Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 178 - Pertarungan Di Rumah Pantai


Ren kini menaruh rasa curiga penuh pada dua Hunter yang berada di sisi kiri dan kanannya, yang memancarkan energi sihir hanya sepantaran Hunter peringkat F saja. Ia yakin, kedua Hunter itu berperingkat sangat tinggi.


Selain karena mereka merupakan seorang agen rahasia, gelagat yang Rodman tunjukkan juga sangat mencurigakan. Rodaman yang berperingkat A itu tidak mungkin akan terlihat ketakutan jika kedua Hunter tersebut benar-benar berperingkat F.


Rodman yang juga sudah akrab dengannya dan tahu seberapa kuatnya dia, juga pasti tidak akan terlihat ketakutan berlebih seperti itu andai saja kedua Hunter tersebut juga berperingkat S seperti dirinya.


°°°


"Anda seharusnya tidak mengalihkan fokus dari orang yang mengajak Anda berbicara dengan sopan, tuan Ren." Ucap Jordan, yang tampak tidak senang dengan sikap Ren yang ia anggap tidak sepantasnya.


Ren menoleh pada Jordan, lalu menatapnya dengan tatapan tidak senang.


"Jika Anda berbicara mengenai kesopanan, Anda dan rekan Anda seharusnya membiarkan saya menyelesaikan urusan saya dan tuan Kilirayna terlebih dahulu, tuan Foster."


Mendengar itu, Jordan tertawa.


"Anda tahu siapa kami, kan? Sebagai seorang Hunter profesional Anda juga seharusnya tahu mengapa agen rahasia sampai harus menemui Anda." Ucap Fred.


Ren berbalik kembali untuk menatap Fred. Ia kemudian tersenyum sinis sebelum menyahut, "Kalau begitu Anda salah sasaran. Saya bukan seorang penjahat."


"Jika Anda menyaksikan berita yang beredar, Anda seharusnya sudah tahu bahwa guild Anda di curigai telah melakukan tindakan ilegal, kan?" ucap Fred lagi.


"Kami tidak melakukannya. Saya rasa Anda berdua melakukan kesalahan." Sahut Ren.


"Bukankah kau terlalu berani untuk terus membantah?! Apa karena kami bersikap terlalu lembut?!" Ucap Jordan, dengan nada suara tinggi.


Mendapat bentakan itu, Ren langsung berdiri.


Ia kemudian mengambil amplop dari atas meja lalu menyodorkannya kembali pada Rodman dan mengabaikan dua agen rahasia itu. "Tuan, tolong tanda tangani ini agar urusan kita segera selesai." Pinta Ren dengan sungguh-sungguh.


Namun, amplop di tangan Ren langsung berubah menjadi abu sebelum Rodman meraihnya.


Melihat itu, Ren langsung melompat mundur sejauh yang ia bisa, tahu bahwa dua agen rahasia itu mungkin akan berusaha mencelakainya.


Baru saja Ren menapakkan kakinya di lantai. Dua Hunter lain yang sejak tadi berada di dekat pintu, langsung menyergapnya.


Merasakan kehadiran energi sihir yang berasal dari dua Hunter di belakangnya, Ren buru-buru berbalik dan berinisiatif untuk langsung menyerang mereka dengan sihirnya.


Ren menyerang mereka dengan tanpa keraguan. Ia tahu, tidak akan ada hal baik yang akan didapatkannya jika terus bersikap lunak pada mereka.


Selain itu, Ren tahu bahwa salah satu dari penyerangnya pastilah Hunter berperingkat tinggi. Ia sudah curiga pada pria paruh baya yang tadi menjemputnya. Berada di peringkat F dengan usia seperti itu, sangat tidak masuk akal baginya.


Uap dingin menyembul dari kedua telapak tangan Ren. Uap yang kemudian membentuk butiran-butiran es itu, terbang dengan sangat cepat menuju dua Hunter yang berperingkat B dan S yang bermaksud menyerang dengan membokongi nya.


Sebelum serangannya tiba pada dua Hunter tersebut, Ren sudah melakukan serangan susulan. Kali ini, dia membekukan lantai di hadapan dua Hunter tersebut dengan sihirnya.


Dua Hunter yang berusaha menangkis serangan bulir-bulir es, tidak berhasil menyelamatkan diri mereka.


Bulir es langsung mencair saat bersentuhan dengan lengan mereka, kemudian membeku lagi saat sudah membasahi tangan dan sebagian tubuh kedua orang tersebut. Sihir itu berhasil membuat tubuh dan tangan kedua Hunter itu membeku.


Keduanya juga langsung jatuh terpeleset pada saat kaki mereka menapak lantai yang sudah membeku dan sangat licin.


Lantai itu kemudian mencair, begitu tubuh kedua Hunter jatuh ke atasnya, kemudian membeku kembali hingga membuat keduanya terjebak di lantai yang membeku tersebut.


Setelah menyerang kedua Hunter itu, Ren langsung berbalik tanpa memerdulikan mereka. Ia tahu mereka tidak akan bisa lolos dari dua serangannya tersebut dengan mudah.


Walaupun pria paruh baya yang terjebak di es itu merupakan Hunter berperingkat S, namun Ren sangat yakin bahwa ia tidak akan bisa menghancurkan sihir es dengan mudah, karena sihir itu benar-benar sangat kuat.


