Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 140 - Pasukan Anna


Hanya beberapa detik setelah kehilangan kesadaran, Gina merasa tubuhnya berpindah ke sebuah kebun bunga yang sangat indah.


Gina mendapati dirinya berada di atas sebuah bukit yang ditumbuhi bunga-bunga yang sepertinya baru bermekaran.


Melihat pemandangan bunga yang sangat indah, Gina menarik nafasnya secara perlahan untuk mencium aroma bunga yang wangi dan sangat menyegarkan hingga membuat wangi bunga memenuhi paru-parunya.


Ia memejamkan kedua matanya selama beberapa saat untuk mengenang momen yang menyejukan hatinya ini seakan tidak rela untuk kehilangannya.


Setelah merasakan kesegaran dari aroma bunga yang dihirupnya, dengan perlahan Gina membuka kedua matanya.


Gina menyentuh bunga-bunga di sekitarnya dengan ujung-ujung jari mungilnya, lalu berjalan perlahan sambil merentangkan kedua tangannya.


Gina ingat, ia seperti pernah merasakan momen ini dan pernah berada di tempat ini sebelumnya.


Setelah ia berusaha keras mengingatnya, Gina akhirnya mengingat kejadian serupa pernah ia alami, saat ia masih kecil.


"Apakah ini deja vu?" gumamnya.


Saat ia mendengar suaranya sendiri, Gina terkejut karena suaranya terdengar seperti suara seorang anak kecil.


Gina kemudian menatap kebawah, pada kedua tangannya yang mungil. Ia bingung.


"Kenapa tangan ku sekecil ini?"


Dalam kebingungan itu, ia kemudian dikejutkan oleh cahaya silau yang tiba-tiba datang dari arah kirinya. Ia pun menoleh ke arah sumber cahaya, dan menemukan ada sebuah cermin besar di sana.


Gina memayungi kedua matanya yang silau oleh pantulan sinar Matahari pada cermin, dengan kedua tangannya.


"Cermin?"


Dengan langkah pendek, ia pergi berjalan ke cermin itu dan dapat melihat bayangannya yang terpantul sempurna pada cermin tersebut, setelah ia tiba di depannya.


"Huh? Siapa anak kecil ini? Tapi, dia mirip dengan ku, kan?"


Gina akhirnya menyadari bahwa gadis kecil yang berada di dalam cermin itu adalah dirinya.


Gadis kecil itu adalah dirinya saat ia masih berusia 7 tahun.


“K-kenapa aku kembali ke masa lalu?”


Gina menyentuh kedua pipi nya dengan kedua telapak tangan mungilnya.


Saat ia bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, sayup-sayup terdengar olehnya, suara seorang laki-laki dan perempuan yang memanggil namanya secara bergantian.


Lama kelamaan, suara tersebut semakin terdengar jelas di telinganya.


Gina sangat mengenali kedua suara tersebut. Suara dari dua orang yang sangat ia rindukan.


Itu adalah suara kakek dan nenek nya.


Saat ia akhirnya mendengarkan suara tersebut dengan sangat jelas, Gina segera menoleh ke arah datangnya suara.


“K-kakek? Nenek?”


Gina dapat merasakan air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Kedua orang tua ayanya yang sangat ia sayangi, yang sudah sangat lama pergi meninggalkannya, akhirnya ia dapat bertemu dengan mereka kembali.


Gina hendak berlari untuk menghambur ke pelukan kakek dan neneknya, saat ada suara lain yang juga tidak asing di telinganya, memanggil namanya berulang kali dari arah belakang.


Suara itu terdengar sangat tegas, seakan mengikat dirinya hingga membuat Gina tak bisa menggerakkan kedua kakinya lagi untuk pergi menghampiri kakek dan neneknya.


Gina memutar tubuhnya untuk melihat pemilik suara itu.


Di kejauhan, Gina melihat sosok wanita cantik berambut pirang platinum sedang berdiri dengan merentangkan kedua tangannya, seakan meminta Gina untuk datang dan memeluknya.


Gina menatapnya dengan perasaan bingung.


“Siapa orang ini? Aku seperti pernah melihatnya. Aku ingat suara itu. Tapi di mana?”


Gina ragu-ragu untuk menghampiri wanita tersebut yang masih terus merentangkan kedua tangannya sambil terus meneriakkan namanya berulang kali seperti meminta dia untuk segera mendatangi dan memeluknya.


