
Setelah dua jenis serangan datang tanpa putus, serangan ketiga mulai berdatangan. Penyihir-penyihir yang memiliki sihir api mulai menyerang dengan melontarkan bola api mereka yang ikut datang bersama hujan anak panah.
Bukan itu saja. Prajurit yang memiliki serangan jarak dekat juga sudah mulai maju menyerang dari sisi kiri dan kanan, dengan memacu kuda mereka.
Anna melihat dua rombongan pasukan yang berdatangan dari arah kiri dan kanannya, sembari terus memutar-mutar tombak untuk menangkisi serangan jarak jauh lawan. Ia pun mendecak kesal.
"Aku benar-benar merindukan saat-saat menggunakan energi Mana," keluh Anna pelan.
•••
"Dia sangat-sangat kuat. Menurutmu, berapa lama ia akan bertahan?" tanya Govan pada makhluk berkepala manusia bertubuh monyet yang duduk di sebelahnya.
Kepala suku bangsa Werewolf dan kepala suku bangsa manusia kera itu sedang menyaksikan pertarungan antara Anna melawan 10.000 prajurit dari kerajaan Eclovar dari atas sebuah pohon yang tidak terlalu jauh dari tempat dewa Ogun memantau keadaan.
"Melihat kekuatan fisiknya sejauh ini, mungkin dia masih bisa bertahan selama setengah jam lagi sebelum para prajurit itu menghabisinya." Sahut Cayo.
Namun, tebakan Cayo pada akhirnya akan salah.
•••
Anna tidak terlalu memerhatikan dua pasukan yang datang mendekat dari sisi kiri dan kanannya.
Ia sama sekali belum mau berurusan dengan mereka.
Setelah kedua pasukan sudah benar-benar dekat, pasukan yang sejak tadi menyerang dari jauh menghentikan serangan mereka. Kini giliran penyerang jarak dekat yang mengambil alih pertempuran.
Namun, saat serangan jarak jauh terhenti, Anna dengan cepat menggebrak kuda yang ditungganginya.
Ia memacu kuda dengan sangat cepat, menuju pasukan yang berada jauh di hadapannya. Mereka adalah pasukan penyerang jarak jauh, yang kini sedang mengambil jeda untuk memulihkan energi Mana.
Para prajurit yang sedang di datangi tentu saja terkejut. Mereka tahu jika hal ini mungkin akan menjadi kelemahan. Namun, mereka tetap melakukannya karena tidak pernah menyangka bahwa Anna bisa menangkis semua serangan sampai seluruh penyerang jarak jauh kehabisan energi Mana.
Pasukan yang tadinya sudah mendekat dari sisi kiri dan kanan juga ikut terkejut. Mereka berpikir, Anna setidaknya akan lari menjauh dengan mundur menuju hutan saat serangan jarak jauh terhenti, hingga mereka akan dengan sangat mudah mengejarnya.
Namun, karena Anna memilih untuk maju ke arah para penyerang jarak jauh, para penyerang jarak dekat yang terkejut dan dengan spontan memutar balik arah lari kuda, kini mulai mendapatkan masalah.
Karena pergerakan spontan itu, mereka kini saling bertabrakan antara satu dan lainnya, hingga tak sedikit dari mereka yang terjatuh dan terinjak-injak kuda.
•••
"Gila, dia nekad mendatangi kita?!" seru ajudan paling senior, yang melihat Anna kini datang melaju ke arah mereka, pada ajudan kedua di sebelahnya.
Ia kemudian memberikan perintah pada ajudan kedua, "Pergi ke pasukan paling belakang. Bawa mereka mundur menjauh agar pergerakan kita tidak kacau balau."
Setelah ajudan kedua pergi untuk menjalankan perintahnya, ia kemudian berteriak nyaring, memberikan komando pada pasukan yang berada di depan.
"Setengah dari pasukan di depan, pergi ke sisi kiri dan kanan. Sekarang!" seru ajudan senior itu.
Dia tahu daya tempur Anna. Walaupun ia tidak bisa menebak apakah wanita muda itu masih memiliki stamina yang prima atau tidak untuk bertarung, ia lebih memilih jalan aman. Menjauhinya.
Namun, Anna tiba-tiba menarik kekang kudanya.
Kuda itu berhenti seketika. Berdiri, lalu memutar balik arah larinya.
Anna kini pergi kembali menuju pasukan petarung jarak dekat yang masih sibuk mengendalikan kuda mereka akibat saling bertabrakan ketika ingin memutar balik untuk mengejarnya.
"Haaaaaatttt...!"
Dengan satu teriakan nyaring, Anna melompat dari kuda dan terbang dengan cepat menuju pasukan musuh yang masih sibuk mengendalikan kuda-kuda mereka.
Crakkk... Crakkk... Crakkk...
Sesampainya di tengah-tengah kerumunan tentara itu, Anna memutar-mutarkan tombak panjang, bergantian dari tangan satu ke tangan lainnya, mengamuk menghancurkan kepala dan tubuh pasukan yang berada dalam jangkauan tombak panjangnya.
Pasukan yang tidak siap dengan datangnya serangan kejutan itu kocar-kacir.
