Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 158 - Raid Di Kepulauan Fiji (5)


Pasukan monster dengan 4 tanduk dan memiliki kulit tubuh berwarna merah mulai bermunculan dari balik air terjun.


Makhluk-makhluk itu memiliki kekuatan berkali lipat dari makhluk bertanduk 6.


Wujud mereka sama, hanya dengan jumlah tanduk dan warna kulit yang berbeda.


"Jadi mereka ini wujud para pasukan iblis itu? Semakin sedikit jumlah tanduknya, maka mereka akan semakin kuat. Yang pernah bertemu dengan ku memiliki dua tanduk dan kekuatannya setara Kevin dan Nobara." Pikir Anna, sembari memerhatikan pasukan monster yang terbang menghampiri rekan-rekannya yang masih berada di dalam pusaran angin.


"Berhati-hatilah, saya pergi dulu." Ucap Anna pada Gus dan Davina.


"Kau mau ke mana?" tanya Gus.


"Sepertinya mereka semua berada di balik air terjun. Aku akan kesana. Terlalu lama jika kita yang harus menunggu mereka semua keluar." Sahut Anna.


Setelah selesai mengatakan kemana ia akan pergi, Anna menghilang dari hadapan kedua Hunter tersebut.


Gus dan Davina saling bertatapan beberapa saat sebelum akhirnya kembali menyaksikan jalannya pertempuran antara tim mereka dan para monster.


°°°


Anna muncul sebentar di depan air terjun sebelum ia melompat masuk ke dalamnya.


Anna mengebaskan rambutnya untuk menyingkitkan cairan kental berwarna merah dan hitam yang ia dapatkan dari air terjun.


Cairan itu sangat kental, lengket dan menjijikkan, hingga Anna akhirnya harus menggunakan sihir untuk membersihkan cairan itu sampai bersih tak bersisa dari seluruh tubuhnya.


Setelah membersihkan dirinya, Anna melihat keadaan goa yang memiliki diameter sangat besar. Ia memperkirakan lorong goa mungkin bisa menampung gedung setinggi 6 lantai untuk mencapai langit-langitnya.


Sambil berjalan masuk ke dalam goa, Anna melihat goa yang semakin terang. Berbeda dengan di bagian depan, yang belokasi dekat air terjun, di bagian dalamnya banyak obor berukuran besar yang terdapat di sisi kiri dan kanan goa.


Baru tiga puluhan meter berjalan memasuki lorong go, Anna akhirnya berpapasan dengan rombongan monster berpanah.


Anna mengarahkan kedua telapak tangannya ke pasukan monster. Bersamaan dengan itu, tubuh seluruh monster terbungkus cahaya keemasan yang setelahnya meremukkan seluruh tubuh mereka.


Setelah membunuh semua makhluk tersebut, Anna melanjutkan kembali perjalanannya untuk mencapai ujung goa, bermaksud untuk segera membasmi semua monster yang berada di tempat itu dan juga, jika ia beruntung, Anna ingin mencari informasi tentang asal iblis-iblis yang membuat gerbang Dungeon terhubung ke Bumi.


Anna mempercepat langkah kakinya hingga ia tiba di ujung goa tepat saat rombongan monster baru akan memulai perjalanan mereka keluar dari goa.


Anna melakukan hal serupa seperti sebelumnya dan meremukkan seluruh tubuh monster di hadapannya.


Saat pemandangan para monster menghilang dari hadapannya, Anna bertemu pandang dengan sosok makhluk tanpa tanduk, namun berwujud sama dengan monster-monster bertanduk. Yang membedakannya hanyalah ia tidak memiliki tanduk dan kulit tubuhnya berwarna merah gelap mengkilap yang sangat mendekati warna hitam.


Di belakang monster tersebut, Anna dapat melihat ada ribuan patung yang terbuat dari tanah dan memiliki wujud seperti makhluk-makhluk yang keluar dari goa tadi.


"Jadi mereka semua terbuat dari tanah?" Pikir Anna seraya menyapu seluruh goa dari ujung ke ujung dengan pandangannya.


Ruangan itu sangat terang benderang oleh cahaya yang di hasilkan oleh ratusan obor di dinding-dinding goa.


Goa berbentuk bulat itu sangat besar, hingga dapat menampung sebuah kota kecil di dalamnya.


Anna tidak terlalu menghiraukan monster di hadapannya yang tampak ketakutan. Ia tadi melihat sekilas monster tersebut langsung terkejut saat melihatnya. Kedua matanya melebar disertai tubuhnya yang gemetar, Anna yakin kalau dia salah mengenalinya sebagai Ann Arnix dan sedang ketakutan.


Baru setelah Anna selesai memerhatikan keadaan goa tersebut, ia kemudian mengangkat satu tangan dan mengarahkan telapak tangan pada makhluk di hadapannya. Bersamaan dengan itu, cahaya keemasan muncul di sekitar tubuh makhluk tersebut.


Dengan tidak terburu-buru, Anna berjalan menghampiri makhluk tersebut lalu berhenti saat sudah berdiri di sampingnya.


"Apa kau yang membuat mereka semua mendapatkan kehidupan?" tanya Anna seraya menunjuk pada ribuan patung yang berbaris di hadapan mereka."


Makhluk itu tidak menjawab pertanyaan Anna. Dari yang sebelumnya menatap Anna dengan perasaan takut, tatapannya berganti menjadi tatpan seorang yang tampak bingung.


"Tsk... Aku bukan Ann Arnix. Kau tidak usah bingung seperti itu." Ucap Anna yang sudah merasa bosan dan lelah dengan keterkejutan lawan tiap melihatnya untuk pertama kali.


