
"Apa yang kau maksud dengan hanya aku yang bisa menerima kekuatannya?" tanya Anna dengan ekspresi penuh minat. Ia malah langsung duduk di ranjang jerami yang menjadi satu-satunya perabotan dalam sel kecil itu.
"Karena kau adalah satu-satunya manusia yang diciptakan berdasarkan rupa fisik dewi Ann." Sahut dewa Ogun.
"Apa maksudmu?"
"Penjelasan mudahnya, semua manusia adalah gambaran dari malaikat yang berada di dunia para dewa. Tiap tiga puluh manusia merupakan tiruan dari wujud satu malaikat."
"Ah, ya... Jadi, cerita tentang seseorang memiliki tujuh kembaran yang terpisah-pisah itu benar?"
Dewi Ezili mendengus. Cara mendengusnya dengan wujud otter membuat Anna merasa geli.
"Hmmm..., Azazel pasti membuat cerita tentang itu."
"Y-ya..., mungkin. Mana ku tahu?"
“Jadi hanya tubuhmu lah yang bisa menampung kekuatan dewi Ann,” ucap dewi Ezili, mengulangi apa yang dewa Ogun katakan tadi.
Mengetahui hal itu malah membuat Anna mendongkol.
“Jadi aku hanya seperti sebuah produk?”
“Jangan kesal seperti itu. Kau itu beruntung. Kau mungkin seperti sebuah produk, tapi kau adalah produk unggulan.”
“Tetap saja aku adalah sebuah produk,” sahut Anna dengan ketus.
"..."
•••
Besok paginya, seorang tentara yang berbeda dengan yang kemarin mengantarkan Anna ke sel penjara datang mengunjungi sel itu dan langsung membukakan pintu bagi Anna. Lebih tepatnya, dia datang untuk menjemput Anna untuk pergi dari sel tersebut.
“Nona Lloyd, ikutlah bersama ku,” pintanya dengan nada bicara tegas.
Anna yang sudah bosan menunggu selama semalaman tentu saja langsung berdiri dari ranjang jerami dengan setengah melompat. Ia kemudian berjalan dengan langkah lebar keluar sel mengikuti tentara itu.
'Apakah mereka menemukan seseorang dengan nama keluarga Lloyd yang memiliki seorang putri yang hilang?'
Saat mereka sudah keluar dari bangunan besar penjara, pria bertubuh kekar itu berhenti di depan pintu utama dan menatap pada dua hewan imut yang bertengger di pundak kiri dan kanan Anna.
“Kau bisa menitipkan hewan peliharaan mu di sana,” ucap pria itu seraya menunjuk pada seorang wanita muda yang membawa dua sangkar kecil berukuran hanya dua kali lipat dari tubuh otter dan red panda.
“Kau ingin membawa ku kemana?” tanya Anna, dengan sedikit khawatir.
Bukan rencana jahat para tentara itu yang Anna khawatirkan. Anna takut jika sampai ia ingin dicelakai, dia mungkin tidak bisa menahan untuk tidak menggunakan energi Mana jika tidak ada dewa Ogun dan dewi Ezili yang menenangkannya. Pengalamannya di planet Nibiru membuatnya sedikit trauma.
Jadi, jika dalam bahaya, Anna tidak akan sungkan-sungkan bertarung dengan energi Mana nya.
Seperti mengerti apa yang Anna pikirkan, dewi Ezili berusaha mengingatannya.
"Jika kau dalam bahaya, buatlah sebuah keributan dengan tanpa menggunakan energi Mana. Jangan buat kita semua terpergok para dewa penjaga planet Titans. Kau mengerti?"
"... Ya," sahut Anna pelan.
°°°
Tentara melihat Anna dan otter yang berada di pundaknya secara bergantian. Ia merasa bahwa otter itu sepertinya sedang berbicara pada Anna dengan suara cicitannya.
Melihat tentara itu memerhatikan otter di pundaknya, Anna baru menyadari bahwa dewi Ezili tadi hanya bercicit dan mengeong seperti suara seekor otter normal, ia tidak sedang berbicara dengan suaranya seperti saat mereka berada si dalam sel penjara.
"Bagaimana aku bisa mengerti bahasa hewan?" tanya Anna dengan mencicit pada dewi Ezili.
"Kau baru menyadarinya? Kau juga harusnya tidak mengerti bahasa bangsa Titans. Itu karena dewi Ann memberikan mu pengetahuan tentang bab lima kitab dewa Arnix," sahut dewi Ezili dengan mencicit dan mengeong layaknya otter.
"Jadi begitu...," Anna kemudian ingat dengan apa yang dewi Yolin katakan. Jika dia bisa menguasai Divine Knowledge yang merupakan mantra pengetahuan dari kitab dewa Arnix ; Conqueror of Darkness, dia malah akan bisa membaca ingatan seseorang juga. "Jadi dengan aku menguasai bab 5, aku bisa mengerti segala macam bahasa juga?" tanya Anna lagi dengan suara mencicit.
"Kau benar."
"Hei, cepatlah. Antar hewan peliharaan mu padanya." Perintah tentara itu, merasa terganggu dengan cara berkomunikasi Anna dan otter.
"Tapi, kemana kita akan pergi?" tanya Anna padanya sekali lagi.
“Kita akan menghadap kepala penjara.”
