Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 166 - Panggilan Dari Ketua Asosiasi Dunia


Langit malam yang cerah di Kepulauan Fiji dipenuhi oleh bintang yang berkelap-kelip, tidak seperti di Kota C yang jarang sekali terlihat.


Tiupan angin malam yang sejuk terasa di kulitnya, menambah kesegaran atas kenikmatan malam yang sudah lama tidak dirasakannya.


Anna menikmati indahnya malam tersebut dengan ditemani secangkir coklat hangat yang dibuatkan Gina khusus untuknya.


Entah sudah berapa lama ia tidak duduk-duduk santai seperti malam ini sejak ia kembali ke Bumi.


Kebetulan sekali, vila tempat tim 1 berada, berlokasi di dataran tertinggi kota Suva, di komplek vila mewah, yang memang disediakan Asosiasi Kepulauan Fiji sebagai fasilitas Hunter sewaan yang sejak beberapa tahun lalu mereka sediakan untuk Hunter-hunter luar negri yang sedang dalam masa kontrak raid dengan negara tersebut.


Jadi, selain bisa melihat pemandangan bintang yang indah, Anna juga bisa melihat karnaval dadakan yang sedang berlangsung di tengah kota, dari tempat tersebut.


Setelah Kepulauan Fiji terbebas dari ancaman Dungeon peringkat SS, banyak warga negara mereka yang merayakan keberhasilan itu di sepanjang jalan.


Walaupun masih ada ratusan Dungeon yang belum ditangani, namun masyarakat tidak terlalu memikirkannya lagi seperti yang terjadi di hari-hari sebelumnya.


Dungeon-dungeon yang belum ditangani itu berada di peringkat A ke bawah. Jika sebelumnya mereka sangat khawatir karena ada banyak Dungeon peringkat A bermunculan di negara mereka, kekhawatiran itu kini telah sirna.


Selama guild Nine Bears masih berada di negara mereka dan terikat kontrak dengan Kepulauan Fiji, mereka masih bisa merasa aman.


Jika Dungeon peringkat SS saja bisa di tangani, apalagi Dungeon peringkat A. Mereka tidak meragukan kemampuan Hunter-hunter dari Nine Bears. Apalagi setelah mereka sudah menyaksikan secara langsung bagaimana tim dari Nine Bears melakukan raid.


Bukan hanya tim yang menangani Dungeon peringkat SS, tim lain juga sangat hebat. Tidak seperti Hunter-hunter sewaan sebelumnya yang terlalu membanggakan diri berlebih dan angkuh, tim dari Nine Bears bukan hanya hebat dalam membanggakan diri, mereka benar-benar hebat dalam hal yang sudah seharusnya seorang Hunter lakukan, membasmi monster. Terutama, tidak ada member dari Nine Bears yang angkuh seperti kebanyakan Hunter pada umumnya.


Karena itu juga, hanya dalam 1 hari, ketenaran dari guild Nine Bears naik semakin lebih tinggi lagi. Terutama ketenaran 5 Hunter yang telah melakukan raid di Dungeon peringkat SS.


Bukan hanya di Kepulauan Fiji. Bahkan, seluruh saluran televisi di seluruh dunia juga membantu menambah ketenaran mereka.


Selama 24 jam penuh dalam 1 hari, wajah-wajah dan tayangan raid yang mereka lakukan di dalam Dungeon di putar berulang kali hingga akhirnya hampir tak satu pun orang di seluruh dunia yang kini tidak mengenal Anna, Gina, Kevin, Bimo dan avatar Miyu.


Bersamaan dengan datangnya ketenaran yang sangat tiba-tiba itu, tim humas dari Nine Bears terpaksa harus bekerja ekstra. Panggilan-panggilan yang masuk dari banyak negara untuk menjadwalkan kontrak dengan Nine Bears, membuat para karyawan administrasi harus rela kerja lembur berjam-jam lamanya.


