
“Aku kesini hanya ingin berbicara pada mu.”
Ucap Anna sambil menudingkan tongkatnya pada Raja Orc.
Mendengar makhluk itu berbicara menggunakan bahasanya, Raja Orc melihat ke kedua pengikutnya yang juga menoleh padanya.
Dari wajah mereka yang terlihat kebingungan, Raja Orc yakin bahwa pendengarannya tidaklah salah. Makhluk itu benar-benar berbicara padanya dengan bahasa mereka.
Orc adalah bangsa yang biasanya tidak banyak berbicara. Mereka akan langsung menyerang siapa pun yang mereka anggap musuh. Namun, karena rasa penasarannya, Raja Orc mengulur niatnya dan bertanya pada makhluk asing itu.
“Siapa kau?”
“Aku manusia. Salah satu penghuni tempat ini,” sahut Anna.
Sebelum Raja Orc kembali berbicara, Anna berbicara terlebih dahulu.
“Aku tidak ingin membuat mu kehilangan pasukan mu dengan sia-sia. Bawa semua bangsa mu untuk pergi meninggalkan dunia ku, maka nyawa kalian akan ku ampuni.”
Raja Orc dan dua pengikutnya diam. Dalam diamnya, mereka sebenarnya sedang mencerna apa yang baru saja makhluk itu katakan.
Setelah benar-benar mengerti dan yakin dengan apa yang mereka dengar, secara bersamaan ketiganya tertawa.
“Kau mengampuni kami? Apa kau punya kemampuan untuk berbicara seperti itu?!” Bentak Raja Orc.
Kemudian, dengan mengarahkan telunjuknya yang berkuku panjang dan runcing pada makhluk asing itu, Raja Orc memberikan perintah.
“Musnahkan makhluk ini!”
Mendengar perintah itu, High Orc petarung langsung menarik pedang dari punggungnya dan melesat menyerang makhluk berbulu halus.
Crang… crang… crang…!
High Orc petarung memiliki kekuatan yang setara dengan Hunter berperingkat S.
Wang Zhu Ming saja, mungkin akan kerepotan jika harus berduel dengannya.
Namun, Anna dapat dengan mudah menangkis serangan High Orc petarung dengan tongkat di tangannya, karena gerakan monster itu sangatlah lambat dimatanya.
Saat Anna masih menangkis serangan-serangan High Orc petarung, hal yang pernah terjadi padanya dulu, terulang kembali.
Anna yang bermaksud untuk menyerang balik, merasakan adanya sebuah suara yang berusaha merasuki pikirannya.
Itu adalah sihir yang baru saja High Orc penyihir rapalkan.
Karena sudah mengalami kejadian yang sama dua kali, Anna akhirnya berpikir jika bangsa Orc juga memiliki strategi dalam pertarungan.
Untung saja tidak ada Hunter berperingkat rendah disana.
Membatalkan niatnya untuk menyerang balik, Anna bergerak menjauh dari High Orc petarung dan mengubah targetnya. Ia akhirnya melesat cepat menghampiri High Orc penyihir.
Di atas kecepatan satu kedipan mata, Anna kini sudah berada di hadapan High Orc penyihir dan mencengkram leher besarnya dengan satu tangan untuk menghentikannya merapalkan mantra.
“Akh…!”
Karena lehernya dicekik, High Orc penyihir pun tidak bisa lagi melanjutkan kalimat sihirnya.
Sihirnya berhasil dihentikan.
°°°
Sebenarnya, sihir itu sama sekali tidak berpegaruh pada Anna. Tapi tidak dengan 4 Hunter yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Sihir perusak pikiran dari High Orc penyihir yang setara dengan Hunter berperingkat S itu, tentu saja membuat keempat Hunter itu merasakan dampak besar pada tubuh mereka.
Tubuh keempat Hunter itu tiba-tiba lemas karena kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri, saat pikiran mereka dirasuki oleh mantra sihir.
Anna terbang lebih tinggi dan membawa monster itu terbang bersamanya, untuk menghindari serangan High Orc petarung yang menyerang ke arah pinggang gadis itu.
Anna kemudian mengayunkan tubuh High Orc penyihir lalu menghempaskannya ke arah High Orc petarung.
Tubuh monster itu melesat dengan kecepatan tinggi dan menghantam tubuh kawannya dengan keras.
Bammmm…!
Dua High Orc yang bertabrakan, terpental dan jatuh dengan kedua tubuh mereka yang menyatu lalu bergulingan di tanah sampai beberapa meter jauhnya.
