Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 144 - Damballa (2)


Beberapa saat setelah semua Hunter keluar dari Dungeon, awan hitam yang berada di atas gerbang Dungeon tiba-tiba mengeluarkan energi sihir kembali.


Energi sihir tersebut bahkan jauh lebih besar dari yang sebelumnya terasa, saat masih aktif mengirimkan makhluk-makhluk purba.


Dari dalam awan, kilat sihir kembali bermunculan. Kekuatan sihirnya juga lebih kuat dari sebelumnya, bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan yang sebelumnya. Kilatan sihir tersebut meledakan segala sesuatu yang berada di darat yang terkena sambarannya.


Namun, kilat sihir yang sambung menyambung tersebut tidak terjadi lama. Tidak sampai satu menit setelahnya, kilat yang menyambar-nyambar itu menghilang seolah hanya menjadi pembawa berita mengenai hal lain yang akan datang.


Tak lama kemudian, dari dalam lubang hitam yang berada di tengah-tengah awan hitam, Anna melihat asap hitam mengalir keluar seperti sebuah banjir yang mengalir begitu deras.


Asap hitam itu tampak seperti makhluk hidup yang bergerak-gerak di udara seperti sekor ular, lalu terbang menghampiri Anna dengan sangat cepat.


Anna mengebaskan tangannya, bermaksud untuk memusnahkan asap hitam yang mengandung energi sihir, namun tindakannya itu hanya membuat gumpalan asap hitam terpencar menjadi beberapa bagian, lalu berkumpul menjadi satu kembali di tempat yang agak jauh darinya.


Asap hitam terus mengalir keluar dari gerbang dan terus terbang menghampiri Anna.


Anna merasa sedikit panik. Asap hitam tersebut mengandung energi sihir yang jauh lebih besar di bandingkan sihir milik Damballa. Karena itulah ia tidak bisa berkonsentrasi dengan keadaan di sekelilingnya dan hanya terfokus pada asap yang keluar dari lubang hitam di tengah awan.


Semakin Anna menyingkirkannya, asap berdatangan semakin banyak menghampiri, hingga akhirnya asap hitam yang kini sudah berada di dekat tubuhnya, berhasil mengitari dan membungkus seluruh tubuh Anna sampai lenyap di dalamnya.


Namun, hanya sesaat setelahnya, Anna berhasil menyingkirkan asap tersebut dengan kekuatan sihir yang lebih kuat.


Walaupun ia sudah menggunakan lebih banyak energi Mana untuk menyingkirkannya, asap hitam tidak bisa dimusnahkan seperti ia biasa menyingkirkan debu yang beterbangan setelah terjadi ledakan sihir.


Pilihannya hanyalah menyingkirkan asap tersebut seperti sebelumnya, hanya untuk menjauhi dirinya saja.


Karena sibuk dengan gelombang asap yang selalu berdatangan, Anna terlambat memerhatikan keadaan yang terjadi di tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh darinya.


Tumpukan asap hitam lain berkumpul di satu titik lalu berubah menjadi wujud padat yang menyerupai seekor ular raksasa.


Semakin lama, wujud itu tampak semakin jelas dan berubah menjadi sosok makhluk ular raksasa berkepala manusia.


Anna yang akhirnya menyadari adanya sosok itu terkejut, saat melihat dan mengenali wajah sosok ular berkepala manusia tersebut.


Wujud yang menyerupai seorang manusia berambut pirang yang tak lain adalah Damballa.


'Dia masih hidup?!'


Secara perlahan, rambut-rambut di kepala Damballa rontok. Dari kepalanya mencuat dua tanduk yang semakin lama semakin memanjang.


Sisik-sisik yang menyerupai sisik ular mulai bermunculan di seluruh tubuhnya.


Walaupun Anna terkejut sesaat setelah melihat lawannya ternyata masih hidup, namun Anna tidak mau lagi kehilangan kesempatan seperti sebelumnya. Ia langsung mengerahkan energi sihirnya dan menyerang makhluk itu sebelum perubahan wujudnya menjadi sempurna.


Wussshhhh... Bannnngggg!!!


Namun, serangannya dipatahkan oleh ratusan ular yang menjelma dari asap-asap hitam yang sejak tadi Anna singkirkan untuk menjauhinya.


Ular-ular yang memiliki lebar tubuh 2 meter dan panjang rata-rata di atas 10 meter tersebut, menghadang semua serangan Anna dengan mengorbankan diri mereka.


Terkejut dengan kemunculan ratusan ular yang datang secara tiba-tiba karena fokusnya teralih saat melihat perubahan wujud Damballa, Anna kini memerhatikan dari mana ular-ular tersebut berasal dan akhirnya menyadari bahwa asap hitam yang terus keluar dari gerbang di awan telah berubah wujud menjadi ular.


