
Setelah menghabisi 20 tentara itu, Anna menghentikan aksinya dan duduk diam di atas kuda, memerhatikan pasukan dari kerajaan Eclovar yang tampak hening menatap ke arahnya.
Di antara ribuan prajurit, ada seorang pria bertubuh besar yang berkuda di paling depan pasukan dengan tampilan pakaian perang yang sedikit mencolok.
Tatapan Anna akhirnya berhenti pada pria itu, yang tak lain adalah salah satu panglima perang kerajaan Eclovar, yang ditugaskan untuk menjemput kepala penjara dan menangkap pelaku penculikan.
Pria berambut panjang itu juga menatap Anna, namun dengan tatapan dingin yang sama dinginnya dengan ekspresi wajahnya.
Sebagai salah satu panglima perang terbaik kerajaan Eclovar yang sudah puluhan kali mengikuti perang berskala besar, ia sudah terbiasa menganalisa pasukan musuh dengan sangat baik.
Apalagi, lawannya kali ini hanya seorang gadis belia. Dia sudah tahu bahwa lawannya memang sangat kuat dalam pertarungan yang mengandalkan fisik dan teknik bertarung menggunakan tombak. Namun, gadis itu tidak memiliki hal yang sangat penting dalam dirinya. Energi Mana.
Bagaimanapun kuatnya seseorang, ia akan tidak akan bisa menang bertarung jika menghadapi lawan yang memiliki energi Mana kuat, seperti dirinya.
Panglima perang itu ingat, gadis itu bahkan tidak bisa menyembunyikan jejak kakinya sama sekali karena ia tidak memiliki energi Mana untuk memperhalus langkah kakinya dalam melarikan diri. Jika tidak, mereka mungkin akan kesulitan untuk menemukannya.
Padahal, jejak itu awalnya Anna buat dengan sengaja untuk mengadu domba pasukan kerajaan Eclovar dan suku Trovan. Jika ia tahu akhirnya akan seperti ini, dia pasti tidak akan melakukannya.
°°°
"Jika kau menyerahkan diri dengan baik-baik, aku akan mempertimbangkan untuk mengampuni nyawa mu walaupun kau sudah membunuh puluhan pasukan ku." Ucap panglima perang itu dengan suaranya yang berat dan berwibawa, serta tatapannya yang kini tampak mengancam.
Mengabaikan perkataan pria berwajah garang itu, Anna justru bertanya padanya.
"Aku ingin tahu. Kenapa kalian ingin menangkap ku? Bukankah kalian sudah mendapatkannya kembali?" tanya Anna, yang kemudian menatap pria berwajah pucat yang masih pingsan di atas kuda seorang prajurit.
"Kau telah menculik kepala penjara kerajaan Eclovar dan membuat keonaran, juga melarikan diri dari penjara."
Anna mendengus.
"Prajurit dari kerajaan mu menangkap ku dengan salah. Aku sedang berjalan-jalan dan tidak tahu menahu kenapa aku harus di tangkap."
"Aku sudah membaca laporannya. Kau telah melanggar aturan. Kau memasuki wilayah kerajaan Eclovar tanpa memiliki identitas."
Panglima itu sebenarnya ingin menyinggung tentang Anna yang mengaku berasal dari hutan wilayah barat dan berasal dari suku Trovan, tapi ia mengurungkannya. Ia tahu laporan yang diberikan 4 pria berwajah angkuh itu adalah informasi yang salah, setelah ia melihat penampilan Anna. Pria itu tahu, di dalam suku Trovan hanya ada bangsa Werewolf dan manusia setengah monyet.
Dan lagi, kepala suku sudah mengakui sendiri bahwa ia tidak mengenal Anna dan curiga bahwa gadis itu hendak mengadu domba saja.
Anna menarik nafas panjang lalu menoleh ke atas pohon yang terletak agak jauh dari mereka, dimana dewa Ogun berada.
'Kenapa dia malah diam di sana? Apa dia tidak ingin membantu ku memecahkan masalah ini?'
Anna agak ragu, apakah ia harus pergi kembali ke kerajaan Eclovar atau melawan mereka di sini saja.
Tugasnya adalah untuk menemukan dewi Lyn. Jika ia kembali ke kerajaan itu dan ternyata dijebak, ia khawatir akan mengamuk di sana dan membuat dirinya jadi buruan pasukan kerajaan yang akhirnya akan menghambat dalam pencarian dewi Lyn.
Anna menoleh kembali pada panglima perang itu. Tadinya ia ingin mencari dewa Ogun dan meminta pendapatnya tentang situasi ini. Tapi, setelah dipikirkannya lagi, ia harusnya lebih memiliki hak untuk mengambil keputusan karena ia yang di percayakan dewi Ann untuk memimpin tim kecil mereka.