°°°
Sementara itu, seluruh pasukan Orc dan High Orc yang tadinya telah pergi ke seluruh penjuru area untuk menghancurkan dan membunuh makhluk Bumi yang mereka temui, telah kembali.
Merasa bahwa lawannya sangat berbahaya, Raja Orc yang dapat berbicara pada seluruh bawahannya melalui telepati, memanggil mereka semua untuk kembali berkumpul di depan gerbang.
Anna memandang sekelilingnya dan melihat ada ratusan Orc dan High Orc yang kini mengepungnya.
Dia agak terkejut ketika melihat wajah salah satu Orc yang berada di barisan paling depan.
"Tzullu?"
Anna memperhatikan dengan seksama wajah Orc yang tampak mirip dengan Orc yang dikenalnya.
Penasaran, Anna pun melesat cepat menghampiri Orc itu.
Orc kaget saat melihat musuh mereka tiba-tiba muncul di hadapannya.
Orc di sekitarnya juga tak kalah kaget. Mereka langsung mengangkat senjata untuk menyerang Anna yang melayang-layang di hadapan Orc wanita.
Namun, seakan ada kekuatan tak kasat mata yang menghinggapi tubuh seluruh pasukan Orc, tubuh mereka sama sekali tak bisa digerakkan.
Seluruh pasukan Orc yang berada disekitar Orc wanita, secara perlahan melayang-layang di udara.
Anna menatap Orc wanita.
“Apakah kau mengenal Tzullu?” tanya Anna padanya.
Orc wanita yang baru saja datang setelah mendapatkan perintah dari raja nya, tentu saja belum tahu kalau makhluk dihadapannya itu bisa berbicara dalam bahasa mereka.
Karena itulah, reaksi pertama yang ia berikan sama seperti ketiga High Orc tadi. Kedua matanya melebar karena keterkejutannya.
“Tidak ada waktu untuk terkejut. Apa kau mengenal Tzullu?” Anna yang melihat pasukan High Orc sudah berlarian menghampiri, bertanya kembali dengan tidak sabaran.
Orc wanita itu mengangangguk.
‘Pantas saja.’
Anna kemudian menunjuk pada pasukan Orc yang melayang-layang di udara dengan ‘tongkat’di tangannya.
“Apakah mereka semua kenalan mu?”
Orc wanita menoleh sekilas ke sekitarnya, lalu menganggukkan kepalanya.
“M-mereka semua berasal dari suku yang sama dengan ku.”
“Baiklah. Kau bawalah mereka semua kembali ke dalam gerbang. Demi Tzullu, aku akan membiarkan kalian semua hidup.” Ucap Anna yang kemudian berbalik untuk menghadang pasukan High Orc yang sudah mendekat.
"Tzullu masih hidup?" tanya Orc wanita dengan buru-buru.
"Tzullu adalah teman ku," sahut Anna tanpa memalingkan wajahnya. "Jika kau menuruti kata-kata ku, aku akan membawa mu menemuinya."
Setelah selesai berbicara pada Orc wanita itu, ia menatap tajam pada pasukan High Orc yang sudah berada tak jauh darinya.
Anna menurunkan salah satu tangannya yang tadi ia gunakan untuk membuat pasukan Orc melayang-layang di udara. Bersamaan dengan itu, seluruh Orc jatuh berdebum dengan keras ke tanah. Anna telah melepaskan sihirnya dari mereka.
Semua Orc yang baru jatuh, awalnya merasa kebingungan. Tapi, mereka akhirnya kembali memunguti senjata dengan maksud untuk mencoba menyerang kembali makhluk asing itu.
Namun mereka semua membatalkan niatnya, saat makhluk itu tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.
Mereka dapat menyaksikan makhluk itu muncul lagi di beberapa tempat.
Saat tubuhnya tampak terlihat, ada 6 sampai 10 High Orc kehilangan kepala mereka yang pecah saat terkena sapuan tongkat di tangan makhluk itu.
Banggg… banggg… banggg… banggg…!!!
Hanya dalam hitungan detik, mayat-mayat High Orc bergelimpangan di tanah dengan kehilangan kepalanya.
Melihat pembantaian brutal itu, semua Orc bergidik dan menurunkan kembali senjata mereka.
Anna menghabisi semua High Orc.
Dia hanya menyisakan pasukan Orc yang kini tak punya nyali lagi untuk menyerangnya.
