Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 248 - Demigod Vs Demigod


Anna langsung melompat dari atas kuda yang sudah kehilangan tuannya itu, untuk menyerang terlebih dahulu para penyerangnya.


Wussshh...


Krakkk... Krakkk... Krakkk...!!!


Tiap kali ia mengayunkan tombak Igigi di tangannya, puluhan kepala tentara meledak.


Setelah menghabisi ratusan prajurit yang berada di barisan terdepan, Anna berpindah ke sisi kiri dan kanan secara bergantian dengan sangat cepat. Ia menyerang semua pasukan lawan dengan berlompatan dari satu kuda ke kuda lainnya, sebelum akhirnya merangsek ke tengah-tengah pasukan, lalu mengamuk dengan sangat sadis di sana.


Hanya dengan memanipulasi udara di sekitarnya, Anna kemudian membuat badai tornado dari tombak yang ia putar-putarkan di atas kepalanya.


Para prajurit yang berada di tengah-tengah amukan tornado itu, beterbangan tinggi sampai keluar jauh dari kerumunan, terseret 8 tornado besar yang Anna buat.


Tidak ada satupun prajurit yang bisa bertahan dari angin yang berasal dari pusaran tombak Igigi di tangan Anna.


•••


"Dia melakukan itu tanpa energi Mana?" gumam Nordic yang masih menonton pertunjukan itu dari kejauhan. Ia kemudian menoleh dan melihat dewa Ogun dan dewi Ezili yang juga sudah mengamuk di sisi kanan sementara Lorelei menebas leher semua pasukan itu dengan sangat rapi di sisi kiri.


"Maju!!!"


Teriak panglima perang yang bertanggung jawab memimpin 460.000 pasukan di belakang Nordic.


Melihat semangat perang dari para prajurit, Nordic sebenarnya terpacu untuk ikut serta dalam pertempuran. Namun, ia akhirnya berusaha menahan diri dan hanya diam menyaksikannya saja.


"Aku hanya ditugaskan untuk melawan 22.000.000 pasukan yang mungkin akan datang," gumam Nordic yang sebenarnya berharap mereka tidak datang.


•••


Anna tidak terlalu lama berada di antara kepungan para prajurit musuh karena dewa Ogun dan dewi Ezili sudah ada di sisi kanan dan sedang merangsek masuk, Lorelei juga sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat cepat dari sisi kiri. Jadi, dia berencana untuk mencegah datangnya bala bantuan dari dalam tembok kerajaan.


Anna akhirnya melompat dari tengah-tengah kepungan pasukan musuh dan pergi ke atas pintu gerbang tembok, saat ia melihat pasukan lain mulai keluar dari gerbang tembok kerajaan.


"Haaaatttt...!!!"


Baaaaaaang!!!


Dengan satu hempasan keras, Anna meruntuhkan gerbang dengan tombak Igigi, untuk menghalangi banyaknya prajurit yang ingin keluar dari dalam tembok kerajaan.


Bukan karena ia takut menghadapi banyaknya pasukan lawan, namun karena ia takut membunuh terlalu banyak makhluk di planet itu.


Setelah ia menghancurkan gerbang, Anna kembali lagi menuju tempat ia sebelumnya berada dan menciptakan badai tornado lagi disana.


Namun, saat ia baru berada di antara pasukan musuh itu dalam waktu yang tidak lama, Anna tiba-tiba merasakan adanya aura sihir yang sangat mengerikan datang dari arah dalam tembok kerajaan.


Tak lama kemudian, ia merasa ada seseorang yang mengawasinya dari atas tembok.


"Dia berbahaya. Dia demigod sama seperti mu," ucap dewi Ezili yang sudah berada di pundak Anna.


Seakan tahu pemimpin besar mereka telah tiba, prajurit lawan yang tadinya terus berjuang untuk melawan kekuatan mengerikan Anna dan pasukan berkudanya tanpa takut, akhirnya menghentikan serangan dan mundur ke arah tembok.


Melihat pasukan lawan menghentikan serangan, Anna juga meminta prajurit berkudanya untuk menghentikan pengejaran dan meminta mereka untuk pergi kembali ke belakang Nordic.


•••


"Siapa kau?! Kenapa kau menyerang kerajaan kami?!" teriak seorang pria bertubuh tinggi dan kekar dari atas tembok.


Anna mendengus pelan, sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Kami tidak ingin menyerang kerajaan mu. Kami hanya ingin lewat dan pergi ke dataran tinggi di sana, tapi prajuritmu menghalangi kami!"


"Ada kepentingan apa kau pergi ke sana?!"


Anna tersenyum kecut.