"S-siapa kau?"


"Aku saudara kembarnya."


"A-apa? Tapi... bukan kah dia tidak..."


"Aku tertidur sejak bayi dan baru bangun beberapa hari yang lalu. Jadi, kalian pasti tidak tahu kalau Ann Arnix memiliki saudara kembar, ok? Kau mengerti?"


Makhluk itu tertegun sebentar sebelum akhirnya dengan terpaksa menganggukkan kepalanya.


"Bagus. Kau tahu kan, kalau kau tidak akan bisa berbuat apa-apa di bawah sihir ini?" Anna ingin memastikannya seraya menunjuk pada cahaya keemasan di sekeliling tubuh makhluk itu. Saat ia mengangguk, Anna melanjutkan, "Sekarang, giliran mu yang harus menjawab pertanyaan ku."


Anna kembali berbalik dan kini ia berhadapan dengan ribuan patung.


"Apa kau yang memberikan kehidupan pada mereka?"


"Y-ya..."


Anna sebelumnya hanya menebak-nebak tentang hal itu. Saat makhluk tersebut membenarkan tebakannya, Anna sedikit terkejut.


"Bagaimana cara mu melakukannya?"


Baru saja makhluk itu menyelesaikan kalimatnya, cahaya keemasan yang menyelimuti seluruh tubuhnya tiba-tiba menghilang.


Makhluk itu tentu saja terkejut dan ia menunduk, menatap Anna yang lebih pendek sekitar 3 kepala darinya. Ia menatap Anna dengan bingung.


"Nah, coba kau lakukan sihir mu pada...," Anna melihat-lihat jenis patung yang ada, lalu ia memilih patung yang memiliki dua tanduk yang berjumlah lebih sedikit di banding patung dengan empat dan dua tanduk, "Coba hidupkan mereka."


Makhluk itu semakin bingung, tak mengerti mengapa musuh bangsa nya itu malah memerintahkan untuk menghidupkan prajurit lawan.


Namun, tentu saja ia langsung melakukannya.


Makhluk itu merapalkan mantra yang cukup panjang, hingga memakan waktu beberapa menit. Di ujung kalimatnya, asap hitam ia muntahkan dari mulutnya, lalu asap tersebut pergi ke tubuh 20 patung yang memiliki dua tanduk.


Asap hitam menyelubungi makhluk bertanduk dua tersebut dan hanya beberapa detik setelahnya, warna tanah patung perlahan berubah. Bentuk tanah pun berubah secara perlahan dan tak sampai satu menit berikutnya, patung itu hidup.


Semua patung terbang sampai ke hadapan makhluk di samping Anna. Mereka kembali menapak tanah setelah berada di hadapan makhluk itu, lalu berlutut padanya.


Dua puluh makhluk yang baru saja diberikan kehidupan itu diam dalam posisi berlutut dan tidak melakukan gerakan apapun lagi.


"Apakah mereka tidak akan bergerak sampai kau memberikan perintah?"


"Y-ya..."


Anna mengangguk. "Suruh mereka semua keluar dari goa ini."


Makhluk itu semakin bingung tak mengerti mengapa lawannya bertindak aneh seperti itu, walaupun tentu saja ia tidak keberatan dan akhirnya melakukan apa yang baru Anna perintahkan.


Setelah dua puluh makhluk terbang keluar goa, Anna kembali berbicara pada makhluk tersebut. "Jika aku menetralkan sihir mu seperti tadi, apa mereka yang baru keluar itu akan kembali menjadi tanah?"


Makhluk itu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Mereka hanya akan kehilangan komando."


Anna mengangguk.


Anna menunjuk pada ribuan patung lagi, "Apakah mereka di buat dengan tanah khusus?"


"Ya... Mereka di buat dengan tanah neraka."


Kedua mata Anna melebar.


"Tanah neraka?"


"Y-ya..."


'Ternyata neraka benar-benar ada.'


《"Anna, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja? Aku mendengar mu sedang berbicara dengan seseorang, tapi kenapa ada makhluk kuat keluar dari balik air terjun?"》


Suara Gina terdengar di earphone Anna.


Anna tersenyum canggung.


"B-benarkah? Mungkinkah mereka keluar dari lorong lain? Ada banyak lorong disini." Sahut Anna, pura-pura tidak tahu.


《"Apa kau baik-baik saja?"》


Mendengar pertanyaan itu, membuat Anna merasa bersalah. Ia sebenarnya hanya ingin mengetahui sejauh apa kekuatan 4 rekannya sekarang. Monster berlevel SSS sangat cocok untuk menguji kekuatan mereka.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Urus saja mereka."


《"... Berhati-hati lah, ok?"》


"... Y-ya..."


Setelah Gina tidak berbicara padanya lagi, Anna kembali berbicara pada makhluk itu.


"Bisa kau membawa ku ke neraka?"


Makhluk itu semakin bingung. Neraka, bagi makhluk di hadapannya, merupakan tempat terkutuk. Setahu makhluk itu, tak satu pun dari bangsa mereka mau pergi ke neraka.


Bahkan, para petinggi mereka sendiri pun tidak mau untuk pergi ke tanah terkutuk tersebut dan hanya mengirimkan jiwa-jiwa tersesat ke neraka untuk di jadikan budak.


"A-apa Anda yakin?"


Anna mengernyitkan alisnya.


'Ada apa lagi? Apa ada tindakan ku yang salah? Tindakan yang seharusnya tidak dilakukan pemilik tubuh ku ini?'


"Tentu saja. Ayo kita pergi ke tempat asal mu."


•••