Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 147 - Lawan Yang Sebenarnya


Pada akhirnya, Anna dan Gina pergi ke lokasi Asosiasi Hunter menggunakan mobil Gina.


Sebenarnya Bimo ingin ikut pergi untuk mengantarkan Anna, hanya karena ia sudah terbiasa mengantarkan Anna sebagai supir pribadinya.


Namun, Miyuki memintanya untuk tetap tinggal, membantu gadis itu dalam memperbaiki avatar miliknya. Jadi, Bimo pada akhirnya tetap tinggal untuk membantu Miyuki.


°°°


"Anna. Aku..., aku ingin meminta maaf tentang apa yang Luke lakukan pada mu." Ucap Gina, ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju Asosiasi.


Anna memalingkan pandangannya dari luar jendela untuk menatap Gina. Setelah Gina menoleh padanya, Anna memberikan senyuman sebelum menanggapi apa yang baru saja Gina katakan.


"Kau tidak perlu meminta maaf pada ku. Dia sudah dewasa, dia sendirilah yang harus menemui ku dan meminta maaf."


Gina menghela nafas panjang, "Aku berharap dia memiliki sedikit sikap dewasa setelah hidup mandiri selama tiga tahun. Aku tidak menyangka kehidupan mandiri itu malah membuatnya menjadi liar."


Kali ini Anna tidak menanggapi apa yang Gina ucapkan. Dia kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kelap-kelip lampu malam kota.


Anna tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk masalah kepribadian seseorang dan ia takut jika perkataannya akan terdengar konyol karena ia merasa bahwa dirinya sendiri masih jauh dari memiliki kedewasaan dalam berpikir dan bersikap.


"Apa kau sudah tahu, makhluk apakah monster yang menyerupai manusia itu?" tanya Gina, mengalihkan topik pembicaraan saat melihat Anna yang tampak serba salah untuk menanggapi apa yang baru dikatakannya.


Anna kembali memalingkan wajahnya, ia menatap Gina sesaat, sebelum akhirnya menatap lurus ke jalan yang mereka lalui.


"Aku tidak tahu. Tapi, dari sedikit pembicaraan kami, ku rasa dia terobsesi menjadi dewa."


"Apa?"


"Kau tahu makhluk mitos bernama Damballa, kan? Iblis yang memiliki ilmu hitam voodoo?"


"Ya. Aku pernah membacanya."


"Nama makhluk itu Damballa."


"Apa?" Gina menoleh pada Anna sebentar karena ia sedikit terkejut mendengar informasi barusan.


"Walaupun aku tidak setuju saat dia mengatakan bahwa dirinya adalah dewa, namun aku yakin dia benar-benar Damballa, makhluk mitos yang ada dalam cerita zaman dulu."


"Apa dia juga makhluk yang memiliki planet sendiri seperti monster-monster lainnya?"


Anna diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Ia juga sudah memikirkan hal itu sejak kemarin, setelah ia kembali ke laboratorium.


"Aku tidak memiliki informasi apa pun mengenai hal itu. Tapi, ku rasa dia dan dua rekannya tidak memiliki planet mereka sendiri."


Gina agak terkejut, "Dua rekan?"


Anna melirik pada Gina, kemudian tersenyum kaku, "Aku belum menceritakannya. Ada dua rekannya yang datang saat semua orang telah pergi dan hanya menyisakan aku di dalam Dungeon."


"Apa?!" Gina terkejut sampai hampir saja ia menginjak rem mobil. "Apakah kau... Bagaimana kau bisa bertarung sendirian melawan tiga makhluk kuat seperti itu?"


"Yah, aku baik-baik saja," Anna memberikan senyum terbaiknya. Ia tidak ingin Gina menjadi lebih khawatir pada dirinya. "Yang pasti, aku yakin mereka adalah makhluk yang bertanggung jawab di balik kemunculan gerbang Dungeon di seluruh dunia."


"Mereka?"


"Ya. Mereka bisa membuat gerbang Dungeon. Lagian, kekuatan sihir jahat yang ku rasakan dari gerbang yang mereka buat di tengah awan hitam dan energi sihir pada gerbang yang menghubungkan Dungeon ke Bumi terasa sama."


"Kekuatan sihir jahat? Apakah kau bisa merasakan perbedaan seperti itu?"


Anna mengangguk pelan. "Sejak awal aku kembali ke Bumi, aku bisa merasakan perbedaan energi Mana seseorang."


Gina tidak menanggapinya, namun ia menoleh beberapa kali ke Anna sembari melihat jalan di depannya.


Anna tahu Gina sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia katakan. Jadi Anna pada akhirnya bercerita mengenai pengalamannya setelah terjatuh dari gedung Asian Soul.


Cerita tentang bagaimana ia hidup selama ratusan tahun di ruangan putih seorang diri, kemudian bagaimana dia hidup selama ribuan tahun di satu-satunya pulau terpencil di sebuah planet asing yang memiliki perbedaan hari 1:1.000 dengan Bumi.


Ini adalah pertama kalinya Anna menceritakan pada seseorang mengenai perjalanan hidupnya selama ribuan tahun di sebuah planet tanpa penghuni, selain dirinya.


Gina akhirnya tahu bagaimana perjuangan Anna untuk mendapatkan kekuatan yang saat ini dimilikinya.


