Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 206 - Koloseum


Empat makhluk berkostum robot yang terbang membawa Anna dengan cambuk metal, turun di hamparan luas dimana banyak makhluk dengan kostum serupa sudah berkumpul dan menunggu di sana.


Sesampainya di daratan, mereka melemparkan tubuh Anna yang sudah terkulai lemah ke tanah begitu saja.


Dua makhluk lain menghampiri dengan membawa sebuah kontainer metal seukuran sebuah kulkas dan meletakkannya tepat di depan Anna.


"Tusuk kedua kakinya agar dia tidak bisa memberikan perlawanan berlebih." Ucap sosok berkostum robot yang memiliki warna kostum merah dan membuatnya lebih mencolok di bandingkan rekan-rekannya yang semuanya memiliki warna kostum silver yang sama.


Dua makhluk yang bersenjatakan pedang kemudian maju dan langsung menjalankan perintah itu.


Namun, saat kedua pedang di masing-masing tangan makhluk berkostum silver itu masih berada di tengah perjalanan menuju kedua paha Anna, Anna yang sudah mendapatkan kesadarannya kembali, langsung menangkap kedua pedang itu dengan cepat.


Tappp...


Melihat lawannya tiba-tiba bergerak bahkan menangkap pedang mereka dengan mudah, kedua makhluk itu langsung mencabut pentung yang tersarung di punggung mereka dan memukulkannya menuju kepala Anna.


Anna tadinya ingin merebut dua pedang dari tangan lawan dan menangkis serangan itu. Namun, empat cambuk yang masih melilit di pergelangan tangan dan kakinya lagi-lagi menyambarkan kilatan sihir hingga membuatnya lagi-lagi merasakan tubuhnya seakan tersengat arus listrik berenergi besar.


Karena itu, selain mendapatkan sengatan listrik, ia juga mendapatkan pukulan keras pada kepalanya akibat tidak sempat menangkis atau menghindari pentung yang sudah mengarah ke kepalanya tadi.


Zratttt...! Takkk... Takkk...!


Anna kembali terkulai lemas dan jatuh berdebum di lantai keras berbahan metal itu.


'Sialan, senjata sihir yang sangat maju ternyata bisa semenyebalkan ini!'


Baru saja tubuhnya bertemu lantai, sebuah tendangan menyasar ke perutnya.


Wussshhh... Bukkkk!


Tubuh Anna langsung terpental jauh ketika tendangan makhluk berkostum merah bersarang di tubuhnya. Namun, cambuk dari empat makhluk yang masih melilit di pergelangannya, membuatnya terbang kembali ke tempatnya semula saat mereka menariknya.


Makhluk-makhluk itu akhirnya membiarkan Anna yang tanpa daya itu tergeletak kembali di tempatnya semula, sementara mereka berdiri mengelilinginya.


Anna bisa mendengar makhluk-makhluk yang mengerubunginya itu berbicara antara satu dan lainnya sebelum akhirnya menyingkir, membuka jalan bagi makhluk lain yang datang dengan membawa pedang dan perisai di masing-masing tangannya.


Makhluk itu kemudian berbicara pada Anna dengan bahasa yang sama sekali asing di telinganya dan tidak bisa ia mengerti.


Namun, dari gesture nya, Anna tahu bahwa makhluk itu memintanya untuk bangun dan bertarung dengannya karena semua makhluk lain yang sebelumnya mengerubungi sudah pergi menyingkir ke pinggir arena.


Arena yang menyerupai koloseum itu tiba-tiba menjadi begitu ramai.


Ada puluhan ribu layar transparan di sekelilingnya yang tiba-tiba saja bermunculan dan menampilkan wajah orang-orang yang sedang menyaksikan apa yang terjadi di tengah arena secara daring.


Saat Anna duduk, kotak metal yang tadi di letakkan di dekat tubunya tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.


Dari dalam kotak, benda metal beterbangan sebelum akhirnya hinggap dan melekat di sekujur tubuh Anna.


“Apa mereka ingin bermain gladiator dengan ku?” gumam Anna sembari memerhatikan kedua tangannya yang sudah terbungkus armor metal.


Anna dapat merasakan seluruh tubuhnya yang terbungkus armor metal itu tidak terasa kaku sama sekali. Ia merasakan kostum canggih itu seperti sebuah kain yang lembut dan nyaman di kenakan di tubuhnya.


"Apakah Miyu bisa menciptakan armor sebagus ini?" pikirnya.


Anna kemudian melihat ke dalam kotak, untuk mencari sebuah senjata, namun kotak itu sudah kosong dan sepertinya hanya di gunakan untuk menyimpan kostum saja.


"Tsk..., ingin bermain gladiator tapi tidak memberikan ku senjata?" gumam Anna, seraya menatap makhluk berkostum hitam di hadapannya yang bersenjata lengkap.


Baru saja Anna berdiri, seluruh penonton yang menyaksikan bakal pertarungan itu, bersorak.


Anna menatap ke sekelilingnya, melihat wajah-wajah makhluk yang mirip dengan manusia di Bumi. Melihat itu, ia merasa seakan sedang berada di Bumi, bukan di planet asing.