"Apa kepentinganmu untuk tahu urusan kami?! Kami hanya ingin lewat!"


"Jika kau ingin lewat, katakanlah urusanmu! Jika kau tidak ingin mengatakannya, kami tidak akan pernah memberi izin!"


Sebelum Anna menyahut lagi, Nordic menghentikan Anna dan berbicara pelan padanya.


"Nona Anna. Anda sebaiknya mengalah untuk kali ini. Dia sangat kuat. Dia adalah satu dari tiga demigod terkuat di planet ini."


Anna mengangguk pelan. Ia juga tahu itu. Ia dapat merasakan seberapa besar energi Mana pria itu bahkan tanpa perlu mengaktifkan energi Mana nya.


Tapi, dia juga tidak ingin mengalah hanya karena itu. Dia ingin cepat menyelesaikan urusannya di planet ini dan segera kembali ke Bumi karena tugas utamanya adalah untuk menutup semua gerbang Dungeon yang berada di Bumi dengan kekuatan yang ia miliki.


Sementara itu, dari berbagai arah, mereka dapat melihat banyaknya pasukan berkuda dan pasukan infanteri yang mulai berdatangan bagaikan rombongan semut yang sedang berkerumun ingin mendatangi tempat dimana ada makanan.


"Saya mungkin tidak bisa menghabisi mereka karena dia sudah ada disini," ucap Nordic yang tadinya diberikan perintah untuk menghabisi puluhan juta pasukan yang akan datang oleh dewa Ogun.


"Tidak apa-apa," sahut Anna. "Mereka mungkin tidak akan menyerang sembarangan karena pemimpinnya sudah berada disini."


Setelah selesai berbicara pada Nordic, dengan satu hentakan kaki, Anna melompat untuk pergi ke atas tembok dimana pria gagah itu berada.


Namun, saat Anna masih berada di tengah-tengah perjalanan, pria itu mengangkat tinggi tangannya dan mengerahkan energi sihirnya untuk mencegah Anna datang mendekat.


Bannnnggg!!!


Anna memang bisa menahan serangan itu dengan memanipulasi udara disekitarnya. Namun, karena ia tidak menahan dengan sihir, tubuhnya langsung terpental jauh setelah ledakan besar terjadi.


Setelah melihat lawannya terpental sangat jauh, pria itu menatap pada Nordic dan Lorelei yang berada di atas kuda mereka masing-masing.


"Siapa kalian?! Apa urusan yang kalian miliki hingga ingin pergi ke..."


Wushhh...


Tappp!!!


Pria itu menghentikan kalimatnya saat sebuah tombak menghempas dari arah kiri kepalanya.


Sambil menggenggam tombak yang baru ditangkapnya itu, dia menatap tajam kedua mata Anna, yang berhasil datang mendekat padanya tanpa ia sadari.


"Kau memiliki kemampuan yang luar biasa," puji pria itu pada Anna dengan sungguh-sungguh, mengagumi kecepatannya walaupun ia tahu bahwa gadis itu tidak memiliki energi Mana.


"Kau sangat terkenal di tempat kami dengan kekuatan fisikmu," ucap Anna, dengan seringai di wajah dan kalimatnya itu berhasil membuat pria itu mengernyitkan alisnya. "Apa kau berani bertarung dengan ku tanpa menggunakan energi Mana?"


"Apa maksudmu? Dari mana asalmu?" tanya pria itu, mengabaikan kalimat terakhir Anna.


"Aku sedang menantangmu bertarung tanpa energi Mana. Jika kau bisa mengalahkanku, aku akan memberitahumu."


Mendengar kata-kata sombong dari gadis ramping itu, pria bertubuh kekar tersenyum.


"Ayo kita lakukan," sahutnya kemudian.


Ia melepaskan tombak Anna dari genggamannya, lalu mengambil pentung kayu bergerigi duri dari pinggangnya.


"Silahkan mulai duluan, nona kecil."


Wush...


Takkkk...!


Begitu pria bertubuh kekar selesai berbicara, Anna langsung menebaskan tombak panjangnya.


Serangan pertama, kedua, ketiga dari Anna memang dapat ia tangkis dengan mudah. Namun, semakin lama Anna menyerang, pria kekar itu semakin kesulitan untuk menahan serangan-serangannya.


Serangan-serangan cepat dan terukur dari Anna, akhirnya membuat pria itu termundur sangat jauh hanya untuk berusaha tidak terkena serangannya.


Pria bertubuh kekar itu akhirnya sadar bahwa lawannya memiliki teknik bertarung yang sangat baik, bukan hanya sembarangan mengayunkan tombak saja.


'Siapa gadis ini sebenarnya? Kenapa dia sangat lincah dan kuat?!'