Ular-ular itu kini mengepung Anna dan menyemprotkan cairan beracun dari mulut mereka.


Di hujani cairan beracun yang mengandung energi sihir, Anna dapat merasakan energi Mana nya menurun dengan lumayan cepat akibat pelindung keemasan yang menutupi tubuhnya sangat terpengaruh oleh racun dari ular.


Menyadari semua asap yang keluar dari awan telah berubah wujud menjadi ular, Anna langsung mengingat gerbang Dungeon yang masih terbuka. Tentu saja ia menjadi sangat khawatir lalu menoleh ke arah gerbang dan melihat ular-ular sudah keluar dari sana, ke dunia manusia.


"Sialan!"


Ular-ular itu memiliki energi Mana yang sedikitnya setara dengan seorang Hunter berperingkat S.


Walaupun mereka tidak sekuat Ty-Rex dan makhluk berkulit merah yang menjadi lawan sebalumnya, Namun, jika ratusan atau bahkan ribuan ular itu sampai menginvasi dunia manusia, Anna sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada umat manusia.


Anna mengabaikan ular-ular yang mengepungnya. Ia menghentakkan kakinya lalu terbang menuju gerbang.


Namun, baru saja ia berada setengah perjalanan menuju gerbang, tubuhnya tiba-tiba terhisap oleh sebuah kekuatan yang menariknya dengan sangat kuat dari arah belakang.


Anna menoleh ke belakangnya dan melihat sosok makhluk tinggi besar yang berada di antara ratusan ular.


Makhluk itu memiliki sepasang tanduk panjang yang mencuat dari kepalanya yang botak.


Lidah panjang terjulur dari mulutnya yang lebar sampai hampir menyentuh cuping telinganya. Di sisi-sisi atas dan bawah mulutnya dipenuhi taring-taring hitam kecil yang runcing.


Anna juga melihat di masing-masing tangan makhluk yang memiliki tinggi empat kali lipat dari tubuhnya itu, ada sebuah boneka kayu dan sebuah tombak kecil.


Makhluk itu menatap Anna dengan tatapan tajam dengan kedua bola matanya yang mirip seperti mata ular.


"Ini wujud asli nya? Manusia ular?" Anna menatap Damballa yang sudah berada di wujud aslinya dengan perasaan jijik bercampur ngeri.


Anna berusaha melawan daya hisap yang ia tahu berasal dari lidah Damballa yang berputar-putar di depan wajahnya.


Dengan mematahkan sihir penghisap itu, Anna kini dapat menguasai tubuhnya lagi dan berdiri agak jauh dari tempat Damballa berada.


Damballa tampak sedikit terkejut saat sihir nya berhasil di patahkan denan mudah dan ia menatap Anna dengan sangat marah.


'Hah? Apa yang terjadi?'


Setelah bertatapan dengan Anna, Damballa kemudian menatap pada boneka kayu di tangan kanannya dan berkedip sekali. Lalu, wujud boneka kayu di tangan kanannya itu berubah bentuk menjadi sosok boneka yang menyerupai wujud seorang wanita.


Anna mengernyitkan kedua alisnya saat ia melihat wujud boneka itu berubah menyerupai dirinya.


"Apa itu?"


Saat ia masih bertanya-tanya mengenai benda di tangan kanan lawannya, Anna dikejutkan oleh rasa sakit yang tiba-tiba terasa menusuk di dadanya, begitu makhluk di hadapannya menusukkan tombak kecil di tangan kirinya pada boneka.


“Ukh…! A-apa yang terjadi?!”


Anna memegangi dada nya dan merasakan sakit menusuk yang semakin kuat saat makhluk itu memelintirkan tombak dan menusukkannya lebih dalam pada tubuh boneka.


"Akhhh...!"


“Sekarang, kau hanyalah boneka tak berguna yang takluk di bawah sihir ku.” Ucap Damballa yang kemudian terkekeh.


Melihat wajah kesakitan Anna, Damballa tertawa nyaring dengan nada mengejek.


“Apa ini sihir voodoo?” pikir Anna, seraya mengirimkan energi sihir ke dadanya yang sakit seakan ada seseorang yang menusuk dan memelintirnya.


“Makhluk rendahan seperti mu, harus berlutut saat bertemu dewa agung seperti ku!”


Setelah Damballa berbicara, ia mencabut tombak kecil dari dada boneka, lalu menusukkannya lagi ke kedua kaki boneka secara bergantian.


Suttt... Suttt...


Pada saat yang bersamaan dengan tiap tusukkan, Anna merasakan sakit di kedua kakinya yang kemudian membuatnya kehilangan kekuatan pada pijakannya dan jatuh berlutut.


Melihat lawannya tersungkur, Damballa tertawa lagi dengan suara yang lebih nyaring.