Anna diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan, "Apa mereka akan membebaskan ku?" pikir Anna.
Ia kemudian membawa dewa Ogun dan dewi Ezili pada wanita muda yang akan mengurus mereka selama Anna meninggalkannya.
Sambil mengelus kedua hewan itu dengan masing-masing tangannya, Anna berbisik pada mereka, dalam bahasa otter dan red panda.
Setelah melihat kedua dewa di bawa pergi oleh wanita muda itu, Anna akhirnya pergi mengikuti tentara tadi.
•••
Menyangka bahwa ia hanya akan dipertemukan pada satu makhluk dari bangsa Titans saja, Anna agak terkejut saat melihat ada lumayan banyak bangsa Titans yang berwujud sangat mirip, bahkan bisa di katakan sama, dengan manusia Bumi.
Masing-masing dari mereka duduk dengan wajah angkuh di belakang meja masing-masing, seraya menatap Anna dengan tatapan penuh selidik dan tidak senang.
“Ada apa dengan tatapan mereka,” pikir Anna yang selama hidupnya hampir tidak pernah mendapatkan tatapan tidak suka seperti itu dari para lelaki.
Biasanya, ia akan melihat tatapan takjub atau tatapan penuh nafsu, terutama saat ia sedang berada dalam tubuh dewi Ann.
°°°
Anna di suruh berdiri di tengah-tengah ruangan di hadapan kelima pria angkuh tersebut. Sementara itu dibelakangnya, ada dua pria bertubuh kekar yang masing-masing memegang tombak panjang yang berdiri mematung untuk mengawasinya.
“Dari mana asal mu?” tanya salah seorang pria yang duduk di barisan tengah di antara lima pria berwajah angkuh.
Pria itu sangat mudah di kenali dengan wajahnya yang putih pucat dengan kumis tebal di atas bibirnya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saja Anna tidak bisa menjawabnya. Dia belum sempat berkeliling planet Titans untuk mengetahui nama-nama wilayah disana untuk dapat mengetahui sebuah nama kota atau daerah. Ia juga tidak mungkin mengarang sebuah nama untuk berbohong pada mereka.
“Aku dari hutan.” Hanya itu yang bisa Anna pikirkan. Ia tiba-tiba teringat hutan suci bangsa Elf saat melihat seorang pelayan bertelinga runcing lewat di depannya dengan membawa sebuah nampan berisi buah-buahan untuk di antarkan ke salah satu meja.
“Hutan? Dari hutan di wilayah mana kau berasal?”
Sigh…
‘Tentu saja itu adalah pertanyaan selanjutnya.’
“Daerah barat,” sahut Anna dengan asal. Ia bahkan tidak tahu di daerah barat ada hutan atau tidak.
Pria berwajah pucat itu diam untuk beberapa saat.
“Apakah kau orang dari suku Trovan?”
“Ya,” sahut Anna, lagi-lagi dengan asal mengiyakannya saja.
Pria itu kemudian berbisik-bisik pada dua pria di sisi kiri dan kanannya.
Dengan jarak yang tidak begitu jauh, tanpa sihirnya pun Anna bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan secara berbisik.
‘Sialan. Aku salah jawab.’
Anna mengira bahwa ia akan melewati semua pertanyaan mereka dengan baik. Namun saat ia mendengar pembicaraan yang dilakukan dengan berbisik-bisik itu, dia tahu bahwa dia akan celaka jika tidak segera bertindak.
Pria berwajah pucat itu kemudian memberikan tanda dengan menggores lehernya pada pria bertubuh kekar di belakang Anna.
Anna yang sudah mendengar pembicaraan mereka tadi, tahu bahwa ia akan di pancung.
Mendahului lawannya, Anna langsung melakukan tendangan berputar, menyerang dua pria kekar yang berdiri di belakangnya.
Buakkkk!!!
Tahu kedua pria itu memiliki perlindungan sihir yang cukup kuat, Anna tidak segan-segan menendang mereka dengan sangat keras, hingga kedua pria yang tidak menyangka akan mendapatkan serangan dadakan seperti itu langsung terpental dan terbang sampai menghantam dinding ruangan.
Setelah menyerang kedua pria tersebut, Anna melompat menuju pria berwajah pucat yang ia yakini sebagai orang dengan kekuasaan tertinggi di penjara itu.
Namun, pria itu juga dengan cepat mengibaskan salah satu tangannya, bermaksud untuk mementalkan Anna dengan sihirnya.
Anna berputaran di udara untuk menghindari energi sihir pria itu sampai beberapa kali karena pria berwajah pucat juga menyerangnya berkali-kali saat melihat serangan pertamanya gagal.
Keempat pria berwajah angkuh juga sudah ikut menyerang, hingga ruangan tempat mereka berada langsung porak poranda hanya dalam beberapa detik saja.
Walaupun mereka menyerangnya dengan energi sihir dan dilakukan dengan berkeroyok, namun masalah kecepatan, mereka benar-benar bukanlah tandingan Anna.
Anna bahkan tidak memerlukan energi Mana nya sama sekali untuk melawan kelima pria berwajah angkuh itu.
°°°
Anna akhirnya berhasil mendarat di hadapan pria berwajah pucat.
Kemudian, dengan satu pukulan keras, ia meninju perut langsing pria berwajah pucat dengan salah satu tangannya.
Buakkkk!!!