Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 280 - Aku Sudah Kembali


Semua teman-teman Anna yang menyaksikan kembalinya gadis itu dari layar raksasa yang berada di tengah gedung, terdiam sampai agak lama.


Gina adalah orang yang paling emosional saat melihat Anna telah kembali. Ia bahkan tidak memerhatikan lagi puluhan ribu pasukan iblis yang baru saja keluar dari gerbang dan sedang berlarian menghampirinya, juga Hunter-hunter Tiongkok yang berada disekitarnya.


"Gina."


"Ya?"


"Aku tahu kau sangat emosional melihat Anna telah kembali. Tapi urusan kita disini belum selesai," ucap Miyuki, sembari menatap puluhan ribu monster yang sedang mendekat.


Gina akhirnya menyadari bahwa mereka sedang dalam bahaya besar. Tapi, memang tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Melarikan diri pun tidak bisa.


Gina akhirnya hanya bisa mendekap Miyuki dengan lebih erat, berniat untuk melindungi gadis itu dengan sihir pelindungnya menggunakan energi Mana terakhir yang tersisa.


Tapi, saat Gina masih terdiam menatap puluhan ribu monster itu, sesosok wanita cantik berambut pirang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


Wanita itu menatap ke arah Gina dan kawan-kawannya, lalu tatapannya berhenti pada seseorang.


Gina mengikuti arah tatapan itu dan tahu bahwa wanita itu sedang menatap Miyuki.


"Kau sudah tumbuh dewasa...," ucap wanita itu sembari tersenyum lembut pada Miyuki.


Gina sebenarnya agak khawatir saat melihat wanita itu tiba-tiba saja muncul didekat mereka. Dari penampilannya, ia mirip seperti para malaikat tersesat.


Cantik, berambut pirang yang sama, dan gaya berpakaiannya juga sama persis seperti Li Wen Xia, saat mereka dulu bertemu di dalam Dungeon peringkat S.


"Siapa dia? Apa kau mengenalnya?" tanya Gina pada Miyuki dengan suara pelan.


"Kita selamat," sahut Miyuki dengan ambigu. Tapi, nada suaranya terdengar sedikit ceria.


"Senang bertemu Anda lagi, nona Lo." Ucap Miyuki, menyahuti sapaan Lorelei.


Miyuki tiba-tiba teringat pada nama yang pernah ia dengar saat sedang bertarung melawan Li Wen Xia dan kawanannya dulu.


'Jadi Lorelei itu nama lengkap nona Lo?'


Senyum Lorelei semakin merekah saat mendengar jawaban Miyuki. Ia sebenarnya sangat menyukai suara Miyuki yang sangat imut seperti suara seorang anak kecil.


"Tunggu sebentar, aku urus mereka dulu."


Lorelei akhirnya berbalik menghadap ribuan iblis yang sudah sangat dekat itu.


Ia merentangkan kedua tangannya, lalu portal kebiruan yang sangat besar muncul dari kedua telapak tangannya.


Seakan memiliki daya tarik magnet yang sangat besar di dalamnya, portal itu menghisap semua pasukan iblis yang tubuhnya langsung hancur saat bertemu dengan permukaan portal.


Lorelei meninggalkan portalnya lalu berbalik dan pergi menghampiri Miyuki.


Ia kemudian membelai lembut kepala Miyuki, yang masih ada dalam dekapan Gina.


"Aku bersyukur kau tidak menggunakan kekuatanmu untuk berada dipihak malaikat tersesat itu," ucap Lorelei.


Miyuki tersenyum. Senyum yang membuat Lorelei terharu, karena baru kali ini ia melihat senyuman gadis itu.


"Astaga, kau bisa tersenyum juga rupanya."


"Huh?"


"Seingatku, wajahmu selalu lurus," Lorelei tertawa riang setelah mengatakannya.


Gina yang berpikir sama seperti Lorelei juga tertawa.


Saat mereka masih asik mengobrol, semua pasukan iblis, baik itu yang bertanduk enam, empat sampai yang bertanduk dua, telah musnah seluruhnya setelah mereka terhisap dan menabrak portal sihir buatan Lorelei.


Hal itu memang terlihat biasa saja bagi Lorelei dan Miyuki yang sebenarnya juga bisa membuat portal serupa namun ia tadi kekurangan energi Mana untuk melakukannya.


Tapi, hal itu sebenarnya bukanlah hal biasa. Para malaikat saja akan kagum dengan kekuatan itu. Apalagi semua Hunter dan semua orang di seluruh dunia yang menyaksikan bagaimana mudahnya gerbang itu menghisap pasukan iblis dan menghancurkan mereka.


