Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 195 - Dewi Elf, Yolin Iluvatar


Walaupun aura nya sangat menekan, namun Anna tidak merasakan hawa membunuh dari patung dewi Yolin, seperti yang tadi di rasakannya dari patung dewa Eru.


Tapi tetap saja, ia merasa ngeri saat bertatapan dengan patung dewi bangsa Elf tersebut.


'Andai rasa sakit di kepala ku tidak ada, apa aku bisa menang kalau aku mencoba bertarung melawannya?'


"Aku tidak akan menyakiti mu. Aku hanya bertanya."


"A-apa? K-kau bisa membaca pikiran ku?"


"Tidak bisa. Kekhawatiran mu terlihat jelas dari raut wajah mu."


"B-begitu...," Anna tiba-tiba ingat sepertinya pernah mendengar kalimat yang mirip.


'Ah..., aku pernah mengatakan ini pada Kevin.'


"Jadi, bagaimana kau bisa berakhir di tubuh Ann?"


"Itu..., aku tidak tahu. Aku pernah mati, tapi dia menghidupkan ku kembali," Anna mendesah pelan sebelum melanjutkan, "Saat aku tersadar lagi, tiba-tiba saja aku sudah berada di tubuh ini." Anna mengatakan yang sebenarnya, tanpa menutupi apa pun, walau dia tidak menceritakan pengalamannya di planet asing.


Setelah Anna menjawab pertanyaannya, tubuh kayu patung dewi tiba-tiba memudar, digantikan oleh warna kulit cerah, dengan adanya bintik metalik emas berkilau.


Hanya beberapa detik kemudian, wujud patung menghilang lalu di gantikan oleh wujud cantik Elf wanita yang sangat anggun dan menawan.


Melihat wujud asli dewi Yolin, Anna sampai ternganga, mengagumi kecantikan sosok Elf wanita yang berdiri anggun di hadapannya.


Bahkan, Anna sampai tidak menyadari saat Elf wanita itu menghampiri dan meraih pergelangan tangannya.


Sesaat kemudian, Anna merasa pandangannya tiba-tiba kabur dan ia merasa kedua matanya seperti terkena sambaran blitz kamera yang sangat menyilaukan.


Namun, kejadian itu hanya terjadi sesaat sebelum pandangannya akhirnya kembali pulih dan ia dapat melihat segala sesuatu dengan normal kembali.


•••


"Aku turut bersedih untuk mu," ucap dewi Yolin tiba-tiba.


"Ya?"


"Kau baru saja kehilangan orang yang kau cintai."


"A-apa? Bagaimana kau bisa tahu?"


"Kali ini kau ku maafkan. Bagaimana pun kau bersedih, jangan hancurkan ras di planet Elf."


"Ras?"


"Hutan yang kau hancurkan itu adalah rumah dari Elf Klan Api. Hutan itu sendiri adalah salah satu ras penghuni planet Elf."


Anna teringat kembali dengan pohon-pohon yang memiliki mata di hutan suci.


"Apa mereka juga memiliki mata seperti yang berada di hutan suci?"


"Tidak. Hanya saja, mereka juga sebuah ras dari makhluk tidak hidup tidak bergerak yang harus di lindungi. Apa kalian tidak melindungi hutan di Bumi?"


"Ah... Itu...," Anna menjadi malu, karena di Bumi, hutan tidak terlalu di perhatikan. Hanya ada segelintir orang yang peduli pada hutan dan alam.


"Mereka sangat penting bagi kehidupan para makhluk bergerak. Demikian juga sebaliknya."


"Y-ya...," Anna akhirnya menoleh untuk melihat ekspresi Eleanor. Ia merasa tidak enak karena ketahuan sebagai biang keladi hilangnya hutan milik Klan Api.


Namun, ia terkejut saat melihat semua Elf yang sejak tadi berada di belakangnya, telah pingsan dan tergeletak di altar tanpa ia ketahui sama sekali.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Anna dengan raut wajah penasaran.


"Kami biasanya tidak menunjukkan wujud nyata pada mereka. Jadi, aku membuat mereka tidak sadarkan diri."


"Apakah mereka tidak apa-apa?" Anna merasa khawatir, karena ia tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan dari para Elf yang pingsan itu.