Negara-negara yang awalnya menertawakan visi dan misi Nine Bears yang tampak kekanak-kanakan, kini mulai membuka mata mereka dan memandang serius dengan visi-misi tersebut setelah melihat bagaimana cara mereka melakukan raid.


Bahkan, media-media juga sudah mengangkat kembali mengenai apa yang menjadi tujuan guild tersebut didirikan. Ada banyak headline yang membahas kembali mengenai visi-misi tersebut.


"Mengembalikan kedamaian dunia seperti sedia kala. Menutup semua gerbang Dungeon yang ada di muka Bumi."


"Guild Nine Bears tidak sedang main-main dengan apa yang ingin mereka tuju."


°°°


Anna berbalik saat merasa orang yang sejak tadi berjalan menuju ke arahnya sudah berada dekat di belakangnya.


Anna kemudian tersenyum lembut pada pria itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Anna pada Ren.


"A-aku... Aku sedang berjalan-jalan sambil mencari udara segar." Sahut Ren, dengan suara sedikit terbata.


Anna mengerutkan keningnya. "Kau jalan-jalan sejauh lima belas kilometer?" tanya Anna, merasa alasan itu sedikit tidak masuk akal. Ia tahu, lokasi villa tim 5 jauh dari lokasi vila tim 1 berada.


"Aku sekarang peringkat S. Jalan kaki sejauh itu tidak membuat ku lelah, jika itu yang kau maksud." Sahut Ren lagi, kali ini dengan tanpa menatap langsung pada Anna.


Jawaban itu membuat Anna tertawa. Tentu bukan itu yang dia maksud.


"Sepertinya kau memang ingin bertemu dengan ku, kan? Kau merindukan ku?" goda Anna, saat ia melihat Ren tampak kikuk.


"A-apa? Siapa yang merindukan mu? Aku cuma jalan-jalan."


Anna menunjuk ke arah pusat kota Suva yang terlihat jelas dari tempat mereka berada.


"Lihat, di sana ada konvoi besar-besaran. Kenapa kau tidak jalan-jalan ke sana saja?"


Ren menatap ke arah cahaya terang-benderang di pusat kota. Walaupun tidak seperti Anna yang bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di lokasi yang jaraknya cukup jauh itu, namun Ren tahu bahwa di sana sedang ada suatu perayaan atas berhasilnya kota Suva keluar dari ancama dungeon break besar seperti yang pernah terjadi 11 tahun lalu di Asia Tenggara.


"Itu terlalu jauh," sahut Ren.


Anna hendak tertawa lagi, namun kali ini ia bisa menahannya dengan baik.


"Begitu... Kalau begitu, selamat menikmati jalan-jalan mu..." Ucap Anna yang kemudian berbalik lagi, membiarkan Ren menatap punggungnya dalam salah tingkah.


Anna kemudian menepuk tempat kosong di sebelahnya. Tempat yang ia duduki adalah sebuah bangku panjang yang cukup untuk menampung 3 orang.


"Kalau kau memang mau bertemu dengan ku, duduk lah."


"Siapa yang..."


"Duduk saja."


Ren akhirnya duduk di sampingnya.


Ren datang ke tempat ini memang karena mengkhawatirkan Anna. Setelah tim nya, tim 5, kembali ke vila mereka tadi, ia menjadi gelisah saat mengingat apa yang Anna umumkan pada saat makan malam bersama.


Ren tahu bahwa Anna mungkin sedang dalam pertimbangan rumit tentang apa yang harus dilakukannya. Karena itulah ia menjadi khawatir.


"Kau mengkhawatirkan ku?" tanya Anna, begitu Ren sudah duduk.


Bagaimana mungkin mereka tidak mengkhawatirkan keputusan apa yang akan di ambil oleh seorang remaja yang masih belum memiliki pengalaman banyak dalam lingkungan Hunter profesional?


Ren tahu, sebelum ini, Anna tidak pernah berpengalaman untuk memikul tanggung jawab sebesar itu.


Membunuh iblis yang berkedok sebagai ketua Asosiasi Asia Tenggara bukan hal mudah.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ren akhirnya.


