
Anna masih dalam misinya sendiri untuk mengungsikan penduduk dunia yang berada di sekitar Tiongkok agar menjauhi wilayah dataran luas itu.
Jadi, sejak awal, Anna sebenarnya memang ingin mengungsikan mereka lebih jauh, demi menghindari sesuatu yang sudah diketahuinya.
Akan ada pertarungan besar yang terjadi di sana.
°°°
Anna mempercepat pemindahan warga sipil dan Hunter-hunter yang menjaga para warga itu dalam tiap persembunyian, setelah melihat gerbang cincin kristal raksasa berwarna merah sudah mulai runtuh.
"Alvin sudah berhasil mengalahkan Beelzebub," gumam Anna pelan.
Namun bukannya terlihat senang, Anna justru gelisah karenanya.
Berbeda dengan para warga yang senang setelah melihat keruntuhan tembok raksasa begitu mereka melihat Alvin, Hunter kuat yang selama ini menyembunyikan diri dari dunia, berhasil membinasakan Beelzebub, melalui video siaran langsung yang di lakukan WABC.
"Yah..., mereka tidak tahu apa yang akan datang setelah ini," batin Anna.
Anna semakin mempercepat pengungsian para warga setelahnya melihat keruntuhan gerbang kristal raksasa.
Ia tahu apa yang akan muncul setelah itu.
"Mereka akan datang sebentar lagi..."
Untungnya, Anna sudah berhasil mengantarkan para pengungsi ke wilayah terakhir saat gerbang cincin hitam yang jauh lebih besar dari gerbang kristal merah muncul menggantikannya.
"Masih ada iblis lain lagi?" tanya Lowe Frostman, ketua baru Asosiasi Asia Tenggara, yang kebetulan berada di tim pelindung para pengungsi yang baru Anna antarkan ke benua Australia.
"Ya," sahut Anna pelan, diiringi senyuman pahit setelahnya.
"Apa mereka berbeda dari yang sebelumnya, nona Anna?"
Anna mengangguk pelan. "Mereka berbeda. Mereka lebih kuat."
Glup...
Lowe menelan ludah mengetahui hal itu. Iblis-iblis merah itu saja sudah terlalu kuat untuk bisa dihadapi oleh Hunter di Bumi. Bagaimana mungkin mereka bisa menghadapi yang lebih kuat lagi?
"Saya...," Lowe tidak bisa melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.
Ia hanya bisa terdiam sambil menyaksikan layar televisi yang sedang menyiarkan pertempuran antara pasukan Anna dan pasukan monster baru yang telah keluar dari gerbang hitam.
"Tidak apa-apa, tuan Frostman. Tolong lindungi warga yang berada di dalam tanggung jawab Anda. Tiap orang memiliki tanggung jawab yang sesuai kemampuan yang dimiliki. Selama kita bisa menjalankan tanggung jawab kita masing-masing dengan baik, yakinlah jika semua akan baik-baik saja," ucap Anna.
Anna bisa mendengar apa yang sedang Lowe pikirkan di dalam hatinya. Anna tahu, Lowe sangat ingin membantu para Hunter Bumi.
Namun Lowe juga tahu dengan kemampuannya, ia takut jika malah akan menjadi pengganggu yang menghambat para Hunter kuat yang sedang berjuang.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Anna lagi sebelum akhirnya lenyap dari dalam bunker.
•••
Anna kembali ke daratan Tiongkok, salah satu daratan terluas yang berada di muka Bumi.
Menurut petunjuk yang dewi Lyn berikan, lawan dari pusaran putih yang sebenarnya akan muncul di tempat itu.
Sementara menunggu kedatangan lawan, Anna memberikan komando pada seluruh pemimpin pasukannya untuk bersiaga di sekeliling wilayah yang akan menjadi tempat pertempuran.
Ia meminta agar mereka semua bisa meminimalisir energi sihir yang nantinya akan keluar dari zona pertarungan.
Sementara itu, untuk pasukan Elf, Orc dan pasukan berkuda dari planet Titans, ia meminta mereka semua untuk memburu monster-monster mengerikan yang sudah berkeliaran ke seluruh penjuru Bumi.
•••
Di atas sebuah gedung pencakar langit yang memiliki 100 lantai, Anna memejamkan kedua matanya, menajamkan seluruh indranya untuk merasakan apakah ada warga yang mungkin tertinggal di sana.
Ia akhirnya bersyukur karena tidak menemukan siapapun lagi yang berada di sana selain dirinya.
"Harusnya aku yang mengatakannya, dewa Ogun. Terima kasih karena Anda berdua telah mau membantuku," sahut Anna.
Rasa terima kasihnya ia katakan dengan ketulusan yang sungguh-sungguh.
["Kami akan mendukung dengan seluruh energi Mana kami. Berjuanglah sampai akhir, Anna,"] dewi Ezili menambahkan.