“Belum saatnya kau menemui mereka. Kemarilah!” pinta wanita itu dengan berteriak nyaring. Nada suaranya terdengar jelas bukanlah merupakan suatu permintaan, namun terdengar seperti sebuah perintah.


Suaranya juga terdengar berbeda dengan suara yang sebelumnya memanggil-manggil namanya berulang kali.


Merasa ragu, Gina menoleh kembali pada kakek dan neneknya yang kini berada di belakangnya. Ia melihat keduanya tersenyum bahagia dan melambaikan tangan padanya seakan menyuruhnya untuk mendatangi wanita yang berada di depannya.


Setelah melihat kakek dan neneknya memaksa untuk memilih pergi mendatangi wanita di depannya, Gina akhirnya melangkahkan kedua kakinya untuk menghampiri wanita tersebut.


Saat sudah berada di hadapannya, wanita itu langsung memeluknya dengan erat dan saat itu juga Gina merasakan sebuah energi hangat mengalir ke dalam tubuhnya.


•••


Gina membuka kedua matanya dengan perlahan.


Samar-samar, ia dapat melihat seorang gadis cantik duduk berlutut di hadapannya.


Gadis itu kemudian mengelus kepala Gina dan tersenyum padanya.


“Kau sudah kembali."


Gina menatap gadis berambut hitam mengkilap itu dengan bingung. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tertahan di tenggorokannya.


“Kau sudah aman sekarang. Beristirahatlah.”


Anna menoleh pada Tzaca yang duduk berlutut di belakang Gina, lalu memintanya untuk terus memulihkan kondisi Gina.


"Tzaca, tolong rawat dia sampai pulih."


Anna berdiri lalu berbalik dan melangkah menjauh dari mereka.


Hunter-hunter dengan cepat berdatangan dan menghambur serta memeluk Gina yang masih duduk mematung menatap punggung Anna.


“Jadi dia yang memanggil-manggil ku tadi. Tapi kenapa warna rambutnya berbeda?” batin Gina.


“K-ketua..., Anda masih hidup,” ucap Philip Cardis. Ia tak bisa menahan air matanya dan ia pun menangis, tanpa memedulikan Orc berwajah seram yang sedang menatap mereka dengan senyuman aneh di bibirnya yang lebar.


Demikian juga dengan seluruh Hunter yang berada di sekitar Gina.


“A-apa yang terjadi?” Gina yang sudah mendapatkan kesadaran sepenuhnya, menoleh dan menatap pada Philip Cardis yang duduk di sebelah kirinya.


“A-anda... Anda tadi sudah tidak bernafas,” sahut Philip Cardis dengan suara bergetar.


Gina dapat merasakan sesuatu yang lengket di sekitar mulut, leher dan kedua pipinya. Ia menggosok-gosok pada bagian yang dirasanya mulai mengering itu lalu melihat telapak tangan yang baru saja ia pakai untuk menggosok pada bagian dagunya.


Ia melihat darah yang mengering di ujung-ujung jarinya. Gina akhirnya teringat apa yang ia rasakan saat terakhir kali sebelum kesadarannya yang sedang berada dalam sebuah pertempuran tiba-tiba digantikan oleh masa kanak-kanaknya.


'Apa aku tadi sudah mati?'


Gina merinding saat mengingat pengalamannya tadi. Ia yakin kakek dan neneknya tadi sudah menjemputnya, namun entah bagaimana caranya, sepertinya Anna mengembalikan hidupnya.


'Atau kah...'


"Ah... Dia wanita yang waktu itu datang ke apartemen ku, kan?" pikir Gina. Mengingat kembali sosok wanita asing yang membawa tubuh yang Anna gunakan kembali ke apartemennya.


Gus Stevin kemudian menyadarkan Gina dari lamunannya, saat pria itu menepuk pelan pundaknya. Gina menatap pria bertubuh gempal itu, yang wajahnya basah oleh air mata.


“Kalian semua baik-baik saja?” Gina akhirnya menatap pada seluruh Hunter yang berada disekelilingnya.


“Kami semua baik-baik saja.” sahut Gus Stevin.


“T-tidak ada yang...”


“Ya. Kami semua bisa bertahan hidup karena mu."


Setelah mendengar jawaban itu, tiba-tiba Gina merasakan emosinya bergejolak dan seluruh tubuhnya bergetar, ia memeluk erat Gus Stevin yang sejak tadi berada di dekatnya dan ia pun menangis. “Syukurlah...”


