Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 188 - Zona Perang (2)


Di sebuah negara kecil, di benua Afrika, Hunter-hunter dari guild Nine Bears yang baru dua jam lalu menyelesaikan raid mereka, kini sedang istirahat di sebuah reruntuhan bangunan tua yang berada di dekat bekas area gerbang Dungeon yang baru saja mereka taklukkan.


Tim raid kecil yang terdiri dari Gina, Kevin, Bimo, Gus, Yola, Lucy, Davina dan dua avatar hunter itu, kini sedang duduk di atas puing-puing bangunan sambil menyaksikan raid yang disiarkan langsung oleh Asosiasi Hunter Kota C.


Walaupun mereka kini tinggal dengan berpindah-pindah dari negara satu ke negara lain, mereka tetap selalu mengikuti perkembangan Hunter di Kota C melalui siaran-siaran berita yang Asosiasi Kota C lakukan.


Nine Bears melakukan hal itu untuk melihat apakah tim raid Kota C berhasil atau tidak dalam menangani sebuah Dungeon.


Mereka akan ikut senang jika Hunter-hunter Kota C bisa menutup gerbang di kota asal mereka tersebut dan akan bersiap untuk membantu jika tidak.


Mereka hanya ingin Kota C, dimana keluarga mereka semua berada, tidak berada dalam ancaman bahaya.


Walaupun Kota C sudah melupakan perjuangan mereka yang telah menutup ratusan gerbang Dungeon di sana, namun kecintaan mereka pada Kota C tidak pernah surut. Mereka pasti akan segera kembali ke Kota C saat kota tersebut sedang dalam ancaman dungeon break.


•••


"Lihat wajah orang ini. Bagaimana dia bisa memiliki wajah angkuh seperti itu walaupun dia masih berperingkat SS? Apa dia tidak tahu seberapa kuat boss Dungeon peringkat A?" cibir Kevin Jung, saat wajah Wang Chu Gong di zoom oleh Hunter pembawa kamera.


《"Apa kau tidak sadar jika wajah mu juga selalu seangkuh itu?"》sahut Miyuki, yang dapat di dengar oleh seluruh Hunter dari earphone mereka.


Kevin langsung mencabut earphone dari telinganya lalu memasukkan benda itu ke dalam kantong celananya.


"Kenapa dia selalu mencari masalah dengan ku?" Gumam Kevin yang kemudian mendengus kesal seraya menatap rekan-rekan Hunter di sekelilingnya.


Namun, Kevin segera menatap kembali pada smartphone nya, saat melihat tatapan aneh rekan-rekannya seolah mereka setuju pada penilaian Miyuki.


'Apa wajah ku memang terlihat seangkuh orang ini?'


"Kenapa mereka membagi tim menjadi dua?" tanya Yola, saat melihat Chu Gong membagi tim raid menjadi dua kelompok.


"Menyerang dari dua lokasi berbeda, mungkin?" sahut Lucy, hanya menebak isi pikiran kapten tim raid tersebut.


Sekitar 30 menit kemudian, pertanyaan Yola akhirnya terjawab saat mereka melihat salah satu tim di layar sebelah kiri, kini berhasil memasuki perkemahan yang sepi dan menyerang para Elf yang sepertinya memiliki kemampuan bertarung dan energi Mana lemah.


Sementara itu tim lain yang di pimpin Hunter berperingkat A, yang di tampilkan pada layar sebelah kanan, kini sedang berhadapan melawan ratusan pasukan Elf yang hanya melakukan serangan jarak jauh.


Tim itu memang benar sedang melakukan strategi serangan dengan membagi tim menjadi dua kelompok.


"Strategi yang sangat beresiko," komentar Bimo, saat menyadari bahwa tim pada layar di sebelah kanan hampir seluruh Hunternya memiliki tipe Tank.


"Strategi yang lumayan bagus, tapi sangat ceroboh. Bagaimana jika seluruh anggota tim kehabisan energi Mana untuk bertahan dari ssrangan jarak jauh lawan?" Davina ikut berkomentar.


Benar saja. Hanya dalam 20 menit lagi, tim yang hanya mengandalkan sihir pelindung tanpa berusaha menyerang balik itu, mulai kocar kacir saat panglima perang Elf mulai memerintahkan pasukan petarung jarak dekatnya untuk maju menyerang.


Tim raid akhirnya mulai berlari mundur, meninggalkan Elf petarung jarak dekat yang sudah mulai maju menyerang.


"Mereka menayangkan strategi ceroboh seperti ini secara langsung?" Kevin mendecakkan lidahnya, melihat kecerobohan tim yang sepertinya sangat menikmati kepopuleran mereka dibandingkan niat sungguh-sungguh untuk melenyapkan semua Dungeon.


Gina juga melihat situasi di dua lokasi berbeda itu dengan sama menyesalnya seperti Kevin. Ia tahu strategi yang Chu Gong gunakan bagus dan akan menghemat waktu, jika di lakukan pada Dungeon yang memiliki peringkat 2 kali lebih rendah di bandingkan kekuatan tim raid.


"Harusnya mereka tidak membagi tim seperti ini di Dungeon peringkat A." Ucap Gina, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar smartphone, "Sangat ceroboh."


"Mereka belum pernah melakukan raid di Dungeon peringkat A, kan?" tanya Kevin pada Gina.


