Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 50 - Elf (3)


Nyrna masih takjub dengan pengalaman yang baru didapatnya.


Ia adalah Elf yang sangat terkenal dengan kecepatan gerak yang sudah menjadi keahlian bawaannya sejak lahir. Apalagi setelah ia dengan serius mengasah keahliannya itu, ia kini dikenal sebagai Elf yang memiliki kecepatan tertinggi di antara para Elf di klan nya, bahkan mungkin di antara semua bangsa Elf.


Tapi, apa yang baru saja ia alami tadi membuatnya memiliki pengalaman baru.


“Itu bukan menggunakan kecepatan, bukankah tadi kami berteleportasi?” Pikir Nyrna mengingat kejadian tadi.


Ia memang pernah mendengar cerita tentang adanya keahlian berteleportasi. Tapi, sejauh yang ia tau, kemampuan berteleportasi hanyalah sebuah legenda. Hanya sebuah cerita yang dilebih-lebihkan. Bagaimana bisa hal itu menjadi cerita nyata?


Tidak ingin larut dalam rasa terkejutnya, Nyrna kemudian menatap lekat-lekat pada makhluk yang tadi menyelamatkannya dari kematian dengan cara berteleportasi.


Setelah itu, Nyrna melihat sekelilingnya dan tidak menemukan keberadaan 3 Elf lain yang sebelumnya bertarung dengan Eleanor, Glynka dan Cirdan.


“Mereka di bawah sana.” Ucap Cirdan seakan tau apa yang sedang Nyrna cari.


Nyrna mengikuti arah tatapan Cirdan dan melihat 3 tubuh tanpa kepala yang tergeletak di atas rerumputan dibawah sana.


Nyrna menoleh pada Cirdan.


Seakan bisa berbicara melalui telepati atau mengerti arti tatapan Nyrna, Cirdan menggelengkan kepalanya.


‘Apakah dia yang melakukannya?’


‘Aku tidak melihatnya. Kepala mereka tiba-tiba meledak saat masih bertarung dengan kami.’


•••


Pemimpin Elf Klan Angin yang arogan, kini memilih untuk berhati-hati dalam mengambil langkah dan tidak berani untuk langsung menyerang lawan yang baru saja muncul dihadapannya, tidak seperti saat ia langsung dengan percaya diri menyerang Fael dan Nyrna tadi.


Ia tau bahwa makhluk di hadapannya saat ini bukan sekedar memiliki kecepatan saja. Ia tadi bahkan tidak dapat merasakan kehadirannya.


“Itu pasti teleportasi.” Pikirnya.


Jarak pedangnya tadi hanya beberapa jari dari leher Nyrna. Kesempatannya untuk membunuh Elf wanita itu sudah mencapai 99,9% namun ia gagal di detik terakhir saat Nyrna yang hanya memiliki kesempatan untuk lolos hampir 0% itu tiba-tiba lenyap dari pandangannya hingga serangannya hanya berhasil menebas batang pohon.


Walaupun tadi ia terlambat menyadarinya, namun ia tau bahwa makhluk dihadapannya inilah yang telah menyelamatkan Nyrna.


Mungkin, kesempatan tadi adalah kesempatan terbaiknya untuk dapat membunuh Nyrna dengan mudah saat Elf wanita itu sedang lengah. Nyrna terkenal dengan kecepatannya. Sangat sukar untuk menyerangnya jika sedang dalam keadaannya yang fit dan awas.


Nobara, pemimpin Elf Klan Angin menatap tajam makhluk di hadapannya. Wajahnya anggun, mirip seperti bangsanya.


Namun, ada sedikit perbedaan diantara mereka.


Telinga makhluk itu tumpul, tidak seperti telinga yang bangsa Elf miliki, yang berbentuk sedikit runcing di bagian ujungnya.


Sementara Nobara masih memperhatikannya, makhluk itu tersenyum padanya dan kemudian berbicara.