Suara tawa yang disertai oleh energi sihir itu menggetarkan daratan dan membuat retakan-retakan pada bukit batu di sekitar mereka.


Sementara Damballa menyiksa Anna dengan sihir voodoo yang sangat kuat dan juga mengikat pergerakannya, ratusan ular hitam kembali pergi menyerbu Anna lalu mengepungnya.


Namun, ular-ular tersebut tidak langsung menyerang Anna. Ular-ular itu menjaga jarak mereka dari Anna dan mengelilinginya dari jarak yang agak jauh.


Damballa terus menusukkan tombak kecil ke boneka di tangannya yang lain. Kali ini, dia menusuk bagian kepala boneka dan membuat Anna merasakan sakit di kepalanya.


Anna memegangi kepala dengan kedua tangan sampai akhirnya ia jatuh bergulingan di tanah saat tidak sanggup lagi merasakan sakit saat Damballa memelintirkan tombak kecil di kepala boneka.


Siksaan tidak sampai di situ. Ratusan ular yang sudah mengepung Anna mulai menyemburkan cairan beracun lagi hingga banjir racun menyelimuti seluruh tubuh Anna yang kini tidak dilindungi oleh pelindung sihirnya.


°°°


Pada saat itu, dari dalam awan, keluar 2 sosok makhluk berwujud manusia dengan masing-masing dari mereka yang juga memiliki rambut berwarna pirang seperti Damballa, sebelum ia berubah ke wujud aslinya.


"Apa yang terjadi? Siapa yang membuat mu kerepotan sampai berubah ke wujud asli mu?" Tanya salah satu makhluk seraya menatap pada kubangan lendir beracun yang menutupi seluruh tubuh Anna.


Ia dan rekannya yang masih berada di 'markas', merasa penasaran saat merasakan dinding-dinding goa di tempat mereka berada mulai kehilangan banyak energi sihir yang artinya rekan mereka, Damballa, telah menggunakan banyak kekuatan untuk bertarung. Karena rasa penasaran itu, mereka akhirnya pergi untuk melihat keadaan di luar 'markas'.


"Makhluk rendahan yang menggunakan tubuh Ann Arnix," sahut Damballa. Nada bicaranya terdengar sedikit kasar karena ia masih merasa marah pada Anna yang telah membuatnya sampai harus menunjukkan wujud aslinya.


"Apa?! Ada makhluk lain yang menggunakan tubuh Ann Arnix?!" tanya makhluk lain dengan ekspresi wajah terkejut.


"Ya. Dia juga memiliki energi Mana miliknya," sahut Damballa lagi.


Kedua makhluk itu menatap ke arah kubangan lendir beracun dengan tatapan tidak percaya.


Mereka mendapatkan informasi bahwa Ann Arnix telah tewas sedekade yang lalu saat ia bertarung dengan tidak adil melawan 13 rekan mereka.


Walaupun Ann Arnix, yang saat itu bertarung hanya di bantu oleh salah seorang adiknya, telah tewas, namun mereka juga berhasil menewaskan 13 jendral tertinggi dari kelompok para makhluk.


"Kau mengatakan bahwa dia mungkin makhluk lain yang menggunakan tubuh Ann Arnix?" tanya salah satu makhluk pada Damballa. "Dia bukan Ann Arnix, kan?" tanya nya lagi karena merasa ngeri jika harus bertarung dengan musuh besar kaum nya itu.


"Aku yakin memang demikian. Jika itu Ann Arnix, aku mungkin sudah binasa sejak tadi. Dia memang memiliki inti Mana yang sama sepertinya, tapi dia tidak bisa menggunakan kekuatan Mana itu seperti Ann Arnix."


Rekan Damballa itu menatap ke arah kubangan lendir racun dengan tatapan ngeri. Ia sekarang jadi lebih takut pada Ann Arnix saat mengetahui kekuatan musuh besar kaum nya itu tetap sangat mengerikan walaupun tidak digunakan dengan sempurna oleh makhluk lain, "Untung saja dia sudah tewas." Pikirnya.


"Apa kalian pikir aku tidak bisa menggunakan kekuatan ku dengan benar?"


Ketiga makhluk itu terkejut saat mendengar suara yang terdengar jelas seakan sedang berbicara dekat di telinga mereka.


Mereka menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan pemilik suara namun sama sekali tidak menemukannya.


Saat mereka masih kebingungan, ketiganya dikejutkan lagi saat tempat mereka berdiri tiba-tiba dinaungi cahaya keemasan yang semakin lama semakin terang hingga menyilaukan mata.


Ketiganya menoleh ke atas lalu menatap ke arah datangnya cahaya emas dengan mata yang menyipit, hanya untuk terkejut lagi setelah melihat wujud cahaya yang berupa telapak tangan raksasa sudah berada hanya 10 meter di atas mereka.


•••