Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 167 - Gerak-gerik Anna Yang Mencurigakan


Li Wen Xia yang mengalami luka parah di wajahnya sedang dalam perawatan serius.


Jika luka yang dialaminya hanya karena energi sihir biasa, dia sendiri pun pasti bisa mengatasi dan menyembuhkan kondisi wajahnya dengan cepat.


Menerima sengatan energi sihir dari pewaris kekuatan Ann Arnix, membuat iblis mana pun pasti akan mengalami luka yang sangat serius. Energi sihir Ann Arnix sangat berbeda dari sihir mana pun yang berada di alam semesta.


Karena itu lah, Li Wen Xia membutuhkan bantuan iblis lain yang memang memiliki sihir pengobatan untuk membantu menyembuhkan lukanya.


"Tidak ku sangka kau ceroboh seperti Damballa." ucap makhluk bertubuh kurus yang sedang merawat luka Li Wen Xia.


Karena rahangnya hancur, Li Wen Xia tidak bisa berbicara untuk menanggapi ucapan tersebut. Namun, dari lirikan matanya yang melotot itu, makhluk yang juga berwujud manusia tersebut mengerti bahwa Li Wen Xia marah dan tidak menerima kata-kata yang baru saja ia ucapkan.


"Kalau kau marah, aku akan menghentikan penyembuhan mu." Ucap makhluk itu, seraya menghentikan penyaluran energi sihir pada Li Wen Xia.


Namun, tatapan mata Li Wen Xia bukannya melembut, dia malah terlihat tambah marah.


Makhluk itu tertawa, lalu melanjutkan pengobatannya.


"Aku hanya bercanda."


'Bercanda di saat aku seperti ini? Dasar iblis!'


Setelah dua hari penuh, pengobatan pada wajah Li Wen Xia akhirnya selesai dan berhasil dilakukan.


"Bagaimana?"


Li Wen Xia memegangi rahangnya. Ia kemudian membuka dan mengatupkan mulutnya beberapa kali sebelum akhirnya berbicara, "Aku telah pulih."


Makhluk kurus berambut pirang itu menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dari kursi di sebelah ranjang tempat Li Wen Xia berbaring.


"Aku mengira rencana kita akan berjalan mulus dan hanya menunggu waktu sampai semua yang kita tunggu terkumpul sebelum rencana utama di jalankan. Tak ku sangka kita akan bertemu manusia dengan kekuatan Ann Arnix."


Li Wen Xia bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia duduk di tepi ranjang.


"Tapi, apa kau yakin melihat sendiri bahwa Ann dan Erv Arnix sudah tewas?"


Li Wen Xia memelototi makhluk itu.


"Sudah ku bilang aku bahkan hampir mati karena harus melihat kejadian itu sampai akhir. Kau tidak memercayai ku?!"


"Tsk..., kenapa kau selalu marah pada ku? Bicaralah dengan baik."


"Kau sudah menanyakannya puluhan kali dalam beberapa hari ini!"


"Tsk... Ya, sudahlah."


Li Wen Xia mendengus kesal. Namun, ia akhirnya berbicara kembali.


"Mereka masih punya satu saudara lagi. Ingat itu."


Makhluk kurus itu tertawa, menanggapi ucapan Li Wen Xia.


"Jangan khawatir tentang itu. Dia sedang terjebak dalam kebingungan di tempat lain." Ia kemudian menghela nafas dengan berat, "Yang harus kita khawatirkan sekarang adalah manusia yang memiliki kekuatan Ann Arnix."


Li Wen Xia mengangguk. Merasa ngeri saat mengingat bagaimana manusia itu tetap bisa memukulnya walaupun ia sudah berusaha menghindar dengan gerakan yang sangat cepat.


Belum lagi ia telah kehilangan salah satu peliharaan kesayangannya, Naga hitam. Hal itu membuatnya sangat marah, namun apa boleh buat, tak ada yang bisa di lakukannya untuk membangkitkan Naga hitam yang sudah dikirimkan Anna ke kehampaan.


Li Wen Xia akhirnya bangkit berdiri dan berjalan menuju lorong lain dari goa tempat mereka berada.