Anna mendesah pelan.


"Senang rasanya ada yang mengkhawatirkan ku."


"Ku rasa, semua orang di guild kita pasti mengkhawatirkan mu."


Anna mengangguk. "Ya. Aku senang berada di antara kalian semua."


Kedua remaja itu akhirnya duduk dalam diam di sana, sampai beberapa menit kemudian.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke sana?" Tanya Ren, seraya menatap pada keramaian di pusat kota yang sebenarnya terlihat hanya sebagai kelap-kelip kecil di kejauhan.


Anna tertawa.


"Kau mengajak ku berkencan?"


Ren berdiri. "Aku pulang saja kalau begitu."


Namun, Ren merasakan tangan ramping dan lembut menggenggam tangannya secara tiba-tiba. Tangan ramping itu kemudian menariknya hingga mau tak mau Ren menghentikan langkah kakinya.


Ren menoleh pada Anna, yang baru saja menahannya. Sedangkan Anna yang akhirnya melihat wajah Ren kembali, tertawa.


"Oh..., kenapa wajah mu memerah?"


"Apa?! Ren merasa suhu tubuhnya tiba-tiba meningkat. "Di sini panas."


Anna akhirnya berdiri sambil masih menggenggam tangan Ren.


"Ayo kita ke sana." Ucap Anna yang kemudian membawa Ren berteleportasi, tanpa menunggu persetujuan dari pria itu.


•••


Pagi harinya, saat Anna kembali ke vila tim 1, dia menemukan ketiga rekannya masih berada di ruang tengah. Sangat terlihat jelas jika mereka tidak tidur semalaman dan sedang berpesta bir.


Gina yang terlebih dulu menyadari kehadiran Anna, langsung menyapa gadis itu.


"Kau sudah kembali?"


Anna mengangguk, seraya memerhatikan puluhan kaleng bir yang berserakan di meja, kursi dan lantai, di sekitar tempat Gina, Kevin dan Bimo duduk.


"Kau pergi ke mana?" tanya Kevin, yang semalam sempat pergi ke taman untuk mencari Anna.


"Melihat karnaval."


Mendapat jawaban itu, Kevin melirik pada Gina dan Bimo yang juga saling melirik.


"Ada apa? Kenapa kalian saling melirik?" Tanya Anna, merasa tidak nyaman saat menebak ada yang mereka sembunyikan darinya.


Sebenarnya, ketiga rekannya itu hanya khawatir padanya, tidak ada hal lainnya.


"Tidak apa-apa," sahut Gina. "Kau mau sarapan?"


Anna menggelengkan kepalanya. Selain tidak bisa merasakan lapar lagi, ia dan Ren kebetulan baru saja sarapan di sebuah restoran tepi pantai sebelum mereka kembali ke vila masing-masing.


Dibandingkan itu, Anna lebih penasaran dengan hal lain. Dia akhirnya pergi ke sofa dimana Gina duduk bersender, menyingkirkan banyak kaleng bir di samping Gina, lalu duduk di sana.


"Apa ada berita baru?" tanya Anna. Dia sempat sedikit 'menguping' pembicaraan Gina dan Fernando Cavalli di telepon tadi malam.


"Fernando Cavalli, ketua Asosiasi Dunia mengundang kita ke Roma."


"Kita akan pergi?" tanya Anna, pura-pura tidak tahu.


"Ya. Aku sudah menyetujuinya."


"Ok."


Setelah Gina selesai berbicara pada Anna, Kevin menegakkan tubuhnya.


"Apa sudah kau putuskan? Apa yang akan kau lakukan pada Li Wen Xia?"


"Aku akan menemuinya setelah urusan kita di sini selesai." Sahut Anna.


"Kau akan langsung menemuinya? Apa yang akan kau lakukan?"


Anna menggelengkan kepalanya. "Aku belum bisa memutuskannya sekarang. Mari kita lihat nanti, setelah aku bertemu dengannya."


•••••••