
Orang-orang yang menyaksikan apa yang terjadi pada Anna melalui siaran WABC tentu saja khawatir.
Apalagi setelah serangan pertama terjadi, ada banyak serangan susulan.
Mereka memang tidak bisa mengikuti kecepatan gerak sang malaikat yang sedang menyiksa Anna, namun mereka tahu jika Anna sedang kalah dalam pertarungan.
Tapi, anehnya, Gina dan kawan-kawan yang bertempur di darat dan laut tidak mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi pada Anna.
Mereka mengabaikan Anna dan malah berkonsentrasi untuk mengejar monster-monster merah yang keluar dari gerbang cincin raksasa.
•••
'Apa itu tidak sakit?' tanya Gina sambil membayangkan wajah Anna.
Ia tahu, dengan begitu ia bisa berbicara melalui telepati pada gadis itu.
Walaupun kekhawatiran tidak tampak terlalu jelas di wajahnya, namun Anna bisa merasakan kekhawatiran itu dari getaran suara Gina.
'Tidak sama sekali. Tolong jangan khawatirkan aku,' sahut Anna.
Anna memang terlihat sedang di siksa. Di tembak berkali-kali dengan energi sihir. Namun, tidak satupun serangan lawan yang sebenarnya bisa menyentuh tubuhnya.
Semua sihir itu buyar saat bertemu dengan sihir pelindung yang menyelimuti tubuh Anna. Jadi, Anna cuma terbang ke sana ke mari mengikuti arah dari mana serangan mereka datang agar terlihat jika ia terkena serangan.
Setelah beberapa jam, salah satu malaikat datang mendekat, memeriksa keadaan Anna yang sudah terlentang tak bergerak di puncak sebuah bukit.
Tubuhnya terkulai lemas. Darah segar mengalir dari hidung, mulut dan telinganya.
Tak lama kemudian, dua malaikat lain datang menghampiri dan memerhatikan kondisi Anna yang telah terluka parah.
Melihat lawan yang sudah tak berdaya, malaikat terkuat akhirnya mengalihkan pandangan pada pasukan Bumi yang sedang berburu makhluk ciptaan dari planetnya.
"Ternyata dia lebih lemah dibandingkan mereka," ucap malaikat terkuat. "Tinggalkan saja, ayo kita habisi kawanannya," perintah malaikat itu.
Setelah dua rekannya pergi, bilah sihir menyerupai tombak muncul di tangan malaikat tertinggi dari pusaran merah.
Ia mengangkat bilah itu tinggi, lalu melemparkan bilah menembus jantung Anna.
Malaikat itu diam selama beberapa detik, merasakan aura kehidupan yang sudah menghilang dari Anna.
Setelah itu, ia pun meninggalkan Anna di puncak bukit dan pergi menyusul kedua rekannya.
Semua penduduk dan hunter dunia menangis bersamaan setelah melihat kematian Anna di depan mata mereka melalui layar televisi di dalam bunker mereka masing-masing.
Anna yang terlihat begitu kuat telah mati dengan sangat mudah di tangan tiga makhluk berwajah bengis itu.
•••
Di puncak bukit, Anna berusaha keras menulikan telinganya yang terasa sakit akibat suara tangisan serempak yang dilakukan miliaran penduduk Bumi.
Jangankan para manusia biasa dan hunter peringkat bawah itu, Nobara yang sangat kuat saja langsung naik ke puncak bukit setelah tahu Anna telah berhasil dikalahkan.
Di antara mereka, hanya Miyuki saja yang mendecak kesal setelah melihat sandiwara yang Anna mainkan.
Miyuki yang memiliki inti Mana dari keturunan Serafim itu tahu jika Anna sedang menggunakan sihir ilusi.
"Astaga. Apa yang dia lakukan?! Apa dia ingin membuat kemenangannya terlihat dramatis? Bangkit dari kematian dan menghabisi semua lawan," oceh Miyuki sambil menatap monitor televisi di ruang kerjanya dengan tidak senang.
"Pasti ada rencana yang sedang dijalankannya," sahut Lorelei yang juga sedang duduk santai di dalam ruang kerja Miyuki bersama Nordic yang awalnya juga tertipu namun tahu jika Anna sedang berpura-pura kalah dan mati setelah memfokuskan sihir di kedua matanya.
Miyuki menatap tajam wajah Anna yang disorot oleh salah satu satelit.
"Dia tidur?"
Lorelei tertawa.
"Dia mungkin ingin tidur."
"Tsk... Si gila ini..."
["Miyu, bisakah kau menghadangnya?"]
Suara Anna tiba-tiba terdengar di dalam kepala Miyuki.
'Aku akan membunuhnya,' sahut Miyuki, ketus.
["Jangan lakukan itu."]
'Kenapa?'