Tak lama kemudian, terdengar suara bel nyaring, diiringi oleh tepuk tangan seluruh penonton yang bersorak menantikan kedua gladiator itu untuk saling menyerang.


Walaupun sedang tidak mengaktifkan energi Mana nya, Anna dengan mudah melompat mundur untuk menghindari serangan pertama tersebut.


Kesal karena serangannya dapat di hindari dengan mudah, makhluk itu menerjang lagi dan menebaskan senjatanya menuju kedua kaki Anna, bermaksud hendak memutuskan kedua kaki gadis itu.


Namun, Anna tiba-tiba saja menghilang dari hadapannya.


Melihat lawannya lenyap, makhluk itu buru-buru menutupkan perisai ke depan tubuhnya sembari berputar-putar mencari keberadaan lawan.


Melihat salah satu petarung lenyap, seluruh penonton yang sedang menyaksikan pertarungan pun terdiam.


Tapi, tak lama kemudian, semua penonton terpekik saat melihat Anna tiba-tiba muncul di belakang lawannya dan dengan cepat menyambar kepala makhluk berkostum hitam tersebut.


Sambil menatap ke arah para penonton dan menyeringai lebar, Anna kemudian memutar kepala makhluk itu sampai 180°.


Krakkkk!!!


Tidak hanya sampai di situ. Saat makhluk itu terjatuh, setelah ia tewas, dengan kedua lututnya terlebih dahulu, Anna menginjak pundaknya dengan satu kaki, lalu mencabut kepalanya hingga terlepas dari tubuhnya.


Crtakkk…!


Melihat cara membunuh Anna yang terlalu sadis itu, para penontong memekik ngeri.


Anna kemudian menendang tubuh lawannya, lalu mengangkat kepala tanpa tubuh itu tinggi ke udara seraya menyeringai jahat.


“Kalian suka ini?!” teriak Anna, sembari berputar di tempat, untuk menunjukkan kepala itu pada semua penonton yang terdiam saat melihat betapa mudahnya Anna membunuh salah satu gladiator terbaik mereka.


Melihat itu, tentu saja makhluk lain yang sebelumnya sudah menyingkir ke tepian koloseum, langsung datang menyerbunya kembali dengan pentung dan cambuk metal di tangan.


Mereka bermaksud untuk menyetrumnya lagi seperti yang mereka lakukan sebelumnya.


“Aku tadi lengah karena mengagumi betapa hebatnya peradaban kalian,” gumam Anna, seraya melemparkan kepala di tangannya dengan asal.


Ia kemudian mengangkat kedua tangannya lurus ke samping kiri dan kanan tubuhnya.


Setelah ia mengaktifkan kembali energi Mana nya, Anna bergumam,


“Conqueror Of Darkness, Light in the Darkness…”


Bersamaan dengan itu, semua makhluk yang berada di dalam koloseum tiba-tiba mendengarkan suara desiran angin yang terdengar menyeramkan di telinga mereka.


Ziiiiinnnng…


Setelah suara menghilang, cahaya keemasan yang sangat menyilaukan mata tiba-tiba menyebar ke seluruh koloseum.


Makhluk-makhluk yang sebelumnya maju menyerang, secara spontan menghentikan langkah kaki mereka, saat cahaya yang sangat menyilaukan mata itu tiba-tiba saja menerpa dan melewati tubuh mereka begitu saja sebelum akhirnya menghilang.


Mereka mengira bahwa mereka bisa maju menyerang lagi setelah cahaya itu menghilang. Jadi, mereka akhirnya bergerak lagi untuk menyergap Anna kembali.


Namun setelahnya, mereka tiba-tiba merasakan panas yang sangat menyengat terasa di sekujur tubuh yang kemudian di susul dengan ledakan besar yang menghancurkan seluruh koloseum beserta isinya.


BOOOOOOMMMMMMMMM!!!


Ledakan mengerikan itu bukan hanya menghancurkan koloseum berbahan metal itu saja. Bahkan, seluruh wilayah yang berada dalam radius 150 kilometer dari pusat ledakan, hancur dan rata dengan tanah tanpa meninggalkan setitik benda apapun di sana selain debu yang beterbangan.


Bukan hanya itu saja efek yang di hasilkan oleh ledakan sihir tersebut. Ledakan itu bahkan menghancurkan sebagian atmosfer di atas sana, tempat terjadinya pertempuran para Elf dan bangsa penjajah, hingga runtuh dan membuat semua makhluk di atas sana jatuh terperosok ke dalam planet asli bangsa penjajah di mana Anna saat ini berada.


Anna langsung mengirimkan sihir pelindungnya pada semua Elf pengikutnya yang juga ikut terjatuh ke dalam lubang besar yang di hasilkan oleh sihirnya tadi, lalu menerbangkan semua pengikutnya itu menuju ke arahnya untuk melindungi mereka, karena ia sudah merasakan energi Mana lain dalam jumlah besar sedang berdatangan dari segala penjuru menuju ke arah mereka.


“Berkumpulah di sekeliling ku. Musuh akan berdatangan lagi.” Perintah Anna pada mereka.