“Kau ingin mencoba untuk bertarung dengan ku?” Tanya Anna sambil berjalan pelan menghampiri Nobara.


Sikapnya sungguh sangat tenang. Ia bahkan tidak memperdulikan bahwa lawan di hadapannya itu benar-benar sangat kuat. Ia juga bahkan tidak perduli pada ratusan pasukan yang dimiliki Nobara di bawah sana, yang siap menyerang kapanpun Nobara memberikan perintah.


Nobara menatap Anna dengan tajam. Elf adalah bangsa yang memiliki rasa percaya diri tinggi akan kekuatan yang mereka miliki.


Walaupun tanpa kesan meremehkan, namun apa yang baru saja Anna ucapkan, terasa seperti melecehkannya.


Tapi, walaupun ia marah, Nobara yang sudah hidup selama ratusan tahun dan berpengalaman dalam menilai lawan, masih bisa mengontrol kemarahannya.


“Siapa kau?” Nobara akhirnya bertanya balik.


Anna kini hanya berjarak 3 meter dari Nobara. Ia tersenyum kembali sebelum berbicara.


“Aku adalah kaum pemburu dari luar gerbang.” Sahut Anna. Setelah mengatakan kalimat itu, ia menatap Nobara dengan penuh selidik.


Anna sudah memiliki sedikit pengetahuan mengenai apa yang makhluk-makhluk Dungeon pahami mengenai zona perang dari Tzaca, Orc Penyihir.


Ia ingin tau, apakah Nobara mengerti maksud dibalik kalimatnya.


Tentu saja, bukan hanya Nobara yang tau siapa itu pemburu yang berasalndari luar gerbang. 5 Elf yang berdiri di belakang Anna juga sudah tau cerita itu.


Semua Elf yang berada di depan dan belakang Anna kini menjadi lebih waspada


“Jangan khawatir. Aku cuma sendirian.” Ucap Anna lagi.


Pada titik ini, Nobara menjadi sangat ragu. Ia sudah mendapatkan perintah dari makhluk yang menyebut dirinya dewa untuk menghabisi semua makhluk pemburu yang berasal dari luar gerbang.


Namun, dari instingnya, makhluk di hadapannya ini tampak sangat berbahaya jika harus dilawan.


Nobara bukanlah petarung kemarin sore. Hanya dari sorot mata lawannya, ia tau jika makhluk itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan kemampuannya.


Bukan hanya rasa percaya diri yang kosong, itu adalah tatapan yang seolah-olah berbicara padanya, ‘Aku akan memberikan mu kesempatan untuk hidup jika kau masih ingin hidup’.


‘Glup.’


Nobara meneguk ludahnya.


Semakin lama ia menatap lurus pada kedua mata makhluk anggun dihadapannya, ia seakan semakin tau seberapa kuat makhluk itu.


“Apa kau ingin mencoba bertarung dengan ku?” Tanya Anna kemudian.


Nobara tidak memberikan jawaban. Ada beberapa pertimbangan di dalam benaknya.


‘Apakah dia sedang bermain-main dengan ku? Atau dia hanya ingin mencoba untuk bertarung?’


“Tapi aku memiliki syarat. Jika kau kalah, kau dan seluruh pasukan mu akan menjadi pengikut ku.” Anna menambahkan.


Mendengar apa yang baru saja Anna ucapkan, Nobara menghela nafas pelan. Tentu saja, itu semua adalah tentang penaklukan.


Walaupun apa yang dimaksudkan Anna sedikit berbeda dengan pengertian yang dimiliki Nobara, namun bangsa Elf sudah terbiasa dengan hal itu.


Untuk itulah, 5 Klan Elf selalu bertempur sejak dunia mereka diciptakan. Untuk menaklukkan klan lain dan mendapat sumber daya sihir untuk memperkuat klan.


Nobara menatap Anna dengan curiga. Ia kemudian berbicara.


“Kalau aku menolak untuk takluk?”


Anna mendengus.


“Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah itu artinya kau tau kalau kau akan kalah?”