Namun, begitu Ren berbalik, ia langsung menghadapi serangan bola api raksasa dari Jordan.


Ren langsung membuat tembok es yang berhasil melindunginya dari serangan lawan.


Tapi, akibat perbedaan kekuatan sihir yang cukup jauh, tembok es tersebut hanya bisa melindunginya selama beberapa detik saja, sebelum akhirnya mencair.


Perbedaan kekuatan sihir yang sangat jauh antara peringkat S dan SS membuat semua tembok es penghalang yang Ren buat, langsung meleleh sekitar 4 sampai 5 detik setelah terkena sambaran bola api.


Saat Ren masih disibukkan dengan serangan Jordan, Fred datang dari arah kirinya.


Pria paruh baya tersebut langsung menghujamkan belatinya ke paha kiri Ren dan berhasil menusuk kakinya hingga menembus dari sisi satu ke sisi lainnya.


Stab...!


Wush... Trannngggg!


Ren juga membalas serangan Fred dengan bilah es yang baru saja ia bentuk di salah satu tangannya. Namun, bilah es yang kalah solid dengan belati di tangan Fred, langsung putus saat kedua benda tersebut saling beradu.


Fred kembali menyerang Ren yang berusaha menghindar sembari membentuk tembok-tembok es untuk menangkis serangan jarak jauh Jordan.


Untungnya, serangan Fred yang berperingkat SSS tersebut tidak dilakukannya untuk membunuh. Pria paruh baya itu terlihat melakukan serangan hanya untuk melumpuhkan Ren saja.


Berbeda dengan Fred, Ren menyerang dengan tujuan untuk membunuh lawan. Ia tahu, jika ia tidak bertarung dengan cara seperti itu, dia pasti akan kalah. Jadi, saat memiliki kesempatan, Ren langsung menyerang Fred dengan special skill nya.


Seluruh tembok es yang telah mencair oleh serangan Jordan, kini membanjiri lantai tempat semua orang berpijak.


Genangan air itu tiba-tiba terlontar ke udara, membeku, lalu membentuk ratusan bilah es. Bilah-bilah es tersebut kemudian terbang menuju Fred dan Jordan dan menyerang mereka dengan kecepatan dan kekuatan sihir yang tingkatnya jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.


Melihat bahaya yang berasal dari special skill lawannya, Jordan langsung berusaha melindungi tubuhnya juga dengan tembok api yang terbentuk setelah ia mengangkat kedua tangan ke depan tubuhnya.


Energi sihir dari tembok api itu sangat kuat hingga berhasil membuat ratusan bilah es yang berdatangan langsung menguap ketika bersentuhan dengannya.


Sementara itu, Ferd berusaha menghindari puluhan bilah es yang mengejarnya dengan mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya sebagai seorang Assassin.


Pria paruh baya itu berkelit kesana kemari, menghindari bilah es yang terus mengejarnya.


Ren tahu, bahwa ia tidak memiliki peluang melawan sihir api Jordan yang berperingkat lebih tinggi darinya, jadi ia memilih untuk menyerang Fred dengan sungguh-sungguh dengan puluhan bilah es terbang dan menyerang Jordan dengan ratusan bilah es yang terbentuk berulang kali secara asal-asalan.


Ren hanya ingin agar Jordan tidak bergerak dari tempatnya dan mengganggu pertarungannya dengan Fred.


Ren berusaha mengendalikan bilah es dengan seluruh kekuatan sihirnya, membuat bilah es tersebut terus mengejad Ferd, kemanapun pria paruh baya itu pergi.


Fred yang terdesak oleh puluhan bilah es yang berdatangan dari segala arah, terus bergerak mundur sampai akhirnya terdesak menuju pintu keluar dari rumah pantai.


Melihat lawannya semakin terdesak, Ren menambahkan kekuatan sihirnya lagi untuk menekan Fred. Ia memang sengaja menggiring Fred untuk keluar dari bangunan itu karena dengan begitulah ia sendiri juga bisa meloloskan diri dari mereka.


Fred yang terdesak pun akhirnya memilih untuk keluar dari rumah tepi pantai tersebut. Bertarung dengan tujuan tidak membunuh lawan, membuatnya benar-benar kerepotan.


Pria paruh baya itu pada akhirnya tidak bisa membalas serangan lawan dengan sungguh-sungguh karena ia yakin lawan akan langsung tewas jika ia melakukannya. Sedangkan, dia hanya diperintahkan ketua Asosiasi Amerika untuk menangkap Ren agar dapat digunakan sebagai sandera saja.


Fred akhirnya melompat menuruni teras bangunan dan ia kini sudah berada di pasir pantai yang terasa lunak di kakinya.


Melihat lawannya menjauh, Ren akhirnya berbalik, begitu ia juga sudah berada di luar rumah tepi pantai tersebut.


Remaja itu kemudian mengarahkan telapak tangannya ke dalam rumah yang sudah dipenuhi oleh air yang berasal dari sihirnya.


Saat Ren mengatupkan telapak tangannya hingga membentuk tinju, genangan air yang memenuhi seluruh lantai rumah membeku seketika itu juga. Lalu, saat Ren membuka genggamannya lagi, balok-balok es yang baru saja dibentuknya itu tiba-tiba meledak, hingga menghancurkan rumah tepi pantai tersebut.


Booooommmmmm!!!