
Anna menatap lautan luas tanpa adanya daratan itu dengan rasa bersalah.
Hanya ada seonggok batu karang yang mencuat tinggi dari permukaan air di planet itu.
Dewi Ann telah membawanya kembali ke planet yang pernah Anna tinggali selama 15.000 tahun itu, yang bahkan jauh lebih lama dari waktu yang ia habiskan di Bumi sejak usia 0-18 tahun, setelah mereka merasakan sakit menusuk di dalam kepala akibat terlalu lama berada di galaksi dewa lain.
Anna tiba-tiba teringat kembali pada pedang kembar, saat melihat batu karang dimana kedua pedang itu tertancap di sana selama 15.000 tahun sebelum ia berhasil mencabutnya.
Ia hampir melupakan pedang kembar yang tiba-tiba saja menghilang setelah kehadiran dewan pengawas.
"Dewi Ann, dimana kedua pedang itu?" tanya Anna dengan berbicara sangat santai pada dewi Ann.
Tidak seperti saat ia berbicara dengan dewa lain, Anna merasa sangat nyaman saat berbicara pada dewi Ann. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan keluarganya sendiri walaupun pada awalnya ia merasa sedikit aneh berbicara pada tubuh yang sudah ia 'kenakan' selama 1 tahun penuh itu.
["Aku ada di tangan kanan mu, manusia,"] sahut suara seorang pria dari sisi kanan telinga Anna.
Terkejut mendengar suara itu, Anna menoleh ke arah kanan, namun tidak menemukan siapa pun di sana. Ia kemudian menatap tangan kanannya sebelum menoleh ke sana sini lagi.
Saat ia masih mencari-cari suara gaib tanpa wujud itu, ia kembali mendengar suara dari arah kirinya.
["Aku berada di tangan kiri mu,"] ucap suara wanita dari sisi kiri telinga Anna.
"Kalian berada di tangan ku?"
["Ya."] Sahut kedua pedang bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan di dalam sana?!" tanya Anna dengan perasaan ngeri, sambil mengangkat kedua tangannya dan menatapnya bergantian.
"Aku biasanya menyimpan mereka di dalam kedua tangan ku," sahut dewi Ann.
"Di tangan? Apa mereka tidak memeiliki sejenis selongsong?"
"Bukan aku tidak mau membuatnya. Hanya saja, tidak hormat meletakkan dua dewa di dalam sebuah selongsong, kan?" ucap dewi Ann, bertanya balik dengan senyuman lembut di akhir kalimat.
"Mereka berdua dewa juga?!" Anna terperanjat saat mengetahui identitas pedang kembar. Ia menatap kedua lengannya lagi, lalu bertanya, "Tapi..., bagaimana kalian bisa menghilangkan energi Mana? Aku tidak bisa merasakan keberadaan kalian sama sekali."
["Kami menguncinya, sama seperti saat kau melakukannya,"] sahut pedang merah yang berada di tangan kanan.
"Kau bisa memanggil pedang berbilah merah dengan nama Ogun dan pedang berbilah biru dengan nama Ezili." Ucap dewi Ann.
"Apa itu nama asli kalian?"
["Ya. Itu nama asli kami."] Sahut Ezili, pedang berbilah biru.
Anna terdiam. Dia melirik pada kedua tangannya dan dewi Ann secara bergantian.
'Apa mereka dulunya para dewa yang di ubahnya menjadi pedang juga?'
Dewi Ann bisa menebak apa yang sedang berada di dalam pikiran Anna dan ia pun tertawa.
"Mereka menjadi pedang dan mengikuti ku atas kehendak mereka sendiri. Jangan salah paham," ucap dewi Ann.
Kedua pipi Anna merona. Ia memang sedang salah paham. "B-begitu..."
Anna kemudian mengambil tombak panjang yang kini berbentuk sekecil tusuk gigi, dari balik ujung lengan catsuit di bagian pergelangan tangannya.
"Apa benda ini juga bisa di simpan di dalam tubuh?"
"Tidak. Dewa yang di ubah menjadi senjata setelah kalah bertarung hanya akan menjadi senjata pusaka. Mereka kehilangan jiwa. Jiwa mereka telah kembali ke kehampaan. Mereka bisa di ubah wujudnya ke senjata atau armor adalah karena energi Mana yang mereka miliki sebelumnya telah di tinggalkan di tubuh. Tidak sama seperti jiwa yang masih terbebas. Jika kau kembali pada kehampaan para dewa, energi Mana mu tidak akan bisa mengikuti mu."
