
Setelah Rin melepaskan pelukannya, barulah Anna menoleh ke sebuah monitor raksasa yang berada ditengah-tengah gedung, dikejauhan.
Disitu ia melihat ada beberapa pembagian layar dan baru tahu kalau kejadian yang sedang terjadi diseluruh dunia itu sedang ditayangkan secara langsung dengan satu malaikat tersesat sebagai host nya.
Berbeda dengan dulu, yang pasti akan membuatnya bertanya-tanya siapa sosok malaikat tersesat yang wajahnya memenuhi sebagian besar layar, Anna kini langsung tahu siapa malaikat tersesat itu hanya dari visi yang ia dapatkan setelah mempelajari kitab dewi Arnix.
"Hmmm... Itu Coyote, kan?" ucap Anna pelan sembari menoleh pada Lorelei.
"Ya. Itu dia," sahut Lorelei.
Anna mengangguk pelan, lalu memfokuskan kekuatan sihirnya.
Selain tahu nama malaikat tersesat yang wajahnya sedang terpampang jelas di layar raksasa, Anna juga dapat merasakan keberadaan semua malaikat tersesat yang berada dan sedang bersembunyi di suatu tempat di Bumi, juga di celah dimensi.
'Jadi ini kekuatan dewi Lyn yang bisa mengetahui dimana saja lokasi mereka. Pantas saja dewi Ann sangat membutuhkan dewi Lyn. Kalau begini aku bisa langsung mendatangi mereka. Mereka tidak akan bisa bersembunyi dariku lagi.'
"Anna?"
"Ya?" Anna menoleh pada Gina yang baru saja memanggilnya.
"Ini mungkin kurang sopan. Tapi, bisakah kau membantu mereka dulu?"
Anna tersenyum.
"Tentu saja, kapten." Sahut Anna.
"A-apa...?"
"Kau kapten tim Nine Bears," sahut Miyuki, menjelaskan maksud kata-kata Anna.
"O-oh..."
°°°
Anna memanggil dewa Ogun dan dewi Ezili yang sejak tadi menyembunyikan wujud mereka.
Setelah Anna memanggil mereka, dua hewan imut itu tiba-tiba saja muncul di kedua pundaknya.
Semua orang yang melihat kemunculan kedua hewan itu, tentu saja langsung menatap mereka dengan tatapan berbinar akibat keimutan mereka. Namun, saat kedua hewan itu tiba-tiba saja berbicara dengan bahasa manusia, semua orang langsung terdiam karena merasa takjub juga sekaligus merasa takut.
Anna kemudian menatap ke arah layar, lalu mengalihkan tatapannya ke kamera yang berada pada satelit di luar angkasa, untuk menatap lurus pada Coyote yang kebetulan juga sedang memerhatikannya.
•••
Coyote menatap layar kontrol disebelahnya dengan tubuh gemetar setelah Anna menatap ke arah kamera, seakan sedang menatap dirinya.
Ia tiba-tiba merasa khawatir saat ingat apa yang kawanannya ceritakan bahwa ada makhluk ciptaan yang sedang menggunakan tubuh dewi Ann. Kali ini ia melihatnya langsung dengan matanya sendiri. Tapi, Coyote yakin jika itu bukan tubuh dewi Ann, melainkan tubuh seorang makhluk ciptaan.
Tapi, cara menatapnya itu seakan-akan gadis itu tahu keberadaannya.
Coyote bergidik, merasa takut jika gadis itu tiba-tiba muncul dihadapannya.
Tapi, apa yang Coyote takutkan itu langsung menjadi kenyataan hanya sekitar dua sampai tiga detik setelahnya, saat Anna tiba-tiba muncul dihadapannya.
"K-kau..."
"Hmmm..., kalau dulu, aku pasti akan repot untuk mencari keberadaanmu, apalagi kau sudah mendesain ruangan ini menyerupai banyak ruangan biasa. Aku pasti akan tersesat ke banyak tempat,"
"Tapi tidak dengan sekarang. Aku juga akan segera mendatangi kawananmu dan mengirimkan mereka untuk pergi ke kehampaan juga bersamamu. Selamat tinggal."
Setelah selesai berbicara, Anna menancapkan tombak Igigi tepat ke kepala Coyote dan menghancurkannya.
Ia kemudian menatap Fernando Cavalli yang diam tertegun melihat apa yang baru saja terjadi.