Portal itu ibarat sebuah mesin penggilingan daging yang akan menghaluskan daging setelah masuk kedalamnya.


°°°


Kevin Jung menggaruk-garuk kepalanya. Ia menatap Bimo yang menganga memerhatikan bagaimana sisa-sisa monster bertanduk dua yang tidak berdaya, sedang mengantri untuk dihancurkan portal tersebut.


"Apa kau juga berpikir untuk berhenti saja?"


Bimo akhirnya menoleh untuk menatap Kevin setelah beberapa detik kemudian.


"Y-ya?"


Glup...


"Sudahlah. Kau sepertinya masih terlalu syok," ucap Kevin yang kemudian mendengus, setelah melihat Bimo sepertinya tidak bisa menanggapi kata-katanya.


•••


Setelah semua kejadian di depan gerbang kota Beijing itu berakhir, semua Hunter berbondong-bondong mendekati kelompok Gina, yang disitu juga ada Miyuki dan Lorelei.


Hunter-hunter itu sibuk berbicara dengan berbisik diantara mereka mengenai kehebatan wanita berambut pirang itu.


Sementara mereka sedang asik mengobrol, tak lama kemudian, sosok wanita ramping muncul secara tiba-tiba di hadapan semua orang.


"Anna?!"


Gina langsung merentangkan satu tangannya dan meminta gadis ramping itu untuk datang mendekat.


Gina langsung merangkul Anna saat ia sudah berada dekat dengan mereka. Anna, Gina dan Miyuki berangkulan lama, sampai Miyuki akhirnya menjadi orang pertama yang berusaha melepaskan diri.


"Tolong, aku sesak nafas."


Melihat ekspresi penolakan Miyuki, Anna dan Gina pun tertawa.


"Kau darimana saja?" tanya Gina setelahnya.


Anna menggaruk-garuk belakang telinganya. "Aku habis berkeliling."


"Tsk... Kau membuatku repot saja. Kenapa kau lama sekali baru kembali?" ucap Miyuki.


"Jika tidak begitu, kau tidak akan menunjukkan kekuatanmu, kan?"


"Sebenarnya, sejak kapan kau tahu?"


"Sejak aku pertama kali kembali setelah tertidur dua minggu lamanya."


"Kenapa kau tidak menunjukkan sikap mencurigaiku?"


"Karena tidak ada yang bisa dicurigai darimu."


Mendengar obrolan menggemaskan itu, Gina akhirnya memeluk mereka kembali, tapi Miyuki dengan cepat berusaha menolaknya.


Kevin dan Bimo akhirnya bergabung bersama mereka.


Setelah berada di dekat Anna, Kevin segera merentangkan kedua tangannya, berharap Anna akan memeluknya juga.


Tapi, Kevin kemudian menatap ke arah dada gadis itu dengan kening berkerut.


"Kenapa ukurannya mengecil?"


Anna memegang dadanya dengan kedua tangan.


"Tsk... Ini tubuh asliku."


"Apa?!"


Teman-teman Anna terkejut. Bahkan Gina juga terlambat menyadarinya.


Ia memerhatikan Anna dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


"Kalau kuperhatikan, tubuhmu juga sedikit lebih pendek," ucap Gina.


Anna mendengus kesal. Untung saja ia telah mengembalikan warna manik matanya ke warna aslinya. Jika tidak, mereka juga pasti akan membahas warna emas manik matanya.


"Pakaianmu itu... Apa-apaan dengan pakaianmu itu?"


Anna menatap Kevin dengan tatapan malas. Ia tahu kostumnya itu sedikit norak, tapi ia juga tidak memiliki pakaian lain lagi selain kostum yang kini ia kenakan.


Saat mereka masih mengobrol, Rin dan Gus Stevin juga akhirnya tiba.


Rin langsung berlari dan melompat untuk segera mencapai Anna. Ia kemudian memeluk Anna dengan sangat erat, diiringi suara tangis yang sangat nyaring memekakan telinga.


Melihat itu, Gina dan Miyuki yang sebelumnya tidak pernah melihat Rin menangis histeris seperti itu, walaupun saat ia kehilangan adiknya, akhirnya ikut meneteskan air mata.


"Tidak apa-apa... Tidak apa-apa... Aku sudah kembali, ok?"


Anna menepuk-nepuk pelan pundak Rin, sambil berusaha menahan agar air matanya tidak ikut keluar.


•••