Mereka bahkan kesusahan untuk menyerang balik dalam keadaan saling berhimpitan, khawatir apabila serangan mereka justru akan mengenai kawan.
Gemuruh bersahutan dari suara pertemuan antara tombak di tangannya dan tubuh para prajurit, menggema nyaring menulikan telinga.
Anna tidak menyerang mereka dengan biasa-biasa saja. Ia benar-benar mengamuk dengan sangat mengerikan dan menghancurkan tubuh orang-orang yang diserangnya tiap ia mengayunkan tombak.
Tapi, ia segera menghentikan serangan saat lawan sudah terlihat ketakutan dan mulai mundur menjauh.
Setelah sisa pasukan penyerang jarak dekat menjauh, Anna mengebaskan tombak nya untuk menyingkirkan gumpalan debu tanah yang menghalangi jarak pandang.
Setelah itu ia berbalik, menatap salah satu ajudan yang kini menggantikan panglima perang yang tadi ia bunuh.
Anna sengaja menyerang pasukan yang masih menyimpan banyak energi Mana untuk memberikan efek kejut.
'Apa mereka yang sedang kehabisan energi Mana itu masih berani menyerang setelah aku menghabisi banyak pasukan penyerang jarak dekat ini? Jika mereka pintar, mereka akan mundur sekarang, kan?'
•••
Ajudan senior yang melihat betapa mengerikannya lawan, walaupun ia tidak memiliki energi Mana, dengan cepat memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mengatur formasi tempur kembali.
Para prajurit itu sempat memiliki semangat juang untuk membalas kematian panglima perang mereka sebelumnya. Namun, saat melihat sosok wanita ramping itu tampak sangat mengerikan, semangat untuk membalaskan dendam itu perlahan mulai luntur.
Mereka mulai mempertanyakan ide ajudan senior yang masih hendak memaksakan diri untuk tetap menyerang makhluk mengerikan itu.
"Bagaimana maksudnya? Apa dia masih yakin bisa melawannya?" tanya seorang prajurit pada prajurit di sebelahnya.
"Kita tidak ada pilihan. Dia yang memegang komando sekarang."
Ajudan senior dapat melihat keraguan yang mulai menjalar dalam pasukannya itu.
Dengan berteriak nyaring, ia membentak mereka. "Apa kalian terima jika pasukan kita dipermalukan?! Kita ini pasukan khusus. Bagaimana jika para prajurit biasa di kerajaan mendengar bahwa kita melarikan diri saat hanya melawan seorang wanita muda? Apa kalian masih memiliki muka untuk kembali ke keluarga kalian?!"
Mendengar kata-kata motivasi itu, para prajurit berteriak nyaring dan memaksakan semangat tempur mereka lagi.
Pasukan itu akhirnya berbaris kembali sebelum akhirnya mulai menyerang Anna dengan sihir jarak jauh seperti sebelumnya.
•••
Tanpa energi Mana nya, Anna tidak bisa memfokuskan pendengarannya seperti biasa. Tapi, walaupun ia tidak bisa mendengar apa yang ajudan senior itu katakan, karena jarak mereka yang terlalu jauh, Anna tahu bahwa mereka tidak ingin menyerah.
Tebakan itu benar adanya karena tak lama kemudian, panah-panah yang di aliri energi sihir kembali beterbangan ke arahnya.
"Mereka gila. Benar-benar gila!" Anna mengumpat kesal.
Anna memungut sebuah pedang yang tergeletak di dekat kakinya. Lalu, dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa, ia melemparkan pedang tersebut pada ajudan senior yang tadi sepertinya memaksa pasukan untuk kembali menyerangnya.
Pedang itu tentu saja berhasil menembus dan menghancurkan tengkorak kepala ajudan itu, yang akhirnya terbang terpental dari kudanya.
Setelah ia melihat ajudan senior itu mati, Anna kembali mengangkat tombak untuk menangkisi anak panah yang sudah terlanjur menghujaninya kembali, sambil memerhatikan reaksi penyerang di kejauhan.
Awalnya, mereka terlihat ingin menyudahi serangan. Namun, mereka tiba-tiba menyerang kembali, seakan ada orang lain yang memaksa.
Anna memicingkan matanya berusaha memerhatikan apa yang terjadi di kejauhan, tanpa perlu berkonsentrasi penuh menangkisi hujan anak panah dan bilah es yang sedang berdatangan ke arahnya.
"Sialan, orang yang mengompori masih ada satu." gumam Anna dengan perasaan mendongkol saat menemukan ajudan kedua yang kini sedang berteriak-teriak memberikan semangat dari arah belakang pasukan penyerang jarak jauh itu.
°°°
Sementara itu, dari arah belakang Anna, prajurit petarung jarak dekat yang sebelumnya lari kocar-kacir telah kembali lagi.
Mereka telah berhasil mengumpulkan semangat tempur dan kembali untuk membalaskan kematian rekan-rekannya.
Mendengar deru langkah ribuan kuda dari arah belakang, Anna menoleh. Ia menyapu semua prajurit berkuda itu dengan tatapan matanya yang tampak marah dengan keputusan bodoh mereka.
"Pilihan yang benar-benar salah. Orang-orang ini benar-benar sangat bebal." Gumam Anna, yang kemudian tersenyum miris.