Mendengar dan melihat wajah khawatir Anna, dewi Yolin tertawa.


Suara tawa nya sangat merdu, hingga membuat Anna tercengang dibuatnya.


'Bahkan suara tawa nya lebih enak terdengar dari suara seorang penyanyi yang menyanyikan sebuah lagu!'


"Kau mengkhawatirkan mereka? Kau memang sangat cocok jadi pemimpin mereka."


"Hah?"


"Bukankah beberapa dari mereka telah jadi pengikut mu?"


Anna terkejut. "Bagaimana kau tahu?"


"Aku sudah melihat seluruh kehidupan mu, saat tadi menyentuh tubuh mu."


"Apa?!" Anna terkejut lagi. Bisa memiliki kemampuan seperti itu, menurutnya, sangatlah mengerikan.


'Pantas saja dia tahu tentang Ren dan hutan itu!'


"Kau juga bisa melakukannya."


"A-aku? Aku tidak... Hah?! Maksud mu?" Kali ini, Anna jauh lebih terkejut lagi. Ia bingung bagaimana dewi Yolin mengatakan hal yang ia sendiri tahu bahwa dia tidak memilikinya. "Aku tidak memiliki kemampuan seperti itu."


"Kau memilikinya."


"..."


"Conqueror of Darkness, bagian lima. Divine Knowledge."


Kedua mata Anna melebar. "Bagaimana kau bisa tahu kemampuan ku?"


"Kekuatan dan kemampuan Ann sangat terkenal di tempat asal kami. Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya?"


"Kau dan Ann berasal dari planet yang sama?"


"Bukan planet. Kami berada di atas alam semesta kita."


"Apa?!"


"B-begitu...," Anna tersipu, malu karena tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Tapi..., sayangnya aku baru berhasil menguasai sampai bagian empat."


"Sayang sekali."


"Y-ya..."


"Hm..., lima belas ribu tahun, ya," dewi Yolin mengingat kembali apa yang ia lihat dari ingatan Anna, "Dengan memiliki inti mana Ann, kau hanya membutuhkan tiga ribu tahun untuk menguasai tiap bab dari buku Conqueror of Darkness. Kau harus berlatih selama dua belas ribu tahun lagi untuk menyelesaikan semua bab nya."


"Y-ya..., waktu itu aku tiba-tiba kembali ke tempat asal ku setelah mempelajari seluruh bagian dari bab empat. Jadi, aku belum sempat menyelesaikannya."


Dewi Yolin mengangguk, ia sudah melihat semuanya.


"Kau tinggal mempelajari sisa nya lagi."


Anna menggelengkan kepala.


"Visi nya langsung hilang saat aku kembali ke tempat asal ku."


"Kau tinggal kembali ke sana. Itu tempat Ann berlatih."


"Aku tidak bisa. Aku pernah mencoba untuk berteleportasi ke sana, tapi gagal."


"Ada caranya."


"Benarkah? Bagaimana..."


"Suatu saat kau akan tahu," potong dewi Yolin yang tidak ingin memberi tahu secara langsung, karena mereka memang tidak boleh membocorkan rahasia dewa lain.


"B-begitu ya...,"


"Tapi, dimana pedang Ann? Biasanya mereka selalu melekat di tubuh Ann."


"Melekat?"


"Ya. Bukankah kau berhasil memanggil mereka?"


"Ah, pedang kembar itu. Aku tidak tahu, mereka sepertinya tertinggal di sana."


"Hm... Kau tinggal memanggilnya."


"Bagaimana cara nya?!" Mengetahui hal itu, Anna tampak sangat bersemangat. Ia memang terkadang memerlukan sebuah senjata untuk bertarung, tapi tidak ada senjata yang benar-benar ia rasa cocok untuk menyalurkan energi Mana nya.


"Seperti saat sebelum kau kembali ke tempat asal mu."


"..."


"Kau tinggal melakukan ritual pemanggilan."


"Ah..., jadi begitu caranya? Tapi, itu agak..."


"Tapi, jangan lakukan di sini," dewi Yolin memotong, "Carilah tempat yang tidak berpenghuni," dewi Yolin mengusap-usap dagu lancip nya sambil berpikir, "Tapi, sepertinya tidak ada tempat yang boleh kau hancurkan dimanapun itu."