°°°


"Jadi pemilik tubuh yang kau gunakan ini bernama Ann Arnix?" tanya Gina saat Anna sudah selesai menceritakan pengalaman hidupnya dan bercerita tentang informasi yang di dapatkannya dari makhluk-makhluk berwujud manusia itu.


"Ya. Aku mengetahui nama nya dari makhluk-makhluk itu."


Gina mengingat kembali bagaimana ia pernah bertemu seorang wanita asing saat Anna baru kembali dari perjalanan antar galaksi. Saat ia mengingatnya, Gina mulai merasa ngeri.


"Anna. Apa kau tidak takut kalau suatu saat dia mengambil alih tubuhnya lagi? Maksud ku, kau pernah kembali ke apartemen tanpa kau sadari dan saat itu aku berhadapan dengan mu, tapi kau memiliki warna rambut, warna mata dan juga suara yang berbeda,"


"Satu hal lagi, saat kemarin aku kehilangan kesadaran di Dungeon..., dalam mimpi ku, aku melihat orang yang sama seperti yang muncul di apartemen, membawa ku kembali dari kematian."


Anna menggelengkan kepalanya.


"Aku sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Seharusnya aku memang sudah mati. Tapi, dia memberikan ku kesempatan lagi untuk hidup. Yah, mungkin aku akan kesal karena dia sudah memperbudak ku selama lima belas ribu tahun untuk melatih kemampuan sihir dari inti Mana nya, hanya untuk menjaga tubuhnya ini jika suatu saat dia ambil alih kembali."


"Tapi, aku yakin dia pasti memiliki tujuan hingga membuat mu melakukannya."


"Aku juga mulai memikirkannya sejak kemarin. Aku yakin, dia ingin agar aku menggunakan kekuatan yang dia berikan untuk melawan musuh-musuh nya."


"Apa mungkin musuh-musuhnya itu adalah makhluk berwujud manusia yang kita jumpai kemarin?"


"Sepertinya memang mereka. Karena dua dari mereka sudah tewas, masih ada dua puluh sembilan lagi dari mereka yang harus ku urus."


"A-apa?! Dua puluh sembilan?!"


"Damballa mengatakan pada ku bahwa mereka ada tiga puluh satu seluruhnya."


Mengetahui itu, Gina tiba-tiba merinding. Hanya melawan satu dari mereka saja, ia dan Hunter lain tidak sanggup berbuat apa-apa. Saat bertemu monster kuat seperti mereka, hanya Anna sendiri lah yang sanggup menghadapinya, sementara yang lain hanya bisa menonton dari kejauhan.


"Anna..., apa kau pikir kami bisa menjadi kuat jika terus melakukan raid ilegal di negara-negara lain?"


Anna sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut. Selama ini, Gina dan Kevin tampak menentang ide itu walaupun mereka akhirnya hanya bisa menuruti kemauan Anna untuk memperkuat diri dengan melakukan raid ilegal di banyak negara.


"Apa kau sekarang sepemikiran dengan ku?" tanya Anna.


"Y-ya..., aku baru menyadari bahwa keadaan saat ini benar-benar sangat genting. Aku juga tidak mau hanya kau sendiri yang harus menanggung beban untuk melawan mereka jika mereka tiba-tiba mengacau lagi."


Anna tersenyum saat mendengar kata-kata itu. Bertarung seorang diri melawan semua kekuatan luar biasa itu, sejak awal tidak pernah Anna pikirkan. Selama ini, ia hanya melakukannya karena rekan-rekannya masih belum memiliki kekuatan yang sama dengannya.


Namun, saat mereka bisa mendapatkan lebih banyak kristal sihir untuk melakukan peningkatan kekuatan, pada akhirnya Anna akan merasa terbantu.


"Aku memang menginginkan hal itu. Ayo kita lebih rajin melakukan raid ilegal agar semua anggota tim kita memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan mereka."


Gina menganggukkan kepalanya dan bertekad untuk menjadi lebih kuat agar ia bisa menjaga dan melindungi rekan-rekannya dalam pertempuran melawan makhluk-makhluk itu.


"Tapi..., apa benar yang makhluk itu katakan? Apa Ann Arnix itu iblis?"


Anna menggelengkan kepalanya. "Ku rasa, merekalah iblis nya. Mereka adalah lawan kita yang sebenarnya."


•••


Mobil yang Anna dan Gina kendarai akhirnya tiba di depan gerbang pemeriksaan kawasan Asosiasi Hunter Kota C.


Setelah mengikuti protokol pemeriksaan, mobil kembali melanjutkan perjalanan menuju gedung 3 yang berada di bagian paling belakang wilayah Asosiasi.


Gedung 3 diperuntukan khusus untuk Hunter-hunter yang menjadi tahanan Asosiasi, dimana Luke Stewart, Brandon Lloyd, Cassey Lloyd dan Joana Nankins berada.


Setelah memarkirkan mobilnya, Anna dan Gina langsung pergi menuju penjara Hunter tersebut dan kebetulan mereka bertemu dengan tiga orang tak terduga di pintu masuk utama.


"Anna..., k-kau... Akhirnya kita bertemu."


Melihat orang yang menyapanya, Anna tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tidak menyangka akan bertemu kakek dan dua saudara tirinya di tempat seperti ini.


•••