
Waktu menunjukkan pukul 7 malam saat seorang kurir menekan bel apartemen untuk mengantarkan makan malam pesanan Anna. Itu adalah pesanan keempatnya yang ia terima semenjak sore hari.
Dengan uang yang dimilikinya, Anna mulai menjelajahi restoran-restoran yang menjual makanan favoritnya secara online.
Setelah puas menikmati makan malam besar, Anna melihat-lihat kembali peta di smartphonenya.
Setelah memeriksa lokasi yang akan dia tuju, Anna memperbesar gambar peta yang menunjukkan lokasi secara realtime. Dengan kecanggihan web 5.0 saat ini, seluruh dunia akan ditampilkan secara realtime melalui citra satelit.
Anna melihat jam di bagian atas layar smartphonenya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia merasa sepertinya akan tepat waktu jika pergi keluar sekarang, karena waktu perjanjian yang dia ketahui sudah dekat.
Anna mengganti pakaiannya dengan t-shirt putih dan celana pendek yang dia anggap simpel, kemudian memilih-milih pakaian luar yang tergantung rapi di dalam lemari pakaian. Namun akhirnya, Anna mengambil hoodie putih yang merupakan warna favoritnya.
Anna mengambil smartphonenya, lalu menyimpannya beserta uang elektronik di dalam kantong hoodie.
Menimbang-nimbang kemana tujuannya nanti, Anna memilih untuk mengenakan sepatu model sneakers berwarna hitam yang tampak imut dengan lukisan beruang di kedua sisinya.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat bertatapan dengan wajah beruang pada sepatu itu. Sepatu itu merupakan sepatu pilihan Gina yang mereka beli secara online.
Tidak lupa, Anna juga mengenakan masker dan topi agar tidak mudah dikenali orang lain.
Saat sudah selesai dengan persiapannya, ia berpindah ke sebuah gang kecil gelap yang berjarak 200 kilometer dari apartemen Gina.
•••
Berbeda dengan daerah pusat kota yang masih sangat ramai, bahkan sampai dini hari, daerah pinggiran Kota C sudah cukup sepi walaupun masih jam 9 malam.
Daerah pinggiran, hanya di huni oleh orang biasa dengan status sosial menengah kebawah dan juga Hunter-hunter yang tidak memiliki lisensi juga tinggal di daerah pinggiran kota yang dulunya adalah bekas kota lama yang hancur akibat Dungeon Break besar 11 tahun silam.
Anna berjalan dengan langkah panjang untuk mengecek nama gang-gang yang ia lalui satu persatu, sambil sesekali melihat-lihat pemandangan perumahan dan puing-puing dari reruntuhan bangunan yang dibiarkan berada disana, di sekitar jalanan yang dilaluinya.
Setiap melewati sebuah gang, dia membaca nama yang tertera pada tiap plang di pinggir gang-gang itu.
Sampai akhirnya, dia tiba di depan sebuah gang yang memiliki nama XI dan ia pun berhenti disana.
Anna mengambil smartphone dari saku hoodienya hanya untuk melihat jam, sebelum akhirnya mengembalikan smartphone itu ke sakunya lagi.
"Tepat waktu."
Anna masih menunggu sekitar 15 menit lagi sampai orang yang sedang ia tunggu akhirnya muncul dan tampak berjalan ke arahnya.
Pria itu memperlambat langkah kakinya saat melihat ada seseorang yang tampak mencurigakan berdiri di tempat dia dan teman-temannya harusnya bertemu.
Saat melihat pria itu tampak ragu-ragu, Anna melambaikan tangannya pada pria itu dan menyapanya.
“Hallo...”
Pria itu agak terkejut saat melihat gadis itu yang sepertinya mengenalinya.
"Apakah dia orang baru?" Pikirnya.
Dia tidak membalas lambaian tangan maupun sapaan Anna, tapi kini ia mempercepat langkah kakinya mendekati gadis itu.
“Siapa?” Tanya pria itu padanya.