"Tentu. Mohon bantuan Anda berdua juga, dewi Ezili."
Tepat setelah Anna mengakhiri kalimatnya, warna biru cerah yang sebelumnya menghiasi langit di sore hari itu mulai menggelap.
Dari tempatnya berada, Anna bisa merasakan sihir pembatas yang baru saja dewan pengawas gunakan untuk menutupi apa yang sedang terjadi di Bumi dari pengawasan dewan pengawas agung.
Mulai sekarang, jejak sihir dewa, malaikat, atau pun dewan pengawas yang nantinya akan hadir di Bumi, tidak akan pernah terdeteksi di dunia para dewa.
Hal itu dilakukan para dewan pengawas yang telah membelot dari ajaran Absolut agar dewan pengawas agung atau para Serafim, tidak bisa menemukan jejak keberadaan mereka di Bumi.
•••
Sama seperti yang pernah dewan pengawas Ge lakukan pada salah satu dewan pengawas di planet Titans, dewan Ge melakukan serangan dadakan setelah ia baru saja turun ke Bumi.
Serangan itu sangat cepat dan kuat hingga mengakibatkan gedung di mana Anna sebelumnya berpijak langsung runtuh hanya karena terdistorsi energi Mananya saja.
Dewan Ge menyarangkan tombak kristal yang menjadi senjata andalannya pada Anna yang masih diam menunggu kehadirannya.
Booooooommmmm!!!
Ledakan besar terjadi secara berturut-turut setiap kali dewan Ge mengibaskan tombak kristalnya pada Anna yang kali ini tidak terpengaruh sihir pembelenggu dewan Ge yang biasanya akan secara otomatis membuatnya berlutut.
Anna berlompatan di antara gedung-gedung pencakar langit yang berada di pusat kota Beijing. Menghindari serangan dewan Ge yang tidak memberinya peluang untuk bisa mengeluarkan senjata ataupun menangkis serangannya.
Serangan-serangan dewan Ge di lakukan dengan sangat cepat dan terukur, membuat Anna yang menjadi target benar-benar tidak bisa melakukan hal lain selain menghindarinya saja.
Tapi, setelah melakukan serangan selama kurang lebih 2 menit, dewan Ge akhirnya menghentikan serangannya.
•••
Anna mengebaskan salah satu tangan, menyingkirkan debu dari bangunan-bangunan yang telah meledak agar tidak menghalangi pengelihatannya.
Walaupun ia tidak terganggu untuk mengetahui dimana posisi dewan Ge berada dari pandangan yang terhalang debu tebal tersebut, ia melakukannya hanya untuk melihat wajah dewan pengawas para dewa yang telah membelot itu.
"Kita bertemu lagi," ucap dewan Ge, sembari menyeringai lebar.
Walaupun dewan Ge terlihat sangat santai seakan tanpa beban karena menganggap lawan yang dihadapinya hanyalah seorang makhluk ciptaan yang memiliki derajat sangat jauh di bawahnya, namun ia sebenarnya merasa sedikit kecewa karena tidak memiliki kesempatan untuk dapat bertarung secara langsung melawan dewi Ann yang sangat ingin dihabisinya.
"Entah aku yang sudah lebih kuat dibandingkan saat kita bertemu dulu atau kau yang bertambah lemah," sahut Anna, sengaja melontarkan kalimat ejekan pada dewan Ge.
Dewan Ge menyipitkan kedua mata, lalu tertawa lepas setelahnya.
"Aku mengakui kemampuanmu yang bisa menandingi dewa. Kau juga bisa lolos dari sihir belenggu. Tapi..., kau terlalu percaya diri dengan berani melontarkan kata-kata tak pantas pada sosok dewan pengawas," sahut dewan Ge.
Sikapnya menunjukkan jika ia masih menganggap Anna bukanlah lawan yang pantas menghadapinya.
Dewan Ge kembali berbicara, "Ada banyak rahasia dari kekuatan sihir yang belum kau ketahui. Kau pikir dengan mewarisi sihir dari dua keturunan keluarga dewa Arnix maka kau kira bahwa dirimu memiliki kekuatan dan pengetahuan yang sejajar dengan kami?"
"Ku rasa kaulah yang kurang pengetahuan. Aku bukan asal berbicara. Kenapa kau tidak mencari tahu saja seberapa kuat diriku sekarang?"
Senyuman sinis terbentuk di wajah dewan Ge setelah Anna menyelesaikan kalimatnya.
Dewan pengawas yang tampak anggun itu kemudian mengangkat tangan kirinya, mengarahkan telapak tangannya pada Anna.
"Matilah!" seru dewan Ge.
Bersamaan dengan mantra sihir yang diucapkannya setelah itu, cahaya kelabu terlontar dari telapak tangannya.