Anna diam. Mengulang kembali kata-kata itu di dalam pikirannya untuk mendalami artinya.
'Mereka kejam.'
Anna masih diam untuk beberapa saat. Kali ini ia memikirkan ulang apa yang hendak ia ketahui, karena ia saat ini berada bersama dewa yang sudah pasti memiliki jawabannya.
Ada banyak pertanyaan yang sebelumnya sangat ingin ia dapatkan jawabannya.
Sayangnya, saat ia sudah bertemu sosok yang harusnya bisa menjawab semua pertanyaan tersebut, semua pertanyaan yang sudah lama dipikirkannya itu menguap begitu saja.
Sosok cantik, anggun dan berkarisma dewi Ann, membuat Anna tiba-tiba melupakan semua yang ingin diketahuinya.
Untuk itulah Anna memikirkan kembali pertanyaan yang ingin di ajukannya dalam diam.
"Kenapa kau memberikan inti Mana mu pada ku?"
Dewi Ann tersenyum sebelum menjawabnya.
"Mana mungkin aku memberikan inti Mana ku? Kau mungkin akan menghancurkan Bumi jika bola yang kau telan dulu adalah inti Mana ku."
"Apa? Tapi, bukankah patung itu mengatakan bahwa itu adalah inti Mana?"
"Apa?!" mengetahui itu, dewi Ann terkejut.
"..."
"..." dewi Ann tiba-tiba tersenyum canggung.
Anna mulai kesal lagi saat menyadari patung yang selalu mengabaikannya itu rupanya telah membohonginya.
"Apa dia membohongi ku?"
"Yah, itu... Yang pasti aku memberikan mu sebagian kecil kekuatan ku melalui bola kristal itu." Sahut dewi Ann, sembari memalingkan wajah penuh perasaan bersalah saat tahu dewan pengawas itu membohongi Anna.
Anna menarik nafas panjang, berusaha meredam kemarahannya pada dewan pengawas .
"Jadi, kenapa kau memberikan ku kekuatan ini? Di tambah lagi kau memberikan senjata mu sendiri dan dua item baru juga?"
"Aku membutuhkan mu untuk melakukan pekerjaan yang tidak bisa ku lakukan sendiri." Sahut dewi Ann cepat, seolah ia sudah menunggu pertanyaan itu diajukan.
"Ada pekerjaan yang tidak bisa kau kerjakan sendiri?"
"Ya."
"Apa itu?"
"Menjemput adik ku di sebuah planet, di dimensi yang sama dengan bangsa Anunnaki."
"Apa?!"
Dewi Ann kemudian membuka sebuah gerbang di hadapan mereka. "Ini adalah jalan menuju planet itu."
Anna mengabaikan gerbang itu.
"Kenapa kau tidak melakukannya sendiri? Aku masih memiliki urusan dengan para iblis yang telah membuka gerbang di Bumi."
Dewi Ann menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak akan bisa menemukan tempat persembunyian mereka."
"Aku hanya tinggal memasuki semua Dungeon itu."
"Kau pikir aku akan membiarkan semua gerbang itu tetap berada di Bumi jika aku bisa melakukan seperti yang kau katakan?"
"..."
"Mereka bersembunyi di antara celah empat dimensi."
"Celah empat dimensi?"
Dewi Ann mengngguk.
"Aku akan menjelaskan secara singkat agar kau mengerti sedikit artinya," ucap dewi Ann, meminta Anna hanya mendengarkan apa yang akan ia katakan.
"Dalam wadah ciptaan Absolut ini, ada empat alam semesta di empat dimensi yang berbeda. Dalam tiap dimensi, ada dewa-dewa yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga setiap galaksi,"
"Setiap dewa di satu alam semesta di dimensi yang sama, memiliki keterikatan antara satu dan lainnya. Jadi, saat kami sedang mengejar para pembuat masalah, kami akan saling membantu untuk memberitahu dimana persembunyian makhluk yang kami kejar asalkan dia masih berada di dalam galaksi kekuasaan kami,"
"Tidak ada satu pun makhluk yang bisa bersembunyi dari pantauan dewa penguasa sebuah galaksi. Satu-satu nya tempat mereka bisa bersembunyi adalah di antara celah dimensi karena di sana tidak ada dewa yang berkuasa yang di berikan Absolut tanggung jawab untuk menjaganya."
Sampai di situ, dewi Ann menatap Anna agak lama. Ia belum melanjutkan penjelasannya lagi.
•••