Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 235 - Pengampunan Pada Kenichiro


Eiko terkejut saat pisau yang tadi berada di genggamannya telah menghilang. Ia kemudian menoleh pada Miyuki dan menatapnya tak percaya saat melihat pisau itu sudah berada di tangannya.


“Aku tidak memintamu untuk melakukannya,” ucap Miyuki dari tempat duduknya.


"A-apa..., tapi...," Eiko tidak terlalu memerhatikan apa yang Miyuki ucapkan. Fokusnya masih pada pisau kecil yang bisa direbut Miyuki dengan mudah bahkan tanpa bergerak dari tempatnya sama sekali.


‘Telekinesis?’


Eiko memang sempat merasa ada kekuatan tak terlihat yang mengambil paksa pisau itu. Ia juga masih merasakan jemarinya yang kebas akibat kekuatan tersebut.


Ia kemudian teringat bagaimana Brandon Lloyd dan ayahnya yang di tarik oleh Miyuki saat ia menyaksikan siaran langsung dua hari yang lalu.


'Jadi itu benar-benar telekinesis.'


°°°


“Aku sebenarnya hanya menujukan kata-kata itu pada Morgan Lloyd, bukan untuk mu.” Ucap Miyuki lagi, saat melihat Eiko tampak masih tertegun dengan hal kecil yang ia lakukan.


Eiko akhirnya berusaha untuk fokus pada ucapan Miyuki dan berusaha mengabaikan dulu rasa takjubnya, walaupun hal itu benar-benar sangat membuatnya tak percaya.


“J-jadi…, apa yang harus saya lakukan, Nakano-San?"


"Tidak ada. Kau bisa membawa ayahmu pergi."


"A-apa? Saya bisa membawa ayah saya begitu saja?”


“Ya,” sahut Miyuki yang kemudian mencabut katana dari dada kanan Kenichiro lalu membuangnya di sebelah tubuh pria paruh baya tersebut.


Eiko membungkukkan tubuhnya berkali-kali pada Miyuki sebelum akhirnya berlari menghampiri ayahnya yang terluka sangat parah.


Tapi, itu hanya yang terlihat dari jauh saja.


Saat Eiko memeriksa kondisi tubuh ayahnya, ia tahu bahwa ayahnya baik-baik saja. Ia bahkan terkejut saat melihat lengan kanan ayahnya yang seharusnya putus saat bertarung melawan Miyuki, ternyata masih berada di sana.


“A-apa yang terjadi?” ucap Eiko pelan, sembari menoleh lagi pada Miyuki. "Bukankah tangannya...," Eiko tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak ingin mengatakan bahwa Miyuki telah memutuskannya.


Miyuki berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Eiko. Saat sudah berdiri di sebelah Eiko, ia baru menanggapi apa yang Eiko tanyakan.


“Kau harus berterima kasih pada Gina Stewart. Dia yang telah memulihkan dan meregenerasi lengan ayah mu.”


"Regenerasi?” Eiko terkejut. Ia tidak ragu Gina yang berperingkat SSS itu bisa memulihkan kondisi ayahnya sampai terlihat sangat sehat. Namun ia tidak tahu bahwa skill meregenerasi itu ada.


'Telekinesis dan regenerasi? Jadi kekuatan seperti itu memang ada!'


Keterkejutan Eiko belum habis sampai disitu. Hunter berperingkat SS itu kembali terkejut saat melihat luka di dada kanan ayahnya, bekas tertancap katana, juga mulai menutup secara perlahan sampai akhirnya hilang tanpa meninggalkan bekas luka.


“I-ini… bagaimana lukanya bisa menutup sendiri?”


“Itu karena sihir penyembuh yang Gina tinggalkan. Sihir itu akan otomatis mengobati lukanya saat pedangnya tercabut. Sihir itu juga yang sejak kemarin menjaga kesehatan ayahmu.”


"Stewart-San ya..., aku harus berterimakasih padanya nanti," batin Eiko, merasa sangat bersyukur atas kebaikan hati Gina walaupun ayahnya sudah memfitnah dan menyerang teman-temannya.


Pada saat ini, Gina dan Eiko sama-sama belum tahu bahwa Kenichiro terlibat dengan kematian Ronald Stewart. Yang mereka tahu, hanya Keisuke lah pembunuhnya.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih dan juga mengucapkan permohonan maaf dan rasa menyesal atas apa yang ayah saya lakukan pada Anda dan rekan-rekan Anda, Nakano-San," ucap Eiko sembari membungkuk dalam di dekat kaki Miyuki.


“Kau tidak perlu melakukannya. Aku tahu dia berada di bawah sihir hipnotis milik Li Wen Xia, sama seperti yang terjadi pada teman ku dulu. Kali ini, aku masih bisa mengampuni nyawanya dan berharap dia tidak akan melakukan kesalahan lagi.” Ucap Miyuki.


