
‘Ada apa dengannya? Kenapa dia sepertinya takut pada ku?’
Anna tahu bahwa apa yang ia lihat bukan hanya perasaannya saja. Selain ketakutan di wajah makhluk itu, Anna juga melihat tangan makhluk yang sedang memegang tombak panjang dengan ujungnya seperti trisula itu terlihat gemetar.
Anna menyipitkan matanya dan menatap makhluk berkulit merah dengan sedikit memikirkan kemungkinan bahwa ia mungkin saja mengenalnya.
Bahkan, makhluk itu tidak langsung menyerangnya ketika mereka sekarang hanya berjarak kurang dari 5 meter. Sebuah hal yang tidak wajar.
Setiap monster yang biasa Anna temui, terutama Orc, biasanya akan langsung menyerangnya.
Anna menebak, bahwa hal itu mungkin karena tidak ada yang bisa merasakan energi Mana miliknya, tidak seperti ia yang bisa merasakan energi Mana makhluk di sekitarnya.
‘Apa dia takut karena bisa merasakan energi Mana ku? Atau... jangan-jangan dia benar-benar mengenal pemilik tubuh ku ini?'
Anna kini merasa ragu untuk menyerang dan membunuh makhluk berkulit merah. Jika tebakan yang terakhir benar, maka ia harus mencari tahu siapa sebenarnya pemilik tubuhnya.
Dengan cepat, Anna memutar otaknya agar bisa mendapatkan informasi dari makhluk itu tanpa membuatnya curiga. Ingin rasanya untuk langsung bertanya, namun ia khawatir jika makhluk itu tidak menjawab dan malah mempermainkannya.
Anna tertawa secara tiba-tiba. Tertawa yang sengaja dibuat-buatnya.
Ia sengaja melakukannya untuk melihat reaksi makhluk berkulit merah yang ternyata bereaksi sesuai dugaannya.
Makhluk berkulit merah tampak sedikit terkejut dan tangannya yang memegang tombak semakin gemetar saat mendengar Anna tertawa.
“Kau sudah mengenal ku dan masih ingin melawan ku?!" Bentak Anna tiba-tiba.
Makhluk berkulit merah yang sejak tadi gelisah dan menundukan kepalanya melirik sebentar pada Anna, namun ia segera mengalihkan tatapannya dan menundukan kepala lebih dalam lagi ketika menyadari Anna sedang menatap tajam ke arahnya.
Anna menunjuk ke bawah, ke arah ratusan Raptor yang sedang mengeroyok Bimo.
“Panggil mereka kembali, atau aku akan menghancurkan kepala mu.” Perintah Anna dengan suara lantang yang ia harap bisa membuat makhluk itu lebih ketakutan lagi padanya.
Benar saja, setelah Anna berbicara padanya, tampak ekspresi wajah makhluk itu terlihat lebih ketakutan lagi.
Namun, hanya sesaat.
Makhluk berkulit merah kemudian terdiam dan tampak melamunkan sesuatu sebelum akhirnya untuk pertama kalinya ia berani menatap kedua mata Anna secara langsung.
“Kau... siapa kau?” tanya makhluk itu. Walaupun ia menanyakannya dengan lantang, namun wajahnya masih terlihat takut.
Anna terdiam sebentar. Saat ditanya siapa dirinya, ia benar-benar tidak memiliki jawaban yang tepat karena dia juga tidak tahu sedang berada di tubuh siapa.
Anna khawatir, jika dia salah menjawab, maka makhluk berkulit merah akan langsung mengajaknya bertarung tanpa memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang bercampur aduk di dalam benaknya.
Anna berusaha agar tampak terlihat tenang. Sebisa mungkin ia membuat ekspresi wajah agar terlihat menakutkan dan tampak seperti seseorang yang sedang marah.
Kesempatan seperti ini mungkin akan jarang terjadi, atau bahkan tidak terjadi lagi. Untuk pertama kalinya ia akhirnya bertemu dengan ‘seseorang’ yang mungkin saja mengenal siapa pemilik tubuhnya.
Untuk mengetahui bagaimana dia bisa berada di tubuh orang lain sekaligus mendapatkan kekuatannya, Anna harus tahu terlebih dahulu mengenai siapa pemilik tubuhnya sekarang.
Yang pasti, Anna tahu jika pemilik tubuhnya tidak berasal dari bangsa yang sama dengan makhluk tersebut, karena mereka memiliki jenis energi Mana yang berbeda, malah seperti berkebalikan.
