Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 203 - Persembahan Para Elf


Setelah Anna membuka gerbang ke dunia buatannya, Anna berteleportasi lagi ke wilayah Klan Es.


Seperti nama klannya, klan itu bermukim di wilayah hutan bersalju yang dikelilingi pegunungan es dan sungai besar yang telah membeku.


Selama ratusan ribu tahun, Klan Es telah mempelajari sihir pembeku dan bertarung dalam kecepatan seperti keahlian Klan Angin.


°°°


Saat Anna tiba di sana, pertempuran juga sudah selesai. Pada waktu itu, Anna melihat Nyrna dan Cirdan sedang berada di dekat 10 gerobak kayu besar yang sudah menampung banyak karung-karung yang terbuat dari kulit kayu.


“Dewi agung,” sapa Nyrna seraya berlutut di hadapan Anna saat ia melihat Anna secara tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


“Di sini sudah selesai juga?” tanya Anna yang kemudian melihat bangsa Elf dari Klan Es sedang mengangkat mayat-mayat bangsa penjajah dan menumpukkan mereka menjadi satu.


“Ya, dewi agung,” sahut Nyrna.


“Apa yang akan mereka lakukan pada mayat-mayat itu?” tanya Anna, sambil masih menatap ke arah tumpukan mayat.


“Mereka akan membekukan mayat-mayat itu sampai mengeras dan menghancurkannya.”


“A-apa?” Anna merasa menyesal. Padahal energi Mana mayat-mayat itu bisa di ekstrak. Ia kemudian berbicara dengan suara pelan pada Nyrna, “Apakah boleh kalau kita mengambil mayatnya?”


Awalnya, Nyrna terlihat bingung. Namun ia langsung menyadari mengapa Anna memintanya.


“Apakah tuan Tzaca dan nona Ele bisa mengekstraknya, dewi agung?”


“Ya!” sahut Anna dengan mata berbinar.


Mengetahui itu, Nyrna dan Cirdan membungkuk lebih dalam dengan seringai lebar di wajah mereka. Jika itu benar, maka energi Mana mereka lagi-lagi akan meningkat pesat, pikir Nyrna dan Cirdan.


Kedua Elf itu akhirnya meminta izin untuk pergi ke tumpukan mayat dan meminta semua Elf untuk menghentikan sihir pembekuan.


Anna kemudian membuka gerbang lagi.


Lalu, dengan di bantu para bangsa Elf dari Klan Es, Cirdan akhirnya membawa semua mayat ke dunia mereka, sementara Nyrna kembali ke samping Anna.


“Apa ini kristal sihir?” tanya Anna pada Nyrna seraya menatap gerobak-gerobak yang terisi penuh dengan tumpukan karung.


“Ya, dewi agung. Pemimpin klan menanyakan apa yang mungkin Anda suka untuk persembahan agar mereka bisa mengucapkan terima kasih dengan pantas. Jadi, hanya ini yang terlintas di benak saya."


Mendengar itu, tentu membuat Anna bingung.


“Apa yang sudah ku lakukan hingga mereka harus berterima kasih pada ku?”


“Karena Anda mengizinkan kami untuk membantu mereka.” Sahut Nyrna, dengan wajah berseri yang tampak ia sembunyikan.


Dari raut wajah Elf wanita itu, Anna bisa melihat keharuan juga ada di sana. Anna memang tahu bahwa Nyrna dan Elf lainnya terlihat sangat ingin membantu klan mereka walau mereka tidak berani mengatakan dan meminta izin pada Anna secara langsung.


Anna juga akhirnya menyadari bahwa para Elf sepertinya sudah menganggap Anna sebagai tuan mereka dan menganggap mereka adalah pasukan miliknya.


Sementara Nyrna sendiri, sangat ingin membantu klan nya terbebas dari ancaman pembantaian dan perbudakan dengan kekuatan baru yang ia miliki.


Anna menatap wajah Nyrna dengan takjub.


"Bukankah kau dari klan mereka? Kenapa mereka harus berterima kasih pada ku?”


Pada saat itu, sosok Elf dengan tubuh tinggi menyerupai Nobara dan Zobyr, menghampiri mereka.


Anna terkejut ketika Elf itu tiba-tiba berlutut di hadapannya.


“Terima kasih, dewi agung. Senang bertemu dengan Anda secara langsung.” Ucap Elf berambut putih itu.


“Tunggu dulu. Apa yang terjadi?”


“Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda telah meminjamkan kekuatan Anda pada kami.”


“Oh…, y-ya… itu tidak masalah.” Anna tersenyum canggung seraya melirik pada Nyrna. Itu memang seperti yang ia duga sebelumnya. Mereka memandang situasi dengan sangat berlebihan, karena menganggap Anna adalah majikan dari Nyrna dan Cirdan.


•••


Setelah semua mayat dan gerobak kristal sihir dipindahkan ke dunia buatan, Anna membawa Nyrna dan Cirdan untuk pergi ke wilayah Klan Angin untuk menutup gerbang di sana, sebelum mereka semua akhirnya pergi dengan berteleportasi lagi ke Klan Api.