"Anda harus mundur dari jabatan Anda sebagai ketua Asosiasi Hunter Dunia. Anda tidak pantas." Ucap Anna yang kemudian lenyap dari tempat itu.
Setelah dari ruangan itu, Anna pergi ke semua kota dimana 99 gerbang sihir berada dan menangani semua pasukan iblis itu dengan sangat cepat dan mudah.
Tempat terakhir yang didatanginya adalah kota Tokyo, Jepang.
Ia sengaja mendatangi kota itu terakhir, karena ia ingin bertemu dengan Eiko Tanaka, yang sebenarnya baru tiba juga di Tokyo setelah tahu bahwa ada 99 gerbang di tempat itu.
"Anna-San?"
"Eiko... Lama tidak bertemu."
"Y-ya... Senang bisa bsrtemu Anda lagi, Anna-San."
Anna mengangguk pelan, lalu menatap pria paruh baya yang berdiri disamping Eiko. Pria paruh baya itulah yang sebenarnya ingin ia temui.
Anna kemudian pergi mendekati pria itu, yang tak lain adalah Kenichiro, ayah Eiko.
"Tuan Tanaka. Maaf, tapi energi Mana Anda ini milik iblis. Saya akan membuangnya," ucap Anna, yang tanpa persetujuan tiba-tiba memegang perut pria itu dan memasukkan energi sihirnya sedikit kedalamnya.
Begitu Anna memasukkan energi sihirnya kedalam tubuh Kenichiro, tubuh pria paruh baya itu tiba-tiba bergetar hebat. Ia sampai jatuh dan bergulingan, muntah-muntah asap hitam pekat sambil mendekap tubuhnya yang menggigil hebat.
"A-anna-San... A-apa yang terjadi?" tanya Eiko panik, sambil berjongkok untuk memegangi tubuh ayahnya.
"Energi Mana nya harus dibuang karena sudah terkontaminasi energi Mana iblis."
"Tapi..."
"Kalau kau ingin membiarkan energi Mana itu ada di tubuhnya, aku akan membunuhnya."
Eiko langsung terdiam setelah mendengar ancaman itu.
Sebenarnya, disekitar mereka ada ratusan Hunter. Diantara mereka, bahkan ada Hunter-hunter top Jepang, yang tentu saja sangat memuja dan menghormati Kenichiro.
Mereka sebenarnya merasa sangat marah melihat Kenichiro diperlakukan seperti itu. Namun, tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mendekat, karena merasa ngeri dengan sosok tinggi besar yang berdiri tegak di samping Anna dan sosok wanita Elf anggun yang juga berdiri disebelahnya. Mereka adala Tzaca dan Eleanor, yang baru saja membakar habis pasukan iblis dengan terlihat tanpa usaha berarti.
"T-tapi... Apa ayah saya akan kembali menjadi manusia biasa lagi? M-maksud saya... Apa semua energi Mana nya akan menghilang?" tanya Eiko.
"Ya. Dia akan menjadi manusia biasa setelah ini."
Setelah mengatakan itu, Anna bisa melihat kekecewaan di mata Eiko.
Ia kemudian menatap seluruh Hunter yang sedang berdiri dengan gemetaran disekitar mereka. Gemetaran itu akibat dari aura sihir Tzaca dan Eleanor, yang tidak bisa mereka atasi dengan kekuatan mereka sama sekali.
"Energi Mana kalian tidak terlalu berguna juga jika pasukan iblis menyerang. Kalian mungkin masih bisa bertarung melawan monster di dalam Dungeon, tapi tidak dengan iblis. Jadi, tidak masalah jika kalian tidak memiliki energi Mana lagi."
Mendengar kata-kata yang sebenarnya sangat menyakitkan itu, semua Hunter hanya bisa tunduk terdiam.
°°°
Anna masih berada di tempat itu selama 30 menit lagi, samapai semua energi Mana pada tubuh Kenichiro menguap. Dengan menggunakan sihir dari kitab dewi Arnix, sihir itu bisa membuang energi Mana di tubuh Kenichiro dengan sangat cepat, dibandingkan jika ia harus membuangnya dengan sihir biasa.
Setelah semuanya selesai, barulah Anna pergi kembali ke kota Beijing untuk menjemput teman-temannya dan membawa mereka semua untuk kembali ke Kota C.
•••••••