Dewi Elf itu kemudian tertawa.


"Y-ya..., sepertinya begitu...," Anna juga menyadari hal itu, dan dia akhirnya melupakan rencana untuk memanggil kedua pedang tersebut.


Anna terdiam beberapa lama, sampai dewi bangsa Elf itu menghentikan tawanya. Ia menikmati suara tawa itu seperti mendengar sebuah nyanyian indah.


"Kalau kau hanya ingin mengalahkan para malaikat tersesat itu, kau tidak perlu menguasai semua bab nya. Tapi, ada beberapa dari mereka yang tidak bisa kau kalahkan sekaligus. Kau harus bertarung satu lawan satu, tanpa ada yang mengganggu."


"Maksud mu? Para iblis itu?"


"Mereka bukan iblis. Mereka malaikat ceroboh yang dulunya bertugas untuk menjaga galaksi mu. Mereka menganggap bahwa mereka sejajar dan sekuat para dewa, padahal sebenarnya tidak,"


"Karena marah dengan keangkuhan para malaikat tersesat itu, pemilik galaksi mu akhirnya menghukum dan mengusir mereka, hingga akhirnya iblis membawa mereka untuk menjadi pengikutnya." dewi Yolin menjelaskan.


"Jadi, mereka bukan iblis yang sebenarnya...," Anna menggumam.


"Ya. Jika itu iblis, kau tidak akan bisa mengalahkan mereka. Kau harus menyelesaikan semua bab dari kitab dewa keluarga Arnix jika kau ingin mengalahkan iblis yang sebenarnya."


Mengethui hal itu, Anna terdiam. Dia berpikir, jika iblis yang sebenarnya datang, umat manusia mungkin akan mengalami malapetaka yang sesungguhnya.


Memikirkan hal itu, Anna menjadi was-was. "A-apakah iblis itu yang memerintahkan mereka untuk membuat kekacauan di tempat asal ku?"


"Aku tidak tahu. Tapi, jika para pengikutnya mulai mengganggu tempat asal mu, mungkin mereka bermaksud untuk merebutnya, karena iblis adalah bangsa penjajah yang sebenarnya."


"Apakah mereka bangsa penjajah seperti yang akan menjajah bangsa Elf?"


"Bukan. Mereka berbeda. Penjajah dari bangsa Elf adalah makhluk dari dimensi lain."


"A-apa?" Anna mulai bingung. Ia sebenarnya sangat tertarik karena akhirnya mendapatkan sedikit kebenaran dari apa yang ia cari selama ini. Tapi, informasi yang dewi Yolin berikan terasa terlalu membingungkan baginya.


"Kau tahu alam semesta dan galaksi yang berada di dalamnya, kan?" dewi Yolin menunggu tanggapan Anna, sebelum ia melanjutkan penjelasannya.


Saat Anna mengangguk, ia kembali berbicara, "Ada banyak galaksi di alam semesta yang sangat luas ini. Kita, berada di alam semesta yang sama, namun di galaksi yang berbeda,"


"Alam semesta ini memiliki empat dimensi berbeda. Ada dua dimensi yang semua alam semesta nya di kuasai oleh para dewa. Dan dua dimensi lain yang dikuasai oleh dua ras iblis dari berbeda,"


"Para penjajah yang akan datang ke planet kami, adalah bangsa yang berasal dari dimensi yang berbeda dengan dimensi di mana alam semesta kita berada,"


"Tapi, mereka bukan dari bangsa iblis. Mereka adalah bangsa para dewa, sama seperti kami."


"Jadi, di antara dewa juga bisa saling menjajah?"


"Ya. Tapi, sebenarnya hal seperti itu tidak diizinkan."


Anna mengerutkan kening, saat mendengar kata terakhir. Karena penasaran, ia bertanya lagi.


"Izin? Apakah di dunia para dewa juga ada hukum yang berlaku?"


"Tentu saja. Di mana ada peradaban, sudah tentu ada hukum yang berlaku di dalamnya."


"Kalau begitu, hukum itu..., Apakah ada dewa tertinggi di antara para dewa?"


"Tidak ada. Hanya ada dewa yang lebih kuat di bandingkan dewa lain."