Makhluk kurus menatapnya dengan bingung, itu adalah lorong tempat portal sihir untuk pergi dari tempat persembunyian mereka berada.


"Kau sudah mau pergi?"


"Aku mau menemui Asmodeus." Ucap Li Wen Xia tanpa menoleh pada Astaroth, pasangannya.


"Astareth! Kau belum benar-benar pulih. Kau masih dalam tahap penyembuhan dari ku." Tegur Ataroth, makhluk bertubuh kurus.


Li Wen Xia, yang bernama asli Astareth, akhirnya berbalik. "Hanya ada sedikit bantuan yang ingin ku minta darinya. Aku akan kembali sesegera mungkin."


Astaroth mendengus dengan suara nyaring dan akhirnya menyetujui hal itu.


•••


Lima hari setelah Dungeon peringkat SS di tutup, seluruh gerbang Dungeon yang masuk dalam perjanjian kontrak antara Kepulauan Fiji dan guild Nine Bears akhirnya berhasil di tutup semuanya.


Masing-masing dari kapten tim raid berkumpul di kantor Asosiasi Kepulauan Fiji untuk pengesahan dokumen akhir perjanjian yang mereka bawa pada Rodman Kilirayna untuk ditanda tangani bersama.


Sebagai kapten dari tim 1, Gina Stewart, sudah melakukan penanda tanganan dokumen terlebih dahulu. Dia dan Anna, sebagai kapten dari tim 2, sudah datang pagi-pagi sekali, saat kantor tersebut baru saja membuka pintu utamanya untuk para pekerja.


Kapten tim 3, Lucy Logan, datang dengan membawa kapten tim 4, avatar Miyu, bersamanya. Miyuki lebih memercayakan avatar hunter nya berada bersama Lucy di vila tim 3 dibandingkan harus bersama Bimo di vila tim 1, karena ada Kevin Jung di sana. Miyuki khawatir Kevin akan merusak avatar nya saat sedang tidak diaktifkan.


Avatar Miyu yang masih kehilangan salah satu lengannya itu tetap berhasil memimpin tim nya yang keseluruhannya terdiri dari avatar hunter, untuk menyelesaikan jadwal raid mereka dengan sangat baik.


Setelah menyelesaikan dokumen pengakhiran kontrak pada kedua Hunter itu, Rodman segera mencegah kedua Hunter itu saat mereka pamit untuk undur diri.


"Tuan Ren, nona Yola. Bisa tunggu sebentar?" Pinta Rodman.


"Ya, tuan Kilirayna?"


"Begini...," Rodman menoleh pada asisten pribadinya, yang langsung membawakan sebuah dokumen padanya. Rodman kemudian meletakkan dokumen tersebut di hadapan Ren dan Yola. "Saya tadi sudah berbicara pada nona Stewart mengenai ini. Kapten tim lain juga mengatakan bahwa mereka ingin melakukannya, namun terkendala masalah waktu dan harus segera kembali ke Asia Tenggara." Ucap Rodman seraya menunjuk pada dokumen di antara mereka.


Ren mengambil dokumen tersebut, membuka dan membaca isinya bersama Yola. Itu adalah dokumen kontrak baru terhadap 50 lebih Dungeon berperingkat B dan C.


"Apa ini pengajuan kontrak baru, tuan Kilirayna?" tanya Ren, setelah ia membaca sekilas seluruh isi dokumen yang memiliki 12 lembar perjanjian.


Rodman segera mengangguk. Kedua matanya menatap Ren dan Yola dengan penuh harap.


"Saya setuju menyelesaikan setengahnya jika rekan saya bisa menyelesaikan setengahnya juga." Ucap Yola, yang kemudian menoleh dan menatap Ren.


Ren mengangguk pelan pada Yola, lalu kembali menatap Rodman Kilirayna. "Kami akan hubungi rekan-rekan kami terlebih dahulu untuk meminta persetujuan mereka. Kami tidak bisa melakukannya jika sebagian besar dari mereka memilih untuk pulang." Ucap Ren.


"Apakah Anda berdua juga sudah memiliki jadwal padat di tempat lain?" tanya Rodman, bingung. Gina sudah mengatakan padanya jika tim Ren dan Yola masih belum memiliki jadwal sekembalinya mereka dari Kepulauan Fiji.