“Aku teman kakak mu.” Sahut Anna. "Kita bertemu kemarin malam." Tambahnya.
Pria itu kemudian mengingat "gadis berwajah rambut' yang sudah menolong dan mengantarkan Rin kemarin malam.
“Oh... Anda pemilik toko bunga?"
“Ya."
Sikap Ren berubah seketika saat tau orang di hadapannya adalah penolong bagi kakaknya. Dia jadi lebih sopan pada Anna.
“Apa yang sedang Anda lakukan disini, nona?”
Anna tertawa.
"Bicara santai saja. Kita seumuran."
Ren tersipu dan mengangguk pelan. "Y-ya..." Sahutnya. "Tapi, apa kau sedang menunggu seseorang?"
"Aku tersesat.” Sahut Anna cepat.
“Tersesat?”
“Ya.”
Ren sedikit lega mengetahui itu. "Syukurlah dia bukan orang baru yang akan ikut dengan kami." Pikirnya.
“Dimana rumah mu?” Tanya Ren kemudian.
“Aku tinggal di pusat kota.”
Ren menatapnya dengan sedikit perasaan bingung. Sekarang adalah jam yang tidak wajar untuk seseorang dari pusat kota berada di daerah pinggiran.
Sangat jarang orang dari pusat kota berkunjung ke daerah pinggiran di malam hari. Kecuali ada Dungeon dengan level tinggi disana, barulah Hunter dari Guild atau Asosiasi akan berada di daerah itu.
Selain itu, sangat jarang ada orang dari pusat kota yang bergaul dengan orang dari daerah pinggiran.
Dia pikir, penolong Rin adalah orang yang juga tinggal di daerah pinggiran.
“Apakah kau habis menemui kenalan mu di daerah sini?” Tanya Ren.
“Aku baru akan mengunjungi teman ku, tapi aku lupa dimana rumahnya dan dia tidak memiliki ponsel untuk dihubungi.”
Ren mengangguk kecil lalu menatap ke sekelilingnya.
“Siapa nama teman mu itu? Mungkin saja aku mengenalnya. Aku lumayan banyak kenal orang di sekitar sini.”
Anna memikirkan sebuah nama dengan cepat.
“Miyuki. Kau mengenalnya?”
Nama itu sangat asing di telinga Ren. Apalagi nama itu sepertinya nama orang Jepang. Setahunya, sangat jarang ada orang Jepang yang tinggal di Kota C. Kebanyakan penduduk Kota C adalah imigran-imigran dari Eropa, Republik Korea, RRT dan Amerika Tengah.
“Aku sepertinya belum pernah mendengar nama itu. Maafkan aku...” Ucap Ren.
“Ah... begitu...” Anna mengangguk pelan.
"Tentu saja, kau tidak akan kenal orang yang hampir tidak pernah pergi dari ruang bawah tanah."
Ren kembali menatap ke sekelilingnya. Dan kembali bertanya saat melihat Anna yang sepertinya tidak terburu-buru ingin pergi dari tempat itu.
“Apa kau masih ingin disini?”
“Ya. Ada hal yang benar-benar ku perlukan dengan teman ku. Ku harap dia berkeliling mencari ku dan menemukan ku disini.”
Mendengar itu, Ren menggaruk-garuk kepalanya dengan sedikit gelisah dan kembali menatap ke sekelilingnya.
Anna tersenyum dari balik maskernya. Ia dapat melihat kegelisahan di wajah Ren dan juga tau apa penyebabnya. Untuk itulah sebenarnya maksud tujuan Anna datang menemuinya. Orang yang Anna ingin temui sebenarnya Ren.
“Ada apa? Apakah ada seseorang yang kau tunggu juga?” Anna balik bertanya.
Ia sebenarnya tau apa yang ingin Ren lakukan, tapi berpura-pura tidak mengetahuinya.
Anna mendengarkan sebuah pembicaraan yang mengganggu pikirannya saat ia berada dekat parkiran Akademi Hunter tadi siang dan dia mengenal orang itu yang merupakan adik dari Rin, kenalannya.