Walaupun Miyuki memberikan pengampunan itu, dia tetap mengatakannya dengan nada suara yang dingin seperti biasanya.


“Hipnotis... Jadi itu benar…,” gumam Eiko, mengingat apa yang pernah Anna katakan padanya.


“Tapi, tuan Tanaka masih berada di bawah pengaruh sihir ku,” ucap Miyuki lagi, “Dia masih belum boleh bangun jika sihir hipnotis itu belum hilang sepenuhnya.”


“Itu agak merepotkan, kau juga harus bekerjasama dengan ku jika ingin menyadarkannya kembali seperti sedia kala.”


“Saya akan melakukan apa pun untuk itu.” Ucap Eiko dengan cepat.


“Yah, kau tentu saja harus melakukannya.”


“Jadi, apa yang harus saya lakukan?”


“Tetaplah berada di sisi ayah mu sampai aku membunuh iblis yang telah melakukan hal itu padanya. Sihirnya baru akan hilang sepenuhnya saat pemiliknya mati. Pada saat itu, kau harus memukul bagian kepala ayah mu sebelum aku membunuh pemilik sihir,” Miyuki menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “Detailnya akan ku beritahu nanti. Sekarang bawalah ayah mu. Aku akan menghubungi mu nanti.”


•••


Gina baru datang ke toko bunga di malam hari setelah Brandon Lloyd dan Kenichiro Tanaka pergi di jemput oleh keluarga mereka.


Yang tersisa kini hanyalah Hunter-hunter dari Asosiasi yang masih menjalankan hukuman yang tersisa satu hari lagi. Juga, masih ada mayat Fred Watson, Jordan Foster, dan seonggok daging dari Keisuke Sato yang berbau sangat busuk.


Baru saja Gina dan rekan-rakannya duduk di teras toko bunga, Davina memberitahukan bahwa Asosiasi Hunter Kota C mengadakan konferensi pers lagi.


Dalam konferensi itu, Chris Meyers yang menjadi pembicara, memberikan video rekaman pembunuhan yang Kenichiro Tanaka dan Keisuke Sato lakukan pada Ronald Stewart dan rekan-rekannya.


Melihat itu, tentu saja membuat Miyuki sangat marah. Padahal ia baru saja melepaskan Kenichiro.


"Kalau aku tahu dia..."


"Tidak apa-apa," potong Gina dengan cepat, ingin menenangkan Miyuki. Ia takut Miyuki tiba-tiba menghilang dan membunuh Kenichiro yang mereka tahu sedang berada di sebuah vila di Kota C. "Seperti yang kau katakan kemarin, dia sedang dalam pengaruh hipnotis. Bahkan Anna yang sekuat itu saja bisa terjebak dalam pengaruh hipnotis, kan?"


Miyuki yang jelas-jelas terlihat marah, menatap Gina dengan tatapan dingin.


Ketika tatapan mereka saling bertemu, Gina memaksakan sebuah senyuman, hanya untuk menenangkan Miyuki.


"Setidaknya biarkan dia mengambil tangannya lagi," ucap Kevin Jung dengan santai, sembari mematikan berita yang baru saja ia tonton. Hal itu sangat membosankan baginya. Ia sudah tidak memerdulikan hal apa yang akan mereka lakukan karena ia dan Gina juga sudah punya rencana untuk orang-orang itu.


"Tidak perlu melakukan hal itu. Rakyat Jepang sangat mengandalkannya." Sahut Gina yang kemudian memelototi Kevin.


"Rakyat Jepang masih memilikinya. Dia orang Jepang, kan?" sahut Kevin seraya melirik Miyuki.


"Kevin!"


"Maaf."


"Aku akan pergi ke Kota A besok. Aku akan mencari Li Wen Xia." Ucap Miyuki.


"Apa?! Tapi kita sudah memiliki rencana, kan?" protes Gina, mengingatkan bahwa mereka memiliki rencana dan akan bergerak besok.


"Kalau begitu, aku akan pergi bersama mu." Ucap Kevin Jung.


"Tidak. Kau harus bersama Gina dan Bimo besok. Aku akan pergi bersama Rin. Kami akan pergi ke Amerika setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Li Wen Xia dan kami akan pergi ke Kepulauan Fiji setelahnya."


"Apa?! Hei, kau jangan terlalu percaya diri!" Kevin mencoba mengingatkannya.


"Tuan Jung benar, Miyu. Lagian aku mungkin hanya akan menjadi beban," ucap Rin.


"Kau tidak akan menjadi beban," sahut Miyuki.


Saat mereka berusaha menahan dan mengingatkan Miyuki, Gina akhirnya berbicara lagi sembari memaksakan sebuah senyuman pada Miyuki.


"Berhati-hatilah, ok?" ucap Gina. Ia kemudian menatap semua rekannya. "Ayo kita berkumpul lagi setelah semuanya selesai."


•••••••