Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 245 - Anak-Anak Keluarga Arnix


Mereka berpindah tempat mengikuti kemana dewi Ann pergi.


Setelah dewi Ann menghilang dari hadapan saudari kembarnya, Ana, ia langsung kembali ke dunia para dewa untuk menemui salah satu dewan pengawas para dewa di kuil peristirahatannya.


°°°


"Apa yang kau lakukan hingga mengunjungiku, Ann?"


Suara itu terdengar dari sebuah bola kristal berwarna biru yang melayang-layang tepat di tengah kuil kecil dimana dewi Ann kini berada.


"Bisakah kau menggunakan wujud aslimu saja Vu?" pinta dewi Ann pada Vu, sosok bola kristal biru yang tak lain adalah salah satu dewan pengawas para dewa, yang nantinya akan pergi ke planet bangsa Anunnaki untuk memberikan titah pemusnahan.


"Aku tidak bisa. Ada yang memerhatikan kita."


"Siapa?" dewi Ann yang tidak merasakan adanya siapa-siapa di dalam kuil peristirahatan Vu, menoleh ke sekitarnya.


"Di sebelah kiri mu."


Dewi Ann menatap ke arah yang Vu sebutkan.


Itu adalah tempat di mana Anna dan semua orang yang berada di dalam goa suku Miyu sedang memerhatikan mereka.


Anna tentu saja sangat terkejut saat dewi Ann menatap kearahnya. Namun, dewi Ezili dengan tangan kecil otternya menepuk pelan punggung tangan Anna untuk menenangkannya.


°°°


Dewi Ann mengernyitkan alisnya saat tidak melihat siapa-siapa di sana. Ia menoleh lagi pada Vu.


"Apa kau melihat sosok dari masa depan?"


"Ya."


"Ah..., begitu."


"Jadi, apa yang ingin kau minta dariku?"


Dewi Ann menghela nafas panjang.


"Bisakah kau mengirimkan duplikat diriku pada kandungan kakak ku?" tanya dewi Ann. Dia tidak sedang meminta atau ingin memaksa karena hal seperti itu sangat tidak layak.


Bukan hal sembarangan meminta hal itu pada dewan pengawas yang sudah memiliki sistem otomatis dalam mengatur sebuah kelahiran para makhluk ciptaan.


"Akan ku kabulkan."


"Apa?!" dewi Ann terkejut. Bahkan sangat terkejut.


Ia datang hanya untuk bertanya jika hal itu mungkin, tapi tidak berharap akan diizinkan.


"Masalah yang terjadi dalam keluargamu mungkin akan terselesaikan jika aku mengirim duplikatmu ke rahim Ana."


"A-apa? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"


"Duplikatmu, dia sedang memerhatikan kita dari masa depan."


Kedua mata dewi Ann melebar saking terkejutnya. Ia menoleh lagi ke arah yang Vu beritahukan tadi.


"Aku akan mengirimkan benihnya sekarang. Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi?"


"Tidak ada," sahut dewi Ann tanpa melihat ke arah bola kristal biru. Ia masih menatap kosong pada arah yang Vu sebutkan tadi.


"Baiklah. Pulanglah sekarang. Titah dari dewan pengawas tertinggi mungkin sudah tiba di kediaman keluarga Arnix."


"Apa itu tentang pembasmian malaikat tersesat dari keluarga kami?"


"Ya."


"Aku mengerti. Kalau begitu, aku permisi sekarang. Terima kasih Vu. Aku berhutang padamu."


"Pulanglah."


Setelah membelai lembut bola kristal biru itu, dewi Ann lenyap dari kuil suci Vu dan mereka semua berpindah lagi ke kediaman keluarga Arnix.


•••


Mereka kini berada di pelataran kediaman kelurga Arnix, tempat dewi Ann berteleportasi.


Mereka langsung dapat melihat seorang pria tampan yang sedang duduk santai sembari memainkan sebuah harpa di dekat kolam ikan.


Saat melihat wajah pria itu, Anna tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, hingga dewi Ezili dan Lorelei yang menyadari keadaan itu, secara bersamaan langsung menepuk-nepuk punggung tangan Anna.


°°°


Melihat dewi Ann sudah kembali, dewa Erv langsung menghentikan permainan musiknya.


"Kau habis dari bintik biru?" tanya dewa Erv pada dewi Ann.


"Ya."


"Mengunjungi Ana?"


Dewi Ann menanggapinya hanya dengan tersenyum pahit.


Dewi Ann akhirnya menghela nafas panjang.


"Apa kau tidak merindukannya?"