“Kau sudah tahu siapa aku tapi kau berani bertanya?!" Anna membentak lagi, berusaha mengulur waktu untuk memikirkan kata-kata selanjutnya yang seharusnya bisa membuat makhluk itu memberi tahu siapa dirinya.
Makhluk tersebut terlihat ragu-ragu lagi dan Anna dapat menangkap perasaan ragu itu dengan baik.
Untuk sementara, Anna memiliki tebakan bahwa pemilik tubuhnya ini mungkin makhluk yang sangat kejam, hingga membuat makhluk lain tampak sangat ketakutan hanya dengan melihat wajahnya.
Tidak bisa memikirkan kata-kata yang tepat untuk membuat makhluk itu berbicara, Anna akhirnya menyerang hanya untuk menakut-nakutinya.
Bukkkk...!
Pukulan Anna tepat bersarang pada perut makhluk berkulit merah.
Tidak sampai di situ, Anna menangkap salah satu tanduknya dan langsung mematahkannya.
Krakkkk...
"Katakan pada ku, apa kau mengenal ku? Aku akan membinasakan mu jika kau tidak mengatakannya!" Anna mengancam sambil mencekik leher makhluk berkulit merah dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengacungkan patahan tanduk ke bawah dagunya yang runcing.
Namun, sama seperti yang terjadi pada Ty-Rex, tanduk di tangannya tiba-tiba menjadi abu dan menguap.
Makhluk itu menatap Anna dengan ngeri, namun tetap saja ia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Saat hampir kehabisan akal, Anna akhirnya menyadari ada sebuah lubang hitam yang berada di tengah-tengah pusaran awan di atas mereka.
Anna menatap ke lubang hitam itu, lalu menatap kembali pada makhluk berkulit merah. Pada saat itu, Anna menangkap tatapan ketakutan yang lebih besar padanya.
"Oh... Jadi itu pintu menuju dunia mu? Kalau kau tidak mau memberi tahu siapa diri ku, bagaimana kalau kita pergi ke dunia mu saja? Mungkin aku akan membuat sedikit kekacauan disana!" Anna mengancam.
Bukannya menjadi semakin takut, makhluk itu malah berusaha menyerang Anna.
Ia mengarahkan mata tombaknya ke perut Anna dengan sangat cepat.
Tangggg!!!
Saat mata tombak hendak menyentuh tubuh Anna, mata tombak itu patah ketika berbenturan dangan cahaya keemasan yang tiba-tiba muncul di sekitar tubuh Anna.
Anna menangkap tangan yang baru menyerangnya lalu menarik kuat, hingga memutuskannya.
Crakkkk...!
Sama seperti sebelumnya, tangan di genggaman Anna langsung menguap, namun tidak dengan tombaknya.
Melihat tombak yang masih utuh terjatuh, Anna menggunakan kemampuan telekinesisnya untuk menarik tombak kembali dan menangkapnya.
'Tombak ini memiliki energi sihir yang lumayan. Yah, walaupun salah satu mata tombaknya sudah patah sih...'
Anna sebenarnya ingin menusukan tombak itu pada makhluk di hadapannya, namun setelah ia berpikir lagi, ia khawatir lubang hitam akan tertutup jika makhluk itu mati. Jadi, Anna memutuskan untuk pergi menuju lubang hitam dengan membawa makhluk itu bersamanya.
Saat Anna melesat membawa tubuhnya, makhluk tersebut berusaha meronta dan meneriakkan kata-kata tidak jelas yang tersangkut di tenggorokannya yang tercekik.
Anna tidak memerdulikannya dan terus melesat ke lubang hitam tanpa mengurangi kecepatan sama sekali.
Walaupun dia tidak tahu apa yang akan menunggunya di balik lubang tersebut, namun Anna tidak memiliki pilihan lain untuk setidaknya mengungkap jati diri pemilik tubuhnya. Karena dengan demikian, dia juga mungkin akan mengetahui siapa di balik kemunculan gerbang Dungeon di Bumi.
Setelah mereka melewati lubang hitam, mereka tiba di dalam sebuah goa dengan pencahayaan remang-remang yang berasal dari beberapa obor kecil di dinding goa.
Begitu Anna menjejakan kakinya di lantai goa, ia terkejut saat melihat ada 3 orang berada di sana, sedang duduk di bangku kayu dan menatap padanya, juga dengan wajah terkejut.
Anna hampir tidak memercayai apa yang telah dilihatnya. Dia tahu, orang-orang itu juga manusia seperti dirinya. Namun, dengan masing-masing dari mereka memiliki energi Mana yang sangat besar dan aura gelap yang mengerikan.
•••