Kevin ingat, guild Nine Bears selalu mengambil Dungeon peringkat A yang dalam 4 bulan di masa-masa awal guild berdiri, banyak bermunculan di Kota C.


Gina mengangguk.


Tanpa menoleh pada Kevin dan tetap fokus pada layar smartphone nya, Gina kemudian menjawab, "Mereka memang belum pernah bertarung di Dungeon peringkat A."


Begitu Gina menyelesaikan kalimatnya, barulah ia menoleh pada Kevin, saat menyadari bahwa Chu Gong bukan hanya ceroboh, namun benar-benar sangat bodoh.


"Sepertinya, mereka tidak tahu jika Dungeon peringkat A memiliki boss berperingkat SSS, kan?" tanya Gina, meminta pendapat Kevin.


Giliran Kevin yang kini mengangguk.


"Pengetahuan itu sepertinya sedikit terlupakan karena Dungeon peringkat A sangat jarang muncul," sahut Kevin. "Mereka sepertinya tidak mengingat hal itu."


Kekhawatiran kedua Hunter itu langsung terjawab saat melihat tim yang di pimpin langsung oleh Chu Gong, akhirnya kedatangan Elf yang memiliki tubuh lebih tinggi dibandingkan Elf lainnya.


Namun, saat Chu Gong baru saja bertarung melawan boss Dungeon itu, layar di sebelah kiri, dimana tayangan dari tim yang Chu Gong pimpin berada, tiba-tiba menggelap.


Semua orang yang menyaksikan siaran langsung itu, terkesiap. Bukan hanya mereka yang berada di situ, namun juga semua orang yang sedang menyaksikan tayangan tersebut di seluruh Asia Tenggara.


Semua orang tahu, jika hal itu sampai terjadi, pasti karena kamera telah di hancurkan atau bahkan mungkin si pemegang kamera telah mati terbunuh.


Gina tiba-tiba berdiri.


Ia kemudian berbicara pada semua anggota guild Nine Bears.


"Ayo bersiap, kita kembali ke Kota C. Sepertinya akan ada dungeon break sebentar lagi."


•••


Di dalam Dungeon...


Tim yang menyerang ke area perkemahan tampak sangat unggul dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang itu.


Elf yang berada disana terlihat berada di bawah kemampuan tim raid, yang dapat dengan mudah membunuh sekaligus membakar markas para Elf.


"Bakar semua nya!" Chu Gong meneriakkan perintahnya pada seluruh Hunter tipe Mage yang memiliki sihir api.


Tim raid yang dapat melihat kemenangan mudah di depan mata itu, semakin bersemangat menghancurkan tempat tinggal para Elf saat kapten tim memerintahkan mereka.


Ratusan Elf lari tunggang langgang.


Beberapa tewas di tangan Hunter tipe Mage yang memiliki sihir es yang bertugas mengatasi Elf yang ingin melarikan diri.


Tim raid terus bergerak maju, sampai akhirnya sosok Elf yang memiliki tubuh ramping dengan perawakan tinggi, keluar dari sebuah tenda yang berukuran besar dibandingkan tenda lainnya.


"Dia boss Dungeon nya?"


Hunter-hunter menatap Elf itu dengan tatapan ngeri.


Terutama saat mereka menyadari bahwa aura sihir yang terpancar darinya, terasa lebih besar dibandingkan kapten tim mereka sendiri


"D-dia berperingkat SSS." Ucap salah seorang Hunter dengan suara bergetar.


"Jangan khawatir. Aku akan berduel melawannya," ucap Chu Gong, menenangkan tim nya yang mulai terlihat ketakutan.


•••


Sementara itu, di area yang agak jauh dari tempat Chu Gong berada, Reinhard Bern memimpin 2 rekannya untuk mengejar 3 Elf yang sedang melarikan diri menuju sungai.


Reinhard sebanarnya sedikit tertarik pada Elf wanita yang sedang berlari sambil memanggul seorang Elf lain di pundaknya.


Saat pengejaran yang Reinhard lakukan akhirnya sampai di tepi sungai, ketiga Elf berhenti dan berpaling pada Reinhard dan kedua rekannya.


Elf yang menggendong tubuh Elf lain itu akhirnya menurunkan kawannya itu dari pundaknya dan meletakkan tubuhnya di tanah.


Elf wanita itu kemudian berjongkok di dekat tubuh Elf yang baru ia baringkan, lalu mencabut belati yang tersarung di pingganggnya.


Ia kemudian mengarahkan belati pada leher Elf yang terbaring itu.


Melihat hal aneh itu, Reinhard akhirnya menatap pada Elf yang terbaring itu dan terkejut saat ia mengenali wajah wanita yang ternyata bukanlah Elf seperti yang ia kira.


Itu adalah sosok seorang manusia, yang kebetulan juga dikenalnya.


"Anna?!"


Saat Reinhard meneriakkan nama tersebut, bukan hanya Reinhard dan dua rekannya yang terkejut sambil menatap gadis itu. Sylph dan dua Elf yang mengawalnya juga ikut terkejut.


Namun, mereka terkejut sekaligus senang, saat menyadari sepertinya makhluk di hadapan mereka itu mengenali tawanan yang berada dalam tangan mereka.


Mengetahui hal itu, Sylph pun menyeringai dan mengarahkan belatinya lebih dekat ke leher Anna, yang masih tertidur di dekat kakinya.