Nobara terkesiap. Sebenarnya, pertanyaan tadi hanya secara tak sengaja terpikirkan olehnya. Atau mungkin, pertanyaan itu muncul atas rasa takutnya.


Apa yang makhluk dihadapannya itu katakan memang benar. Jika ia berpikir demikian, ia memang tak yakin bisa menang saat bertarung dengannya.


“Bukankah Elf memiliki sikap yang angkuh? Apalagi, kau adalah Dark Elf.” Ucap Anna.


‘Angkuh? Dark Elf?’


Bukan hanya Nobara, tapi 5 Elf di belakang Anna sedikit bingung dengan istilah yang baru Anna sematkan pada bangsa mereka.


Berbeda dengan cerita yang beredar di antara para Hunter di Bumi yang menganggap Elf memiliki sikap yang angkuh, sebenarnya bangsa Elf hanya memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi yang benar-benar berbeda dari keangkuhan yang manusia maksudkan.


“Aku tidak mengerti apa maksud perkataan mu.” Sahut Nobara.


“Maksud ku, kesombongan yang harusnya menjadi sifat dasar bangsa mu sepertinya tidak tampak.” Anna menjelaskan.


Kali ini, Anna benar-benar ingin berbicara baik-baik dengan makhluk penghuni Dungeon. Ia tak ingin kehilangan calon sekutu seperti makhluk-makhluk berwujud binatang yang tidak bisa dia ajak berbicara sama sekali.


Anna memiliki rencananya sendiri untuk masa depan. Dan dia membutuhkan pasukan.


Jadi, karena itulah Anna merasa sedikit senang saat bisa 'bernegosiasi' dengan makhluk di hadapannya itu dengan tenang.


Nobara, walaupun memaksakan diri, tersenyum pada Anna.


“Jadi itu penilaian bangsa mu pada kami...” Ucap Nobara pelan.


Anna mengangguk. Namun, ia baru terpikir mengenai hal itu.


“Benar juga. Itu cuma pemikiran mereka, para Hunter. Tidak seharusnya aku menilai dengan cara yang sama.” Pikir Anna.


“Lalu, apa maksud mu tentang Dark Elf tadi?” Nobara bertanya. Ia benar-benar tak nyaman disebut sebagai Dark Elf.


“Tubuh mu berwarna ungu,” Anna berkata sambil menunjuk pada Nobara. Ia kemudian menoleh dan melirik pada 5 Elf dibelakangnya. “Berbeda dari mereka.”


Nobara tampak sedikit terkejut dengan istilah itu.


Klan Angin sebenarnya tidak dilahirkan dengan warna kulit berbeda dari klan lainnya.


Kulit asli bangsa Elf berwarna merah muda dan sangat cerah.


Hanya setelah memakan pil penguat tubuh pemberian dewa, warna kulit mereka berubah sepenuhnya.


“Sepertinya aku salah?” Ucap Anna dengan alis yang mengerut.


Nobara tidak menjawab pertanyaan Anna. Ia sedikit malu jika harus mengakui bahwa mereka terpengaruh dengan kata-kata dewa dan memakan pil pemberiannya hingga pada akhirnya ia menyesali keputusan tersebut di belakang hari.


Melihat Nobara tampak tidak ingin menjawabnya. Anna kembali berbicara.


“Jadi, apa kau tidak ingin bertarung?”


Nobara kembali menatap Anna dengan wajah serius, sebelum memberikan pertanyaan lain.


“Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak ingin bertarung?”


Anna menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


“Aku tidak akan melakukan apapun pada mu. Itu berarti kau menyerah. Kau dan pasukan mu harus jadi pengikut ku."


Nobara hampir saja tertawa. Bagaimana mungkin Klan Angin yang belum pernah takluk pada klan mana pun, menyatakan takluk pada makhluk asing di hadapannya itu dengan mudah?


Ia kemudian menatap Anna dengan sedikit ejekan di matanya, lalu bertanya.


“Kalau aku tidak mau?”