Ren menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Lalu ia kembali berbicara, "Tidak ada. Tim lima dan enam, seluruh anggotanya berasal dari Hunter kalangan bawah. Kami biasanya mengambil jadwal libur untuk berkumpul dengan keluarga setelah melakukan kontrak besar seperti ini. Saya hanya ingin menanyakan pada mereka, apakah keluarga mereka mengizinkan untuk mengambil kontrak lain. Hanya itu, tuan Kilirayna." Sahut Ren.


Kedua mata Rodman melebar. Ada beberapa hal yang membuatnya terkejut saat mendengar apa yang baru saja Ren katakan.


Dia tidak menyangka bahwa seluruh anggota tim 5 dan 6 berasal dari Hunter kalangan bawah, sedangkan tim itu rata-rata berada di peringkat A sampai dengan C, kecuali kapten mereka yang berperingkat S.


Biasanya, Hunter-hunter kalangan bawah hanya berada di kisaran peringkat F dan E. Bisa berada di peringkat D saja sudah sangat bagus.


Hal lain yang membuatnya terkejut, tim 5 dan 6 bahkan meminta persetujuan keluarga mereka terlebih dahulu sebelum melakukan kontrak yang sangat menjanjikan sebuah kekayaan. Biasanya, Hunter akan lebih mementingkan sebuah kontrak dibandingkan keluarga mereka.


"B-baiklah...," sahut Rodman, kehabisan kata-kata. Ia kini memandang Ren dan Yola dengan respek yang jauh lebih tinggi lagi.


"Terima kasih." Sahut Ren dan Yola bersamaan.


Kedua Hunter itu akhirnya melakukan panggilan telepon untuk menghubungi rekan-rekan mereka yang telah kembali ke vila masing-masing tim setelah melakukan raid terakhir tadi.


Setelah seluruh anggota tim juga melakukan panggilan pada keluarga mereka, akhirnya tim 5 dan tim 6 memutuskan untuk mengambil kontrak baru tersebut.


Ren dan Yola masih berada di kantor Asosiasi sampai 2 jam lagi untuk pengesahan kontrak sebelum akhirnya mereka pergi kembali ke vila.


•••


"Tim lima dan enam akan tinggal." Ucap Gina sambil meletakkan smartphonenya kembali ke atas meja makan.


"Mereka mengambil kontrak nya?" tanya Bimo.


"Ya. Mereka mengambilnya."


Sementara Gina dan Bimo asik mengobrol, Anna sibuk dengan smartphonenya.


Baru saat ia merasa suasana mendadak hening, Anna akhirnya memerhatikan Gina dan Bimo yang sudah menatap padanya.


"Ada apa?"


"Kau belakangan sering berkirim pesan dengan seseorang." Sahut Gina.


Anna mengangkat kedua pundaknya. "Bukankah itu hal yang normal?"


"Tidak untuk mu. Kau jarang berkirim pesan selama ini."


Anna mengedip-ngedipkan matanya seraya mengingat kebiasaannya. Ia kemudian menoleh pada Bimo, yang langsung menganggukkan kepalanya.


'Mereka bahkan tahu kebiasaan ku?'


Anna akhirnya berdiri dari tempat duduk. "Aku keluar dulu."


"Kau juga sering keluar malam, akhir-akhir ini."


Sambil tersenyum canggung, Anna melambaikan tanganya pada Gina, lalu ia pun menghilang dari hadapan kedua hunter tersebut.


"Untuk apa dia berdiri kalau tidak keluar melalui pintu?" Pikir Gina. Ia kemudian menatap Bimo lagi.


"Apakah dia melakukan sebuah kejahatan di belakang kita?" tanya Gina pada Bimo. Ia benar-benar bertanya karena tidak memiliki dugaan bahwa Anna akan melakukan hal jahat di belakang mereka. Seperti melakukan raid ilegal.


"Saya tidak tahu, nona Gina..."


"Apa hanya perasaan ku saja? Dia sangat mencurigakan akhir-akhir ini."


"..."


•••••••