Anna yang sudah berada agak jauh dari tim raid, menghentikan langkahnya dan menoleh kembali pada Hunter-hunter yang sedang duduk berkerumun dan menangis bersahut-sahutan.


“Padahal ini belum berakhir, tapi mereka benar-benar melupakan kalau masih banyak monster disini.” Gumam Anna yang kemudian tersenyum senang melihat Hunter-hunter itu saling berpelukan dalam haru setelah mereka sebelumnya menangis putus asa di sekitar tubuh Gina yang mulai membeku.


"Aneh, aku tidak menyangka Tzaca bisa menghidupkannya lagi."


Anna kemudian menatap pada pasukan monster bertubuh merah muda yang terdesak hebat oleh serangan pasukan Orc dan Dark Elf.


Sementara itu, Glynka sibuk menghabisi Raptor dengan panah sihir setelah ia tadi membunuh semua monster berpanah di atas bukit.


Menghadapi Pterodactyl yang tak habis-habisnya turun dari lubang hitam di tengah awan, Eleanor terus membakar mereka dengan api biru yang juga tanpa henti mengalir dari kedua telapak tangannya.


Sementara itu, Orc bersayap bertugas untuk mengejar dan menghabisi Pterodactyl yang berusaha kabur dari serangan Eleanor.


Melihat pertempuran yang tidak seimbang antara pihaknya dan pihak lawan, Anna kini fokus menatap 3 monster bertubuh merah yang menunggangi Ty-Rex. Mereka adalah yang terkuat di antara semua monster yang berada di Dungeon, terutama monster yang berada di tengah yang berkulit tubuh merah darah dan memiliki dua tanduk di dahinya.


Ketiga monster tersebut kini sedang pergi menuju ke arah gerbang, dimana avatar Miyuki, Nobara, Fael dan Nyrna berada, menjaga agar tak ada satupun monster yang keluar dari Dungeon.


Anna ingin langsung berteleportasi ke hadapan ketiga monster itu, namun ia ingat tidak memiliki senjata di tangan untuk menghabisi mereka.


Anna ingin menghemat energi Mana nya untuk bertarung melawan makhluk yang bersembunyi di balik lubang hitam di tengah awan, mengingat seberapa kuat lawannya itu. Jadi, ia hanya akan menggunakan kekuatan fisiknya saja untuk menghadapi ketiga monster tersebut.


“Tsk… Aku sepertinya harus membuat sebuah senjata. Apa kau bisa membuatnya untuk ku Miyu?”


《”Kau pikir karena aku bisa membuat avatar lalu aku juga bisa menempa sebuah senjata? Beli saja stand hanger di toserba.”》


“Itu tidak terlalu kuat.”


《”Hei, bisa kah kau cepat membereskan boss nya? Sampai kapan kami harus menghadang ratusan makhluk ini di depan gerbang?”》


“B-baiklah...”


Anna berbalik dan berjalan kembali menuju tim raid yang kini sedang menonton pertempuran dengan wajah kagum dan mata terbelalak.


Sesampainya di sana, ia melihat seorang Hunter yang memiliki sebuah tombak pendek.


"Bisa pinjamkan tombak mu?"


Hunter yang baru saja ditanyai Anna, menoleh padanya lalu menoleh ke kanan kirinya. Saat ia menyadari bahwa hanya ia sendiri Hunter yang menggunakan tombak sebagai senjata, ia mengangguk dan segera berdiri dan berlari kecil menghampiri Anna lalu dengan kedua tangannya dan dengan sikap yang sangat sopan ia menyerahkan tombak yang merupakan senjata andalannya, pada Anna.


“Terima kasih," Anna tersenyum kemudian menatap pada tim raid. “Tetaplah berada di dalam lingkaran pelindung ini.” Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan berjalan menuju monster berkulit merah muda di sekitar lingkaran pelindung milik Tzaca yang sejak tadi menghalangi mereka untuk masuk.


"Apakah tidak apa-apa kalau kita hanya menonton?" tanya Gus Stevin pada Gina.


“Tetaplah disini dan jangan jadi pengganggu.” Sahut Gina.


Gus Stevin mengangguk setuju. Lagian, mereka bahkan tidak bisa menggores tubuh monster-monster itu.


"Tapi, kenapa monster-monster itu membantu kita?" tanya Philip Cardis.


"Mereka bukan monster. Mereka adalah teman-teman Anna. Mereka pasukannya." Sahut Gina.


"A-apa?!"


Empat Hunter yang berada di sekitar Gina terperanjat dan menatap Gina dengan tatapan tidak percaya.


•••