiap berangkat ke negara tersebut.
"Miyu, apa kau bisa menghubungi dan meminta bantuan lagi pada rekan-rekan avatar mu?"
《"Tentu. Aku akan meminta mereka untuk langsung datang ke sana. Kita akan bertemu di lokasi gerbang. Berapa orang yang kau perlukan?"》
Gina diam sejenak, menimbang-nimbang resiko dari Dungeon peringkat S yang bisa saja memiliki monster iblis bertanduk di dalamnya.
"Apa bisa kau minta mereka semua untuk datang?"
《"Aku akan menghubungi mereka sekarang."》
"Terima kasih Miyu," ucap Gina.
Gina kemudian meminta semua rekannya yang berada di situ untuk mengemasi semua barang mereka, juga memindahkan avatar Miyu dan avatar Rin ke dalam kendaraan militer yang selama ini menjadi tumpangan mereka, lalu berangkat ke negara tetangga yang meminta bantuan dengan melakukan perjalanan darat.
•••
Di Kota C, di sebuah ruang bawah tanah.
"Kau sudah kembali? Apa makan siang kita hari ini?" tanya Miyuki saat melihat Rin baru saja masuk ke ruang kerjanya.
"Ini rawon. Makanan asli orang sini. Apa kau pernah memakannya?"
"Aku baru mendengar namanya," sahut Miyuki sambil mendekati Rin, lalu membuka kotak makan siang yang baru saja di letakkan Rin di atas meja tempat mereka berdua biasanya bersantai.
"Aroma nya sangat harum. Sepertinya enak." Ucap Miyuki, seraya mengendus makanan yang berada di hadapannya.
"Aku juga belum pernah memakannya. Ini makanan kesukaan adik ku. Entah kenapa hari ini aku sangat ingin memakannya. Jadi aku minta paman brewok untuk mencarikannya." sahut Rin, sembari menyiapkan mangkuk makan siang mereka.
Miyuki terdiam saat Rin menyebutkan Ren, yang sudah lama tidak ia bicarakan.
"Bagaimana kalau kita mengambil cuti sebentar setelah kita menyelesaikan raid besok?"
"Cuti? Apa yang akan kita lakukan?"
"Ke Kepulauan Fiji. Kita belum pernah mengunjungi..., maksud ku, kita seharusnya menaburkan bunga di sana."
Rin terus menyiapkan peralatan makan tanpa terlihat terganggu dengan ucapan Miyuki.
"Apakah tidak apa-apa kalau kita meninggalkan tim sebentar?"
"Tentu. Gina pasti akan mengizinkan kita."
Rin akhirnya menatap Miyuki, "T-tolong antarkan aku ke sana."
•••••••