“T-tidak... aku hanya... jalan-jalan.” Sahut Ren sedikit gugup.
Ren tampak seperti sedang menyembunyikan hal yang salah dan tidak ingin diketahui gadis di hadapannya. Karena jika Anna tau apa yang akan dilakukannya, bisa saja gadis itu menceritakannya pada Rin, kakaknya.
“Oh... kebetulan sekali. Apakah kau bisa mengantarkan ku berkeliling? Siapa tau aku bisa bertemu dengan teman ku.” Pinta Anna.
“I-itu agak...”
“Kalau kau keberatan, tidak apa-apa. Aku akan menunggu disini saja. Siapa tau teman ku sedang mencari ku dan dengan tidak sengaja bisa bertemu disini.”
Mendengar kalimat itu, Ren menjadi gelisah. Dia sekarang menjadi lebih khawatir dengan keselamatan Anna dibandingkan jika Anna akan tau apa yang hendak ia lakukan lalu menceritakannya pada Rin.
Akan berbahaya bagi Anna jika dia tetap berada di tempat itu saat kenalan-kenalannya tiba, terutama karena Ren tahu gadis itu juga seorang Hunter.
Walaupun Anna juga seorang Hunter, namun dari energi Mana yang Ren rasakan, ia tau kalau Anna hanya Hunter muda yang berada di peringkat yang sama dengannya.
Anna sudah pasti akan kalah jika mengalami pengeroyokan.
Kehidupan di pinggiran kota sangat berbanding jauh dengan di pusat kota. Hunter-hunter di daerah pinggiran tak jarang menggunakan kekerasan untuk melancarkan dan menyelesaikan sebuah urusan.
Kompromi dan takut pada hukum Asosiasi Hunter yang saat ini berlaku, adalah hal yang sudah biasa mereka abaikan, mengingat mereka hidup di bawah bayang-bayang Hunter yang terdaftar di Asosiasi.
Sebagai Hunter yang tidak memiliki lisensi resmi dan tidak terdaftar di Asosiasi, mereka sangat susah bersaing untuk mendapatkan jatah raid Dungeon. Karena itulah Hunter dari daerah pinggiran memusuhi Hunter berlisensi dari daerah pusat kota.
Setelah memikirkan nasib buruk yang mungkin akan Anna dapat saat berjumpa rekan-rekannya, Ren akhirnya membuat keputusan.
“Baiklah... mari kita coba berkeliling, siapa tau kita bertemu teman mu itu.” Ajak Ren akhirnya.
“Itu bagus. Terima kasih.” Sahut Anna dengan nada ceria.
Tapi, saat baru selesai berbicara, Anna langsung merasa tidak nyaman saat merasakan ada beberapa orang berjalan mendekat dari arah dalam gang.
“Kita akan menuju kesana dulu.” Ren menunjukkan sebuah arah.
“Ok...” Sahut Anna dan tiba-tiba ia memegang lengan Ren dan menariknya untuk cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Anna dan Ren sudah pergi beberapa langkah saat mereka mendengar suara seseorang berteriak memanggil nama Ren.
Walaupun khawatir pada Anna, namun Ren hendak berhenti.
Bagaimanapun, sudah terlambat untuk menghindari para kenalannya. Mereka pasti akan terus mengejar, karena Ren sangat dibutuhkan untuk pekerjaan yang akan mereka lakukan.
Tapi, Anna terus menarik tangan Ren untuk segera pergi dari tempat itu.
Melihat gadis itu seakan memaksanya untuk pergi mengikutinya, Ren dengan perasaan tak nyaman melepaskan tangannya dari genggaman gadis itu.
"Hei, berhenti dulu." Pinta Ren dengan suara pelan.
Sementara itu, orang yang tadi mememangilnya kini sudah berada didekat mereka.
Orang itu tadi segera berlari mengejar, saat Ren sepertinya hendak mengabaikannya.