Pada saat itu, Orc wanita akhirnya mengingat kata-kata Anna. Dengan suaranya yang bergetar karena takut setelah disuguhkan pemandangan mengerikan itu, dia berbicara pada semua Orc yang adalah anggota suku nya.
“Ayo kembali ke tempat asal kita.” Ucap Orc wanita.
Mereka yang mendengar ucapan Orc wanita itu, menatapnya dengan bingung.
Orc wanita tahu bahwa tidak mudah untuk meyakinkan seluruh anggota suku nya, jadi ia kembali berbicara.
“Makhluk itu mungkin salah satu dewa agung. Dia tadi memerintahkan kita untuk kembali. Itu jika kalian semua tak ingin bernasib sama dengan suku pemangsa.” Ucap Orc wanita dengan matanya yang melotot seakan hendak menakut-nakuti mereka semua.
Mendengar itu, semua Orc secara bersamaan dan tanpa berbicara apapun, berbaris dan pergi menuju gerbang.
Dari kejauhan, Anna dapat mendengar dan melihat apa yang pasukan Orc lakukan. Ia pun tersenyum.
‘Cara pikir Orc memang sangat sederhana. Mereka tinggal di takut-takuti saja.'
Namun, Raja Orc juga dapat mendengar pembicaraan itu. Ia beranjak dari tempatnya semula dan pergi menghadang di depan pasukan Orc yang ingin pergi kembali ke dunia asal mereka, Dungeon.
°°°
“Kalian semua berani mengikuti perintahnya dan melawan ku?!” Bentak Raja Orc.
Suaranya mengandung energi sihir yang sangat kuat hingga menggetarkan tanah yang mereka pijak.
Melihat pasukan Orc kebingungan seperti tidak dapat memutuskan siapa yang harus mereka turuti, Raja Orc murka.
Raja Orc mengalirkan energi sihir ke kedua tangannya. Dari telapak tangannya keluar cairan lendir berwarna hijau lumut yang menetes-netes di tanah.
Setiap tetesan jatuh, tanah yang terkena tetesan hijau itu berlubang.
Raja Orc mengangkat kedua tangannya dan mengarakannya pada pasukan Orc yang hendak melarikan diri itu.
Wushhh… wushhhh…
Cairan kental itu terbang dan mengembang seperti jaring di udara, dalam perjalanannya menghampiri seluruh pasukan Orc.
Saat cairan menjijikkan itu sudah berada dekat dengan pasukan Orc yang ketakutan, cairan itu terhenti, lalu menggumpal dan membentuk sebuah bola.
Gumpalan bola yang terbentuk dari cairan itu melayang-layang di udara.
Raja Orc terkesiap ketika melihat serangannya itu terhenti. Ia kemudian menoleh pada makhluk asing yang sedang mengarahkan telapak tangannya pada gumpalan cairan tersebut.
Raja Orc menarik nafas dalam. Bersamaan dengan itu, perutnya yang buncit, mengembang lebih besar.
Beberapa detik kemudian, dari mulutnya, ia meludahkan cairan hijau lain yang memiliki energi sihir jauh lebih besar dibandingkan yang sebelumnya.
Serangan itu diarahkannya langsung pada Anna.
Anna menatap benda kental yang mengarah padanya itu dengan perasaan jijik. Ia bahkan hampir muntah karenanya.
Anna melepaskan tongkat di tangannya dan mengarahkan telapak tangannya pada benda cair menjijikkan tersebut.
Sama seperti sebelumnya, cairan yang sebelumnya mengembang di udara itu menyatu dan menggumpal membentuk sebuah bola.
Anna kemudian menggerakkan kedua tangannya yang terentang dan bola-bola hijau itu mengikuti arah gerakannya.
Raja Orc melihat dua buah bola hijau melayang-layang di atas kepalanya dengan mata melotot.
Dia memang tahu kalau lawannya itu sangat kuat, namun ia tak membayangkan bahwa racun sihirnya dapat dikontrol seperti itu oleh lawannya.
Saat Raja Orc masih dibuat takjub oleh apa yang dilakukan lawannya, bola-bola itu tiba-tiba melesat cepat menuju ke arahnya.
Banggggg!!!
Bola-bola itu meledak saat bertabrakan dengan tubuh Raja Orc.
Energi sihir yang dihasilkan dari ledakan itu menyebar ke seluruh area dan menghancurkan apapun yang dilewatinya.
Sebuah kawah besar terbentuk dari ledakan itu. Namun racun yang sebelumnya terkandung dalam bola itu melekat hanya pada tubuh Raja Orc.
°°°