Setelah mereka tiba di Klan Api, Anna melihat Fael dan Eleanor berdiri di depan gerbang tampak sedang berdiskusi.


"Kami sedang berpikir apakah kami harus menghancurkan pilar sihir ini atau menyerang balik musuh, dewi agung." Sahut Fael sembari menatap ke arah pilar sihir di samping gerbang.


Itu adalah menara yang sebelumnya di bangun oleh utusan pasukan penjajah.


"Hancurkan saja," sahut Anna. Ia juga sebelumnya sudah meminta Elf Klan Angin dan Klan Es untuk menghancurkan pilar sihir dan membiarkan gerbang tertutup.


Anna ingin segera kembali ke Bumi untuk mengejar iblis yang sudah membunuh Ren, jadi dia tidak ingin repot-repot menyerang bangsa lain lagi.


Fael mengangguk. Lalu, dengan satu sepakan ringan, ia pun menghancurkan pilar tersebut dan gerbang sihir akhirnya tertutup beberapa menit setelahnya.


Tak lama kemudian, Glynka dan Zobyr datang menghampiri Anna, bersama dengan pasukan Elf yang memikul banyak karung kulit kayu di pundak mereka.


"Dewi agung, mereka memberi kita banyak kristal sihir." Ucap Glynka di antara senyumnya.


Anna melihat itu dengan tatapan takjub yang sama, seperti saat melihat bagaimana Klan Angin dan Klan Es juga memberikannya persembahan itu.


Dia benar-benar takjub tanpa di buat-buat. Anna tidak menyangka, bangsa Elf adalah bangsa yang sangat loyal pada penolong mereka.


"Terima kasih...," ucap Anna pada Zobyr.


Melihat wajah tulus Anna saat mengatakannya, Zobyr malah terlihat jauh lebih senang dari pada yang di beri persembahan.


"T-tidak masalah dewi agung. Saya juga sudah mengatakan pada Glynka bahwa mereka boleh kembali kapan saja apabila membutuhkan lebih banyak kristal sihir." Sahut Zobyr dengan penuh semangat.


°°°


Saat mereka semua sedang asik mengobrol, mereka dikejutkan oleh kedatangan sosok Elf, utusan dari Klan Tanah, yang memacu tunggangannya dengan sangat cepat.


Wajahnya tampak pucat dan bersimbah keringat akibat perjalanan tanpa henti yang dilakukannya.


Bahkan, binatang tunggangannya langsung pingsan dan sekarat saat mereka sudah tiba. Dari situ saja, semua Elf dapat menebak bahwa mereka berdua telah melakukan perjalanan dengan sangat terburu-buru.


Eleanor langsung menghampiri Elf itu dan binatang tunggangannya untuk menstabilkan kondisi fisik mereka kembali dengan sihirnya.


Setelah Elf itu bugar, ia langsung berlutut dan berbicara dengan terburu-buru di hadapan Zobyr.


"Tuan Zobyr. Ketua Klan Tanah meminta saya untuk meminta bantuan Klan Api jika Anda berkenan." Ucap Elf pria itu dengan wajahnya yang kalut.


"Apa yang terjadi?"


Elf utusan itu terlihat bingung sembari menoleh ke sana sini. Ia tampak baru menyadari sesuatu.


Ia bergumam, "Jadi benar, sepertinya pasukan penjajah hanya muncul di wilayah kami."


"Apa?"


"Tuan Lumiar mengatakan mungkin bangsa penjajah hanya fokus menyerang wilayah Klan Tanah. Jadi kami masing-masing di utus untuk memberitahukannya pada klan lain. Dan juga, apabila pemimpin klan berkenan, maka bantulah kami dengan mengirimkan pasukan." Elf pria menjelaskan dengan nada bicara cepat dan tampak sangat terburu-buru.


"Sebenarnya, mereka juga muncul di sini. Tapi...," Zobyr menoleh pada Anna, sebelum menatap utusan itu kembali, "Jika dewi agung berkenan, kau bisa meminta bantuannya."


Utusan itu tampak bingung.


"Dewi agung?"


"Ya." Sahut Zobyr.


"Dewi Yolin membantu Anda, tuan Zobyr?!" Elf utusan tampak sangat terkejut.


"T-tidak... Itu..."


"Sudahlah. Jika kita terlambat, mereka semua mungkin akan mati." Ucap Anna, memotong kalimat Zobyr.


Anna kemudian meraih lengan Eleanor.


Fael dan Glynka yang sudah mengerti harus berbuat apa, langsung memegang pergelangan Eleanor.


Nyrna, Cirdan dan Nobara juga langsung mendekat dan memegang lengan Anna di sisi lain.


Nobara kemudian meraih pergelangan utusan yang tampak kebingungan, lalu mereka lenyap dari tempat itu.


•••