["Beelzebub sedang melihat untung rugi. Biarkan dia menyeberang dulu ke Bumi, barulah kau boleh habisi dia."]
'...Jadi begitu...'
["Kau terlalu berpikiran buruk tentangku, kan?"]
["Aku akan membukakan gerbang untukmu."]
Setelah mengakhiri ucapannya, Anna membuat sebuah gerbang di ruang kerja Miyuki.
"Saya pergi dulu, nona Lo," ucap Miyuki sopan, pada gurunya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia meminta kami untuk bersembunyi dulu?" tanya Nordic penasaran.
"Saya kurang tahu. Tapi sepertinya Anna ingin menyembunyikan keberadaan Anda berdua dari malaikat itu," sahut Miyuki, sama sopannya dengan caranya berbicara pada Lorelei.
Nordic menghela nafas panjang.
"Baiklah... Kau boleh pergi sekarang."
Setelah membungkukkan tubuhnya sekali, Miyuki pun masuk ke dalam gerbang yang membawanya langsung pada tiga malaikat tertinggi dari pusaran merah.
•••
Miyuki mengembalikan kedua tanto, yang terlanjur ia cabut, kembali ke dalam sarungnya setelah ingat pesan Anna jika dia tidak boleh membunuh ketiga malaikat itu sebelum Beelzebub datang, atau Beelzebub bisa saja tidak jadi datang setelah melihat ketiga malaikat kuat itu mati.
"Merepotkan saja," gumam Miyuki.
Salah satu malaikat yang berada jauh di langit menatap padanya yang baru saja keluar dari gerbang sihir, sementara dua malaikat lain mengabaikannya dan terus terbang mengiringi pasukan monster merah yang sedang terbang lebih rendah dari mereka.
Ketiga malaikat itu ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu jika akan ada gerbang cincin raksasa yang sebenarnya cuma bisa di buka oleh dewa perang pusaran merah, atau ada makhluk dari pusaran putih yang membukanya dan mengundang seluruh makhluk pusaran merah untuk datang.
Setahu mereka, hanya gerbang raksasa di pantai itulah yang harus mereka buka untuk menginvasi Bumi.
°°°
Malaikat yang tadi menatap Miyuki, pada akhirnya mengabaikannya juga, merasa jika Miyuki sangat tidak penting. Hanya segelintir energi sihir yang bisa dirasakannya dari gadis itu.
Dia lebih ingin mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi hingga gerbang cincim terbuka.
Namun, setelah Miyuki merasa kesal karena telah diabaikan, ia pun mengibaskan salah satu tanto ke udara, ke arah ratusan ribu monster yang sedang terbang.
Dari sinar biru yang memendar keluar dari ujung tantonya, puluhan ribu tanto sihir terbentuk lalu melesat menghabisi ratusan ribu monster terbang tersebut.
°°°
"Apa?! Siapa lagi dia?" ucap malaikat terkuat setelah terpancing oleh tindakan Miyuki yang mengejutkannya.
"Apa dia yang sebenarnya sudah menghabisi pasukan-pasukan awal yang kita kirim?"
Malaikat terkuat mengerutkan dahi.
"Sudah pasti dia!" umpat malaikat itu. "Habisi dia!" perintahnya pada salah satu rekannya.
°°°
"Hmmm... Datang juga setelah ku gertak," ucap Miyuki sembari menatap salah satu malaikat yang datang menghampirinya.
Malaikat itu kemudian berbicara padanya beberapa kalimat, tapi Miyuki tidak mengerti sama sekali apa yang malaikat itu ucapkan.
'Kau mendengarnya, Anna? Apa yang dia katakan?'
["Wajahmu sangat manis."]
Bammmmm!!!
Miyuki menghempaskan tinjunya pada wajah malaikat, memecahkan kepalanya seketika.
["Apa yang kau lakukan?"]
'Berterima kasih atas pujiannya.'
Wushhhh...
Miyuki tiba-tiba saja lenyap dari tempat itu dan digantikan oleh Nobara, Fael, Tzullu dan Nyrna yang kebingungan kenapa mereka bisa tiba-tiba saja berpindah ke tempat itu.
Bukan cuma Elf dan Orc itu saja yang keheranan. Dua malaikat yang langsung mendatangi rekan mereka yang baru saja kehilangan kepala juga ikut terkejut saat kehilangan Miyuki yang digantikan oleh 4 makhluk ciptaan yang mereka tahu tidak berasal dari pusaran putih.
•••
"Huh? Kenapa kau membawaku kesini? Bukankah kau memintaku untuk bermain-main dengan mereka?" protes Miyuki yang Anna bawa secara diam-diam ke atas bukit dan ditukarnya dengan Nobara dan kawan-kawan yang ia nilai bisa mengulur waktu tanpa saling terbunuh.
"Kau terlalu kasar."
"..."
•••••••