"Aku tidak akan mengikutimu. Aku memiliki urusan yang sangat penting dan tidak memiliki waktu untuk pergi bersama mu."
"Kalau begitu, aku akan membawa mayat mu saja," sahut panglima perang, menanggapi.
"..."
Pria itu tidak menanggapi dan langsung mencabut pedangnya. Bersamaan dengan itu, suara siulan angin yang berasal dari energi sihirnya terdengar sangat nyaring bersamaan dengan gerakan ayunan pedang yang ia arahkan langsung pada Anna.
"Ambil kepalanya." Ucap panglima perang itu pada dua ajudan yang berada di belakangnya.
Namun, saat kedua ajudan itu hendak pergi, hal yang sangat mengejutkan terjadi.
Wushhhh... Crakkkkk...!
Tubuh panglima perang terbang dari atas kudanya, terbawa tombak panjang yang menancap di kepalanya.
Tak lama kemudian, wanita muda yang harusnya sudah mati terkena serangan sihir jarak jauh sang panglima perang, menggantikan panglima perang itu duduk di atas kudanya.
Kedua ajudan itu bahkan sampai memekik dan menarik kekang kuda mereka dengan sangat kuat akibat terkejut dengan kemunculan Anna yang seperti hantu.
"Mau membawa mayat ku? Benar-benar ide yang salah!" Umpat Anna, sembari menatap tubuh panglima perang yang masih terbang menjauh sebelum akhirnya jatuh menghantam pasukan di belakang sana.
"Ayo kita sudahi di sini," ucap Anna, sembari menatap dua pria yang masih berwajah pucat itu secara bergantian. "Jika kalian memaksa untuk membawa ku, aku tidak tahu apakah kalian semua bisa pulang dengan selamat."
Walaupun tadinya terkejut dan merasa ngeri dengan apa yang baru saja terjadi, namun kedua ajudan itu bukanlah prajurit yang baru bergabung dengan militer kerajaan kemarin sore.
Sudah sangat banyak perang yang mereka lalui. Pemimpin boleh mati, namun semangat juang membela harga diri kerajaan tidak.
Jika mereka kembali tanpa berhasil menangkap buronan yang sudah berada di depan mata seperti ini, tentu saja mereka akan mendapatkan malu yang sangat besar.
Bangsa Werewolf yang menyaksikan kejadian ini dari pinggir hutan juga mungkin tidak akan takut lagi pada para prajurit kerajaan Eclovar jika mereka sampai melarikan diri.
Dua ajudan itu akhirnya pergi mendekati pasukan di belakang.
Setelah melakukan arahan singkat pada pasukan, barisan tentara berkuda yang sebelumnya berjejer rapi, dengan cepat mulai bergerak membentuk sebuah formasi.
Kedua ajudan itu yakin, jika mereka bisa terus-terusan menyerang dengan kekuatan sihir, lawan mereka pasti akan kewalahan dan tumbang.
"Kita ada sepuluh ribu dan dia cuma seorang diri! Apa dia akan sanggup menahan semua kekuatan kita?! Serang dia!!!" seru salah satu ajudan yang berpangkat paling senior, seraya mengarahkan pedangnya pada Anna.
Saat itu juga, gemuruh sorak penuh semangat terdengar dari teriakan pasukan itu, sebelum mereka akhirnya mulai menyerang.
•••
Melihat apa yang para prajurit itu lakukan, Anna mendecak, sembari menoleh kembali pada dewa Ogun yang duduk tenang di atas pohon, menyaksikan apa yang terjadi.
"Apa dia ingin melihat bagaimana aku menyikapi ini? Dia tahu kan, kalau aku sampai mengaktifkan energi Mana maka para dewa panglima perang bisa saja datang dan misi nya akan kacau?"
Saat Anna masih mengomel di atas kuda sang panglima perang, ratusan anak panah yang mengandung energi sihir datang menghujaninya.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Anna mengambil sebuah benda kecil dari ujung lengannya dan mengembangkan benda itu menjadi sebuah tombak hitam panjang yang sangat mengkilap.
Crank... Crank... Crank... Crank...
Anna memutar-mutarkan tombaknya untuk menangkis hujan anak panah yang datang dari langit.
Sementara itu dari arah depannya, kilauan bilah es yang tertimpa sinar rembulan datang tak kalah banyaknya dengan anak panah dari langit.
Anna memutar-mutarkan tombaknya dengan sangat cepat untuk menangkisi serangan yang datang dari dua arah berbeda tersebut.