"Tidak sama sekali," sahut dewa Erv dengan cepat.


"Bagaimanapun, Ana adalah kakak kita. Kau jangan terlalu membencinya."


Ucap suara seorang wanita dari arah belakang dewi Ann. Suaranya terdengar sangat lembut dan sangat menyejukkan hati.


Anna yang tidak menyadari kehadiran wanita itu, buru-buru menoleh ke arah datangnya suara. Kali ini, ia benar-benar sangat terkejut hingga tanpa sengaja menarik tangannya dari bola kristal.


Akibat tindakan tanpa sengaja itu, pengelihatan mereka pun terputus.


•••


"A-apa itu? Kenapa wajah mereka sangat mirip dengan Rin dan Ren?" tanya Anna pada Lorelei, Nordic, dewa Ogun dan dewi Ezili.


Melihat tatapan malas di mata mereka, Anna akhirnya sadar bahwa ia telah mengganggu sihir pengelihatan Nordic.


"M-maafkan aku," ucap Anna dengan sangat menyesal.


"Apakah Rin dan Ren itu saudara kembar?" tanya dewi Ezili.


"Y-ya..."


"Berarti mereka adalah makhluk ciptaan duplikasi dari dewa Erv dan dewi Lyn."


"Dia tadi itu dewi Lyn?"


"Ya."


"Sudahlah. Kita harus melanjutkan sihirnya," ucap dewa Ogun dengan nada kesal.


"Maafkan aku."


"Tolong jangan lakukan lagi. Saya membutuhkan banyak energi Mana untuk melakukan sihir ini," ucap Nordic dengan wajah memelas.


Mereka akhirnya melanjutkan pengelihatan ke masa lalu itu.


•••


"Dewan pengawas meminta kita untuk menghadap," ucap dewi Lyn pada dewi Ann.


"Ya. Vu sudah memberitahukan pada ku."


"Kita menghadap sekarang?" tanya dewa Erv.


"Ya. Ayo kita pergi sekarang," sahut dewi Lyn yang kemudian menjentikkan jarinya, membawa kedua saudaranya berteleportasi ke pelataran kuil suci dewan pengawas.


Ketiga bersaudara itu langsung berjalan menaiki tangga yang sangat tinggi untuk tiba di depan pintu gerbang kuil suci.


Saat sudah berada di dalamnya, mereka dapat melihat berbagai macam bola kristal dengan warna berbeda-beda berada di sana.


Salah satu bola kristal berbicara dan meminta ketiga bersaudara itu untuk berlutut sebelum bola berwarna emas menyampaikan titahnya.


"Anak-anak Arnix. Dengan ini dewan pengawas memerintahkan kalian untuk pergi ke pusaran putih, mencari dan membinasakan sisa malaikat tersesat dari keluarga Arnix."


"Anak-anak keluarga Arnix menerima titah dewan pengawas tertinggi dan akan segera melaksanakannya," sahut dewi Lyn, mewakili keluarganya.


"Jika kalian gagal, dewan pengawas akan memusnahkan pusaran putih dan akan menurunkan kasta keluarga Arnix ke urutan terbawah."


"Keluarga Arnix akan menerima hukuman dengan senang hati jika gagal melaksanakan titah."


Semua yang dititahkan dewan pengawas tertinggi itu, hanya di jawab oleh dewi Lyn yang merupakan penerus utama keluarga Arnix.


Setelah ketiganya menerima titah, anak-anak keluarga Arnix langsung dikirimkan pulang kembali oleh dewan pengawas ke kediaman keluarga mereka.


•••


"Bisakah kalian pergi mendahuluiku?" tanya dewi Lyn pada kedua saudaranya.


"Kau mau melakukan pemujaan terlebih dahulu?"


"Ya. Aku akan segera menyusul setelah menyelesaikan pemujaan," sahut dewi Lyn, menjawab pertanyaan dewi Ann.


"Aku tidak bisa pergi sekarang," ucap dewa Erv.


Dewi Ann menoleh padanya dan tersenyum canggung.


"Apa ledakan yang ku buat dulu masih menyakitimu?"


"Ya. Aku harus masuk kembali ke pertapaan ku."


Dewi Lyn mengangguk pelan untuk menanggapinya. Ia kemudian berbicara kembali pada dewi Ann, "Kalau begitu, kau tunggu aku di tempat mu biasa berlatih. Aku akan memberimu tanda saat aku sudah tiba di bintik biru."


"Baiklah. Aku akan pergi sekarang," sahut dewi Ann yang kemudian lenyap dari hadapan mereka.


•••